CEO My Husband

CEO My Husband
AMANDA TIDAK MARAH?


__ADS_3

Setelah kejadian pesan yang membuat Amanda cukup terkejut namun dia memutuskan untuk tidak memberitahu kedua adiknya, Amanda merasa bahwa ini semua ada kaitannya dengan kejadian sakitnya dia waktu itu


"Apa Keluarga ini memiliki musuh? Tapi tidak mungkin, Ayah dan juga Bunda selalu baik kepada orang. Rizky dan Er juga seperti itu, mereka berdua terlalu dingin untuk mengurusi permasalahan seseorang. Thio? Thio sahabat Er selama di Swiss sedangkan Alan? Alan baru saja diangkat menjadi anggota keluarga Graham. Lalu kenapa ada orang yang ingin mencelakai ku dan anggota keluarga lain?" lirih Amanda pelan sembari menuangkan air putih ke dalam gelas


"Kak, airnya sudah penuh" teriakan itu membuat Amanda terkejut dan langsung meletakkan gelas dan juga teko kaca yang tadi dia genggam


Amanda menoleh dan mendapati Thio yang menatapnya dengan raut wajah khawatir. Amanda duduk di bangku meja makan begitu pun dengan Thio


"Kakak melamunkan apa? Apa ada masalah? Katakan padaku" ucap Thio masih mempertahankan raut khawatirnya itu


Amanda mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali dan menelan salivanya dengan bersusah payah


"Ahk tidak ada. Kakak hanya memikirkan keberadaan Er saja karena dia belum kembali sampai sekarang" ucap Amanda yang terpaksa berbohong


"Tuan Muda pasti akan segera kembali Kak. Dia akan baik-baik saja di luar sana jadi kakak tidak perlu khawatir"


"Thio, ada yang ingin kakak tanyakan mengenai Er. Kau... tidak keberatan kan jika kakak bertanya mengenai sahabatmu itu?" tanya Amanda sedikit ragu


"Kenapa harus ragu? Tanyakan saja kak"


"Ehem... jadi kakak akan mulai bertanya dengan... apakah selama kalian di Swiss, Er memiliki musuh?"


Thio menautkan kedua alisnya dan menatap ke langit-langit rumah seperti berpikir


"Tidak Kak, dia atau pun aku tidak memiliki musuh sama sekali"


"Kau yakin? Mungkin saja musuh kalian itu ada sewaktu kalian membatalkan kontrak kerjasama atau pun mengembalikan saham perusahaan orang lain. Dan mereka sakit hati dan menganggap kalian musuhnya"


"Tidak kak. Jika pun Er ingin melakukan itu, dia akan mengajak pihak perusahaan untuk bertemu sekedar makan siang atau makan malam untuk berbicara dengan baik. Jika mereka menolak dan membentak Er maka jalan lain adalah aku yang akan turun tangan. Er tidak pernah mau tau bagaimana atau pun apa caraku dalam menyelesaikannya. Jadi aku bisa menjamin bahwa dia tidak memiliki musuh sama sekali"


Amanda menganggukkan kepalanya dan menghela nafas panjang


("Aku sudah menduganya. Tidak mungkin Er yang sedingin es batu seperti Kakak nya memiliki seorang musuh") batin Amanda yang sudah menundukkan kepalanya


"Kakak ingin bertanya lagi?" tanya Thio

__ADS_1


"Apa Er pernah bertindak kasar seperti memukul atau bahkan... membunuh?" tanya Amanda yabg kalimat akhir diucapkan sangat ragu


"Kalau mengenai itu aku tidak akan pernah memberitahu Kak Amanda atau pun tante. Tapi yang pasti, jikalau pun Tuan Muda Er pernah melakukan itu, itu pasti ada alasan yang cukup kuat sehingga dengan terpaksa dia harus melakukan itu kak" jawab Thio dengan yakin


"Baiklah pertanyaan terakhir. Apa alasan kepergian Er? Dan kenapa dia mengatakan bahwa dia akan kembali kemari jika Rizky akan menikah?"


