CEO My Husband

CEO My Husband
PENYELESAIAN MISI ALAN(3)


__ADS_3

Alan masih dengan posisi ternyaman nya yaitu masih duduk di atas kursi empuk yang ada di belakang semua komputer laptop dan alat-alat canggih lainnya


"Baiklah apa kakak sudah sanggup menerima penjelasan dan praktek selanjutnya?" tanya Thio setelah beristirahat sebentar tadi


Alan menganggukkan kepalanya dengan raut wajahnya yang masih serius


"Lihat ini Kak. Komputer ini sangat berbeda dari yang lainnya. Selain karena bentuk dan warnanya yang membedakan dia dengan lainnya. Fungsinya dan arahnya juga berbeda" Thio mulai menjelaskan sambil menunjuk salah satu komputer yang ada di atas meja itu


Alan semakin memfokuskan perhatiannya dan masih menunggu penjelasan selanjutnya


"Silahkan kakak log-in seperti tadi. Dengan angka dan Password yang sama" suruh Thio menatap Alan dengan serius


Alan menaikkan alisnya dan segera melakukan apapun yang di suruh oleh sahabat adiknya itu yang juga sudah dia anggap seperti adiknya juga


Alan mulai sibuk mengetik di atas keyboard berwarna merah darah itu dengan mata tertuju pada layar komputer. Dia lalu menekan tombol enter


Alan menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Thio. Setelah menekan tombol enter hanya loading yang dia baca


Thio diam saja dan masih menatap layar komputer itu


"Kakak sudah siap menerima salam dari orang-orang baru lagi?" tanya Thio secara tiba-tiba


Alan tentu saja kaget. Pertemuannya dengan Paman Chand saja masih belum bisa dia tangkap dengan baik. Lalu tadi apa? Thio mengatakan orang baru lagi? Oh astaga tolong siapa saja bantu Alan untuk menghilangkan rasa pusingnya


"Berapa banyak?" tanya Alan singkat


Thio terkekeh melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Alan semenjak mendengar kalimat itu


Dan tentu saja, hal yang tadi kembali terjadi. Dinding di hadapan mereka menyala dan Alan melihat ada banyak manusia yang sedang menatap ke arah mereka


Jika tadi yang dia lihat hanya pria paruh baya. Namun sekarang yang dia lihat adalah anak-anak muda pria dan juga wanita


"Selamat Malam Tuan Muda" sapa salah satu dari mereka


Alan bisa menerka usia dari pria muda ini. Sepertinya dia seusia dengan Er namun wajahnya terlihat sangat serius sama seperti kakaknya Rizky


"Selamat Malam" jawab Alan sopan


"Selamat Malam Thio" sapa mereka lagi dan kini menatap ke arah Thio

__ADS_1


Thio hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekat untuk menyamakan posisinya dengan Alan


"Tuan Muda, dia adalah ketua dalam Markas THE DESTROYER2. Paman Chand sudah menyebar luaskan semua markas hingga ke seluruh penjuru dunia. Dan ini adalah markas yang sama kuatnya dengan Markas utama. Yang memegang kendali yah seperti yang Anda lihat. Semuanya adalah kaum muda" jelas Thio menatap orang-orang tersebut satu per satu


"Dan dia bernama Dwonk. Biasanya dipanggil dengan nama Onk. Dia diberi tanggung jawab oleh Paman Chand untuk memegang kendali Markas yang ada di Negara Jepang. Inilah sebenarnya maksud dari perkataan Paman Chand tadi Tuan Muda" lanjut Thio


Alan berdiri dan membungkukkan badannya. Sontak semua kaget dan ikut memberikan hormat


"Maaf Tuan Muda, tapi Anda jangan memberikan salam seperti itu. Harusnya kami saja yang memberi salam seperti itu. Karena kami sudah terikat janji dan sumpah untuk menghormati, membantu, menyelesaikan serta menyingkirkan masalah yang menyangkut soal Keluarga Graham. Maafkan kami jika tadi kami lupa memberikan salam pada Anda" jelas Onk setelah kembali berdiri tegap


"Saya membungkukkan badan karena saya benar-benar membutuhkan bantuan kalian semua. Ini menyangkut mengenai kebahagiaan Kak Rizky dan juga Kakak Ipar saya Kak Amanda" jawab Alan dengan wajah dinginnya


