CEO My Husband

CEO My Husband
KARTU AKSES MASUK


__ADS_3

Hari yang baru sudah tiba. Nampaknya matahari juga sedang bersemangat hari ini. Masih pukul 7 namun sinarnya sudah sangat menyengat hingga menusuk kulit


Er sudah duduk di balkon kamar hotel yang sudah dia pesan. Menikmati secanggir kopi susu dan juga roti dengan selai kacang. Sembari memainkan benda pipih yang saat ini ada di dalam genggamannya


"Halo Kak" ucap Er setelah menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya itu


"..."


"Kau tenang saja. Kami akan menyelesaikan sisanya. Kau disana cukup menjaga Kakak Iparku dan juga Calon Kakak Iparku Zaen" jelas Er menekankan 4 kalimat terakhirnya


Terdengar suara kekehan di seberang sana. Mendengar itu, Er menampilkan senyum kecilnya dengan tulus


"Kau tau Kak, sepertinya aku sudah lama tidak mendengar suara tawamu. Bahkan melihat wajahmu saja sudah seperti melihat wajah Kak Rizky yang sama datarnya" jelas Er yang juga terkekeh pelan


"..."


"Baiklah baiklah kau tenang saja. Aku akan segera menyelesaikan segalanya" jawab Er yang kemudian menutup sambungan itu


Dia memejamkan matanya sembari menghela nafasnya panjang. Masih hari yang baru di Jakarta tapi kepalanya sudah sangat sakit


"Apa ada masalah?" tanya seseorang tiba-tiba


"Oh astaga Tuhanku. Kau seperti Hantu Paman. Sejak kapan kau berada disana?" tanya Er yang sudah berdiri karena terlonjak kaget


Paman Chand hanya menatapnya datar lalu berjalan mendekatinya dan duduk di samping Er dengan secangkir kopi yang berada dalam genggamannya


"Bagaimana Paman bisa masuk?" tanya Er lagi yang sudah kembali duduk


"Kurasa kau tidak sebodoh itu Er. Tanpa ku jawab kau pasti tau jawabannya" ucap Paman Chand dan menikmati kopinya


"Kapan kita akan memulainya?" tanya Er dengan nada santainya


"Kapan Tuan Muda siap. Jika sudah siap sekarang maka kita bisa berangkat sekarang"


Er terdiam sebentar kembali menghela nafasnya panjang.


"Baiklah kalau begitu. Kita berangkat sekarang" ucap Er memutuskan

__ADS_1


Paman Chand cukup terkejut karena Er menganggap ucapannya dengan serius. Dia menatap Er dengan alis yang sudah terangkat


"Saya serius Paman. Telpon saja bawahanmu dan katakan kita akan berangkat sekarang"


Paman Chand hanya bisa pasrah lalu mengambil ponselnya dalam saku kemejanya


"Siapkan mobinya sekarang. Kita akan pergi saat ini juga. Aku dan juga Tuan Muda akan segera turun" jelas Paman Chand setelah sambungan itu terhubung


Dia mematikan ponselnya dan kembali menatap Er


"Kau sudah benar-benar siap Tuan Muda?" tanya Paman Chand dengan raut wajah yang serius


"Kau meragukanku?"


"Tidak. Saya hanya tidak bisa melihat reaksimu ketika satu per satu jawaban yang kita inginkan sudah terjawab"


"Jika mengenai emosional dalam diriku, aku juga tidak begitu yakin. Aku akan mencoba mengatur emosi dalam diriku"


Paman Er berdiri dan merapikan lengan kemejanya lalu menatap Er kembali


"Silahkan Tuan Muda" ucap Paman Chand lagi


🌻🌻🌻


"Lapor Paman" ucap bawahan Paman Chand yang sedang fokus ke jalanan


"Lanjutkan"


"Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mengawasi rumah tersebut. Dan tadi malam mereka tidak sengaja melihat bahwa pria paruh baya itu sedang berlatih pedang. Dan juga penghuni rumah itu tidak hanya 3 atau 4 orang saja melainkan semakin malam satu per satu orang datang. Mereka berlatih pedang, berlatih tembakan, dan kekerasan lainnya. Tapi sampai saat ini, mereka belum mendengar seseorang memanggil nama yang Paman maksudkan" jelasnya