Raut wajah Thio berubah menjadi sedikit pucat dan memalingkan wajahnya ke arah lain


"Thio, jawablah" desak Amanda


"Maaf kak, untuk kedua pertanyaan kakak itu aku benar-benar tidak bisa menjawabnya. Aku tidak memiliki hak sama sekali untuk mengatakan apapun karena ini menyangkut kedua Tuan Muda. Jadi alangkah lebih baik jika kakak menanyakan ini kepada Tuan Muda Rizky dan juga Tuan Muda Er" jawab Thio memasang raut wajah sedihnya


Amanda menghela nafas panjang menatap Thio dengan kecewa


"Baiklah tidak masalah. Kakak akan pergi ke rumah kaca. Kau mandilah terlebih dahulu yah" jawab Amanda lembut sembari menepuk pelan telapak tangan Thio


Thio tersenyum dan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Amanda masih duduk di tempatnya memikirkan semuanya. Tidak mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya memang membuatnya sedikit merasa kecewa. Tapi yang dikatakan oleh Thio juga sangat benar, tidak seharusnya Thio mencampuri urusan pribadi kedua Tuan Muda itu. Walaupun Er menceritakan segalanya padanya tapi itu tetaplah hak Er untuk memberitahu Amanda


Amanda beranjak dari duduknya dan berbalik berjalan menuju Rumah Kaca. Sesampainya disana dia melihat punggung tegap tinggi dengan menggunakan kaos berwarna abu-abu dan juga celana pendek


Alan tersenyum dan melanjutkan kegiatannya memotong daun-daun kering


"Kakak membutuhkan sesuatu?" tanya Alan yang fokus pada kerjaannya


"Tidak. Kakak hanya merindukan Er saja" jawab Amanda yang juga sudah ikut menyentuh bunga-bunga yang ada


"Aku disini kak"


Kedua manusia itu langsung berbalik dan mendapati Er yang sudah tersenyum ke arah mereka dengan kedua telapak tangan yang dimasukkan ke dalam jaket berwarna hitam itu


Er melangkah mendekat dan kini sudah berdiri tepat di hadapan Amanda. Amanda diam namun matanya masih terus menatap Adik Bungsunya itu


"Maaf karena membuat kakak dan juga Bunda merasa khawatir. Tapi aku benar-benar harus menyelidiki sebuah permasalahan Kak. Sungguh" jelas Er tanpa diminta


Alan berjalan mendekat dan berdiri di samping Amanda. Langsung memukul kepala Er dengan keras

__ADS_1


"Kau benar-benar" omel Alan yang tidak dilanjutkan namun tatapannya sudah menusuk


"Kau sudah sarapan?"


Alan dan Er saling menatap satu sama lain. Amanda tidak marah? Kakak Ipar mereka tidak mengomel atau memukul Er?


"Be-belum kak" jawab Er ragu


"Ayo, kakak akan menyiapkan sarapan untukmu. Kakak yang akan memasakkannya untukmu dan akan menjelaskannya sendiri pada Rizky" ucap Amanda dan langsung melangkah mendahului kedua pria tampan itu


"Itu benar Kak Amanda kan kak?" tanya Er berbisik kepada Alan


"Aku juga sedang bertanya pada diriku sendiri. Kenapa kakak tidak marah padamu? Ahk sudah lupakan. Bagaimana kau akan menjelaskan pada Kakak nanti hah?"


Er menghela nafas panjang tak menjawab dan menyusul Kakak Iparnya itu.


Amanda berhenti di pintu dapur dan berbalik menatap tubuh tinggi Er


"Pergilah mandi selagi kakak memasak. Kau ingin makan apa? Akan kakak masak kan"


"Apapun yang kakak masak akan ku makan. Aku belum pernah memakan masakan kakak jadi masak apa saja. Tapi kak, aku mohon berhati-hatilah" ucap Er dengan raut wajah begitu khawatir namun sesekali melirik ke dalam dapur


"Aku akan menemani Kakak Ipar. Pergi mandi sana" ucap Alan dari belakang


Amanda masuk ke dapur dan Er menahan tangan Alan dengan kuat lalu melirik ke dalam dapur


"Kakak harus menjaga Kakak Iparku dengan baik. Jangan sampai kejadian yang lalu terulang kembali. Jika itu terjadi maka saat itu juga aku akan meninggal" bisik Er masih dengan raut wajah khawatirnya


Alan melepaskan tangannya dari genggaman adiknya itu dan memukul bahu Er dengan pelan. Dia masuk ke dapur tanpa menjawab ucapan yang dilontarkan oleh Er barusan


"Kau sudah kembali?"


Er mengalihkan pandangannya dan menatap Thio dengan wajah yang kembali serius


"Ikutlah ke kamarku. Akan aku beritahu apa langkah kita yang selanjutnya" ajak Er yang berjalan duluan

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2