
Hallo akak readers semua, balik egen sama akyu.
Mohon maaf lahir batin luar dalam atas bawah kanan kiri depan belakang ya.
2 Minggu kemarin aku gak up, karena ada kesalahan teknis. Gadgetku mintabdi tuker tambah, ngadat total. Tapi Alhamdulillah sekarang udah bisa keganti sama yang fressh from the open.
Maka dari itu aku langsung up, biar akak semua gak kecewa sama aku dan berpindah ke lain hati. Duh jadi mendadak melow( Melly Goeslaw).
Yuk ah langsung cus.
"APA INI?"
Chintya membuka map yang diberikan oleh Richard padanya, dia menatap datar pada apa yang dia lihat saat ini. Saat ini ditangannya terdapat beberapa sertifikat yang terdiri dari Sebuah hotel yang bernama hotel Naik Terus, 3 buah restoran dan 2 buah butik. Semua itu bertuliskan kepemilikan atas nama Ansar Rahman, dan itu berarti semua itu kini miliknya. Karena orang tua Chintiya sudah wafat, otomatis semua jatuh kepada anaknya dan itu adalah dirinya.
Tapi Chintiya sama sekali tidak merasa senang, karena dia berpikir untuk apa semua itu saat ini. Dia tidak membutuhkan semua itu, kini dia hanya seorang diri, dan beruntung sekarang dia sudah menikah dengan Morens yang bisa menanggung semua kebutuhannya.
"Apa daddy yakin ini semua milikku?"
"Tentu saja nak, disitu semua tertulis atas nama ayahmu. Karena ayahmu sekarang sudah wafat, maka kini semua itu jadi milikmu nak."
Chintiya tersenyum sinis. "Apa daddy pikir aku akan senang menerima semua ini?"
Richard menggeleng lemah. "Daddy tau itu semua gak akan pernah bisa mengembalikan semua seperti dulu, tapi daddy sangat berharap kamu terima itu semua dan memaafkan kesalahan Rendra, agar Rendra juga bisa tenang disana. Daddy juga berharap kamu terima itu semua, karena setelah sepeninggal Rendra, daddy yang menghandle itu semua. Jujur daddy udah gak sanggup nak, daddy mau bersantai sambil bermain dengan cucu daddy yang sebentar lagi akan hadir. Daddy mau menghabiskan masa tua daddy dengan keluarga kecil daddy." ucap Richard sambil menepuk punggung tangan Chintiya.
"Aku udah maafin itu semua dari dulu dad, cuma aku gak bisa lupa apa yang aku alami setelah kejadian itu. Bertubi-tubi masalah yang harus aku hadapi dad, jujur aku sempat berpikir untuk menyerah dan mengakhiri hidup. Tapi aku masih teringat soal nasib pegawai yang udah setia sama perusahaan ayah, dan itulah yang bikin aku bertahan."
"Daddy paham nak, daddy tau mungkin kamu butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini."
"Enggak tau dad, sampai kapan aku bisa terima fakta ini." ucap Chintya sambil bangkit dari duduknya.
"Terima kasih atas infonya dad, aku keluar dulu."
Chintya langsung berjalan keluar tanpa menunggu jawaban dari Richard, tapi sebelum mencapai pintu Richard menghentikan langkah Chintiya.
"Nak, pikirkan pelan-pelan. Ingat sekarang kamu harus tetap fokus pada kehamilanmu." ujar Richard.
Chintiya kembali ke kamarnya, dia duduk di atas ranjang setelah sebelumnya membersihkan dirinya dan sholat isya. Chintiya duduk sambil menyalakan televisi, namun pikirannya entah kemana.
__ADS_1
Sampai jam 11 malam saat Morens baru saja kembali dari pertemuan kliennya yang amat memakan waktu itu, Chintiya masih tetap pada posisi awal duduk bersandar pada headboard ranjang dengan tatapan kosongnya.
Morens masuk kamar, dia terkejut saat mendapati istrinya masih terjaga dan tidak merespon panggilan Morens berkali-kali. Sampai pada akhirnya Morens menyentuh pipi Chintiya dengan lembut untuk menyadarkan Chintiya dari lamunannya.
Chintiya terlonjak kaget, saat merasakan pipinya disentuh.
"Astaghfirullah, Morens. Ngapain sih ngagetin gitu?" bentak Chintiya.
"Hei, sabar sayang. Kok marah!, harusnya aku yang nanya ngapain kamu ngelamun malem-malem gini?"
"Siapa yang ngelamun!, orang aku lagi nonton TV." elak Chintiya.
