
"Oxen, urus segala keperluan untuk persiapan pembukaan cabang baru kita." ucap Mora.
"Tapi boss, bukannya proyek itu sudah di urus sama tuan Xander." jawab Oxen, karena setaunya dari awal pembangunan Xander lah yang mengurus.
"Jangan banyak tanya, aku mau kamu yang urus." ucap Mora menatap tajam Oxen.
"Ok boss."
Terdengar bunyi pintu di ketuk, dan yang masuk ternyata Xander.
"Maaf nona, saya mau melaporkan perkembangan persiapan pembukaan cabang baru." Xander menyerahkan laporan kepada Mora.
"Berikan sama Oxen, mulai sekarang dia yang bertanggung jawab untuk itu." jawab Mora tanpa memandang Xander.
"Tapi nona.."
"Saya gak terima protes, kalau kamu gak suka, kamu boleh angkat kaki dari sini." jawab Mora ketus.
Xander menarik nafas dalam-dalam
"Baik nona."
Melihat aura permusuhan yang amat kental, Oxen menjadi merinding. Berada di tengah-tengah singa jantan dan betina yang sedang mengamuk adalah situasi yang sangat tidak menguntungkan.
Maka dari itu, Oxen lebih baik menyelamatkan diri sebelum menjadi sasaran atau bahkan menjadi wasit pertandingan antara singa jantan dan betina.
"Kalau begitu saya undur diri." ucap Oxen.
"Bekerjalah secara profesional Oxen, jangan kecewakan saya. Saya percaya kamu bisa diandalkan." jawab Mora setengah menyindir.
Setelah Oxen keluar, kini tinggal ibu tiri dan kepala sekolah yang saling melemparkan aura permusuhan.
Sudah satu Minggu ini, Mora masih saja ketus pada Xander, bahkan kini Mora tidak segan-segan menyindir Xander secara terang-terangan.
Itu karena sudah satu Minggu ini Xander selalu pulang cepat dan seperti tidak konsentrasi pada pekerjaannya, bahkan Xander sering menolak ajakan Mora bertemu klien di luar jam kerja.
"Sebenarnya kenapa nona meminta Oxen mengurus hal tadi, sedangkan dari awal saya yang bertanggung jawab atas itu." tanya Xander berusaha sesopan mungkin.
"Tidak ada alasan apapun, aku bossnya dan aku berhak untuk itu." jawab Mora arogan.
"Memang benar anda boss disini, tapi alangkah tidak etis bila menyangkut pautkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan."
"Oh,,, jadi kau bicara tentang etika. Siapa yang sebenarnya disini sedang menyangkut pautkan masalah pribadi dengan pekerjaan, sampai sering datang terlambat tanpa alasan yang jelas, melenceng dari tugas asisten yang sebenarnya. Apa itu masih bisa dibilang etis!"
"Kenapa anda tidak bertanya dan menegur orang yang bersangkutan secara langsung." cibir Xander.
"Apa peduliku, disini aku yang berkuasa. Lagi pula itu tidak penting, aku tidak perlu tau apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh bawahanku." Mora tersenyum sinis.
"Egois."
Seketika terdengar suara gebrakan yang berasal dari meja yang ada dihadapan Mora, dia membanting sebuah telpon kantor untuk melampiaskan amarahnya.
"Berani kau bilang saya egois!, sekarang keluar dari sini." ucap Mora menunjuk pintu keluar dan menatap tajam Xander.
__ADS_1
"Tidak, saya tidak akan pergi dari ruangan ini sebelum Anda mengatakan alasan mengapa Oxen menggantikan tugas saya."
"Itu urusanku, kau tidak punya hak untuk bertanya."
"Saya berhak nona. Apa anda lupa saya adalah asisten anda." Xander menyeringai.
"Ok, kalau begitu kamu saya pecat. Sekarang keluar dari sini." usir Mora sekali lagi.
Dia berjalan mendekat kepada Xander, dan berhenti 5 meter di hadapan Xander sambil bersedekap.
Xander terkekeh "Ok. Karena sekarang aku sudah dipecat, jadi aku akan bertanya padamu bukan sebagai pegawaimu. Kenapa kau mengacuhkanku dan begitu ketus padaku?"
"Bukan urusanmu."
"Tentu itu jadi urusanku, karena kamu itu kekasihku."
Mendengar kata kekasih, Mora semakin tersulut emosi dan tidak bisa menahannya lagi.
"Cih, persetan." umpat Mora.
Dia memukul perut Xander secara tiba-tiba, lalu dia melepaskan blazer yang dia pakai dan dilemparkan ke sembarang arah. Dadanya nampak naik turun karena emosi yang memuncak.
"Berani-beraninya kau bilang aku kekasihmu, memangnya siapa kau?" Mora tersenyum smirk.
