
"Kenapa boss?" tanya Oxen saat melihat Mora menangkupkan kepalanya di meja kerjanya.
"Aku ngantuk Oxen." jawab Mora masih dengan posisi yang sama.
"Tapi 1 jam lagi nona ada meeting."
"Apa penting?"
"Ya kira-kira begitu."
"Bisa kau wakilkan saja Oxen?" Mora mengangkat wajahnya untuk melihat Oxen.
"Em Ok lah. Kalau anda ngantuk, sebaiknya istirahat saja di kamar anda nona."
"Iya, tolong ya Oxen. Nanti kalau si X-men datang, tolong bangunkan aku ya."
"Oh ya bos, ngomong-ngomong. Kemarin nona keren banget sama Mr X." ucap Oxen antusias.
"Keren!!, sama X-men. Apa sih maksudnya?" tanya Mora malas, dia berpindah posisi dengan bersandar di kursi sambil memejamkan matanya.
"Nona gak tau!, di ntube video nona lagi jadi trending topik loh."
"Video apa?" Mora membuka matanya menatap Oxen.
"Video nona melawan perampok di toko perhiasan bersama Mr X."
"Oh, ternyata ada yang merekam kejadian itu ya."
"Nona terlihat sangat cocok dengan Mr X, kaya Mr and Mrs Smith itu. Keren deh pokoknya."
"Udah ah jangan bahas X-men, aku mau tidur." Mora bangkit dan berjalan menuju ke kamar pribadinya di dalam ruangan itu.
1 jam kemudian
Mora merasakan tubuhnya terasa sangat berat, dia membuka matanya dan melihat ada sebuah tangan sedang memeluk erat dirinya.
Mora langsung berbalik badan dan menendang orang yang sedang memeluk dirinya sambil tertidur pulas itu, hingga terjatuh dari ranjang.
"Oh God Damn."ucap Mr X saat merasakan tubuhnya terbentur lantai.
"Kurang ajar, beraninya kau." bentak Mora dengan tatapan membunuh.
"Bisa gak sih?, lembut sedikit. Kamu itu perempuan." ucap Mr X.
"Diam kamu, lancang sekali kamu masuk ke kamar pribadiku tanpa izin. Gak sopan." umpat Mora.
"Siapa yang lebih gak sopan, kamu
__ADS_1
minta aku datang ke kantormu. Tapi kamu malah enak-enakan tidur."
"Itu hakku, karena ini kantorku."
"Oh jadi bila ini kantormu, kamu bisa seenaknya membuat orang menunggu dengan gak pasti."
"Kamu bisa ngomong sama sekertarisku, nanti dia yang akan membangunkan aku."
"Sekertarismu lagi meeting, jadi aku harus bicara sama siapa?"
"Ya tapi gak dengan masuk ke kamar pribadiku." ucap Mora dengan dada naik turun menahan amarah.
"Ya Ok aku minta maaf. Tadinya aku mau membangunkanmu, tapi aku liat kamu kelihatan ngantuk banget. Jadi aku gak tega banguninnya."
"Bulshit." Mora keluar dari kamar pribadinya lalu menuju ke toilet untuk mencuci wajahnya dan merapikan diri. Sedangkan Mr X duduk di sofa menunggu Mora.
10 menit kemudian Mora keluar dari toilet dan duduk di sofa single yang bersebrangan dengan Mr X.
"Kamu ngantuk banget, apa semalem gak bisa tidur nyenyak?" tanya Mr X tanpa merasa bersalah.
Mora menatap tajam Mr X
"Kau sudah mengacaukan hari-hari ku, kau juga menggangu tidurku Sialan."
"Sorry." jawab Mr X dengan raut wajah bersalah. "Aku kemari mau menerima tawaranmu soal menjadi Asisten pribadimu, sekaligus aku mau liat kakimu. Apa sudah mendingan?"
"Beraninya kamu." ucap Mora geram saat Mr X dengan lancang mencium kening nya.
"Kamu juga diem aja kan." jawab Mr X enteng.
