
"Apa kau pikir aku akan mengikuti semua yang kau katakan barusan? Untuk apa aku memperingatkan adikku hah? Lihat saja Owner, tidak lama lagi dia akan segera tiba dan kalian akan kehilangan wanita itu"
Bukannya takut, pria bodoh itu justru semakin membuat pria di hadapannya itu menampilkan raut yang sudah sangat ditakuti oleh Paman Chand dan juga Thio. Owner semakin menatap tajam lalu melirik ke arah Thio sahabatnya
"Paman, apa kali ini aku harus meminta bantuanmu? Sepertinya dia sudah sangat tidak sabar untuk menemui ajalnya. Thio, apa kau sudah menyiapkan semua alat-alatku?" lirihnya menatap kedua pria itu secara bergantian
Thio menganggukkan kepala ragu lalu menatap ke arah Blue dan juga Andrew yang sedari tadi hanya bisa menautkan kedua alis mereka tidak mengerti apapun. Lalu menatap pria paruh baya yang juga sedang menatapnya
"Kau akan diam saja Thio? Kau tidak ingin mengambilnya? Apa yang kau tunggu? Aku sudah sangat haus sekarang" ucap Er lagi menyadarkan sahabatnya itu
Thio yang merasa bahwa nada bicara Tuan Mudanya itu semakin menakutkan langsung berjalan cepat meninggalkan mereka dan melaksanakan apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu.
Owner berdiri dan menatap setiap sudut ruangan itu dalam diam. Alan dan lainnya yang tidak mengerti apapun hanya bisa diam melihat dan menunggu apapun yang akan dilakukan oleh pria itu
"Kalian berdua keluarlah jika memang tidak sanggup untuk melihat ini semua" ucap Er yang langsung menatap kedua pria muda yang berdiri tak jauh dari Paman Chand
"Kami akan tetap disini Tuan Muda" bukan Blue melainkan Andrew lah yang menjawab dengan cepat tanpa ada pertimbangan sama sekali
Owner menganggukkan kepalanya dan matanya tak sengaja bertemu dengan mata kakaknya itu. Mata yang menyiratkan pertanyaan yang memang sudah dimengerti oleh dirinya sendiri
"Aku begitu merindukan Kakak Iparku kak. Apa mereka sudah menghubungimu?" tanya Er dengan lirih
"Apa kau ini memiliki banyak kepribadian Er? Kau terlihat sangat menakutkan tadi, lalu sekarang kau terlihat sangat menggemaskan seperti anak kecil. Kakak akan menghubungi Kak Rizky" omel Alan dan langsung mengeluarkan ponselnya
Er terkekeh dan kembali duduk ke tempatnya tadi. Menatap remeh pria yang sudah terlihat pucat. Er benar-benar psikopat gila saat ini. Dengan gampangnya dia merubah semua kepribadiannya
"Apa kau lapar Tuan Ricko? Jika iya maka aku tidak keberatan untuk menyuruh Blue memesankan makanan buatmu. Anggap saja itu sebagai makanan penutup di kehidupanmu saat ini"
Tak ada jawaban yang terdengar. Terlihat Paman Chand yang berjalan mendekat ke arah Er lalu sedikit membungkukkan badannya lalu berbisik tepat di telinga kiri Owner
"Kau yakin akan menghabisinya sekarang?" tanya Paman Chand pelan dan sedikit ragu
__ADS_1
"Paman meragukan ku? Apa saat ini wajah ku terlihat sangat tidak meyakinkan?" bukannya menjawab, Er justru melimpahi Paman Chand dengan pertanyaan yang membuat pria tua itu diam tak berani melanjutkannya
"Semua alatmu sudah berada di tas ini. Kau akan melakukannya disini? Apa tidak lebih bagus kau melakukannya di ruangan itu?" ucap Thio yang sudah datang dan langsung meletakkan tas hitam di atas lantai dan melirik ke arah ruangan yang tak kalah gelapnya
"Tidak perlu. Lagipula aku sudah memperingatkan semua orang. Urusan mereka kaget dan jijik, itu bukan urusanku" jawab Er santai
"Kakak Ipar masih istirahat Er. Besok pagi kita akan hubungi mereka kembali. Dan juga Kakak berpesan agar kau menyisakan sedikit bagian untuknya"
Terdengar tawa yang dikeluarkan oleh pria itu lalu kembali menatap tajam ke depannya
"Kau dengar? Orang yang bahkan sangat kau benci tak kalah gila nya dengan ku. Baiklah cukup basa-basinya. Katakan, kau ingin bagian mana terlebih dahulu yang harus aku selesaikan hmmm?"
