
"Boys, what happened?" tanya Lexi.
"*The baby Will be born mom."
"Oh God*."
Morens duduk di kursi belakang memangku kepala Chintiya sambil terus mengusap kepala dan perut Chintiya, seraya memberikan kekuatan kepada istrinya yang tengah merintih menahan sakit dan mulas bersamaan.
Richard mengemudi dengan tetap tenang, karena dia sudah pernah merasakan berada di situasi yang sedang dihadapi oleh Morens, didampingi oleh Lexi yang duduk di kursi sebelah Richard.
"Sayang tahan ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." ucap Morens sambil mengusap perut Chintiya supaya mengurangi rasa sakit.
"Hufff, ya Allah kenapa rasanya nikmat sekali." oceh Chintiya sambil menghela nafas.
"Iya sayang, memang sungguh nikmat rasanya. Tarik nafas dan buang secara perlahan terus menerus, itu bisa mengurangi rasa mulasnya." timpal Lexi.
"Kamu tau Morens, ini tidak ada duanya dari apapun. Jadi awas kalau kamu berani nakal di belakang aku." rancau Chintiya untuk menetralkan perasaannya.
"Kamu ngomong apa sih yang, gak mungkin aku bisa nakal di belakang kamu. Baru niat aja kamu udah tau." jawab Morens sekenanya.
"Oh jadi kamu ada niat buat nakal ya, silahkan coba aja kalau berani. Aku bakal gembok adik kamu supaya gak bisa keluar dan kuncinya cuma aku yang pegang, biar kamu gak bisa coblos mencoblos."
"Boro-boro mau coblos di tempat lain, coblos di satu TPS aja udah bikin aku kualahan."
Richard dan Lexi hanya tersenyum mendengar perdebatan antara anak dan menantunya itu. Bisa bisanya mereka membicarakan hal yang tidak penting dalam situasi seperti ini, ya walaupun mereka tau bahwa yang dibicarakan itu bermaksud untuk mengurangi rasa cemas di antara semua.
Tak lama mereka tiba di rumah sakit, Morens langsung membopong tubuh Chintiya dan meletakkannya di atas brankar, ya walaupun dengan susah payah karena sekarang ini berat badan Chintiya naik 2x lipat.
"Sayang dastermu basah." ucap Morens saat berhasil meletakkan Chintiya di atas brankar.
"Ya tuhan ketubanmu sudah pecah nak." ucap Lexi yang mengetahui keadaan Chintiya "Morens cepat panggil dokternya." perintah Lexi.
"Dokter, cepat bantu istri saya." teriak Morens.
Seketika dokter dan perawat datang untuk membawa Chintiya ke ruangan persalinan. 10 menit kemudian, salah satu dokter keluar setelah melakukan pemeriksaan.
"Bisa saya bicara sebentar." ucap dokter itu.
"Ada apa dok?, apa ada masalah dengan istri saya?" tanya Morens dengan panik.
"Kita bicara di ruangan saya." ajak dokter itu.
Morens dan Lexi mengikuti dokter itu, sedangkan Richard tetap berjaga di depan ruang persalinan. Takut ada sesuatu yang diperlukan, Sementara di ruang dokter terlibat pembicaraan serius.
__ADS_1
"Begini tuan Morens, saat ini keadaan istri anda sedang tidak baik. Istri anda mengalami preklamsia atau biasa disebut keracunan kehamilan. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai faktor diantaranya karena : makanan, lingkungan, pola hidup, hormon dan dari banyak kasus yang terjadi lebih sering terjadi dikarenakan tingkat stress yang tinggi."
"Stress dok." ulang Morens.
"iya, dan gejala yang sering muncul antara lain : peningkatan berat badan yang drastis, terjadinya pembengkakan di daerah kaki, paha bahkan tangan."
"Apa Chintiya mengalami itu karena dia stress akibat mengetahui kalau aku yang menyebabkan ayah dan ibunya meninggal, juga Om Rendra yang ternyata adalah orang yang sudah memanipulasi perusahaan ayahnya. Ya Allah kenapa dia harus tau semua itu saat mau melahirkan." batin Morens.
"Lalu apa ada efeknya dok?" tanya Lexi.
