CEO My Husband

CEO My Husband
AMANDA SADAR


__ADS_3

Panggilan itu sudah ditutup oleh Alan. Dia langsung melihat ke arah Thio dengan air mata yang sudah menetes ke pipinya


"Ada apa Kak? Jangan membuat jantungku hilang kendali" tanya Thio tidak sabar


Bukannya menjawab, Alan justru menarik Thio dan memeluknya dengan erat sembari memukul punggungnya dengan pelan


Dia melepaskan pelukan itu dan tertawa pelan namun air mata masih saja turun dari pelupuk airmata


"Aisss aku bisa-bisa gila melihat keadaan seperti ini. Oh ayolah Kak katakan padaku ada apa sebenarnya. Pegang ini pegang" ucap Thio sembari menarik tangan kanan Alan dan menempatkannya di dadanya


Alan semakin tertawa dan memukul dada itu. Jantung Thio benar-benar berdetak dengan cepat


"Kita harus istirahat sekarang" bukannya menjawab Alan justru menyuruh Thio dan dirinya untuk istirahat


Alan ingin beranjak pergi masuk ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menahan pundaknya


Alan memutar badannya dan melihat raut wajah datar yang dibuat oleh Thio. Alan semakin terkekeh dibuatnya


"Kak kau ingin memberitahukannya atau aku akan menelepon adikmu?" tanya Thio kesal


"Hahaha... baiklah aku akan memberitahu nya padamu" jawab Alan dengan kedua tangannya sudah berada di depan dadanya


Thio berdiri tegak dan menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikeluarkan oleh mulut Kakaknya itu


"Kak Rizky menelpon dan mengatakan bahwa..." jelas Alan menggantung


Thio semakin serius dan semakin memajukan badannya. Alah semakin terkekeh dan mendorong kepala Thio yang mendekat itu


"Tenanglah Thio. Jangan tegang seperti itu" ucap Alan


"Kak Amanda sudah sadarkan diri" lanjut Alan dengan air mata yang kembali turun


Thio semakin tegang dan tak berkedip beberapa saat


"A... aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Kakak me... mengatakan apa tadi?" tanya Thio lagi dengan terbata-bata


"Ck kau ini sudah menjadi tuli sepertinya. Aku katakan bahwa KAK AMANDA SUDAH SADARKAN DIRI THIO..." ucap Alan lagi dengan berteriak di kalimat tertentu itu


Thio jongkok dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Alan bingung dan ikut berjongkok di hadapan adik nya itu


"Hei... are you okay boy?" tanya Alan dengan nada khawatir


"Aku senang kak. Akhirnya rasa takut dan rasa khawatir kita berbalas manis. Kak Amanda sudah sadarkan diri haha" jawab Thio dengan terkekeh diakhir kalimat


Mereka berdua sama-sama berdiri dan berpelukan dengan erat.


"Baiklah sekarang kita harus istirahat. Besok kita akan menemui Kakak Tercantik kita itu" ucap Alan


Thio menganggukkan kepalanya mantap dan berjalan terpisah dengan Alan. Dalam apartemen itu ada 2 kamar tamu dan 1 kamar utama


🌻🌻🌻


Matahari sepertinya juga ikut berbahagia mendengar kabar mengenai salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang sudah membuka mata indahnya itu


Matahari memberikan sinar yang begitu terang hari ini. Berhasil membangunkan Alan dan juga Thio dari tidurnya


Alan bergegas turun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya itu. Di satu sisi, Thio juga sudah melakukan hal yang sama


Mereka begitu bersemangat setelah mendengar kabar Amanda yang sudah sadarkan diri setelah hampir seminggu menutup mata dan tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


Akhir dari rasa takut mereka sudah berakhir. Mereka ingin secepatnya mendekat dan melihat Amanda mereka yang begitu mereka rindukan


"Thio apa kau sudah selesai. Cepatlah" teriak Alan dari dapur yang menuangkan air putih ke dalam gelas


