CEO My Husband

CEO My Husband
PENYELESAIAN MISI ALAN(2)


__ADS_3

Alan dan juga Thio sudah menyusun segalanya dengan baik. Mereka duduk dan bersandar pada sofa berwarna cream itu dan menghela nafas panjang


"Kenapa bisa serumit ini?" tanya Alan membuka percakapan


"Aisss Kak. Sudahlah jangan tanyakan. Ini semua pemberian adikmu itu. Semenjak tinggal di sana apalagi kota kami tinggal itu adalah salah kota dengan perkembangan teknologi yang cukup pesat. Jadi Er selalu saja memesan alat-alat canggih untukku agar bisa membantu dalam menyelesaikan setiap masalah" jawab Thio menjelaskan dengan nafas yang belum teratur


"Aku bahkan tidak bisa berjanji akan bisa menggunakan ini semua dengan baik" lanjut Alan


"Aku akan segera menjelaskan satu per satu padamu Kak. Tapi nanti setelah istirahat sebentar" jawab Thio yang sudah memejamkan matanya dan berusaha menetralkan nafasnya


Mereka menutup mata mereka bersama sampai beberapa waktu. Dan Alan membuka matanya dan menatap langit-langit ruangan itu


"Kita harus cepat Thio. Aku ingin menyelesaikan ini semua dengan cepat" ucap Alan secara tiba-tiba


Thio segera membuka matanya dan merubah posisi duduknya menjadi tegak


"Baiklah mari kita mulai" ajak Thio yang sudah bangkit berdiri


Alan hanya duduk sambil memandang Thio dengan sedikit tersenyum geli


"Kau tidak bisa membantuku lebih. Setelah kau menjelaskan semua ini aku yang akan bekerja sendiri. Atau kau akan dihukum oleh Kak Rizky. Oh salah... bukan hanya kau saja tapi aku juga" kata Alan dan bangkit berdiri


"Oh ayolah Kak. Kak Iky tidak akan marah jika kita tidak memberitahunya. Aku sangat menyukai pekerjaan ini jadi biarkan aku ikut ambil alih" bujuk Thio


"Huftttt kau salah jika harus berbohong Thio. Baiklah kau boleh ikut ambil alih dan aku yang akan menanggung hukuman yang nantinya akan diberikan oleh Kakak"


"Ehk tidak bisa. Aku yang mau jadi aku juga harus menerima hukuman apapun"


Alan hanya menggelengkan kepalanya. Dan berjalan mendekat ke meja di mana alat-alat canggih itu berada


Dia duduk di sebuah kursi yang ada di belakang meja itu. Kursi untuk dia mengawasi segalanya


"Baiklah aku akan mendengar semuanya" ucap Alan dengan wajah yang serius

__ADS_1


Thio menganggukkan kepalanya mantap dan berjalan mendekat


"Laptop ini bisa menghubungkan kakak ke dalam markas rahasia yang sudah Er bangun semenjak 1 tahun tinggal di Swiss. Kau bisa menggunakan akunmu sendiri dan tidak perlu menggunakan akun ku atau pun akun Er. Er sudah mendaftarkan semua anggota Graham agar bisa masuk ke dalam markas dan mendapatkan bantuan lebih. Ini... masukkan semua angka-angka ini dan juga password masuk mu. Dan aku harap kakak bisa menghafalnya dengan baik"


"Semua orang yang berada dalam markas itu disebut dengan sebutan THE DESTROYER. Bukan Er yang memberikan julukan itu melainkan Ayah angkat Er"


Alan seketika kaget mendengar penjelasan terakhir yang diucapkan oleh Thio


"Yah... semenjak disana ada seorang pria paruh baya yang tidur di depan kantor. Er kasihan dan menyuruh satpam untuk membawa beliau ke dalam ruangan nya. Setelah itu Er mengobrol dan memberikan makanan dan baju yang layak. Ternyata sepanjang cerita Bapak tersebut mantan ketua geng terbesar yang ada di Swiss. Oleh karena itu Er langsung menyuruhku untuk belajar banyak kepada Beliau. Dan Beliau menyarankan Er agar membuat sebuah markas yang sangat berguna" jelas Thio langsung


Alan menganggukkan kepalanya mengerti. Dia sudah masuk ke dalam markas dan terlihat panggilan video. Alan menautkan kedua alisnya dan langsung menatap Thio


Panggilan itu tersambung dan Alan semakin kaget karena melihat semua wajah yang terpampang jelas di dinding hadapannya. Wajah pria-pria yang serius dan tanpa ekspresi


Thio membungkukkan badannya dan Alan bangkit dari duduknya dan ikut menunduk. Namun belum juga menunduk Thio langsung melarangnya


"Tuan Muda tidak perlu melakukannya" ucap Thio yang tiba-tiba berubah menjadi frontal


