
"Kau mau aku bermain halus atau kasar, atau kau mau merasakan keduanya." Mora memainkan jari lentiknya di dada bidang Mr X.
Mr X memejamkan matanya merasakan lembutnya jemari itu bermain di dadanya. Tanpa sadar Mr X menarik pinggang Mora merapat ke tubuhnya. "Aku mau keduanya. "
"Apa kau yakin?" Mora mengalungkan tangannya di leher Mr X.
"Aku sudah tidak sabar."
Mora mendaratkan bibirnya tepat di bibir Mr X dengan gerakan lembut, Oxen yang masih berada disana hanya bisa menelan salivanya menyaksikan Bossnya dan sang asisten saling bertaut bibir.
Saat mangsanya lengah, Mora dengan cepat mengambil ponsel milik Oxen yang ada di saku celana Mr X.
Begitu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, Mora menyodorkan ponsel itu kepada Oxen masih sambil tetap bibir itu bertaut.
Oxen segera keluar dari ruangan itu, sebelum dia makin merasa panas dingin. Pasalnya bila nanti dia butuh saluran, dengan apa dia harus mencolok antenanya.
Setelah Oxen keluar, Mora melepaskan tautan bibirnya dari Mr X. Mora menjauh dan hendak pergi, namun Mr X lebih dulu menahan tangan Mora.
"Mau kemana? " tanya Mr X dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lepas!!, urusan kita sudah selesai. "
"Oh tidak bisa, apa kau mau lari dari tanggung jawab!"cibir Mr X dengan tatapan mengejek.
"Tanggung jawab!, memang apa yang kulakukan hingga harus bertanggung jawab padamu." jawab Mora ketus.
"Kau sudah menawarkan padaku pilihan kasar atau lembut. Dan sekarang kau mau melupakan itu."
"Hahahaha, mimpi."Mora tersenyum sinis sambil melipat tangannya di dada.
"Oh jadi kau mau menarik ucapanmu, aku tidak menyangka seorang Mora seorang penipu." pancing Mr X agar mora masuk kedalam perangkapnya.
"Apa kau bilang!, aku penipu. Jaga ucapanmu X-men." Mora tidak terimadengan ucapan Mr X yang mengatakan dia seorang penipu.
"Kalau bukan penipu, apa namanya seseorang yang tidak membuktikan ucapannya. " jawab Mr X enteng.
Mora sudah mulai tersulut emosi, dadanya terlihat naik turun menahan emosi. Dia membuka blazer yang dia pakai dan melemparnya sembarangan, kemudian dia membuka 2 kancing kemejanya dan menggulung lengan kemejanya.
Mr X yang melihat Mora seperti itu, mendadak tubuhnya terasa panas. Dia melonggarkan dasinya dan membuka 2 kancing kemejanya.
__ADS_1
Mora mendekatkan tubuhnya pada Mr X yang sedari tadi memandangnya penuh damba.
"Akan kutunjukan bagaimana caranya aku bertanggung jawab. "
Mora menabrakan bibirnya pada bibir dengan gerakan cepat, karena mendapat serangan mendadak membuat Mr X memundurkan tubuhnya hingga menempel di dinding.
Mora makin agresif menggerakkan bibirnya pada bibir Mr X, Mora mengakui bahwa bibir itu sangat kenyal walau terhalang oleh rambut-rambut yang tumbuh di sekitar wajahnya yang juga menambah kesan macho pada Mr X.
Mora mengalungkan tangannya dan meremas rambut Mr X kala dia mendapatkan serangan balik dari lawannya.
Mr X mendekap tubuh Mora sangat erat hingga tak menimbulkan jarak antara mereka. Pergulatan bibir mereka semakin panas, karena di antara keduanya tidak ada yang mau mengalah dan seakan ingin menunjukkan eksistensinya yang tinggi.
Mr X mengangkat tubuh Mora sambil tetap bertaut bibir, Mora melingkarkan kakinya ke pinggang pria nya itu, hingga membuat rok sepannya menjadi terangkat dan menampakkan paha mulus nan putihnya.
