Boss Gila Ku

Boss Gila Ku
S3 - Chapter 26


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi?" Sandi bertanya dengan tidak sabar, ketika berada di kafe bersama Mora dan Xander.


Sedangkan Serena dijaga oleh orang kepercayaan Xander, setelah mengambil tes darah milik Serena, mereka bertiga pergi untuk bicara hal yang serius.


Sandi menatap bingung pada kedua orang yang berada dihadapannya.


"Apa ada yang bisa dikatakan oleh kalian?" tanyanya skeptis.


Mora menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab Sandi.


"Ceritanya panjang uncle."


"Aku akan membebaskan sepanjang hari ini untuk mendengarkan cerita kalian."


"Aunty sakit karena ada orang yang sengaja melakukan itu."


"Kenapa?, apa Serena ada masalah?" tanya Sandi bingung, karena seingatnya setelah mereka menikah, Serena hanya fokus mengurus keluarga dan jarang bertemu orang lain.


"Bukan aunty yang bermasalah, tapi aku." Mora berucap lirih.


Sandi menatap Mora dengan penuh tanda tanya "Maksudnya?"


Morapun menceritakan kejadian 5 tahun lalu yang kini berimbas pada aunty tersayangnya yang tidak tau menau.


"Maaf uncle, ini semua gara-gara Mora. Aunty jadi kaya gini." Mora tertunduk, dia sangat merasa bersalah pada S couple ini favoritnya ini.


Pasangan yang selalu terlihat mesra di matanya, berbeda dengan orang tuanya yang seperti kucing dan tikus. Selalu berdebat bila berdekatan, namun saling merindu bila tak bertemu. Tapi dia tau, perdebatan itu adalah cara mereka untuk membuat mereka saling merindukan satu sama lain bila berjauhan.


Sandi menarik nafas dalam "Ini bukan salah kamu sayang, uncle tau kamu juga gak mau ini terjadi kan. Jadi gak usah menyalahkan diri kamu sendiri." Sandi mengusap pundak Mora lembut.


"Tapi harusnya aku yang ada di posisi aunty, kalau sampai terjadi apa-apa sama aunty, gimana sama uncle, Marlon dan Mariene?" Mora meneteskan air mata.


Sandi menarik tubuh Mora dan mendekapnya. "Jangan ngomong gitu sayang!, trus kamu gak mikirin keadaan mommy, daddy dan Zemi kalau sampai kamu juga kenapa-kenapa."


"Gak usah lebay kamu." ejek Xander.


Mora menjauhkan tubuhnya dari Sandi dan menatap tajam Xander.


"Heh X-men, saya gak ngomong sama kamu ya." hardik Mora yang kesal disebut lebay oleh Xander.

__ADS_1


"Tapi saya denger."


"Kalau gitu ya jangan dengerin."


"Tapi saya punya telinga, kalau gak dipakai buat denger!, trus buat apa dong fungsinya?"


"Buat gantungan kunci." jawab Mora ketus.


"Kunci hati kamu." goda Xander dengan wajah datar.


"Idih receh."


"Kalian romantis ya." celetuk Sandi menghentikan perdebatan antara Mora dan Xander.


"Sayang, kamu itu persis kaya mommy dan daddy kamu. Setiap ketemu ada aja yang bikin berdebat, tapi kalau jauh pasti nyariiin." Sandi teringat kala itu, saat dirinya sedang berdebat dengan Serena. Chintiya mengatakan kalau dia rindu berdebat dengan Morens yang hampir setiap waktu mereka lakukan.


"Ish, uncle. Ngomong apa sih."


Tiba-tiba ponsel Xander berdering, dan dia sedikit menjauh saat menjawab panggilan itu.


"Sayang, uncle rasa kamu cocok sama dia." ucap Sandi pada Mora sambil memperhatikan Xander yang tengah bicara di telepon.


"Maksud uncle?"


Tapi yang uncle liat dari tadi, kalian itu sangat cocok. Meski sering berdebat, tapi justru perdebatan itulah yang mendekatkan kalian. Baru kali inikan ada cowok yang bisa jawab omongan mulut sambel kamu yang pedes kaya cabe setan.