Er mulai membuka tas yang tadi dibawakan oleh Thio sahabatnya. Terlihat sudah segala jenis alat-alat tajam yang ada di sana. Dan dapat dilihat, semua terkejut. Oh tidak semua, Alan tampak biasa saja akan hal itu
Setelah menatap satu per satu benda tajam yang ada, pilihan Owner kali ini jatuh pada sebuah gunting dengan ukuran yang cukup besar dan terlihat sangat tajam
"Tuan Muda, bu-bukankah kau memulai segalanya dengan benda kecil? Kenapa kau memilih gunting?" tanya Thio terbata-bata
"Mencoba sesuatu yang baru juga tak ada salahnya sobat. Nampaknya kali ini aku akan bermain dengan benda besar terlebih dahulu" jawab Er sembari mengelus-elus ujung gunting yang dia pilih tadi
"Oh ternyata manusia bajingan seperti mu masih bisa memperingatkan ku? Tapi maaf Tuan Ricko yang terhormat, peringatanmu sudah sangat tidak berguna untukku"
Er menoleh ke samping dan mendapati Kakak keduanya yang sudah menyandarkan punggung badannya ke belakang dan bersidekap dada. Owner terkekeh dan menepuk jidatnya pelan
"Apa kakak juga sama sepertiku dan Kak Rizky? Kau terlihat biasa saja kak. Apa kau psikopat juga hah?" tanyanya tak percaya
"Yah bisa dikatakan seperti itu. Memang sudah lama aku tidak melakukan atau melihat hal seperti ini, tapi masa laluku lebih buruk darimu Er. Jadi lanjutkan saja. Tapi apa aku diizinkan memberikan saran dimana tempat pertama yang harus kau selesaikan?" jawab Alan dengan santainya
Er mengangguk dengan mata yang sudah berbinar
"Sepertinya gunting itu akan lebih bermanfaat jika kau lakukan di kakinya terlebih dahulu. Aku sudah membayangkannya sejak kau membuka tas itu" lanjut Alan
__ADS_1
"Ahhh kau benar kak. Terimakasih untuk sarannya kak aku akan melakukannya"
Er bangkit lagi dari posisinya dan jongkok di hadapan Ricko yang sudah semakin pucat pasi
"Kau tau Ricko, aku tidak akan segila ini jika kau tidak melewati batasmu. Tapi kau sudah mencelakai kakak iparku sebanyak 3 kali. Kau bahkan hampir meracuni dirinya. Apa kau tau"
"Arghhhh" teriakan sudah terdengar jelas dan lantang di ruangan itu
"Apa kau tau? Aku sangat murka saat Kakak Iparku harus dirawat beberapa hari di Rumah Sakit dan hampir tiada"
"Arghhh kau gila Owner" jerit Ricko kembali
Kini kulit kaki kirinya sudah terkelupas akibat ulah dari Owner. Dia menusuk lalu menariknya dengan enak dan santai. Sedangkan Blue dan juga Andrew sudah meneguk salivanya takut. Dan dua orang lainnya? Tidak perlu ditanya, mereka sudah diam tak berani mencegah atau pun membuka suara
Owner terus dan terus melanjutkan semua kegiatan yang membuatnya tersenyum puas tanpa mempedulikan jeritan yang terdengar di ruangan itu. Hingga ia harus memberikan jeda dan tertawa melihat tangan dan objeknya sudah dibanjiri oleh darah segar
Menoleh ke belakang dan duduk di atas lantai itu. Menatap sejenak kakak keduanya lalu menyodorkan gunting itu ke arah pria itu
"Kakak tidak ingin melakukannya? Ini sangat menyenangkan Kak. Ambil bagianmu dan kita akan menyisakan bagian Kak Rizky" ucapnya tersenyum bahagia
Alan meregangkan kedua tangannya lalu bangkit dari duduknya dan menatap iba ke manusia sialan yang masih bernyawa itu
"Aku mohon hentikan Er. Bunuh saja aku. Jangan menyiksaku lagi. Aku mohon"
"Kau yakin sudah cukup? Tapi sepertinya memang sudah cukup. Kau sudah mengukir banyak hal di kaki dan bagian bawah lainnya. Aku akan memilih sendiri alatku" ucap Alan menghiraukan permohonan yang keluar dari mulut Ricko
Er menganggukkan kepalanya dan menatap Thio. Thio yang seakan mengerti langsung dan langsung menyodorkan botol minuman dingin dan membantu Tuan Mudanya itu untuk bangkit dan mendudukkan nya kembali di kursi kayu tadi
"Sepertinya jari-jemarimu ini sangat nakal Tuan Ricko. Kau berani membantu Kakak Iparku bangkit padahal kau yang sudah menabraknya waktu itu lalu menusukkan jarum beracun ke tubuhnya. Kau sangat hebat dan juga licik. Aku akui itu"
"Arghhh. Kalian benar-benar psikopat gila"
__ADS_1
("Mereka sangat tak terduga. Bagaimana bisa ketiga Tuan Muda Graham ini sangat menakutkan seperti ini?") batin Andrew yang sedari tadi hanya diam meneguk salivanya melihat semua kejadian dan mendengar teriakan kesakitan itu
🌻🌻🌻