
Er sudah mengemasi semua barang-barangnya dan sudah duduk dengan tenang dan nyaman di dalam mobil. Mobil yang akan membawanya ke bandara dan akan segera bertemu dengan keluarga besarnya itu
"Andrew, apa kau yakin kau tidak akan keberatan untuk membantu ku menyelesaikan ini semua?" tanya Er lagi yang entah sudah berapa kali
"Tuan Muda, kau sudah menanyakan hal yang sama berulang kali. Aku yakin aku akan membantu Paman Chand untuk menyelesaikan ini semua. Aku melakukan ini demi Tuan Puteri kami. Kau hanya fokus untuk menjaga Tuan Puteri kami itu disana. Kau bisa Tuan Muda?" jawab Andrew menatap Er melalui spion mobil
"Tanpa kau minta pun aku akan melakukannya. Aku begitu menyayangi Kak Amanda. Semua yang ada dalam pancaran matanya itu hanyalah sebuah kejujuran dan juga kesedihan. Entah apa yang terjadi, tapi kami satu rumah memang sangat berniat membuat pancaran kesedihan itu hilang"
Andrew diam mendengarkan dan kembali fokus pada jalanan
"Bisa kau mendeksripsikan mengenai Tuan Puteri kami itu? Aku ingin membayangkan nya sebentar karena aku tau bahwa sepertinya pertemuan kami dengan Tuan Puteri kami itu pasti masih sangat lama" pinta Andrew lagi membuka suaranya
"Dia sangat cantik bahkan tidak hanya cantik, dia memang memiliki aura seperti seorang Tuan Puteri. Anggun dan lembut, bahkan disaat dia bicara saja suaranya sangat lembut. Jika dia sudah marah dan mengomel, kami hanya bisa tertawa karena raut wajah dan nada bicaranya sangat menggemaskan
Aku juga mendengar dari Kak Alan, bahwa dia sangat pandai memasak. Dia juga ahli bermain alat musik dan suaranya sangat merdu ketika bernyanyi. Dia pemaaf, bahkan karena sifatnya yang seperti ini kami harus berpikir ribuan kali untuk membohongi dirinya" jelas Er dengan sebuah senyum yang terbit di wajahnya
"Apa seistimewa itu?" tanya Andrew yang juga menampilkan senyumnya ketika melihat Er tersenyum sembari menceritakan hal mengenai Amanda
"Bahkan sangat. Kau juga akan begitu sayang dan akan menjaganya ketika kau sudah melihat dan mengobrol banyak dengannya. Dia juga pantas menjadi tempat berbagi cerita karena mau seberat apapun masalahmu, dia pasti akan memberikan saran yang sangat bagus" lanjut Er menjelaskan
Andrew kembali diam namun senyumnya masih bisa dilihat dengan jelas
Waktu demi waktu sudah berlalu dan mereka sudah sampai di bandara. Andrew membuka bagasi mobil dan mengeluarkan semua barang-barang Er
"Terimakasih karena sudah mengantarkan ku dan membantu semuanya" ucap Er dengan tangan yang sudah memegang koper miliknya
"Tidak masalah Tuan Muda. Aku tidak akan menyesal melakukan ini semua karena ini demi kembalinya Tuan Puteri kami. Jadi kau tenang saja" jawab Andrew
Mereka saling berpelukan satu sama lain. Er memukul punggung badan Andrew lalu melepaskannya
"Kalau begitu aku akan pergi. Jika ada masalah dan butuh bantuan kau hubungi saja aku"
Andrew hanya bisa menganggukkan kepalanya dan memberikan senyum nya kepada Er
__ADS_1
Er menarik koper miliknya dan mulai masuk ke dalam bandara itu
🌻🌻🌻
"Thio kau mau kemana?" tanya seorang wanita bertubuh kecil dengan rambut panjangnya yang terurai indah
Thio menghentikan langkahnya dan memutar kedua bola matanya mencari sebuah jawaban yang tepat
"Thio" panggil Amanda lagi
Thio akhirnya berbalik dan tersenyum lebar menghadap Amanda. Lalu berjalan mendekat ke arah Amanda
"Aku ingin keluar sebentar Kak. Aku disuruh Paman Chand untuk pergi ke markas besar yang ada di Guangzhou dan mengatakan pesan Paman Chand untuk menyuruh mereka lebih rajin berlatih" jawab Thio asal
"Begitukah? Baiklah kalau begitu kau bisa pergi. Tapi jangan terlalu lama untuk kembali. Kau mengerti?"
