
"Hai, good morning." sapa Nina yang baru saja tiba di landasan pacu khusus yang akan mereka gunakan untuk menerbangkan Helicopters yang akan membawa mereka.
Saat ini mereka tengah bersiap untuk berangkat ke Afrika dalam misi berbahaya , khusus untuk Mora. Xander secara khusus meminta izin kepada pihak pusat untuk membawa sang istri ikut serta.
Dengan segala perundingan yang alot, akhirnya mereka menyetujui Mora untuk ikut kesana. Melihat dari latar belakang sang kakek Richard Hadinata yang pernah berjasa di kemiliteran, Mora juga diizinkan ikut karena dia mempunyai berbagai keterampilan untuk melindungi diri.
"Morning too." balas Mora sambil mencium pipi kanan dan kiri.
"Hallo kapten." Nina memberi hormat pada Xander.
"Hallo Nina." Xander menjabat tangan Nina. "Semua sudah siap, kalau begitu kita langsung saja berangkat.
"No." jawab para wanita bersamaan.
"Tunggu apa lagi?" tanya Xander.
"Jangan pura-pura lupa darling." Mora mengedipkan matanya sebelah.
"Apa sih?"
"Kita masih menunggu satu anggota lagi bukan." timpal Nina sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Ohhh. Anggota baru saja songong, masa kita disuruh menunggu." cicit Xander yang masih terdengar di telinga Mora.
Mora tersenyum tipis mendengar gerutuan yang keluar dari mulut suaminya, dia tau bahwa sang suami hanya merasa khawatir jika Mark nanti akan mengambil kesempatan untuk dekat dengan dirinya, karena Xander tau Mark menaruh hati pada pada dirinya.
Padahal tidak ada yang bisa menandingi kegilaan yang biasa dilakukan oleh Mora kecuali sang suami yaitu Xander. Maka dari itu, Mora sudah tidak tertarik dengan pria lain lagi, selain makhluk menyebalkan yang sedang berdiri di sampingnya ini.
"Hallo semuanya, maaf aku telat." sapa Mark Lincoln yang baru saja tiba.
"Hai Mark." sapa Mora biasa saja, karena sekarang Mora tau bahwa Mark sebenarnya adalah orang yang baik.
"Hai Mora. Bagaimana kabarmu?, aku senang kamu sudah pulih seperti sedia kala." Mark menjabat tangan Mora.
"Aku baik, kau bisa lihat sendiri."
"Yah, i know. Tidak ada yang bisa menghentikan aktivitas seorang Mora Hadinata."
"Mora Manson." ralat Xander yang merasa kesal karena dia seperti diabaikan.
"Ups sorry, aku lupa. Sekarang Mora sudah menjadi nyonya Manson. Hallo tuan Xander."
"Hm, bisa kita berangkat?" jawab Xander malas.
"Tentu saja." jawab Nina.
"Hai sayang." Mark mencium pipi kanan dan kiri Nina.
__ADS_1
"What!!, sayang?" ucap Mora dan Xander bersama. Mereka terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Mark pada Nina.
"Oh ya, aku lupa. Mark ini partner kita dan juga partner hidupku." jelas Nina tanpa merasa bersalah.
"What?, sejak kapan Nina?" tanya Xander masih tak percaya. Karena setaunya Mark menyukai istrinya, dan Nina tidak pernah menceritakan tentang seorang pria manapun.
"Sejak 2 bulan lalu."
"Bagaimana bisa?, dimana kalian saling kenal?" timpal Mora.
"Ceritanya panjang, intinya sejak kejadian penculikan kamu. Sejak itulah kami mulai dekat, dan sekarang kami sudah bertunangan." jawab Mark dengan tangan yang tak lepas saling menggenggam.
"What the... Tapi itu lebih baik." jawab Xander senang, karena dia berpikir berarti sekarang Mark tidak akan mendekati Mora lagi.
"Aku turut bahagia untuk kalian." timpal Mora.
"Terima kasih." jawab Nina.
"Tenang saja tuan Xander, sejak aku tau kalau kalian sudah menikah, aku sadar diri dan mengikhlaskan Mora. Lagi pula sekarang aku sudah menemukan pengganti yang tidak kalah dari nyonya Manson." jawab Mark yang tau apa yang dipikirkan oleh Xander.
