
Morens Hadinata
Chintiya Rahman
Serena Hadinata
Sandi Abraham
Siembul Mora
...----------------...
...----------------...
Serena kini tengah menjalani pengobatan untuk mengobati dan mengembalikan wajahnya seperti semula.
Chintiya yang mendengar kalau ini semua adalah ulah Tedy mantan kekasih penipunya, merasa sangat geram. Dia merasa heran, kenapa dulu dia bisa menyukai makhluk seperti Tedy.
Chintiya tak habis pikir kalau semua akan berakhir panjang sampai seperti ini, Chintiya sangat merasa bersalah karena Serena ikut terkena imbasnya akibat masa lalunya.
Saat ini Chintiya sedang berada di rumah sakit menemani Serena dengan mommy Lexi. Sedangkan Mora di jaga oleh pengasuh.
Sudah 1 minggu ini Serena menjalani proses pemulihan pasca operasi untuk mengembalikan wajahnya seperti semula.
"Ser, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Chintiya sambil duduk di tepi ranjang yang ditempati Serena.
"Udah mendingan kak" jawab Serena perlahan.
Karena memang dokter menyarankan agar Serena jangan terlalu banyak bicara dulu, agar bekas jahitan di wajahnya tidak tertarik.
"Alhamdulillah. Ser, kakak minta Maaf ya. Karena masa lalu kakak, kamu jadi ikut terkena imbasnya. Kakak gak nyangka kalau akan berakhir seperti ini."ucap Chintiya seraya menggenggam tangan Serena.
Serena menggelengkan kepalanya
"Ini bukan karena kakak, aku cuma mau tau sebenarnya ada masalah apa dengan Tedy."
"Jadi, Tedy itu mantan pacar kakak waktu kuliah. Kita udah gak pernah ketemu sampai dimana kakak udah mulai deket sama Morens. Kami gak sengaja ketemu, sejak itu dia terus ganggu kakak.
Morens gak suka sama tingkahnya, sampai akhirnya mereka berantem. Kakak pikir masalahnya selesai sampai disitu, tapi ternyata enggak.
Ternyata tanpa sepengetahuan kakak, Tedy terus menguntit kakak. Entah apa tujuannya?, tapi Morens tau hal itu. Morens sangat kesal, sampai akhirnya Morens membuat dia kehilangan pekerjaannya sebagai manager keuangan di tempatnya bekerja. Morens juga membuat dia susah dapat pekerjaan baru, karena Tedy mengabaikan peringatan dari Morens supaya gak ganggu kakak lagi.
Itu sebabnya dia dendam sama Morens, kakak juga baru tau itu semua dari Morens kemarin. Waktu kakak dengar kamu dicelakai sama Tedy, baru Morens cerita kalau ada peristiwa kaya gitu selama ini."
Serena manggut-manggut mendengarkan cerita Chintiya.
"Kak, aku bisa minta tolong gak?"
__ADS_1
"Tolong apa sayang?, kalau kakak bisa kakak pasti bantu."
"Tolong bujuk kak Morens supaya memperbolehkan Sandi datang kesini."pinta Serena.
Selama satu minggu ini, Sandi terus datang ke rumah sakit untuk menemui Serena. Tapi Selama itu pula usahanya sia-sia, karena anak buah Morens terus menghalangi Sandi untuk bertemu dengan Serena.
"Aku mau ketemu sama Sandi kak, semua ini bukan salahnya kak. Tapi kak Morens terus berpikir semua ini karena salah Sandi. Padahal daddy dan mommy juga udah bujuk kak Morens, tapi dia tetap keras kepala kak."
"Apa kamu cinta sama Sandi?" tanya Chintiya.
Serena mengangguk " Maaf kak, aku gak ada maksud bikin kak Chintiya cemburu. "
"Loh kenapa minta maaf, justru kakak seneng kalau kalian bersatu. Kakak tau Sandi itu orang baik, kakak itu menganggap Sandi itu seperti saudara sendiri waktu kakak belum menjalin hubungan sama Morens. Ternyata Sandi memiliki perasaan lebih ke kakak.
Setelah kakak resmi berpacaran sama Morens, sejak itulah kakak menjaga jarak dari Sandi supaya Morens gak salah paham.
Tapi kakak yakin, sekarang ini Sandi benar-benar sayang dan cinta sama kamu. Kakak bisa liat dari cara dia mandang kamu penuh cinta, jadi kamu gak usah takut Sandi bakal macem-macem.
Karena kalau sampai dia berani ngelakuin itu, kakak orang pertama yang akan kasih dia pelajaran. Entah itu matematika atau olahraga atau kalau perlu baris berbaris." goda Chintiya.
Serena terkekeh "Makasih kak, kakak emang paling ngerti aku."
"Kakak tuh udah anggep kamu kaya adik kandung, bukan ipar lagi."
