Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
CHAPTER 26


__ADS_3

Hari ini semua melakukan kegiatan seperti biasa.


"Sayang apa jadwalku hari ini?"


"Gak ada jadwal pertemuan hari ini"


"Ok, kalau begitu kita makan siang diluar"


"Ahh, tapi aku ingin makan siang sama Rena. Aku sudah lama gak ketemu sama dia, kamu selalu menyita waktuku"


"Kamu bisa makan siang sama dia besok"


"Kamu selalu bicara seperti itu, kemarin juga kamu ngomong begitu"


"Benarkah, aku pernah bicara begitu!!" Morens pura-pura lupa.


"Iya, dan aku tertipu, aku terjebak, aku terperangkap rayuanmu" Chintiya malah bernyanyi.


"Hahahaha, aye aye"Morens menimpali


"Enggak lucu" Chintiya memanyunkan bibirnya.


"Disini gak ada pelawak sayang, disini cuma ada penyanyi dadakan"


"Huh nyebelin" Chintiya langsung kembali fokus dengan pekerjaannya.


Setelah beberapa saat hening


"Sweety" panggil Morens Chintiya diam


"Sayang" panggil lagi


"Hmm" Jawab Chintiya malas


"Nyonya Chintya Hadinata"


Chintiya mendongakan kepalanya lalu menjawab dengan muka kesal


"Apa lagi sih!!"


"Ih galak banget sih"


"Bodo amat"


"Kesini dong" Morens meminta Chintiya mendekat.


"Aku banyak pekerjaan Morens"


"Baiklah, kalau enggak mau kesini aku yang kesitu" Morens berdiri


"Eh ngapain, enggak usah biar aku yang kesitu"


Chintya bangkit dan berjalan mendekati Morens, dia berhenti tepat disamping meja kerja Morens.


"Disini" Morens menunjuk pahanya.


"Tapi Morens..."

__ADS_1


Belum sempat Chintiya menyelesaikan perkataannya, Morens menarik Chintiya dan mendudukan di pangkuannya.


"Morens ini dikantor, jangan seperti ini"


"Enggak akan ada yang berani masuk"


"Sayang, aku ingin bertemu dengan orang tuamu untuk membicarakan soal pernikahan" Morens berkata dengan bersandar di lengan Chintiya.


Chintya langsung terdiam dan tertunduk lesu. Dia tidak bisa menatap mata Morens.


"A... aku" Chintiya kembali terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.


Morens merangkup wajah Chintya dan menarik dagu Chintiya agar menatap matanya.


"Kenapa sayang, apa ada yang ingin kau ceritakan padaku. Katakanlah"


"Aku ini..."


Belum sempat Chintiya bicara tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan mereka pun langsung melihat siapa yang datang.


"Boss ini... Astaga boss" Roby menunduk


Chintya kaget dia langsung turun dari pangkuan Morens dan kembali ke mejanya dia sangat malu pada Roby, berbeda dengan Morens dia menatap tajam Roby dan berkata.


"Cutimu tahun ini aku hapus"


"Loh, apa salah saya boss"


"Kau masuk tanpa izin"


"Alasan kamu"


"huh, harusnya gue yang protes karena dia bermesraan di kantor, hingga bikin otak dan mata gue terkontaminasi" batin Roby


"Ok, kenapa kau kemari?"


"Ada berkas yang harus ditandatangani, dan tadi ibu Rancy telepon dia protes soal pembatalan kerja sama"


"Berikan padaku berkas itu, dan untuk Rancy biar aku yang tangani. Perempuan itu benar-benar"


Morens mengembalikan berkas yang sudah ditandatangani kepada Roby.


"Apa ada yang lain?"


"Tidak ada boss"


"Kalau begitu aku keluar makan siang dulu bersama Chintiya"


Baru dia melangkah, Roby kembali berkata.


"Boss"


"Apa lagi?"


"Emmm, bisa titip satu bungkus. Pekerjaan saya masih banyak." Roby nyengir kuda


"Bisa, tapi potong 10%"

__ADS_1


Chintya menahan tawanya, melihat raut wajah Roby yang kesal


"Alamak, amsyong sudah enggak dapat cuti pemasukan berkurang pula. Rugi bandar ini mah, alamat tahun baru nganggur" Roby tepok jidat.


"Udah ntar aku bawain, kamu jangan khawatir" Chintiya menimpali.


"Kau memang terbaik , Chintiya"


"Ehhemm, sudah mujinya. Peliharaanku sudah mulai unjuk rasa."


Morens langsung menarik tangan Chintya dan mereka pergi ke sebuah mall mencari tempat makan, setelah sampai di tujuan mereka langsung memesan makanan dan tak lama pesanan mereka datang. Mereka makan sambil berbincang, setelah selesai makan.


"Sayang, tadi kau belum bercerita tentang orang tuamu. Sebenarnya ada apa?, ceritakan padaku"


"A..aku takut Morens" Chintiya tertunduk sendu.


