
"AAAAA."
"Xander."teriak Mora.
Saat guci itu nampak oleng dan hampir terjatuh, Xander dengan secepat kilat berpindah tempat untuk melindungi Mora dari guci besar yang akan menimpanya.
" Xan, Are you okey? " tanya Mora memeluk kepala Xander yang terluka akibat tertimpa guci itu.
"Kita bawa ke rumah sakit." Morens berkata dan disetujui semuanya.
Morens, dan Roby memapah tubuh Xander ke mobil. Mora dan Richard menyusul di belakangnya, Lexi yang berjalan bersama pelayan yang sedang membawa nampan berpapasan dengan mereka.
Lexi terkejut melihat Xander yang dipapah dengan bersimbah darah.
"Oh My God, What the hells going on?"
"Tertimpa guci mom." Mora menjawab sambil berjalan.
"Kalian mau ke rumah sakit!, mom ikut." Lexi segera menyusul mereka ke parkiran.
Xander dimasukan ke kursi belakang dengan Mora memangku kepalanya, sedangkan Roby dan Morens duduk di kursi depan.
Richard dan Lexi menggunakan mobil yang lain mengikuti mereka di belakang.
"Hei, stay with me Xan." Mora mengusap wajah Xander yang sudah mulai pucat.
"Im okey." jawab Xander tanpa mengeluarkan suara dan mengedip-ngedipkan matanya sebelah dan tersenyum samar.
Mora berdecak, sudah dalam keadaan kritis pun Xander masih bisa tersenyum dan merayu Mora. Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Xander Langsung dilarikan ke ruang IGD untuk mendapatkan pertolongan, mereka semua menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas terutama Mora.
Dia tak habis pikir, bagaimana Xander begitu cepat berpindah posisi hingga dia harus terluka seperti itu. Sungguh Mora tidak akan bisa tenang bila terjadi sesuatu pada pria menyebalkan yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya.
1 jam kemudian dokter keluar dari ruangan itu. Mora langsung menghampiri dokter itu dan bertanya.
"Bagaimana dengan kondisinya?"
"Dia baik-baik saja, hanya saja sekarang dia sedang tertidur akibat pengaruh obat bius. Untung saja lukanya tidak mengenai otak bagian bawah, walaupun luka luarnya lumayan cukup parah tapi itu masih bisa sembuh dengan total.
Tapi yang saya tidak habis pikir, sepanjang proses pengobatan tadi. Dia masih bisa mengobrol dan terus mengatakan untuk tidak membuat seorang wanita yang bernama Mora khawatir dengan keadaannya.
Bahkan tadi dia juga sempat menolak pemakaian obat bius, dia mengatakan bila dibius nanti dia akan tertidur dan membuat nona Mora cemas. Namun kami tetap bersikukuh menyuntikkan obat bius untuk memudahkan proses penutupan luka dan juga karena itu adalah SOP dalam pengobatan. Saya jadi penasaran siapa sebenarnya tuan tadi itu, dia nampak terbiasa dengan luka seperti tadi?" jelas dokter panjang lebar.
"Syukurlah, kalau keadaannya sudah stabil. Tapi, mang dasar X-men. Dia itu masih saja sempat membual dengan ucapannya yang gak penting itu." Mora bernafas dengan lega, tapi dia juga kesal mendengar cerita dari dokter tadi.
"Apa anda yang bernama nona Mora?" tanya sang dokter pria paruh baya itu sambil tersenyum memperhatikan Mora.
"Ya benar."
__ADS_1
"Pantas saja, dia begitu peduli dengan nona Mora. Ternyata nona memang sangat cantik." puji sang dokter.
Mora memutar bola matanya "Terima kasih, apakah kami sudah boleh menemuinya?"
"Sekarang dia sedang diurus dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat. Kalian bisa menemuinya disana, kalau begitu saya pamit." dokter itu melenggang pergi.
Tak lama setelah itu, para perawat memindahkan Xander ke ruang rawat VIP yang sudah disiapkan oleh keluarga Hadinata. Xander masih nampak terpejam diatas brankar karena efek obat bius yang belum menghilang, Mora dan yang lainnya mengikuti perawat yang membawa tubuh Xander itu ke ruang rawat inap.