Er dan juga Paman Chand saling bertatapan satu sama lain ketika mendengar penjelasan dari anak muda tersebut


"Tuan Muda, sepertinya alamat tersebut tidaklah salah. Kita pasti akan menemukan orang tersebut dan mewawancarainya" ucap Paman Chand meyakinkan Er


"Maaf Paman, tapi untuk masuk ke dalam lingkungan rumah tersebut tidak lah mudah. Kami sudah memantaunya, setiap ada yang ingin masuk akan menunjukkan sebuah kartu dan menunjukkan wajah mereka. Setelah data mereka terdeteksi gerbang besar itu akan terbuka dengan lebar" jelas anak muda itu lagi


"Hentikan mobilnya" ucap Paman Chand

__ADS_1


Er yang mendengar itu langsung menegakkan tubuhnya lalu menatap Paman Chand dengan alis yang sudah terangkat sebelah


"Kau tenang saja" ucap Paman Chand yang mengerti akan tatapan yang diberikan oleh Er


Paman Chand mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di atas layar benda pipih yang sudah ada dalam genggamannya


"Aku ingin kau membuat Kartu Akses atas nama Owner dan juga saya. Tanpa ku jelaskan secara rinci ku harap kau sudah mengerti. Dan juga aku mau kau menyuruh Blue untuk membuat topeng kulit berdasarkan biodata yang sudah kalian dapat mengenai orang-orang yang bisa masuk ke dalam kediaman itu" jelas Paman Chand


Er semakin bingung dengan ini semua. Untuk saat ini dia tidak mengerti apapun. Mungkin karena kapasitas otaknya sudah penuh dengan semua masalah yang bersangkutan dengan Kakak Iparnya


"Antarkan segera. Aku butuh sekarang jadi cepat bekerja atau kalian akan saya keluarkan secara tidak hormat. Jika sudah selesai beri kabar pada Sean agar dia mengirimkan alamat lokasi kepada kalian" ucap Paman Chand lagi dan sudah menutup panggilan itu


"Maafkan saya Tuan Muda. Tapi kita harus menunda sebentar ini semua. Setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh Sean saya harus segera bertindak dengan cepat. Sean antarkan kami ke cafe untuk sarapan"


Er hanya diam mendengarkan segala penjelasan yang diberikan oleh Paman Chand yang tak lain dan tak bukan adalah orang kepercayaannya


Mobil itu kembali bergerak menyusuri padatnya jalanan kota Jakarta yang sudah menjadi Ibukota dari Negara Indonesia ini


"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Paman Chand


Er mengerjapkan beberapa kali matanya lalu kembali bersandar ke belakang dan menatap lurus ke depan


"Aku merasa bahwa akan ada hal lain yang menantiku sesampainya di Negara ini. Apa aku melewatkan sebuah informasi penting?"


"Tuan Muda, jujur saja setiap kali kau mengatakan mengenai feeling mu aku sangat takut. Karena aku merasa kau menyembunyikan satu informasi pribadi mengenai dirimu. Apa kau memiliki kemampuan atau sebuah indra yang tidak dimiliki oleh orang awam lainnya?"


Er menatap Paman Chand sekilas lalu kembali menatap keluar jendela


"Saya bahkan tidak berniat untuk menyembunyikan apapun mengenai diriku sendiri. Tapi saya juga tidak mengerti mengenai diri saya sendiri. Yang tau akan jawaban atas pertanyaan Paman hanyalah Ayah saja. Karena dia yang mengadopsi saya. Saya juga terkadang memiliki pertanyaan yang sama persis dengan yang Paman tanyakan barusan"


"Saya rasa Tuan Muda memang memiki suatu kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh kaum awam seperti kami. Kau tidak perlu memikirkannya Tuan Muda. Mungkin Tuan Besar akan segera memberitahukan nya pada Anda jika waktunya sudah tepat"


Er hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan tersenyum kecil kepada Paman Chand


"Kita sudah sampai Tuan Muda" ucap Sean yang baru saja diketahui namanya


Er dan juga Paman Chand langsung turun dari mobil mewah tersebut dan segera masuk ke dalam sebuah cafe yang sudah cukup ramai

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2