"Kondisi ini bisa mengakibatkan terjadinya pendarahan hebat saat proses melahirkan bila itu dilakukan melalui proses normal, dan itu juga bisa mengakibatkan terjadinya kejang-kejang dan penurunan kadar hemoglobin bila proses persalinan dilakukan secara operasi. Bahkan bisa mengakibatkan kematian dalam beberapa kasus."
"Apa bisa di tanggulangi kondisi seperti ini?" tanya Morens.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, mohon doanya saja dari keluarga. Untuk saat ini mau tidak mau persalinan harus dilakukan secara operasi karena ketubannya sudah pecah dan hampir mengering, kami minta tanda tangan persetujuan dari tuan Morens sebagai suami ibu Chintiya. Waktu kami tidak banyak tuan, mengingat kondisi ibu Chintiya saat ini kami minta tuan Morens segera mengambil keputusan."
"Bagaimana ini?, aku takut terjadi sesuatu dengan Chintiya saat operasi nanti. Aku gak bisa maafin diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Chintiya. Ya Allah tolong selamatkan istri dan anakku." batin Morens.
"Tuan Morens bagaimana?" tanya dokter itu lagi, karena melihat Morens diam saja.
"Morens." ucap Lexi dengan mengusap bahu Morens untuk menyadarkannya.
"Hah, kenapa mom?" tanya Morens yang mendadak bingung.
"Mom aku takut terjadi apa-apa dengan Chintiya."
"Kita berdoa saja, dan kita percayakan pada dokter untuk melakukan yang terbaik."
Morens segera menanda tangani persetujuan proses operasi, setelah itu dia langsung keluar dan menuju ke ruang persalinan untuk menemui istrinya.
"Sayang, bagaimana perasaanmu?" tanya Morens sambil mencium kening Chintiya.
"Perasaanku masih sama, cuma aku masih kesal denganmu."
"Astaga sayang, bukan itu maksud aku. Apa kamu mau sesuatu?"
"Aku mau es cream sama nasi Padang."
"Ya ampun, apa semua wanita yang akan melahirkan seperti ini?" tanya Morens pada perawat yang ada disana.
Para perawat itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, mereka merasa terhibur dengan tingkah laku pasangan satu ini.
"Aku mau tidur dulu Morens, aku ngantuk. Mereka lama sekali sih." ucap Chintiya sambil meringis.
__ADS_1
"Oh my god sweety, are you kidding me." tanya Morens frustasi.
Chintiya hanya tersenyum tipis, sebenarnya dia bertingkah seperti itu karena dia tau saat ini Morens sangat khawatir dengan kondisinya. Jadi Chintiya berusaha sebisa mungkin untuk membuat Morens tidak terlalu memikirkan hal itu. Tak berapa lama dokter pun masuk, memberi tau bahwa operasi sudah siap dilakukan.
"Ibu Chintiya kami akan membawa ibu ke ruangan operasi." ucap salah satu perawat.
"Apa saya bisa menemani istri saya?" tanya Morens.
"Silahkan tuan."
Para perawat langsung mendorong ranjang yang di tempati Chintiya untuk dipindahkan ke ruang operasi. Saat di luar Lexi dan Richard menghampiri Chintiya.
"Sayang, jangan terlalu dipikirkan ya santai saja. Jangan tegang Ok." Ucap Lexi.
"Sayang, kami selalu mendoakanmu." timpal Richard.
"Terima kasih mom, dad." jawab Chintiya.
"Mom, dad doakan semua lancar. Semoga Ibu dan anaknya sehat semua ya." pinta Morens pada orang tuanya.
"Pasti nak." ucap Lexi dan Richard bersama.
Kemudian Morens menyusul Chintiya ke ruang operasi yang sudah dibawa lebih dulu.
"Dad, kamu udah kasih tau Serena belum?" tanya Lexi.
"Ah iya aku lupa." jawab Richard sambil nyengir kuda.
"Selalu seperti itu."
Sebenarnya Preklamsi itu dialami oleh aku sendiri saat proses persalinan anak pertama.
Aku mengalami pendarahan hebat hingga aku harus menjalani perawatan secara intensif selama 7 hari di rumah sakit.
Selama 7 hari itu aku mengalami kejang-kejang, 3 kali pingsan, penambahan 3 kantung darah hingga mengakibatkan penurunan berat badan sebanyak 25 kg hanya dalam waktu 7 hari.
Maaf sedikit curhat, hanya berniat memberi sedikit pengetahuan dan pengalaman yang aku alami.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCCHHH
__ADS_1