1 jam kemudian, Xander nampak membuka mata perlahan. Mora yang dengan setia duduk di kursi sebelahnya berdiri untuk memastikan bahwa Xander baik-baik saja.
"Xan, kamu udah bangun!" Mora menggenggam tangan Xander.
Xander memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut dan sedikit pusing. "Ssshhh."
"Apa sakit?, aku panggil dokter ya." Mora menekan tombol darurat di sebelah ranjang pasien.
Dokter tiba dan langsung mengecek kondisi Xander pasca proses penutupan luka tadi.
"Tuan Xander sudah stabil, memang masih akan terasa sedikit pusing dan nyeri. Tapi itu wajar, dan tidak perlu dikhawatirkan. Yang penting jangan terlalu banyak menggerakkan kepala terlebih dahulu, agar lukanya cepat mengering." jelas dokter.
"Makasih dok." Mora tersenyum menjawab dokter itu.
Begitu dokter keluar, yang lain mendekat ke arah ranjang untuk melihat kondisi Xander.
"Hei boys, Are you okey?" Morens memegang bahu kanan Xander.
"Of course sir." jawab Xander lirih.
"Tidak masalah tuan." Xander menjawab dengan terbata karena kondisi yang belum pulih.
"Sudah nak, kamu istirahat dulu. Jangan terlalu banyak bergerak dan berpikir yang tidak-tidak." Lexi menimpali percakapan mereka.
"Saya rasa, sebentar lagi anda akan menyelenggarakan pesta besar tuan Morens!" Roby melirik kearah Morens dan Mora.
"Maksudnya?" Morens mengernyitkan dahinya.
"Ya, pesta pernikahan nona Mora dan Xander ini." goda Roby pada Mora.
"Ha-ha-ha, kamu benar." Morens menyetujuinya.
"Uncle ngomong apa sih?" Mora membuang muka.
"Alah gengsi, tadi aja kelihatan banget paniknya. (Stay with me, Xan)" goda Roby sambil menirukan ucapan Mora tadi.
"UNCLE!!!, udah sana pulang." usir Mora sambil berkacak pinggang.
"Iya, kita pulang. Bilang aja mau berduaan, pake ngusir segala."
"Udah, udah. Mending kalian pulang, biar Xander istirahat dulu. Biar aku yang menemani bocah ini." Lexi menengahi perdebatan antara Roby dan Mora.
__ADS_1
"Grandma juga pulang aja, biar Mora aja yang disini. Kalian para generasi old, sebaiknya istirahat dirumah. Jangan sampai penyakit tua kalian kambuh." cibir Mora melirik Roby.
"Kalau gitu daddy pulang dulu ya, nanti mom kesini buat temenin kamu." Morens mencium kepala Mora.
"Ya dad, kalau mom sibuk gak perlu kesini. Mora gak papa kok."
"Ya udah, kami pamit ya." Lexi mencium pipi Mora dan mereka semua pergi.
Kini tinggallah Mora dan Xander disana.
"Apa masih sakit?" tanya Mora.
Xander menganggukan kepalanya sambil memejamkan matanya.
"Ya udah kamu istirahat dulu, aku keluar sebentar ya biar kamu gak keganggu." Mora berdiri dan hendak beranjak pergi, namun tangannya digenggam oleh Xander dengan erat.
Mora melihat Xander yang memegang tangannya sambil menatap Mora sendu. "Jangan pergi."
Mora berbalik dan kembali mendekat "Kenapa?, ada yang gak nyaman?"
"Kepalaku sakit?" adu Xander lirih.
"Aku panggil dokter ya."
Xander menggeleng "Usap aja kepalaku."
Mora berdecak, kemudian dia duduk di tepi ranjang di samping Xander dengan menaikan kedua kakinya. "Ternyata seorang Xander Cloud bisa manja juga."
"Aku manja cuma sama kamu." Xander menyandarkan kepalanya di bahu Mora.
"Kenapa aku?"
"Karena kamu calon istriku."
"Siapa bilang?" Mora menautkan alisnya.
"Calon papa mertua udah kasih restu tadi."
"Jangan terlalu percaya diri."
"Apa kamu masih gak ada perasaan sama aku?" Xander berkata dengan sendu.
"Aku."
...----------------...
...----------------...
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💜💜💜