
"Jangan lakukan "
Suara itu muncul disertai dengan suara pintu yang di dobrak paksa.
Morens melihat ke arah sumber suara itu, dan terlihat Sandi sedang berdiri dengan Roby yang ada di belakangnya.
"Aku belum terlambat kan?" tanya Sandi dengan gaya tengilnya.
"Huh banyak gaya."
Sandi terkekeh, lalu tatapan nya beralih kepada Serena. Sandi terlihat mengepalkan tangannya hingga terdengar suara jari yang saling beradu, Sandi sangat marah melihat wajah wanita yang dicintainya itu terluka.
"Kau,,, berani sekali kau melukai wanita ku." ucap Sandi dengan mengertakan giginya.
"Jangan macam-macam, kalau gak mau wajah cantik wanita mu ini makin banyak ukiran. " Ancam Tedy pada Sandi.
Lalu Tedy kembali menatap Morens
"Ayo Morens cepat, aku gak punya banyak waktu. " bentak Tedy.
Morens melihat ke arah Roby, dia seperti bicara pada Roby dengan tatapan matanya. Roby seakan mengerti apa yang dimaksud Morens, dia hanya menganggukkan kepalanya tipis.
Tiba-tiba 2 orang rekan Tedy ambruk, Sandi yang melihat Roby sudah bergerak pun tak menyia-nyiakan kesempatan.
Sandi memukul wajah orang yang bertugas memegang Serena, saat orang itu terlihat lengah ketika terkejut melihat rekannya yang tiba-tiba terjatuh.
Terjadilah perkelahian antara Roby dan Sandi dengan masing-masing melawan 2 orang. Tedy yang kaget karena adanya serangan itu melupakan Serena dan Morens.
Serena mendekati Morens dengan susah payah karena kaki dan tangan yang masih terikat. Begitu berhasil mendekati Morens, Morens membuka ikatan Serena dengan tangannya yang sudah terlepas lalu dia membuka ikatan di kakinya sendiri.
Begitu terlepas Morens langsung memukul Tedy yang nampak lengah, Morens sangat geram dan menahan amarahnya sedari tadi.
Morens beradu jotos dengan Tedy, Sebenarnya Morens masih sedikit lemas karena efek obat tidur tadi. Tapi karena emosi yang sudah meluapkan, Morens seperti mobil yang baru saja di isi bensin, dia dengan semangat membabi buta menyerang Tedy.
Serena pun mencari ponselnya ataupun milik Morens namun tidak ditemukan, dia ingin menelpon polisi.
"Sandi berikan Ponsel mu padaku. " teriak Serena.
Walaupun Sandi tengah disibukkan dengan 2 orang yang menyerangnya, tapi dia tetap mendengar suara Serena yang memanggilnya.
"Tunggu sebentar sayang. " jawab Sandi.
Begitu ada kesempatan, Sandi memberikan ponselnya pada Serena sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Huh dasar ganjen." omel Serena
Sandi tersenyum dan kembali sibuk, tapi dia masih sempat bicara.
__ADS_1
"Kodenya tanggal lahirmu." ucap Sandi.
Serena membuka ponsel Sandi, Serena melihat wajahnya terpampang jelas menghiasi layar ponsel milik Sandi. Dia tersenyum tipis melihat itu, Sandi yang sempat melirik Serena pun ikut tersenyum melihat ekspresi Serena saat melihat wajahnya ada di layar ponsel milik Sandi.
Serena lalu menekan tombol panggilan untuk menelpon polisi, Setelah mengatakan keadaan dan dimana posisinya saat ini, Serena menutup panggilan itu.
Dia melihat 5 orang yang sudah terkapar tak berdaya termasuk Tedy. Mereka mengikat ke 5 orang itu sambil menunggu polisi datang.
"Kali ini aku pasti akan membuatmu tidak bisa melihat dunia luar lagi, sepertinya hadiahku dulu kurang berkenan bagimu ya." ucap Morens pada Tedy sambil berjongkok di hadapan Tedy yang sudah terikat.
"Kau dan keluargamu juga tidak akan bisa hidup tenang, karena kau sudah berani mengganggu Serena." timpal Sandi merasa geram.
Tedy tersenyum mengejek pada Sandi "Kau pasti akan kaget, saat tau siapa orang yang rencanain ini semua."
"Maksudnya? "
"Orang yang udah kamu jaga, ternyata adalah orang dibalik ini semua. "
"Jangan bertele-tele, cepet ngomong siapa dia?" bentak Sandi sambil mencengkeram dagu Tedy.