"Tentu saja aku berani, karena aku adalah calon suamimu." jawab Xander lantang.
"Brengsek." Mora memukul wajah Xander "Aku tidak akan termakan rayuan dari playboy cap kolor ijo macam kau."
Mora kembali memukul perut Xander sekuat tenaga, hingga Xander mundur beberapa langkah.
"Tutup mulutmu sialan."
Mora melayangkan pukulan lagi kearah Xander, namun tangan itu dapat ditangkap oleh Xander dan ditaruh dibelakang punggung Mora.
"Kau tau sayang, kau sangat sexy bila sedang marah seperti ini." Xander bicara dari arah belakang dan tepat berada di telinganya.
"Diam kau."
Mora mengayunkan kakinya ke arah belakang dan mengenai terong Belanda nya, hingga membuat cekalan tangannya pada Mora terlepas.
"Bagaimana?, kau suka berkenalan dengan kaki sexyku!"
"Baby, kalau ntar terongku gak bisa bertunas lagi bagaimana?. Kita gak bisa berkembang biak lagi." ucap Xander sambil memegangi terongnya yang masih terasa berdenyut.
Kini gaya bicara Xander sudah kembali seperti biasa lagi, dia sudah mulai hilang kesabaran menghadapi wanita satu ini.
"Kalau begitu kau membelah diri saja." jawab Mora enteng.
"Mora kamu benar-benar ya, rupanya kamu mau main sama aku ya."
"Ya tunjukan permainanmu."
"Kamu yang minta sayang."
__ADS_1
Xander mengangkat tangannya hendak menangkap tubuh Mora, namun wanita itu lebih dulu menghindar dan menendang bokong Xander hingga menabrak sofa dan terguling ke lantai.
"Sayang,,,, sakit." ucap Xander manja.
Mora tidak menanggapi ucapan Xander, kemudian dia menarik dasi Xander dan membanting tubuh Xander ke lantai. Namun Xander terlebih dulu meraih kerah kemeja Mora dan menariknya hingga membuat mereka jatuh bersama dengan posisi Mora berada diatas tubuh Xander.
Kini mereka saling menatap satu sama lain dan Xander memeluk erat pinggang Mora.
"Sayang, kamu cantik sekali meskipun dalam mode iblis betina kaya gini."
"SIALAN."
Mora membenturkan kepalanya pada kepala Xander, saat Xander lengah dia segera bangun dan mengambil beberapa bantal sofa kemudian di lemparkan kepada Xander.
Xander menangkis bantal-bantal itu hingga terpental ke segala arah, Xander melepas ikat pinggangnya dan langsung menabrak tubuh Mora. Xander ingin mengikat tubuh Mora agar dia tidak bisa lagi bergerak, namun Mora begitu lincah dan terlebih dulu menginjak kaki Xander, kemudian dia mengambil tumpukan berkas yang ada di mejanya dan melemparnya ke arah Xander.
Saat ingin menyerang Xander, Mora terpeleset oleh tumpukan kertas yang berada di lantai. Untung saja Xander berada tidak jauh darinya dan sempat menahan tubuh Mora.
Alhasil Xander terjatuh di atas meja kerja Mora dengan Mora berada diatas tubuhnya, Punggung Xander sempat membentur ujung meja dan kepalanya juga sempat membentur sebuah tempat pulpen yang terbuat dari kayu jati yang amat kokoh.
Mora yang berada di atas tubuhnya dan berada di pelukannya mendadak panik mengetahui hal itu, dia menatap gusar Xander yang terlihat memejamkan matanya menahan sakit.
"Xan, Are you okey?" tanya Mora sambil menggoyangkan wajah Xander yang masih terpejam.
"Xander, answer me." Mora semakin takut karena Xander masih saja terpejam dan tidak memberikan respon apapun.
"Xan, im sorry. Please come wake up Xan." Mora menundukkan wajahnya diatas dada bidang Xander. "Maaf Xan."
"Aku bakal maafin, tapi cium aku dulu." jawab Xander tiba-tiba.
Mendengar suara Xander, Mora langsung mendongakkan kepalanya dan menatap tajam Xander.
"Jadi kamu ngerjain aku, brengsek."
"Aku gak ngerjain kamu sayang, tadi kepala aku benar-benar pusing sampai gak bisa melek."
"Maaf."
"Its Ok baby."
Sedangkan di luar
Mendengar kegaduhan dari ruangan bossnya, Oxen segera menerobos masuk, dia khawatir terjadi sesuatu dengan bossnya itu.
Begitu membuka pintu dia membelalakkan matanya melihat pemandangan di depannya itu.
"**OH MY GOD. APA INI?"
......................
......................
TBC
__ADS_1
LOVE U ALL MMMUUUAAACCHHH
💜💜💜**