Mr X membawa mereka menuju ke sofa masih dengan bersilat lidah, Mr X duduk dengan Mora diatas pangkuannya. Mr X mulai menjelajahi leher jenjang Mora dan meresapi wangi aroma tubuh Mora.
Mora merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik yang membuat tubuhnya merespon apa yang dilakukan oleh Mr X.
Mora meremas bahu sang lawannya, saat sang lawan menyesap kuat lehernya dan membuat mulutnya mengeluarkan suara laknat yang sudah tidak bisa terkontrol.
Mr X mengusap paha mulus Mora yang terekspos, kemudian dia membaringkan tubuh Mora di sofa yang mereka tempati. Mereka kembali berciuman dengan mesra, dan tanpa sadar Mora menarik tengkuk Mr X agar lebih memperdalam ciuman mereka.
Mr X melepaskan tautan bibirnya dari bibir Mora, dia memandangi wajah cantik Mora yang nampak sudah tertutup kabut gairah sama sepertinya. Mr X merapihkan rambut Mora yang sedikit berantakan karena ulah nya.
Mendengar ucapan Mr X, seketika Mora tersadar. Dia mencoba mendorong tubuh Mr X yang berada di atasnya.
"Awas." ucap Mora lirih.
"Kau belum membalas ucapan ku. "
"Aku tidak harus menjawab ucapanmu." Mora mengalihkan pandangannya ke lain arah.
Mr X mengukung tubuh Mora yang masih berada di bawahnya.
"Lihat aku Mora. Aku mencintaimu sejak pertama melihatmu."
"Sudah, tidak usah bicara omong kosong. "
"Aku serius." ucap Mr X dengan menatap dalam bola mata Mora yang sama-sama sedang menatapnya.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok Oxen sang sekertaris bersama seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"WOW."
"Maaf, saya tidak liat apa-apa." ucap Oxen sambil menunduk.
Mora dan Mr X menengok ke arah sumber suara.
"Minggir." ucap Mora pada Mr X.
Mr X bangun dari atas tubuh Mora, dan membantu Mora bangun dari posisinya yang terbaring. Mereka segera merapihkan diri mereka yang terlihat berantakan akibat pergulatan tadi.
"Apa sudah selesai?, kalau belum silahkan di lanjut. Tapi ingat jangan kebablasan." ucap wanita itu sambil tersenyum dan berbalik arah hendak pergi.
"Mom." panggil Mora menahan Chintiya untuk pergi.
Wanita yang baru saja datang itu adalah Chintiya yang tak lain dan tak bukan adalah sang ibu.
"Selamat siang nyonya Hadinata. " sapa Mr X lantang dan tegas, tak ada keraguan dan ketakutan yang terpancar dari dirinya. Meskipun dengan kejadian tadi.
Chintiya kembali menatap ke kedua makhluk tadi secara bergantian, Chintiya mengamati penampilan dan juga wajah pria yang tadi bermesraan dengan putrinya.
Chintiya sedikit senang, karena akhirnya ada seorang pria yang mampu meruntuhkan benteng yang dibangun oleh Mora pada pria yang ingin mendekatinya.
Chintiya merasa bahwa pria ini adalah bukan pria sembarangan. Dilihat dari gestur tubuh, cara bicara dan juga tatapan matanya yang tegas.
Dalam hati Chintiya berkata sambil tersenyum. "Morens, kayanya sebentar lagi kita akan mempunyai seorang menantu. Dan aku yakin kau pasti setuju dengan pria ini."
Melihat ibunya yang tersenyum sambil memandangi wajah X-men, Mora hanya bisa menghela nafas panjang. Dia berpikir kalau sang mommy masih saja sama seperti dulu, suka berpikiran mesum.
Ya walaupun dia tau, kalau itu karena mommy nya yang sudah terjangkit virus mesum sang daddy yang suka mengumbar kemesraan di sembarang tempat.
"Oh God, mom."
......................
......................
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMUUAACCHH
💗💗💗💗💗