
"Grand pa." ucap Xander dengan terkejut.
Dia tidak menyangka bagaimana bisa sang kakek berada disini, bahkan tengah tersenyum mengejek sembari duduk di kursi samping ranjang yang di tempati oleh Mora.
Kemudian tatapannya beralih pada wanita yang sangat dia sayangi yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang sedang menatap dirinya.
Xander bangkit dari sofa tempatnya tidur dan berjalan ke arah dimana kedua orang yang sangat dia sayangi berada, Xander menghampiri dan memeluk tubuh tua sang kakek yang masih terlihat kekar.
"Apa kabar grand pa?, kenapa grand pa ada disini?" tanyanya sembari duduk di tepian ranjang yang ditempati oleh Mora.
"Kenapa?, gak boleh!!. Kamu takut grand pa ganggu kamu yang lagi usaha buat ngerayu Mora. Iya!!" ketus sang kakek seraya melirik tajam Xander.
"Bukan begitu!!, cuma aku heran, Bagaimana kakek bisa?..." Xander menjeda ucapannya sesaat "Ah, sudahlah. Gak penting, aku lupa siapa kakek."
"Nah!!, itu pinter." si kakek mengacungkan jempol tangannya dan ditempelkan tepat di dahi Xander.
"Astaga!!, sidik jari buaya tua tertinggal disini." Xander mengusap dahinya yang barusan di tempelkan jari oleh sang kakek, kemudian dia beralih mendekati Mora. "Sayang, kamu udah sadar?" tanyanya seraya mencoba merengkuh tubuh Mora, namun Mora menghindar dan menepis tangan Xander.
Xander merasa terkejut dengan tindakan Mora dan menatapnya bingung. "Kenapa sayang?"
Mora menatap tajam Xander "Kamu siapa?"
"Hah!!!"
"Kamu siapa?, dan kenapa kalian bisa ada disini?" Mora bertanya dengan raut wajah bingung.
"Aku,,,, aku Xander sayang."
"Xander!!, siapa Xander?"
"Aku Xander, X-Men mu sayang."
"Oh,,, X-Men. Ah iya aku ingat, kamu X-Men cosplay yang di mall-mall itu kan!!"
"Hahaha, cosplay. Gak sangka, ternyata ini kerjaan sampingan yang kamu ceritakan. Jadi cosplay di mall, apa sekarang kamu miskin?" sela kakek diiringi dengan gelak tawa.
"Sembarangan!, uangku tidak akan habis kalau hanya untuk membahagiakan calon istriku ini."
"Siapa calon istrimu?"
"Tentu saja wanita ini, macan betinaku. Auuummm." lirik Xander pada Mora dan mengedipkan sebelah matanya.
"Mora sayang, apa benar dia calon suamimu?" tanya kakek dengan wajah serius.
"Bukan!!, calon suamiku bernama Mark Lincoln." jawab Mora tegas.
"APA!!" Xander membelalak menatap tak percaya pada Mora.
"Kau dengar bocah tengik." ejek sang kakek.
Xander menatap tajam Mora seraya menggulung lengan kemejanya "Kurasa harus ada yang diluruskan disini." Xander mendekat kearah Mora duduk.
"Kamu mau apa?" tanya Mora dengan sedikit menjauh.
Dia merasa saat ini dirinya berada dalam bahaya, karena bila sampai Xander melakukan sesuatu padanya, dia tidak akan bisa melawan dan melarikan diri. Karena kondisi tubuhnya yang masih lemah, ditambah dengan selang infus yang masih menancap di lengan kirinya.
__ADS_1
"Bilang sekali lagi, siapa calon suamimu?" Xander mendekat satu langkah.
"Mark Lincoln."
"Siapa?" maju selangkah lagi.
"Mark.... Lincoln." jawabnya terbata.
"Sekali lagi." kini mereka hanya berjarak beberapa centi meter dan mora semakin terancam.
"Mark... Lin...aaaaa." Mora berteriak karena Xander menggelitik telapak kakinya. "Lepas."
"Enggak!!"
"Ih lepasin, aduh ahhh geli."
"Coba bilang siapa itu Mark?"
"Dia itu ca... aaa,,, ampun udah."
Xander semakin gencar menggelitik kaki Mora.
"Berani kamu ngomong gitu!!, HM."
"Ampun,,, ampun udah Xan." Mora terus bergerak ke kanan ke kiri.
"Enggak akan, sampai kamu tarik lagi ucapan kamu."
"Iya,,, aaaa, tapi stop dulu." Mora sampai mengeluarkan air mata.
"Ngomong dulu."
"Terus siapa calon suamimu?"