Tapi dia, dengan santai dan tenang menjawab semua omongan kamu. Dan uncle perhatikan, kayanya dia bukan orang sembarangan deh. Karena dari cara dia bicara dan mengamati situasi, dia seperti sudah biasa dalam kondisi darurat kaya gini." ucap Sandi panjang lebar.


Mora menghembuskan nafas kasar "Sebenarnya aku malas mengakui ini, tapi apa yang uncle bilang itu benar. Dia itu emang bukan orang sembarangan, dan dari dia juga aku tau masalah ini semua.


Biarpun dia nyebelin dan banyak modus, tapi dia itu sangat bertanggung jawab dan begitu bisa diandalkan." jawab Mora sambil terus menatap Xander yang masih setia dengan ponselnya, dan secara tiba-tiba Xander juga menatapnya.


Mereka sama-sama saling menatap dari kejauhan untuk beberapa saat, hingga Mora memutuskan tatapan itu karena suara deheman dari Sandi.


"Ehem, kayanya tembok cinta udah mulai runtuh nih." sindir Sandi.


"Apa sih uncle, gak jelas." cibir Mora.


Sandi terkekeh melihat reaksi dari Mora yang nampak membuang muka saat bicara pada Sandi untuk menyembunyikan kegugupannya.

__ADS_1


Setelah itu Xander kembali mendekat dan duduk disebelah Mora setelah selesai bicara di telepon.


"Saya sudah mendapat hasil dari tes darah milik nyonya Serena, tapi saya harap anda bersabar. Karena apa yang akan saya katakan ini sedikit mengkhawatirkan." Xander berkata dengan tegas.


"Apa hasilnya?, kenapa sama Sera?" tanya Sandi semakin penasaran.


"Dari hasil tes ini, nyonya Serena terkena cairan racun VX sebanyak 0,5 Mili. Untung saja nyonya Serena langsung ditangani dengan baik sehingga bisa memperlambat laju penyebaran racun itu.


Hanya saja itu semua masih belum cukup, karena racun ini adalah racun yang sangat mematikan dan jarang dipakai oleh orang biasa. Racun ini sebenarnya sudah dilarang penggunaannya oleh pusat keamanan dunia, namun masih ada segelintir orang yang secara diam-diam mengembangkan racun ini."


"Apa racun ini ada penawarnya?" timpal Mora.


Xander menggelengkan kepalanya


"Nyonya Serena hanya bisa disembuhkan melalui serangkaian proses kesembuhan oleh beberapa ahli racun dan jantung. Dan ini juga butuh banyak proses dan waktu yang panjang, jadi saya harap tuan Sandi bisa bersiap untuk segala proses penyembuhan nyonya."


"Saya sudah siap Xan. Saya sudah bertekad, apapun akan saya lakukan agar Sera bisa sembuh seperti semula."


"Nyonya bisa sembuh, tapi untuk pulih 100% saya rasa itu tidak bisa. Karena bagaimanapun racun ini sebenarnya tidak bisa dihilangkan dari tubuh bila sudah bercampur dengan darah, tapi untung saja dosis yang terdapat dalam tubuh nyonya Serena tidak terlalu banyak. Jadi masih bisa disembuhkan, namun anda harus bersiap dengan segala resiko terburuknya." jelas Mora.


"Ok. Saya akan tetap mencoba, siapa tau ada keajaiban yang terjadi."


"Aamiin." saut Mora.


"Satu lagi masalahnya." Xander menatap Mora dan Sandi bergantian.


"Apa itu?"


"Aku harus segera mendapatkan pasukan secepat mungkin. Karena mereka sudah mulai bergerak, dan sepertinya ini tak main-main. Karena kamu sudah mengobrak-abrik sarang ular sayang." Xander menatap Mora serius.


"Oh, kamu gak lupa kan kalau aku ini ratu macan."


"Tentu."


...----------------...


...----------------...


TBC

__ADS_1


LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH


😘😘😘


__ADS_2