"Kami sudah mengetahui permasalahan nya Tuan Muda. Sekarang yang kami butuhkan adalah Anda memberikan izin kepada kami agar kami bisa langsung mencari tau identitas mengenai Nona Muda Amanda"


Alan langsung menganggukkan kepalanya dengan tegas dan juga tatapannya yang tajam


Panggil terputus. Alan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan menekan tombol berwarna putih yang senada dengan warna dinding ruangan itu


Kaca kembali terbuka dan dia keluar dari ruangan itu meninggalkan Thio


🌻🌻🌻


Alan merebahkan dirinya di atas sofa yang ada di ruang tamu yang ada di apartemen pribadinya itu


"Kak apa kau begitu lelah?" tanya Thio berhenti tepat di hadapan Alan


Alan membuka matanya dan menatap Thio


"Aku tidak lelah hanya merasa khawatir saja. aku memikirkan kak Manda. Apakah sekarang dia sudah sadarkan diri atau masih terbaring lemah?"


"Kakak tenang saja. Jika Kak Amanda sudah sadarkan diri pasti Er akan langsung menghubungi dirimu atau paling tidak menghubungi diriku" hibur Thio


Thio melangkahkan kakinya menuju dapur dan membuka kulkas. Mengambil minuman kaleng dan membawanya untuk diberikan pada Alan


"Minumlah Kak" ucap Thio sembari memberikan minuman itu


Alan merubah posisi badannya menjadi duduk. Dia menerima minuman dari tangan Thio dan Thio langsung duduk di sampingnya.


Mereka berdua dengan secara bersama meneguk minuman itu. Hening... hanya itu yang bisa menggambarkan suasana dalam apartemen milik Alan

__ADS_1


"Apa menurutmu mereka akan menemukan segalanya?" tanya Alan membuka pembicaraan


"Tentu saja. Bahkan aku sangat yakin tidak harus menunggu sampai berhari-hari mereka pasti akan dengan mudah mendapatkan segalanya" jawab Thio


Tak ada lagi pembicaraan setelah itu. Ganyan terdengar detakan jarum jam yang terpajang di dinding ruang tamu itu


"Apa aku bisa bertanya kak?" tanya Thio


Alan hanga menganggukkan kepalanya memberi izin


"Jika kita sudah mengetahui kebenarannya. Apa yang akan kau lakukan terlebih dahulu?"


Alan menoleh menatap Thio dengan tatapan yang sulit untuk diartikan


"Sepertinya tanpa ku jawab kau seharusnya sudah tau jawabannya"


"Aku tidak tau. Aku tidak bisa membaca pikiran kalian Kak. Walaupun aku sudah mengetahui segalanya tentangmu tapi tetap saja aku ingin tau jawabannya langsung darimu"


"Sudah pasti aku akan langsung menghajar Alex Arafah itu. Dan memberikan pelajaran kepada Istrinya yang tak kalah angkuhnya dengan dirinya. Kenapa bisa mereka berdua dipersatukan? Sama-sama memiliki sikap angkuh dan arogansi yang tinggi. Menceritakan tentang mereka saja aku sudah emosi duluan"


Thio terkekeh dan memukul paha Alan pelan


"Ternyata apa yang ada dalam pikiranku benar" hanya itu ucapan yang dikeluarkan oleh Thio setelah mendengar jawaban dari Alan


Suasana itu kembali hening. Namun tak bertahan lama setelah mendengar getaran ponsel Alan yang dia letakkan di atas meja kaca yang ada di depan mereka berdua


Kak Rizky


Nama itu tertera jelas ketika layar ponsel itu hidup. Alan dan juga Thio saling melempar tatapan bingung


Apakah kakaknya itu sudah tahu jika dia meminta bantuan orang lain? Jika iya maka saat ini juga semua akan terhenti


Alan langsung mengambil ponsel itu dan menerima panggilan itu


"Iya Kak. Apa ada masalah?" tanya Alan


"..."


Alan tiba-tiba berdiri dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Thio yang melihat Alan berdiri juga ikutan untuk berdiri. Dia menatap Alan dan dia juga ikut merasakan ke khawatiran yang melebihi batas

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba saja Alan kakaknya itu berdiri dan dia melihat mata itu sudah berkaca-kaca?


🌻🌻🌻


__ADS_2