"Ada deh." Xander kembali menggelitik Mora hingga terbatuk-batuk "Iya,, iya... Ampun,,, stop. Calon suamiku itu adalah Xander Cloud Manson, si Asisten gila yang juga mesum."
"Nah kan!!, kamu inget kan sama aku. Kamu cuma ngerjain aku ya."
Xander bersiap untuk menyerang kembali Mora.
"Eh,,,.jangan. Ampun, aku nyerah. Perutku sakit nih, aku kan baru sadar. Bukannya disayang-sayang gitu, malah dikelitikin."
"Maaf ya, masih sakit gak?." Xander mengusap perut Mora.
"Udah enakan, di elus sama kamu."
"Lagian nakal ya kamu, bisa-bisanya kamu baru siuman udah langsung ngeprank aku kaya gitu." Xander mencubit hidung mancung Mora.
"Ahh, sakit. Ini tuh ide kakek." Sumut Mora menatap kakek yang sedang cekikikan menahan tawanya melihat kecemburuan Xander pada Mora.
Baru kali ini dia melihat seorang Xander begitu posesif pada seorang gadis.
"Ohhh,,, jadi ini ide grand pa." Xander menoleh kearah sang kakek dengan pandangan tajam.
"Hehehe, April mop." jawab kakek sembari mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah secara bersamaan.
__ADS_1
"Ini bulan November!!, mana ada April mop. Yang ada itu September ceria." jawab Xander asal.
"Hadeehh." Mora menepuk dahinya pelan.
"Oh iya, sayang. Kok kamu bisa kenal grand pa sih?" tanya Xander pada Mora seraya duduk ditepi ranjang dan merengkuh pundak wanitanya.
"Ada deeeehh."
"Oh,,, mau mulai lagi." Xander mengangkat sebelah tangannya sebagai ancang-ancang.
"Eh, iya enggak. Ampun paduka."
"Ceritanya panjang, nanti aja aku ceritain. Aku masih lemes nih." manja Mora bersandar di pundak Xander.
"Ya udah, kamu istirahat dulu. Jangan terlalu banyak gerak dulu ya."
"Grand pa pergi dulu, kau jaga Mora baik-baik. Ada hal yang harus kakek urus dulu."
"Pasti grand pa, beri tahu aku bila grand pa butuh sesuatu." Xander bangkit menghampiri sang kakek.
"Hati-hati disini boys." kakek menepuk pundak Xander dan beralih menatap Mora "Cantik, kakek pamit dulu ya. Cepatlah sembuh, jangan sampai para kucing betina mengibaskan ekornya pada buaya ini." ucapnya pada Mora seraya melirik Xander sekilas.
"Terima kasih kek."
Sang kakek pun akhirnya pergi dan menyisakan sepasang sejoli gila ini, Xander kembali naik ke atas ranjang yang ditempati Mora dan mereka duduk bersandar berdampingan.
"Sayang, bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Xander lembut.
"Lumayan, tapi masih sedikit pusing."jawabnya lemah.
"Itu wajar sayang, kamu kehilangan banyak darah kemarin. Beruntung, stok darah di rumah sakit masih cukup."Xander mengusap-usap kepala Mora.
"Xan."
"Ya."
"Apa aku akan lumpuh?"
Xander menatap tajam Mora "Siapa yang bilang begitu?"
"Kemarin, sebelum aku di pindahkan ke ruang perawatan. Samar-samar aku mendengar percakapan antara kamu, Daddy dan dokter."
"Dengar sayang, kamu masih bisa sembuh. Jangan takut, masih ada aku. Aku akan usaha semaksimal mungkin buat kesembuhan kamu, dan aku bakal terus dampingin kamu. Jadi, kamu jangan khawatir ya." Kecupan lembut bersarang di kening Mora.
"Xan, kalau aja aku gak bisa jalan lagi dan lumpuh permanen. Apa kamu masih mau nemenin aku?, ya walaupun kamu gak mau jadi pendamping atau pasangan aku, tapi paling enggak kamu menjadi teman atau bawahan aku."ucap Mora sedih.
"Sssttt." Xander meletakkan jari telunjuk pada bibir sexy Mora "Kamu itu ngomong apa sih!!, biarpun kamu gak akan bisa jalan lagi selamanya. Aku bakal tetap dampingin kamu sebagai pasangan, juga sebagai teman dan juga bawahan kamu.
Aku siap buat jadi kaki kamu dan bawa kemanapun kamu mau pergi, lagipula aku yakin kalau kamu masih bisa sembuh. Asalkan kamu semangat dan pantang menyerah. Ok." Xander mengecup punggung tangan Mora.
"Makasih Xan."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
TBC
LOVE U