CEO My Husband

CEO My Husband
KEMBALI KE KERAJAAN ROTHENBURG


__ADS_3

Kembali kepada Tuan Muda bungsu kita, Er yang sedari tadi hanya fokus membaca sebuah buku tebal itu membuat semua nya diam tak mengerti. Paman Chand hanya bisa lagi dan lagi menggelengkan kepalanya melihat tingkah atasannya itu


"Apa dia akan terus membaca seperti itu dan membiarkan semua urusan ini begitu saja? Lalu untuk apa kita kembali kemari?" ucap Andrew mengeluh karena dia sudah merasa jenuh dengan semua kelakuan adik ipar dari Tuan Puteri kesayangannya itu


Brakkk


Semua sontak terlonjak kaget mendengar pukulan meja dengan begitu keras. Arah mata kini tertuju pada satu titik yaitu pada Tuan Muda mereka. Er yang sudah memasang wajah dinginnya kini menatap ke arah satu orang yaitu orang yang baru saja mengeluhkan tentang dirinya


Er berdiri dan merapikan rambutnya sedikit lalu berjalan ke arah ketiga pria yang sedari tadi hanya bisa menatapnya dengan tatapan tak percaya. Dia berhenti tepat di hadapan Andrew lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang berwarna putih yang dia kenakan hari ini


"Jika kau tidak suka dengan cara kerjaku maka katakan saja pada ayahmu atau pada Thio untuk berhenti melakukan tugas ini. Aku tidak membutuhkan bantuan dari manusia yang hanya bisa mengeluh dan tidak sabaran seperti mu Tuan Andrew" ucapnya dengan santai sembari menatap lawan bicaranya dengan datar


Paman Chand dan juga Blue yang melihat bahwa. Tuan Muda mereka bersikap seperti itu hanya bisa meneguk saliva mereka dengan susah payah. Er sangat menakutkan jika sudah memasang raut wajah seperti itu dan juga suara yang menurut mereka bagaikan bisikan sebuah malaikat maut


Paman Chand langsung berdiri di samping putranya dan menundukkan kepalanya bermaksud meminta maaf kepada pria yang saat ini sudah merasa kesal


"Maafkan Andrew, Tuan Muda. Dia tidak bermaksud mengeluh atas dirimu. Jika anda sudah menyelesaikan kegiatan anda, bisakah kita membahas mengenai pekerjaan yang akan kita lakukan selanjutnya? Karena jika semakin cepat maka semakin bagus untuk kita dalam menjaga Nona Muda Amanda"


Er yang tadi hanya menatap datar ke arah Andrew kini menatap Paman Chand lalu menghela nafasnya panjang. Dia berjalan kembali ke tempat awal dia berada lalu mendaratkan bokongnya dan menaikkan kaki kirinya ke atas kaki kanan


"Aku akan pergi sendiri untuk mencari informasi dan mencari peramal istana yang kalian bicarakan kemarin. Dan kalian, pergi ke istana itu kembali dan cari informasi sebanyak mungkin untuk lebih mempercepat cara kerja kita. Aku tidak tau sekarang bagaimana kondisi kakak iparku" jelasnya dan menatap lurus ke depan


Paman Chand menautkan kedua alisnya lalu maju selangkah lebih mendekatkan jarak antara dirinya dan juga Tuan Muda


"Apa kau yakin dengan rencanamu barusan? Ajaklah Blue atau satu orang bersama dengan mu. Jangan pergi mencari sesuatu yang sangat penting sendirian Tuan Muda, kita tidak tahu ada bahaya besar apa yang sudah menunggu kita di depan sana" ucap Paman Chand dengan lembut seakan menyalurkan rasa perhatiannya


Er mengalihkan pandangannya ke arah pria paruh baya yang kini sudah berdiri di hadapannya. Helaan nafas panjang terdengar jelas di ruangan itu

__ADS_1


"Baiklah. Blue kau ikutlah dengan ku. Dan kau, bersikap baiklah terhadap Paman Chand karena dia adalah tangan kiri ku sekaligus ayahmu. Bersikap baiklah terhadap ayah mu sendiri" ucap Er sekaligus memberikan peringatan kepada Andrew yang sejak tadi hanya bisa diam karena perilaku Er padanya


Paman Chand menundukkan kepalanya sebentar lalu berbalik dan berjalan ke tempatnya tadi. Memukul pundak putranya dua kali dengan tegas lalu berhenti di samping kanan Blue


"Kalian pergilah terlebih dahulu. Aku dan juga Blue akan pergi sebentar lagi" suruh Er dan langsung berdiri hendak beranjak dari sana sebelum suara seseorang membuatnya untuk berhenti


