
RENA POV
Kenapa mendadak suasananya menjadi sesak begini, berada di dalam satu mobil yang tanpa adanya suara sedikitpun. Walaupun akhirnya ada sedikit percakapan yang terkesan kaku dan sangat terpaksa.
"Kamu udah makan?" tanya Roby tanpa memandang Rena.
Dia bertanya padaku, tapi apakah itu benar-benar tulus atau hanya sekedar perkataan untuk memecah keheningan.
Dengan sedikit perdebatan, akhirnya aku mengalah untuk menemaninya makan. Kami benar-benar seperti 2 orang yang baru saling mengenal, sangat formal dan terkesan jaim.
Pada saat Roby membahas soal sikap kami masing-masing, aku sempat berpikir mungkin aku terlalu kelewatan. Aku memutuskan untuk kembali bersikap seperti biasa, dimana kami sering ngobrol dan pergi berdua.
Tapi niat itu harus urung kembali dilakukan, karena tiba-tiba seorang wanita yang cantik, berparas bule, rambut pirang, mata biru dan berpakaian sexi datang menghampiri Roby dan bermanja padanya. Bahkan wanita itu bilang dia sangat rindu pada Roby, dan yang lebih parah lagi ternyata Roby mengenal wanita itu.
Aku hanya terpana, menatap interaksi antara 2 makhluk yang ada di hadapanku ini. Rasa sesak dan kecewa tiba-tiba hinggap di hatiku dan membuat sekujur tubuhku mendadak lemas.
Mungkin sikapku selama ini memang sudah benar, dan mulai sekarang aku harus benar-benar bersikap profesional dalam menghandle pekerjaan tidak ada yang lain, ya benar-benar hanya pekerjaan. Aku pun mulai bersikap seperti benar-benar kami hanyalah rekan kantor, dan harus menjaga jarak.
RENA POV END
Setelah beranjak dari hadapan Roby dan wanita yang bernama Gaby itu, Rena hanya berjalan dengan menundukan kepala hingga dia tidak sengaja menabrak seseorang saat mencapai pintu keluar restoran.
"Upss maaf." ucap Rena sambil mengibaskan celananya dan mengangkat wajahnya saat dirasa pakaiannya sudah tidak terlalu kotor.
"Loh pak Boy."
"Rena."
"Maaf pak, tadi saya tidak sengaja."
"Its Ok. Tapi tolong jangan panggil saya pak. pertama saya belum tua, dan yang kedua saya itu bukan boss kamu. Jadi stop panggil bapak lagi, Ok."
"Iya pak,,, eh Boy."
"Kamu sama sama?"
"Sendiri."
"Udah selesai makan?, atau baru mau makan?"
"Udah selesai boy."
"Ah sayang banget ya, kalau gitu bisa temani aku sebentar minum kopi!"
"Tapi boy."
"Please Ren."
"Ya udah Ok, tapi aku gak ikut makan dan minum. Aku masih kenyang."
"Ya udah iya."
Setelah itu mereka berdua kembali ke dalam, dan selama ±30 menit akhirnya mereka menyudahi sesi berbincang dengan ditemani secangkir kopi.
"Ayo aku antar pulang." tawar Boy saat mereka berada di luar resto itu.
__ADS_1
"Gak usah Boy, aku naik taksi aja."
"Ini udah sore Ren, kamu pasti lama dapat taksi di jam seperti ini."
"Gak papa, aku gak buru-buru kok."
"Udah ih ayo, aku antar pulang. Anggap aja sebagai ucapan terima kasih aku karena kamu udah nemenin aku minum."
"Ya udah deh."
Akhirnya mereka berdua pun masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan resto tersebut. Tanpa mereka sadari sepasang mata menyaksikan tingkah laku mereka dari kejauhan.
Roby yang baru keluar dari resto, setelah sempat sampai di tempat parkir Roby kembali lagi ke dalam untuk ke toilet dan meninggalkan Gaby di dalam mobil.
Roby masuk kedalam mobil setelah sampai di tempat parkir dan langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Roby, what happened?" tanya Gaby yang duduk disampingnya.
"Nothing." jawab Roby tanpa menoleh.
sekitar 20 menit, Roby sampai di sebuah hotel untuk mengantarkan Gaby.
"Loh kok ke hotel sih, kenapa gak langsung ke apartemen kamu aja."
"Kamu tinggal di hotel aja, tenang aja biaya aku yang tanggung."
"Tapi aku maunya di apartemen kamu aja."
"Ini Indo bukan LA, Jangan samakan."
"Please Gaby, aku buru-buru masih ada kerjaan. Sekarang cepet turun, ntar aku kesini lagi kalau urusan aku udah selesai."