Tak lama kemudian Lexi masuk ke dalam ruang inap Serena, setelah tadi dia habis pergi ke kantin untuk makan siang.
"Sayang, sebaiknya kamu pulang. Kasian Mora, takut dia cari-cari kamu lagi." ucap Lexi pada Chintiya.
"Iya mom."
"Iya kakak pulang aja, kasian si embul. Aku gak papa kok, kan udah ada mommy."
"Makasih ya kak."
"Iya." Chintiya beralih menatap Lexi
"Mom aku pulang dulu, kalau mom butuh sesuatu bilang aku aja."
"Iya sayang, hati-hati ya."
Chintiya pun kembali ke rumah, tapi sebelum itu dia mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli kebutuhan Mora.
Setelah selesai berbelanja, Chintiya langsung pulang. Karena hari juga sudah mulai sore dan waktu menunjukan pukul 4 sore.
45 menit kemudian Chintiya baru tiba di rumah, karena jalanan yang lumayan ramai menjelang jam pulang para pegawai kantoran. Begitu tiba di rumah, dia melihat Mora yang tengah tertidur pulas setelah mandi dengan menggenggam sebotol susu.
Chintiya lalu menuju ke kamar setelah memberikan barang belanjaan yang tadi di beli kepada BI Nal.
Chintiya kaget karena ternyata Morens sudah ada dikamar sedang duduk di sofa sambil memejamkan matanya. Dia terlihat sangat lelah dan sedang ada pikiran.
"Dad, kamu udah pulang?"
"HM."
"Aku pijit kepalanya ya." tawar Chintiya.
Morens mengangguk "Tapi sambil peluk." ucap Morens manja.
__ADS_1
"Uh manjanya anak bujang mamih."
Morens tidak menjawab, dia hanya makin mengeratkan pelukannya. Dengan kepala yang bersandar di paha Chintiya sambil kepalanya menghadap perut Chintiya dan mendekapnya dengan erat.
Setelah beberapa saat menikmati pijatan dari istrinya, Morens terlihat lebih relaks dari sebelumnya.
"Dad."
"Ya sweety."
"Aku boleh ngomong sesuatu gak?"
"Ngomong aja, kenapa harus izin dulu."
"Kamu sayang gak sama Serena?"
"Kok tanya gitu, ya jelaslah aku sayang."
"Berarti kamu gak mau kan kalau liat Serena sedih!"
"Ya jelaslah, biarpun aku seakan cuek tapi aku gak terima kalau ada sesuatu yang bikin dia sedih." jawab Morens berapi-api.
"Apa kamu tau?, kalau sekarang Serena itu lagi sedih banget."
"Emang dia kenapa?, perasaan kalau setiap ngomong sama aku dia selalu senyum gak keliatan lagi sedih."
"Itulah kamu dad, kamu gak pernah peka dengan perasaan orang di sekitarmu. Jangan kira dengan senyuman semua terlihat baik-baik saja. Bisa aja dibalik itu dia lagi menyimpan kesedihan yang mendalam."
"Ada apa sama Serena?, jangan bilang kalau dia mau ketemu sama Sandi."
"Sebenarnya apa yang bikin kamu gak mau terima Sandi dekat dengan Serena?"
"Karena dia udah bikin Serena nangis dan patah hati." jawab Morens kesal.
"Suatu hubungan itu pasti ada masanya kita tertawa, masa kita bimbang dan masa kita dalam suatu kesedihan. Yang kemarin adalah masa dimana Serena harus melewati masa kesedihan sebelum kebahagiaan itu datang.
Hal itu juga dapat membuat suatu hubungan bisa menemukan poros dimana keduanya dapat mengambil keputusan untuk terus melanjutkan hubungan atau tidak.
Dari yang aku liat, sekarang adalah masa Serena akan dapat tertawa karena meraih kebahagiaan bersama Sandi. Aku yakin Sandi benar-benar tulus menyayangi dan mencintai Serena.
Untuk masalah yang lalu, kamu gak perlu khawatir. Karena aku selalu menganggap kamu itu adalah pelindungku dan tujuanku, dan untuk Sandi aku menganggap dia itu sebagai kakakku, karena aku tidak mempunyai saudara sama sekali.
Aku harap kamu mau menekan egomu dan memikirkan tentang perasaan Serena, aku tau Serena hanya tidak mau membuatmu kecewa dengan menentang keputusanmu.
Karena memang selama ini kamulah yang lebih dekat dan peduli dengan dia dibandingkan dengan daddy." ucap Chintiya panjang lebar, dan diakhiri dengan kecupan hangat di kening Morens.
"Sekarang kamu mandi dulu dan kita akan makan malam, tentang pembicaraan ini pikirkan saja pelan-pelan." sambung Chintiya kemudian berlalu pergi menuju kamar Mora meninggalkan Morens yang masih termenung memikirkan ucapan istrinya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
TBC
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
__ADS_1
💜💜💜💜💜