Saat itu muncullah seorang wanita dari arah pintu masuk, mereka semua melihat ke arah sumber suara dan melihat siapa yang datang.
"Sandi."
"Nita."
Nita sangat terkejut akan kehadiran Sandi di tempat itu, dia juga kaget saat melihat kondisi Tedy yang terlihat mengenaskan dan sudah terikat.
"Nita, ngapain kamu disini? " tanya Sandi menyelidik.
"A... Aku cuma mau bertemu Tedy. Aku... Aku mau bertanya soal Irene, tapi sepertinya Tedy lagi sibuk jadi aku balik lagi aja." Nita berbalik arah hendak keluar dari sana.
"Tunggu. " Sandi menahan Nita.
Mau tidak mau Nita berbalik arah lagi. "Ada apa San?"
"Sepertinya kamu kenal baik ya sama Tedy? "
"Aku cuma kenal aja kok, karena dia itu pacar Irene." jawab Nita gugup.
"Pacar!, bukannya Tedy itu kakaknya Irene ." sela Serena yang merasa aneh dengan mereka.
"I...Itu."
"Apa kalian sekongkol mau menjebak aku, iya." tanya Serena yang merasa kesal.
"Kayanya aku paham, sekarang mending kamu jujur gak usah basa-basi lagi Nita. Kenapa kalian mau menjebak dan mencelakai Serena. " tanya Sandi.
__ADS_1
Nita diam saja tidak menjawab apapun, dia hanya menunduk sambil meremas rok yang dia pakai.
"Jawab Nita." bentak Sandi karena merasa kesal tak ada jawaban dari Nita.
"Aku gak suruh Tedy buat mencelakai Serena, aku cuma suruh Tedy supaya bikin Serena menjauhi kamu." jawab Nita gugup.
"Kenapa?, apa Serena ada salah sama kamu?. Bahkan kalian saja baru ketemu 2 kali, jadi apa masalahnya sampai kamu nyuruh orang buat lakuin itu hah." bentak Sandi.
Nita yang kaget dengan suara bentakan dari Sandi itupun menjawab dengan nada yang meninggi.
"Itu karena aku gak mau kamu deket-deket sama dia, sejak ada dia kamu jadi gak acuh sama aku. Sikap kamu dingin dan kamu jarang bicara sama aku. Seharusnya kamu itu nikah sama aku. "
"Hahahaha, apa kamu gak sadar Nita. Semenjak kamu menolak ajakan ku waktu itu, sejak itu pula aku udah mengikhlaskan kamu buat orang lain. Lagi pula aku sadar, sekarang ini kamu mau nikah sama aku karena melihat aku udah sukses dan kamu hanya mengharapkan posisi sebagai nyonya rumah, iya kan."
"Tapi kamu kan udah janji sama aku, kamu bilang kamu bakal jagain aku dan tanggung jawab atas hidupku."
"Apa selama ini aku lepas tangan?, aku sudah menjaga dan merawatmu waktu kamu ditinggal suamimu. Sekarang ini aku juga menanggung segala kebutuhanmu. Jadi jangan banyak alasan untuk membenarkan semua tindakanmu itu."
"Tapi San."
"Oh ya satu lagi, mulai detik ini aku akan mencabut segala fasilitasmu. Untuk rumah itu, anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih ku karena kamu sudah menyelamatkan ibu ku. Jadi mulai sekarang jangan pernah mengganggu Serena dan juga keluargaku, kalau gak. Aku akan lupain kalau kamu pernah berjasa pada keluargaku."
Setelah itu, tak lama para polisi pun datang ke TKP. Mereka langsung mengamankan ke 5 orang tadi, termasuk juga Bennita.
Sandi lalu menghampiri Serena yang sudah di papah oleh Morens menuju ke mobil.
"Ser."
Morens dan Serena berhenti karena panggilan Sandi itu. Sandi ingin memeluk Serena namun sesaat sebelumnya Morens menghalanginya.
"Stop, jangan berani kau sentuh Serena. Jangan berpikir karena kamu datang kesini, aku akan begitu aja memberikan Serena padamu. Semua yang terjadi pada Serena ini semua adalah karenamu." ucap Morens sarkatis.
"Tapi Morens. "
"Udah cukup, Kita pulang sekarang. "
ucap Morens pada Serena yang masih menatap pada Sandi.
"Ser."
...****************...
...****************...
...****************...
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMUUAACCHH
💖💖💖💖💖