Cek lek


Terdengar suara pintu yang dibuka. Thio sudah siap dan merapikan rambutnya di depan cermin kecil yang ada di dekat TV


"Ayo" ajak Alan langsung berjalan terlebih dahulu


Thio menggelengkan kepalanya melihat sikap Alan yang begitu bersemangat. Dia mengikuti langkah Alan dari belakang


🌻🌻🌻


"Kak akan lebih bagus jika kita membelikan bunga atau yang lainnya untuk Kak Amanda" ucap Thio yang duduk di samping Alan yang sedang fokus mengemudikan mobil


"Di pekarangan Rumah sudah banyak bunga Thio. Kita akan membelikan apa? Kalau kita membelikan blueberry cake aku yakin dia belum bisa memakan itu. Jadi kita pulang membawa badan saja" jelas Alan


Thio menahan tawanya mendengar penjelasan yang diberikan oleh Alan. Waktu yang dibutuhkan dari Apartemen ke Rumah Besar hanya 15 menit jika tidak mengalami kemacetan


Karena mereka berangkat sangat pagi jadi jalanan yang mereka lalui tidak mengalami kemacetan


15 menit berlalu... Mobil mereka sudah sampai di depan gerbang utama. Alan memasukkan sidi jarinya ke dalam alat pendeteksi identitas mereka


Setelah sudah terdeteksi gerbang besar itu terbuka dengan lebar dan Alan langsung melajukan kembali mobil tersebut. Bryant memang membuat keamanan yang begitu ketat


Gerbang utama dibuat begitu dan jika ada tamu yang datang mereka akan mengiau biodata dan melakukan pemeriksaan yang akan dilakukan oleh Pria berbadan besar dengan menggunakan pakaian formal


Alan sudah memarkirkan mobil itu dengan baik di dalam garasi mobil. Mereka berdua turun dan berlari kecil untuk segera masuk ke dalam


"Bunda" panggil Alan ketika melihat wanita paruh baya yang ingin naik ke atas


"Alan" jawab Lyla sambil tersenyum


"Kemarilah nak. Kenapa berdiam disana?" lanjut Lyla dengan senyum yang masih bisa terlihat


Alan sedikit berlari dan langsung memeluk Bunda angkatnya itu dengan erat


"Alan merindukan senyum Bunda seperti ini. Alan senang karena akhirnya Bunda kembali tersenyum" jawab Alan


Lyla semakin mengembangkan senyumnya dan mengelus punggung Alan Putera keduanya itu dengan hangat


"Kalian berdua sudah sarapan?" tanya Lyla melepas pelukan itu dan melihat Thio dan Alan secara bergantian


"Kami ingin bertemu dengan Kakak Ipar" jawab Alan


"Kakak Ipar kalian masih mandi. Kalian sarapan lah terlebih dahulu dengan perlahan. Nanti jika sudah selesai kalian bisa melihat Amanda. Bagaimana?" tanya Lyla sambil memegang pipi kanan Alan dengan lembut


"Baiklah Bunda kami akan sarapan terlebih dahulu" jawab Alan


Alan dan Thio berjalan dan duduk di kursi yang ada di meja dapur. Sedangkan Lyla sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua


"Apa semuanya sudah sarapan Bunda?" tanya Thio


"Kami semua sudah sarapan. Ayah masih ada di kamar untuk sebentar tidur sedangkan Rizky yah dia ada di kamar tamu menunggu Amanda. Sedangkan Er... Bunda tidak tau dimana anak itu sekarang" jelas Lyla dan meletakkan makanan itu di depan mereka berdua


"Er di sini Bunda" jawab Er sambil berjalan kearah mereka


Er duduk di samping Alan dengan wajah yang sumringah. Senyum lebarnya juga terpancar

__ADS_1


"Bunda... apa Er bisa mendapatkan milkshake Cokelat?" tanya Er melihat Lyla


Lyla tersenyum dan mengacak rambut Er lalu membuatkannya langsung


"Bagaimana Kak? Apakah sudah mendapatkan informasi?" tanya Er melihat ke arah Alan