"Jika kau merindukan Tuan Puteri ku maka hubungi saja. Kita tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini. Setidaknya izinkan kami semua mendengar suaranya walau hanya sebentar. Aku akan melakukan tugasku dengan baik jika sudah mendengar keadaannya"


Andrew menatap kosong ke depan namun raut wajahnya bisa di lihat begitu khawatir. Er memundurkan kembali langkahnya lalu menatap orang yang baru saja bicara dengan lantang padanya


Lagi dan lagi, Er hanya bisa menghela nafasnya lalu duduk di tepian meja kayu yang ada di situ. Merogoh sakunya dan mengambil ponselnya lalu menghidupkan kembali ponsel yang sudah berhari-hari dia non aktifkan


"Kalian tidak lelah hanya berdiri saja sedari tadi? Duduklah sebentar menunggu ponsel ini kembali hidup" tanya Er menatap semuanya secara bergantian


"Kami berdiri saja Tuan Muda. Kami akan mendengarkan begini saja" jawab Blue yang mewakili jawaban atas semuanya


Kedua alisnya bertaut membuat ketiga pria lainnya ikut bingung dan juga sedikit panik. Er menjauhkan ponsel itu dari telinganya lalu kembali mendekatkannya


"Kenapa tidak tersambung sama sekali? Ayolah kak, jangan membuatku khawatir disini" lirih Er yang mencoba berulang kali menekan nomor yang sama


"Tidak ada jawaban sama sekali. Aku akan menghubungi Thio saja" ucapnya menatap semua orang


Er kembali menatap ponselnya dan mencari kontak orang yang akan dia tuju


panggilan itu tersambung setidaknya membuat semua orang merasa sedikit lega. Er menekan tombol loudspeaker dan memajukan sedikit ponselnya agar semua orang dapat mendengar segalanya


"Halo kak" jawab orang di seberang sana

__ADS_1


"Apa semua baik-baik saja?" tanya Er langsung


"Yah semua baik-baik saja. Kenapa kau baru menghubungi ku sekarang kak? Kau membuat semua orang merasa khawatir karena kau sama sekali tidak memberikan kabar kepada kami. Setidaknya kirimlah pesan bahwa kau baik-baik saja. Jangan mematikan ponselmu seperti itu lagi" terdengar omelan pria di seberang sana dengan sangat keras dan tegas


Er menerbitkan senyumnya mendengar omelan dari sahabat yang sudah berhasil membuat dirinya sendiri menjadi anggota keluarganya sekaligus tangan kanan nya itu


"Aku menghubungimu karena ingin bertanya kabar kakak iparku. Mengapa ponselnya dan juga ponsel Kak Rizky sama sekali tidak bisa dihubungi? Apa mereka berdua memang baik-baik saja?"


"Oh soal itu, mereka berdua masih di pesawat karena Tuan Muda Rizky yang terhormat mengajak kakak ipar untuk berlibur. Mereka akan tiba sekitar beberapa jam kedepan" jelas Thio


"Begitukah? Kemana mereka akan berlibur? Dan ini sangat membingungkan, tumben sekali kakak mau meninggalkan pekerjaannya dan mengajak kakak ipar untuk berlibu"


"Kau benar-benar tidak mengerti? Aisss cepatlah kembali Tuan Muda Er, kau tidak mau membantuku dan juga Tuan Muda Alan? Kami harus membereskan segalanya sebelum mereka berdua kembali"


Er terdiam lalu senyum iblis sudah terlihat jelas di wajahnya. Paman Chand yang menyadari akan perubahan wajah Er langsung saja membulatkan matanya lalu meneguk salivanya dengan susah payah


"Aku akan segera kembali" ucapnya lalu mematikan sambungan itu secara sepihak


Er kembali mematikan daya ponselnya lalu menatap ke arah pria paruh baya itu dengan senyum iblis yang masih dia pertahankan


"Paman, sepertinya aku lebih tertarik untuk menghabisi mereka daripada harus menyelesaikan teka-teki disini" ucapnya dengan santai lalu berjalan meninggalkan semuanya dengan tanda tanya


"Apa maksud Tuan Muda?"


Paman Chand menatap Blue dan juga Andrew secara bergantian lalu menghela nafasnya dan memasang raut wajah yang sangat serius


"Dia menginginkan agar semuanya cepat selesai karena dia harus kembali ke rumah dengan secepatnya. Ada seseorang yang sudah menunggu malaikat maut seperti Er untuk menghabisinya. Jadi kita harus menyelesaikan ini semua dengan cepat atau kita yang akan medatangi malaikat maut kita sendiri" jelasnya lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan semuanya

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2