"Diam dan keluar dari kamarku." usir Mora.
Mr X bangun dan berjalan ke arah pintu kamar, kemudian dia mengunci pintu itu dan kuncinya dia cabut untuk dia genggam.
"Mau apa kau?" geram Mora.
"Aku akan keluar dari kamar ini, kalau kamu berhasil mengambil kunci ini dariku."
"Kamu gak berhak melakukan tawar menawar denganku, karena ini adalah rumahku."
"Tapi aku yang sudah menyelamatkanmu."
"Aku gak minta kamu untuk diselamatkan, karena aku bisa menjaga diri sendiri."
"Tapi aku yang mau."
"Brengsek."
__ADS_1
"Jangan bicara kasar nona cantik."
Mora sudah habis kesabaran menghadapi Mr X ini, kemudian Mora mengambil sebuah cambuk di dalam laci riasnya.
Mora langsung mengayunkan cambuknya kepada Mr X, karena tidak siap Mr X pun tidak bisa menghindar dari ayunan cambuk Mora, sehingga dia harus merelakan tangannya terkena cambukan Mora.
"Aww, nona Mora. Ternyata kamu kasar juga." Mr X memegang tangannya yang terasa panas akibat terkena cambukan Mora.
"Pergi dari kamarku dasar pengganggu."
"Ya, aku memang pengganggu. Karena kau juga sudah mengganggu hati dan pikiranku." jawab Mr X sambil tersenyum.
"Omong kosong."
Terjadilah pertempuran di dalam kamar Mora, hingga membuat kamar yang awalnya sangat tertata rapi, kini harus berubah seperti tempat penampungan sampah.
Barang-barang berserakan dimana-mana, mereka terus saja beradu keahlian untuk berebut kunci kamar itu. Sampai akhirnya Mora terpeleset dan menginjak sebuah pecahan guci yang sudah hancur berantakan.
Mora terduduk di tepi ranjang, dia merobek sprei dan mengikat kakinya untuk menghentikan darah yang mengalir dari telapak kakinya.
Mr X langsung menyambar kotak obat yang memang dari semalam berada disana setelah mengobati lengan Mora.
Mr X langsung berjongkok di depan Mora, tanpa banyak berkata lagi dia lalu membuka ikatan yang tadi dipasangkan oleh Mora. Mr X menggantinya dengan perban setelah mengobati lukanya terlebih dahulu.
"Maaf, karena aku kau terluka lagi."
Mora diam saja, rasanya kesabaran yang dia miliki sudah habis. Ingin sekali Mora menembak kepala Mr X itu, kalau saja dia tidak mengingat konsekuensinya.
"Ijinkan aku menginap disini. Aku cuma mau memastikan keadaanmu saja." ucap Mr X sambil mengobati Mora.
Setelah itu Mr X menuju pintu dan membukanya kunci kamar itu. Mora bangkit dan berjalan melewati Mr X dengan tertatih.
"Bi." teriak Mora di depan kamarnya.
"Iya non." jawab bibi saat berada di depan Mora.
"Bi, tolong rapihin kamar aku ya. Tadi ada tikus, waktu mau aku tangkap dia lari-larian, jadinya kamar aku berantakan." bohong Mora, karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.
"Iya non." bibi berlalu pergi untuk mengambil alat tempur kebersihannya.
Mora berjalan tertatih hendak turun dari tangga, Mr X yang melihat itu pun segera menghampiri Mora lalu menggendong Mora.
Mora hanya terus diam tanpa penolakan, dia sudah terlalu jengah menghadapi Mr X yang begitu menguras emosinya. Mereka menuju ke arah dapur, karena Mora merasa sangat haus setelah pergulatan tadi.
"Maaf ya, malam ini aku akan tetap disini dan aku akan tidur di sofa." ucap Mr X sembari mendudukan Mora di kursi makan.
Akhirnya Mora tertidur pada jam 2 dini hari, karena menunggu kamarnya selesai dibersihkan dari kekacauan tadi.
__ADS_1
Flashback off