Alan hanya menganggukkan kepalanya dan melihat manik mata Er. Er semakin melebarkan senyumnya dan melihat minuman yang tadi dia minta sudah ada di depannya


"Terimakasih Bundaku tersayang. Bunda memang yang terbaik" ucap Er dan mencium pipi Lyla


Lyla hanya menggelengkan kepalanya tak percaya dan pergi meninggalkan kedua Puteranya itu. Walaupun Thio tidak memiliki marga Graham namun dia sudah dianggap menjadi Putera Graham. Jika saja Thio tidak memiliki keluarga dan berkehidupan yang sulit sudah sangat dipastikan bahwa Bryant akan mengadopsinya juga


Sarapan selesai, Thio mengambil piring bekas makan Alan dan berjalan untuk mencucinya di wastafel


"Apa Kak Manda baik-baik saja?" tanya Alan kepada Er


"Yah dia baik-baik saja. Waktu matanya sudah terbuka dengan jelas yang kami lihat pertama kali senyum yang dia berikan. Aku tidak tau apa maksud dibalik senyum itu" jelas Er


Alan diam tak menjawab


"Ayo... aku ingin bertemu dengan Kak Manda. Dimana Zaen?" tanya Alan


"Ck... ku kira kau tidak ingat dengan kekasihmu itu. Dia sudah menjadi teman cerita Kak Manda setelah sadar. Dan kau... Kak Amanda akan menyidangmu nanti" ucap Er dengan senyum sinis nya


Alan memutar kedua bola matanya dengan malas dan menaiki anak tangga bersama dengan kedua adiknya itu


Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar yang terbuka lebar. Alan melihat Amanda yang sedang tertawa dengan kekasihnya Zaenal. Zaenal yang sibuk mengucir rambut Amanda di depan cermin


Mereka masuk dan mencari keberadaan Rizky namun tak ada


"Kak" panggil Alan dengan lembut


Amanda menghentikan tawanya dan melihat Alan lalu senyumnya kembali terlihat


Alan berjalan mendekat dan berjongkok di bawah Amanda yang duduk di kursi kayu yang sedikit lebih tinggi


"Apa kakak masih merasakan sakit?" tanya Alan sambil mengelus pergelangan tangan Amanda yang masih dibalut perban putih


Amanda tersenyum dan merapikan rambut Alan


"Tidak. Apa kau tidak menyisir rambutmu setelah mandi?" tanya Amanda


Bukannya menjawab Alan justru meletakkan kepalanya di atas paha Amanda


"Kakak jangan berbuat seperti itu lagi yah. Jangan melukai diri kakak lagi. Jangan tidur seperti itu lagi. Jangan menyiksa kami lagi seperti kemarin. Alan lebih suka mendengar marahnya kakak daripada diamnya kakak seperti kemarin"


"Alan lihat kakak" ucap Amanda menyuruh Alan


Alan langsung melihat Amanda dan Amanda terkejut melihat Alan yang sudah menangis dan mata merahnya. Bukan hanya Alan melainkan semua yang ada di kamar itu


"Kau sudah menjaga dan merawat kakak dengan baik. Kau, Er dan juga Thio adalah adik kesayangan Kakak. Jadi kakak tidak mau melihat kalian bertiga menangis karena ini. Harusnya kalian kuat karena tanggungjawab dan kewajiban kalian untuk menjaga kakak masih berlanjut. Hapus airmata itu"


Alan menghapus semua jejak air matanya begitupun dengan kedua pria yang disebut Amanda tadi


"Kemarilah" ajak Amanda melihat Er dan Thio yang berdiri bersebelahan


Er dan Thio tanpa ragu langsung berjalan mendekat dan berjongkok di bawah Amanda


Mereka memeluk pinggang Amanda melepaskan rasa rindu mereka selama ini.

__ADS_1


Rizky dan Bryant yang melihat semua itu dari pintu juga ikut terharu karena ternyata keluarga mereka memang benar-benar harmonis dan saling menyayangi satu sama lain


🌻🌻🌻


__ADS_2