
Rizky memasuki sebuah ruangan gelap dengan bau amis yang sudah begitu pekat. Apalagi jika itu bukan dari bau darah yang menempel di setiap dinding ruangan itu.
Thio dengan segera meletakkan kursi kayu di hadapan 2 manusia yang memang sudah ada di ruangan itu dalam waktu yang cukup lama
"Silahkan Tuan Muda. Saya akan segera mengambilkan semua keperluan Tuan Muda" ucap Thio dan langsung pergi begitu saja
Rizky berjalan pelan mendekati kedua pria yang sedang meronta-ronta namun tidak mengeluarkan suara sama sekali. Dengan kain hitam yang juga menutupi mata mereka
Dia duduk dengan tenang namun kepala yang sudah dia miringkan ke samping menatap datar ke mangsa yang akan segera dia habisi. Pikiran yang terus saja melayang-layang ke tempat lain membuat pria itu semakin murka
"Arghhhh. Kau memang sialan Rizky. Kau pria bajingan" teriaknya melampiaskan amarahnya
Membanting kursi-kursi lainnya dan juga melempar besi yang ada di sana. Rizky Arkansas Graham saat ini bukan lagi Rizky yang dingin dan tenang seperti biasanya. Amanda berhasil mengusik ketenangannya
Thio yang hendak berjalan menghampiri Tuan Muda nya itu seketika menghentikan langkahnya dengan raut wajah yang sudah sangat takut. Thio menetralkan degup jantungnya dan menelan salivanya dengan susah payah dan melanjutkan langkahnya
"Ini dia Tuan Muda. Silahkan Anda gunakan, saya sudah membersihkan dan menajamkan segalanya. Saya akan menunggu di luar" ucap Thio dan langsung meletakkan tas ransel yang lumayan besar itu
"Kau akan tetap disini. Buka penutupnya" jawab Rizky yang semakin mengeluarkan aura tidak enak itu
Thio menganggukkan kepalanya dengan tegas dan langsung berjalan menuju kedua manusia yang sebentar lagi akan sangat menyedihkan. Tuan Muda nya benar-benar sudah sangat murka maka bisa dipastikan tidak akan ada pengampunan apapun setelah ini
Thio langsung membuka penutup mata kedua pria itu dan berjalan mundur. Sedangkan Rizky sudah kembali duduk dengan pisau kecil yang ada di tangan kanannya. Thio hanya bisa menghela nafasnya panjang lalu menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak tau apakah itu benar-benar gatal atau tidak
"Tuan Muda apa yang kau lakukan? Lepaskan saya, kau akan menyesal karena telah memperlakukan aku seperti ini" teriak salah satu pria tua yang sudah menormalkan penglihatannya itu
Sedangkan pria lainnya hanya bisa diam dengan wajah pucat yang sudah bisa dilihat dengan jelas. Luka yang lama saja belum sepenuhnya kering dan sekarang apalagi? Monster satunya sudah kembali bahkan jika dilihat lagi wajah monster sulung Keluarga Graham ini sudah tidak bisa di defenisikan
"Berisik" ucap Rizky dengan pelan namun mata elangnya masih senantiasa menatap keduanya secara bergantian
Terlihat kedua pria itu langsung merubah raut wajahnya. Pucat dan sesak, itulah yang saat ini bisa menggambarkan kondisi mereka
__ADS_1
Rizky mendekati tas ransel yang diletakkan oleh Thio di atas sebuah meja kaca yang berada tidak terlalu jauh darinya. Membukanya dan seringai kecil pun terlihat begitu jelas membuat Thio langsung bergidik ngeri
"Apakah pahatan yang diciptakan oleh kedua adikku sudah sembuh? Aku berharap belum Tuan Ricko" ucap Rizky yang masih fokus menatap satu per satu benda tajam di hadapannya itu
Merasa namanya dipanggil, Ricko langsung menegakkan kepalanya menatap sumber suara. Berusaha bersikap tenang walau degup jantung sudah memompa dengan cepat
"Su-sudah hampir kering" jawabnya dengan terbata
Rizky berbalik dengan pisau kecil yang ada di tangannya. Senyum bak dewa nya sudah keluar. Bahkan Thio sedikit terlonjak kaget melihat itu semua. Senyuman apa itu? Bahkan dirinya saja tidak pernah menemukan senyuman itu baik ketika bersama dengan gadis itu atau pun tidak