"Salam Paman. Ini adalah Kakak Kedua dari Tuan Muda Er. ALAN FRANS GRAHAM. Saat ini kami sangat membutuhkan bantuan dari Paman semua" jelas Thio dengan hormat


("Bagaimana bisa Er dengan mudahnya mendapat orang-orang hebat seperti mereka. Aisss bahkan rasa pusing ku sudah bertambah") batin Alan yang memijit pelipisnya pelan


"Hallo Tuan Muda Alan. Senang bertemu dengan Anda" ucap salah satu pria


Alan kaget bukan karena tiba-tiba disapa. Dia kaget karena melihat semua manusia itu berdiri dan membungkuk kan badan mereka memberikan hormat padanya


("Aisss aku bingung harus berbuat apa sekarang. Er kau berhutang penjelasan pada Kakakmu ini") batin Alan lagi


Alan hanya tersenyum ramah


"Katakan pada kami apa yang Tuan Muda butuhkan saat ini. Kami sangat tidak suka jika Keluarga Graham berada dalam masa sulit atau dalam masalah. Jadi katakan semua masalah Tuan Muda Alan agar kami dengan sigap dapat membantu dan menyelesaikan segalanya" ucap pria yang sama


"Terimakasih perhatiannya Paman. Tapi apakah tidak lebih baik jika Paman atau Perwakilannya memperkenalkan diri pada Saya?" tanya Alan sungkan

__ADS_1


Terdengar tawa dari beberapa orang tersebut


"Maafkan saya Tuan Muda. Saya bahkan lupa untuk memperkenalkan diri mewakili semuanya. Baiklah kalau begitu izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya. Saya adalah Chand biasa dipanggil Paman Chand. Saya adalah orang pertama yang dibantu oleh adikmu dengan sangat ikhlas" jawab pria itu lagi yang tak lain dan tak bukan bernama Paman Chand


Alan menganggukkan kepalanya mengerti dan tersenyum ramah


"Baiklah kalau begitu saya akan memberitahu apa masalah yang sebenarnya" ucap Alan memberi jeda


Semua hening tak ada yang membuka suara. Alan dan Thio saling memandang satu sama lain. Bahkan dalam suasana seperti ini kenapa mereka berdua merasa hawa sekitar mereka menjadi panas?


"Saya harus melacak mengenai satu keluarga. Lebih tepatnya keluarga Mertua dari Kak Rizky atau Tuan Muda Rizky Kakak pertama kami. Dia baru saja menikah dengan Puteri dari salah satu Keluarga yang juga dikenal oleh Negara ini. Tapi ada beberapa misteri yang belum dapat kami pecahkan" ucap Alan yang mulai membuka percakapan


"Lanjutkan Tuan Muda. Jika ini menyangkut mengenai Tuan Muda Sulung kami akan lebih melakukan yang terbaik"


Alan sedikit terkejut mendengar ucapan dari Paman Chand. Dia berusaha berpikir positif. Mungkin saja Er memang mengistimewakan Kakak mereka itu


"Saya ingin mencari tau apakah Kakak Ipar yaitu Kak Amanda adalah benar-benar Puteri dari Keluarga Arafah atau bukan. Jika memang iya lalu kenapa Kedua Orangtuanya seperti tidak menganggapnya ada. Tapi jika tidak maka saya mau identitas asli dari Keluarga sebenarnya dari Kak Amanda" sambung Alan


Semua diam. Alan menaikkan sebelah alisnya bingung. Kenapa suasana ini mendadak sunyi dan semakin menegangkan?


"Tuan Muda, kami akan segera mencari tau. Tapi kami membutuhkan satu pertolongan untuk itu" jawab Paman Chand


"Baiklah katakan saja. Saya akan langsung memberikan bantuan apapun" ucap Alan menyanggupi kalimat itu


"Tuan Muda akan segera tau. Tuan Muda tanyakan saja kepada Thio karena dia sudah menjadi murid kesayang saya. Saya sudah memberikan semua ilmu saya padanya. Jadi nanti dia akan menjelaskan langkah apa selanjutnya yang harus Tuan Muda tempuh"


Alan langsung memandang Thio. Thio segera menundukkan kepalanya memberi hormat ketika Alan melihatnya dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan


"Kalau begitu kami izin undur diri Tuan Muda Alan. Kami berjanji akan segera memberikan informasi selanjutnya pada Anda" sambung Paman Chand lagi


"Baiklah Paman. Terimakasih sebelumnya untuk semua Paman yang ada di dalam THE DESTROYER" ucap Alan memberi izin


Panggilan berakhir dan Alan kembali duduk di kursi depan laptop itu. Namun dia langsung menatap tajam pada Thio

__ADS_1


"Ada yang tidak kau ceritakan padaku Thio?" tanya Alan dengan tatapan tajam yang masih belum lepas pada Thio


🌻🌻🌻


__ADS_2