"Apa yang kau takutkan?"


"Aku takut jika setelah aku bercerita, kau dan orang tuamu berubah pikiran dan berfikir bahwa aku tidak pantas untukmu, karena aku sadar status kita memang berbeda"


"Hei nona, kau bahkan belum bilang apa-apa, bagaimana kau bisa berfikir seperti itu. Asal kau tahu keluarga kami tidak pernah melihat orang dari derajat, materi dan kekuasaan. Yang penting orang itu baik dan tulus tanpa ada niat apapun"


Chintya kembali terdiam untuk beberapa saat, kemudian dia menarik nafas panjang.


"Baiklah aku akan cerita, tapi ku harap setelah ini kau tidak berubah pikiran karena aku sangat menyayangimu"


"Aku juga sayang, jangan ragukan itu"


Morens menggenggam tangan Chintya dan memberikan kehangatan serta kekuatan untuk Chintiya.


"Dulu keluargaku bisa terbilang cukup sukses walaupun kami tinggal di pedesaan, aku adalah anak tunggal dan ayahku mempunyai perusahaan tekstil ya walaupun tidak sebesar perusahaanmu. Hidup kami sangat bahagia, hingga waktu aku kelas 2 SMA, ada seorang pegawai yang menyalah gunakan kepercayaan ayah, dia memegang tugas mengatur keuangan perusahaan namun nyatanya suatu hari ada beberapa orang datang ke kantor ayah, mereka dari dinas pajak dan mereka mengatakan bahwa perusahaan kami tidak membayar pajak selama satu tahun, ayah sangat syok mendengar hal itu.


Lalu kami segera melakukan penyelidikan dan akhirnya kami mengetahui siapa orang yang tidak jujur itu. Namun sayangnya orang itu lebih pintar, dia sudah merencanakan itu semua dan dia mengundurkan diri 2 bulan sebelum kejadian itu.


Akhirnya mau tidak mau ayah harus membayar pajak tersebut berikut dendanya dan nominalnya bisa dibilang cukup besar, karena kelelahan pikiran suatu malam ayah berpamitan kepada kami ingin berjalan-jalan sebentar untuk menghilangkan kepenatan dengan berjalan kaki, namun baru Β±45 menit ayah keluar dari rumah kami mendapat kabar bahwa ayah di rumah sakit karena tertabrak mobil, kami tidak tahu bagaimana kronologinya karena mobil tersebut melarikan diri. Hanya saja ada saksi yang melihat dan mengatakan ciri-ciri mobil itu.


Setelah 2 hari dirawat akhirnya ayah meninggal, kami begitu terpukul terutama ibu. Tapi keadaan memaksaku untuk kuat, karena aku harus menjalani hidup sebagai seorang siswi yang dan juga sebagai seorang pebisnis muda dadakan. Sepeninggal ayah kesehatan ibu kian memburuk dan satu tahun kemudian ibu meninggal, aku sangat terpukul bingung harus berbuat apa tidak tahu arah, apa lagi cobaan yang akan kuterima dan lagi-lagi aku dipaksa harus kuat untuk menghadapi ujian dan menjalankan perusahaan.


Namun karena minimnya pengetahuan dan pengalamanku soal bisnis, akhirnya perusahaan mengalami penurunan. Dengan berat hati dan sisa-sisa tenaga yang kupunya, aku menjual seluruh aset yang tersisa dan juga rumahku untuk memberikan pesangon kepada pegawai yang tersisa, lalu aku pindah kesini dan melanjutkan kuliah.


Aku harus bekerja keras untuk dapat terus kuliah hingga lulus dengan bekerja paruh waktu di kedai makanan, disitulah aku kenal dengan si brengsek Tedy. Setelah lulus kuliah dengan susah payah, aku bisa bernafas lega dan kemudian aku melamar di banyak perusahaan".


Chintya menghela nafas panjang, lalu menatap Morens dengan sendu. Dia pasrah setelah ini Morens akan berubah pikiran atau tidak.


"Jadi Morens, apakah kau masih ingin bersama denganku?, karena kau dan aku sungguh jauh berbeda"


Morens tersenyum kemudian dia menarik Chintiya ke dalam pelukannya dan memberikan ciuman di kepala Chintiya lalu berkata.


"Untuk apa aku ingin pisah denganmu, kau harus tahu aku sangat bangga padamu, aku bersyukur karena bertemu dengan wanita sepertimu. Kau itu wanita hebat, kuat, mandiri dan tidak gampang menyerah apapun hasilnya, dan kau tidak pernah mengeluh atas semua itu. **AKU MENCINTAIMU CHINTIYA, SANGAT MENCINTAIMU"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA.


TAPI JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK, GOYANGKAN JEMPOLNYA DENGAN KLIK TOMBOL LIKE, VOTE DAN MEMBERI KOMENTAR.


JIKA BERKENAN BERI RATING YANG BAGUS DAN JUGA TIPS😁😁😁😁❀❀❀❀❀❀❀😘😘😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2