"Bagus lah. Aku akan memulai darimu Ricko. Tapi setelah aku melihat-melihat wajahmu dengan teliti, sepertinya aku pernah bertemu dengan mu. Tapi dimana? Berikan aku sedikit waktu" ucap Rizky dengan nada yang sedikit bersemangat
("Hancur sudah, jika dia mengingat ku maka semua semakin rumit. Dia juga akan segera merasa was-was untuk menyambut kehadiran adikku. Tidak bisa, dia tidak bisa begitu saja menghancurkan rencanaku. Dia dan juga gadis itu harus hancur dan terpisahkan") batin Ricko yang mengepalkan tangannya
"Tentu saja kau pernah bertemu dengan ku. Aku yang membuat istri kecilmu masuk ke Rumah Sakit akibat dari racun yang aku beri" jawabnya cepat sebelum raut wajah itu semakin berubah dipenuhi amarah
Dugaan dan keinginan yang Ricko ucapkan dalam hatinya salah. Dengan menjawab dan mengingatkannya akan hal itu semakin membuat Rizky murka
"Arghhh" teriak Ricko dengan penuh kesakitan
Ini benar-benar sakit, Rizky melakukannya secara tiba-tiba. Membuatnya terlonjak kaget dan belum siap. Sedangkan pria paruh baya di sampingnya melotot tak percaya. Bagaimana bisa Tuan Muda yang digilai oleh Puterinya dan semua kaum wanita di luar sana begitu menyeramkan
"Kau mengucapkan itu dengan santai Ricko. Apakah Er tidak mengingatkanmu hmmm?" bisik Rizky tepat di telinga pria yang masih melirih kesakitan
Rizky menarik kursi kayu dan duduk tepat di hadapan Ricko. Menatap pisau yang masih berlumuran darah itu dan sesekali melirik wajah yang sudah dipenuhi oleh darah itu
"Katakan padaku, kenapa kau begitu membenci Amanda? Apa dia pernah membuat mu sakit?" tanya Rizky lirih
Tak ada jawaban yang diterima oleh telinga semua orang yang ada di ruangan ini. Rizky menggeram lalu menatap Thio menyuruhnya mendekat. Thio langsung berjalan mendekat dan sedikit merendahkan dirinya guna mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Tuan Mudanya itu
Thio yang seketika menganggukkan kepalanya dengan tegas membuat kedua pria itu saling menatap satu sama lain. Thio berjalan mendekat ke arah Ricko dan melepaskan ikatan yang ada di kedua kaki pria itu
__ADS_1
"Aku sangat tidak suka jika ucapan ku tidak mendapatkan jawaban sama sekali, Ricko. Benar begitu Tuan Bao?"
Mendapat anggukan ragu dari Tuan Bao yang berada di sebelahnya, Ricko semakin panik dan berusaha untuk memberontak. Menatap Rizky yang juga menatapnya dengan datar
"A-apa yang akan kau lakukan Rizky?" tanyanya ketika Thio mengangkat sebuah bangku panjang dan meletakkannya di tengah-tengah antara dirinya dan juga Rizky
Rizky menampilkan smirk nya lagi dan lagi. Kaki pria itu sudah berada di atas dengan tali yang kembali mengikatnya kuat
"Apa kau membenci Amanda?" tanya Rizky lagi
"Aku peringatkan sekali lagi Tuan Ricko, aku tidak suka jika ucapan ku tidak mendapat jawaban sama sekali. Berpikirlah dengan baik kali ini" lanjut Rizky yang sudah mengelus pisaunya itu di atas kaki Ricko bermaksud ingin menghapus darah tadi
"I-Iya, aku sangat membenci istrimu itu" jawab Ricko dengan jujur
"Cihhh. Kau berbohong Ricko. Bagaimana bisa kau membenci Amanda jika gadis ku saja tidak mengenalmu sama sekali"
"Aku sudah berkata jujur. Aku sangat bahkan sangat membencinya"
"Kalau begitu, kau juga membenci ku. Benar begitu Ricko?"
"Arghhh kau gila Rizky" teriak Rizko dengan keras membuat semua manusia disitu merinding ketakutan
"Kau benar, aku memang sudah gila. Dan kegilaan ku ini datang karena gadis yang sama" bisik Rizky dan kembali menggoreskan pisau itu ke luka yang sama
"A-aku mohon ja-jangan lakukan lagi. I-itu sangat sakit Tuan Muda" lirih Ricko
"Kak"
Rizky memberhentikan kegiatannya dan menghela nafas panjang. Owner datang disaat tidak tepat
🌻🌻🌻
__ADS_1