"Aku mengerti Kak. Kau tidak perlu mengkhawatirkan segalanya"
"Jika kau ingin menginap disana maka setidaknya berilah kabar pada ku atau pada Alan atau pada Ayah atau pada Bunda. Yah" jelas Amanda lagi
"Kak... kau terlalu mengkhawatirkan segalanya. Aku akan menjaga diriku sendiri dan pulang dengan selamat" jawab Thio meyakinkan Kakak Iparnya itu
Amanda menganggukkan kepalanya dan Thio memeluk Amanda sebentar dan kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari Rumah Besar
Thio memasuki mobil mewah miliknya yang berwarna hitam mengkilat dan memasang sabuk pengaman
"Jawaban yang ku katakan tadi, aku mendapatkan semua kalimat itu darimana? Ini semua karena Er. Kenapa dia menyembunyikan kedatangannya. Aku jadi harus berbohong pada Kak Amanda" ucap Thio pada dirinya sendiri dan memukul setir mobil yang ada di depannya itu dengan lumayan keras
Suara mesin mobil terdengar, Thio mulai melajukan mobil itu dan keluar dari pekarangan Rumah Besar. Melewati satu per satu gerbang kayu yang besar dan tiba di jalanan
Getaran ponsel miliknya membuatnya harus meraih benda pipih itu dan melihat siapa yang menelponnya
Thio menghidupkan pengeras suara ketika sudah tau siapa yang sedang menelponnya
__ADS_1
"Kau sudah dimana?" tanya orang tersebut
"Sudah dijalan"
"Apakah maksudmu aku akan menunggu?"
"Memangnya kau sudah sampai hah?"
"Kau berteriak padaku Thio? Kau sudah bosan hidup?" tanya Er dengan nada dinginnya
"Maafkan aku Tuan Muda Owner Graham Yang Terhormat, tolong jangan mengakhiri hidupku begitu saja hanya karena pertanyaan itu"
"Cepatlah. Aku tidak mau menunggu lebih dari 1 jam"
"Kau sudah gila? Bahkan jarak dari Rumah Besar ke bandara saja membutuhkan waktu 2 jam lebih. Kau pikir aku mengendarai jet? Ini mobil Er mobil" teriak Thio tidak mengerti jalan pikiran dari Tuan Muda nya itu
"Yang mengatakan bahwa kau mengendarai jet siapa? Yang mengatakan bahwa aku sudah sampai siapa? Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak mau menunggu lebih dari 1 jam"
Diam... hanya itu yang bisa menggambarkan suasana setelah penjelasan yang dikatakan oleh Er
"Apa aku berbicara pada angin?" terdengar suara Er lagi
"Aku mendengarmu. Aku hanya sedang berpikir, kapan aku bisa mengalahkan kejeniusan mu yang seperti ini?"
"Kau itu jenius tapi disaat otakmu memang ingin bekerja. Apa Kak Rizky sudah memberimu kabar?"
"Kurang ajar kau Er. Belum, sepertinya dia masih berada dalam perjalanan. Sudahlah matikan saja sambungan ini atau aku akan semakin kesal berbicara dengan mu"
Dan benar saja... setelah ucapan Thio barusan hanya ada suara Tut Tut Tut
"Dasar manusia tidak punya hati, bisa bisanya dia mengakhiri panggilan setelah aku menyuruhnya. Untung saja kau sahabat terbaik ku Er. Jika tidak maka bisa dipastikan aku akan menghajarmu jika kita sudah bertemu" omel Thio menatap layar ponselnya
Dia langsung melemparkan ponselnya ke kursi belakang dan kembali fokus jalanan
__ADS_1
"Bagaimana bisa Kakak Beradik itu pulang secara bersamaan. Aisss menambah pekerjaan saja" omel Thio lagi mengingat bahwa dia ke bandara akan menjemput Er dan juga Rizky
🌻🌻🌻