
Alan memandang keluar jendela. Saat ini bukan dia yang menyetir melainkan Rizky. Mereka memang bergantian agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di sepanjang jalan
"Sudah berapa lama kau meninggalkan kota ini?" tanya Rizky sambil melirik sekilas ke arah Alan
"Sekitar 3 tahun Kak. Dan sepertinya sudah banyak perubahan dengan kota ini semua" jawab Alan dengan antusias
Rizky hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan kembali menatap jalanan
"Kak, akan lebih baik jika aku yang menyetir menuju ke lokasi rumah. Karena jalanannya cukup sulit jadi biarkan aku yang menyetir" ucap Alan sambil memandang Rizky
Rizky hanya diam kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup ramai
Mereka turun dan berganti posisi. Setelahnya Alan melajukan mobil tersebut dan Rizky hanya diam menatap sepanjang jalan yang mereka lewati
Waktu yang dibutuhkan dari kota Guangzhou menuju ke perdesaan tempat tinggal orangtua Alan sekitar satu atau dua jam lamanya
Alan memberhentikan mobil tepat di pinggir jalan. Rizky memandang sekitar mereka dan menatap Alan
"Sudah?" tanya Rizky singkat dengan alis yang terangkat
"Kita harus berjalan sedikit masuk ke dalam Kak" jawab Alan yang mengerti akan pertanyaan singkat Rizky
Rizky menganggukkan kepalanya dan keluar dari mobil. Dia menatap jalanan yang dipakai oleh orang sekitar. Dan mengalihkan matanya ke bawah tepatnya ke alas kakinya
"Aku akan menggunakan sendal saja" ucap Rizky dan membuka pintu belakang mobilnya
Alan mengerti dan menunggu Rizky membuka dan memakai sendal jepit yang dia sediakan tadi.
Rizky kemudian menutup pintu mobil dan Alan segera menguncinya. Mereka mulai berjalan melewati orang-orang yang berkumpul dan melakukan aktivitas mereka
"Keluargamu tinggal di rumah susun seperti ini?" tanya Rizky yang masih sibuk menatap sekitar
Alan menganggukkan kepalanya walaupun Rizky tak melihatnya
__ADS_1
Setelah berjalan lebih masuk akhirnya Alan menghentikan langkahnya tepat di sebuah rumah bertingkat dengan lantai bawah yang memperlihatkan beberapa orang yang sedang berdiri di depan kedai kecil
"Apa Tuan Muda lelah? Karena kita masih harus menaiki tangga untuk sampai tepat di rumah" tanya Alan sambil menjelaskan
"Ayo" jawab Rizky dengan raut wajah datar seperti biasa
Alan memperlihatkan senyumnya dan melangkah masuk menuju lorong kecil. Mereka menaiki satu per satu tangga hingga ke lantai tiga
Alan mengatur nafasnya dan melihat orang yang dengan tegapnya masih bisa berdiri
"Kakak tidak capek?" tanya Alan heran
"Tidak. Aku sudah biasa" jawab Rizky singkat
Alan hanya menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar dan melihat Tuan Muda Rizky atau kakaknya itu masih kelihatan baik-baik saja
Alan pun mengetuk pintu yang ada di hadapannya. Hingga ketukan ketiga baru terdengar seseorang sedang membuka kunci
"Alan? Putera ku" ucap orang tersebut dengan sedikit menjerit
Mereka melepaskan pelukan dan menatap Rizky
"Bu ini Tuan Muda Rizky. Dia Putera dari keluarga Graham. Dia yang menemaniku untuk kesini" ucap Alan memperkenalkan Rizky
Rizky menundukkan badannya memberikan hormat dan Ibu Alan juga melakukannya.
"Ayo masuk pasti kalian sangat lelah karena mengendarai mobil hingga kemari" ajak Cindy Ibu Alan
Alan dan juga Rizky pun membuka alas kaki mereka dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah dengan luas dan lebar yang bisa dibilang sangat kecil
"Silahkan duduk Tuan Muda" ucap Cindy dengan senyum tulusnya
Rizky membalas senyum itu dan duduk di sebuah sofa yang bisa dilihat sudah sangat lama umurnya
__ADS_1
Cindy berjalan dan mendekati Alan dan Rizky. Menuangkan secangkir teh herbal untuk kedua pria itu
Cindy duduk di samping Alan dengan senyum yang masih bisa terlihat
"Apa perjalanan kalian baik-baik saja?" tanya Cindy menatap mereka berdua secara bergantian
"Semuanya baik Bu" bukan Alan yang menjawab melainkan pria yang satunya yaitu Rizky
Cindy sontak kaget mendengar jawaban dari Rizky
"Tuan Muda, tidak seharusnya Tuan Muda memanggilku dengan sebutan Ibu. Saya jadi merasa tidak enak" ucap Cindy dengan raut wajah yang memang tidak enak
"Bu, kedatanganku dan juga Tuan Muda Rizky kemari karena ada yang ingin disampaikan olehnya. Tapi akan lebih baik jika Ayah sudah pulang nanti" jelas Alan memandang ke dalam retina milik Ibunya itu
Cindy pun mengerti dan menganggukkan kepalanya
"Kalau begitu kau ajak Tuan Muda Rizky untuk beristirahat. Ibu akan memasak makan malam untuk semuanya" kata Cindy yang sudah berdiri
Alan hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Cindy meninggalkannya dengan Rizky
"Kak, sebelumnya aku akan memberitahu sesuatu" ucap Alan yang semakin mendekat
"Jika kau hanya ingin memberitahu bahwa kamarmu kecil dan panas maka jangan harap kau akan ku maafkan. Jika kau mengatakan bahwa makanan untuk makan malam nanti tidak semewah makanan di Rumah Besar atau di rumah Graham maka jangan harap kau akan ikut denganku kembali ke Tiongkok" jelas Rizky terlebih dahulu dengan raut wajahnya yang biasa yaitu datar
Alan bersusah payah menelan Salivanya dan kemudian menggaruk pelipisnya yang tidak gatal
"Ternyata kakak sudah tau apa yang akan aku katakan. Baiklah aku tidak akan membahasnya. Kalau begitu aku akan memperlihatkan kamarku dan kakak bisa beristirahat terlebih dahulu. Karena aku akan turun untuk mengambil koper dan lainnya" jawab Alan
Rizky hanya berdehem sebagai jawabannya dan mengikuti langkah Alan yang menaiki sedikit anak tangga yang sepertinya menuju ke loteng
Rizky melihat keadaan kamar tersebut. Dan langsung merebahkan badannya di atas kasur itu lalu menutup matanya
Alan membuka mulutnya dan mata yang sedikit melotot karena tak percaya akan kejadian yang baru saja terjadi
Alan pun menyadarkan dirinya dan menuruni kembali anak tangga tersebut lalu keluar dari rumahnya
__ADS_1
("Tuan Muda memang lah luar biasa. Aku pikir dia tidak akan bisa hidup seperti ini. Namun nyatanya? Ahk sudahlah") batin Alan yang terus menuruni anak tangga menuju ke parkiran dimana mobil tadi di parkir kan
🌻🌻🌻