"Masa!, kalau gak ngelamun kenapa aku panggil gak denger?"
"Eh, aku kan lagi serius nontonnya. Jadi gak denger kamu manggil."
"Oh,,, emang lagi nonton apa sih?"
"I...Itu aku lagi nonton berita" jawab Chintiya gugup.
"Nanya terus sih, udah sana mandi kamu bau." ucap Chintiya mengibas-ngibaskan tangannya.
"Biasanya kamu peluk-peluk aku dulu, sebelum aku mandi" goda Morens.
Ya karena sejak usia kehamilan Chintiya 15 minggu, dia selalu menunggu Morens didepan pintu kamar mandi, hanya untuk memeluk dan mencium aroma tubuh Morens yang sudah melepas bajunya sebelum Morens masuk untuk mandi.
"Udah ih bawel, kaya emak-emak rumpi tau gak. Udah ah aku mau tidur ngantuk." jawab Chintiya jutek.
"Yakin nih gak mau peluk dulu." goda Morens.
"Berisik."
Chintiya langsung beringsut dan menyelimuti tubuhnya hingga ke dada dan bersiap untuk tidur. Sementara Morens langsung ke kamar mandi, di dalam kamar mandi Morens berendam sebentar di bathup sambil berpikir, apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya.
Morens sebenarnya tau bahwa ada sesuatu yang dipikirkan Chintiya, namun Morens tidak akan memaksa istrinya untuk bercerita, sampai istrinya sendiri yang akan bicara padanya.
Karena sejak hamil Chintiya jadi lebih keras kepala dan lebih sensitif, jadi dia akan mencari tau sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu. Morens tidak akan memaksa Chintiya, karena khawatir itu akan berpengaruh pada kehamilannya.
__ADS_1
Setelah 30 menit, Morens menyelesaikan sesi mandinya itu, setelah berpakaian Morens segera menyusul Chintiya untuk tidur. Dia juga sangat merasa lelah hari ini, karena harus bertemu klien hingga larut malam. Namun sebelum tidur Morens mencium kening Chintiya sambil berbisik "Good night sweety"
DI BELAHAN BUMI LAIN
Seorang wanita kini tengah memasukan keperluannya ke dalam koper, karena besok dia akan kembali ke tanah air. Setelah sore harinya dia mendapat telpon dan diminta untuk pulang ke tanah air.
"Huh, akhirnya tugasku disini selesai. Aku bisa tinggal di tanah air ku untuk selamanya." Ucap Serena sambil meregangkan ototnya setelah selesai berkemas.
Flashback on
Setelah Serena pergi dari apartemen Sandi pagi itu, Serena langsung pulang untuk berkemas. Karena dia harus berjibaku dengan jadwal penerbangan yang akan dia lalui untuk kembali ke Jerman menyelesaikan kelulusannya.
Sedangkan disini Sandi terbangun dari tidurnya jam 6.30. Dia mulai mengumpulkan kesadarannya dan langsung teringat bahwa Serena ada di kamarnya tadi malam.
Sandi bergegas berjalan ke kamarnya untuk mengecek keadaan Serena, namun dia terkejut saat tak mendapati Serena di kamarnya. Sandi mencari di setiap sudut apartemen berharap Serena ada disana, namun dia tidak menemukannya.
Sandi mencari ponselnya dan bermaksud ingin menelpon Serena, tapi saat dia mengambil ponselnya dia melihat sebuah kertas kecil dari Serena yang bertuliskan.
"*Terima kasih atas tumpangannya malam ini, dan terima kasih juga karena sudah menemaniku selama disini.
Mungkin pertemuan kita hanya sampai disini, dan bila suatu hari nanti kita bertemu anggap kita tidak pernah saling kenal.
Aku minta maaf untuk semua keegoisanku karena sudah membuang waktumu, dan aku juga tidak mau membuat kehidupan pribadimu kacau.
Terima kasih.. Serena*"
"Serenaaaaa,,,,, ngomong apa sih kamu. Ser jangan kaya gini" ucap Sandi bermonolog.
Sandi lalu mencoba menghubungi ponsel Serena, tapi nomor Serena sudah tidak aktif. Sejak itu Sandi sudah tidak bertemu Serena lagi.
Flashback off
Jangan lupa meluangkan sedikit waktunya untuk menekan tombol like dan juga komen.
Bila berkenan mungkin memberi sedikit tips dan koin, supaya aku lebih cemungut untuk up.
LOVE U ALL MMMUUUUAAACCHHH
__ADS_1