"Ya ya ya, tapi tetap istriku tidak ada tandingannya."
"Sudah jangan dengarkan dia, lebih baik kita segera berangkat." sela Mora yang menengahi perdebatan antara Xander dan Mark.
Mereka kemudian berangkat menggunakan Helikopter yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
4 tahun kemudian
"Ya mom."
"Bagaimana kabar Mora dan Xander disana?, sudah setahun ini mereka tidak memberi kabar kepada kita. Bahkan pihak kemiliteran yang menugaskan Xander disana juga tidak tau tentang mereka. Mommy khawatir tentang keadaan mereka, mommy takut mereka..."
"Sssttt, jangan berpikir yang tidak-tidak. Daddy yakin mereka baik-baik saja, mungkin ada alasan tertentu mengapa mereka tidak memberi kabar pada kita. Percaya sama Daddy, tidak terjadi apa-apa dengan mereka." sela Morens ucapan istrinya untuk menenangkan hati sang istri.
"Semoga saja ya dad."
Setahun terakhir ini memang tidak ada kabar yang datang dari Mora dan Xander, sedangkan Mark dan Nina sudah kembali ke tanah air sejak 6 bulan yang lalu.
Baik Mark dan Nina hanya mengatakan bahwa mereka disana baik-baik saja dan berada di suatu tempat, namun itu tidak bisa mengurangi rasa cemas dan khawatir seorang ibu kepada anak dan menantunya.
Mengingat mereka berdua berada di daerah yang rawan konflik dan penuh bahaya, Chintya hanya bisa pasrah dan selalu berdoa untuk keselamatan anak dan menantunya disana.
Di tengah ke gundahan dan kesedihan sepasang suami istri paruh baya itu, terdengar suara gaduh yang berasal dari arah pintu depan.
Mereka langsung beranjak untuk melihat apa yang terjadi disana, begitu tiba di teras depan. Chintya dan Morens melihat seorang anak laki-laki berusia ±2,5 tahun tengah menangis di dalam dekapan satpam penjaga rumah.
Chintya berjalan mendekat kepada anak kecil tersebut, dia memperhatikan anak kecil itu dengan seksama dan alangkah terkejutnya dia. Anak kecil berbadan sintal dengan rambut pirang dan mata hitam yang bulat, begitu mirip dengan sosok Mora saat kecil.
__ADS_1
Chintya mengambil anak itu dari dekapan satpam tersebut, dan menciumi wajah anak itu.
"Hallo, siapa nama kamu?" tanya Chintya lembut.
"I'm Elen." jawabnya dengan gaya yang sangat imut.
"Elen."
"No Elen, but E L E N." ralatnya dengan mengeja huruf satu persatu.
Chintya tertawa, kini dia tau apa yang dimaksud anak itu. Gayanya benar-benar sangat mirip dengan Mora kecil.
"Oh nama kamu Eren."
"Ciip." ucapanya dengan mengacungkan ibu jarinya yang sangat kecil.
"Oh you are so cute, dimana kamu tinggal?" tanya Chintya lagi, dia sangat penasaran bagaimana anak ini bisa berada disini.
"There." tunjuknya ke dalam rumah mereka.
Mendengar jawaban anak itu, Morens dan Chintya saling bersitatap. Apa maksud dari ucapan anak itu?.
"Kamu tinggal di sana?" tunjuk Chintya pada rumah mereka.
"Yes, Oma."
"Oma!!"
"You oma, and you opa." tunjuknya pada Chintya dan Morens.
Mereka berdua tambah dibuat bingung oleh ucapan anak kecil itu.
"Dimana kamu punya mommy dan Daddy sayang?" tanya Morens yang ikut mendekat.
"Kami disini." jawab seseorang dari arah pintu gerbang.
Suami istri itu melihat ke arah sumber suara, dan mereka seketika mematung begitu mengetahui siapa yang ada disana.
"Ya Allah."
......................
......................
Mendekati Ending, tetap setia ya guys.
Karena setelah ini aku mau fokus meneruskan story' yang lain.
__ADS_1
Next
😘😘😘