Dengan muka yang ditekuk dan hentakan kaki, akhirnya Gaby turun dari mobil. Roby langsung pergi dengan meninggalkan Gaby di depan loby hotel.
Roby berkendara dengan kecepatan tinggi, tujuannya hanya satu yaitu rumah sewa Rena. Dia sudah sangat tidak sabar untuk bicara dengan Rena, tentang kedekatan Rena dan Boy.
Sedangkan Rena yang sudah sampai di rumahnya, dia langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena merasa sudah sangat lengket.
Saat ini dia sedang duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, dan kemudian terdengar suara ketukan pintu yang terdengar amat kencang dan sangat tidak sabar.
"Siapa sih?, ngetuk pintu sampai kaya gitu. Gak punya etika banget." omelnya sambil berjalan kearah pintu.
Setelah sampai di depan pintu dan membukanya, dia kaget dengan orang yang datang.
"Pak Roby, ada perlu apa ya?" tanya Rena di depan sambil memegang handle pintu.
Roby tidak menjawab dia malah langsung masuk dan menarik Rena ke dalam, setelah itu dia menutup dan mengunci pintu.
"Pak Roby!!, anda itu gak punya sopan santun ya. Masuk rumah orang sembarangan dan apa itu, kenapa bapak kunci pintunya?. Sebenarnya siapa tuan rumahnya?" bentak Rena.
Roby diam saja sambil terus menatap tajam Rena dan mengikis jarak mereka, hingga Rena tersudut di dinding karena menghindari Roby.
"Ada hubungan apa kamu sama Boy?" tanya Roby dengan suara yang tegas.
"Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu pak?"
__ADS_1
"Gak usah formal segala, cepet jawab apa hubungan kamu sama Boy?"
"Bukan urusan kamu." menatap Roby dengan tajam.
"Aku gak suka kamu dia deket sama kamu."
"Apa hak kamu?, terserah aku mau deket sama siapa!"
"Oh, jadi kaya gini sebenarnya kamu. Pulang makan bareng aku langsung pindah nemenin Boy gitu."
"Maksud kamu?" Rena mengernyit bingung dengan ucapan Roby.
"Kamu kaya cewek murahan."
Rena langsung menampar wajah Roby dengan sangat kencang, dia sangat tidak terima dengan ucapan Roby.
"Jangan ngomong sembarangan kamu."
"Ya kalau bukan cewek murahan, apa namanya. Bilang mau pulang tapi malah asik berdua sama cowok lain."
"Apa hak kamu ngelarang aku, terus apa bedanya aku sama kamu. Setelah makan bareng aku, terus ganti sama cewek lain dan mesra-mesraan didepan mata aku. Gak punya etika."
"Kamu cemburu." ucap Roby sambil menyeringai.
"Heh buat apa aku cemburu, inget ya pak Roby. Kita ini cuma 2 orang yang sama-sama kerja di perusahaan RENS CORP, itu aja gak lebih." tantang Rena.
"Dia itu bukan siapa-siapa aku." ucap Roby melemah.
"Itu bukan urusan aku, kalau udah gak ada urusan lagi kamu boleh pergi." usir Rena secara halus.
Roby terdiam mendengar jawaban dari Rena sambil menahan emosi beserta gejolak yang sedari tadi dia rasakan.
Roby sudah tidak tahan melihat wajah Rena dari jarak sedekat ini, dan tampilan Rena dengan rambutnya yang masih basah dan hanya menggunakan kaos rumahan serta celana pendek sepaha yang menampilkan lekuk tubuh Rena.
Roby menarik pinggang Rena dengan tangan kiri dan langsung mencium bibir Rena secara rakus, tangan kanannya menahan tengkuk Rena.
Rena terdiam tidak menolak namun juga tidak membalas perlakuan Roby padanya, sampai akhirnya Roby menghentikan ciuman itu.
"Rena, aku minta maaf. A,,, aku khilaf Ren. Please Ren maafin aku." pinta Roby sambil menggenggam kedua tangan Rena.
"Udah puas kamu melecehkan aku!, sekarang aku udah benar-benar kaya cewek murahan bukan. Persis kaya yang kamu bilang, apa sekarang kamu bisa pergi!"
"Ren, bukan gitu maksud aku. Aku tuh." ucapan Roby menggantung, dia juga merasa bingung dengan hati, pikiran dan tubuhnya yang tidak sejalan.
"Udah cukup Rob, aku minta kamu pulang. Aku capek sama semua ini."
"Ok, aku pulang. Tapi maafin aku Ren please."
"Udah Rob, tolong pergi." ucap Rena dengan bibir bergetar menahan marah dan kecewa.
"Ya udah aku pulang dulu, tapi kita harus bicara lagi besok."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMMUUUUAAACCHHH