
Seorang pria bertubuh tinggi kulit putih dengan badan sedikit berisi. Memandang padatnya kota yang dia tempati saat ini. Entah apa yang dia pikirkan saat ini namun setetes air membasahi pipinya
Tokkk Tokkk Tokkk
Pria itu tersadar dan langsung menghapus jejak airmata tadi. Dia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya dan satu lagi dia buat untuk menopang tubuhnya dengan memegang sudut jendela
"Masuk" ucapnya
Orang tersebut masuk dan menunduk memberikan hormat
"Tuan Muda, saya sudah membereskan meeting tersebut. Dan juga tiket untuk kembali ke Tiongkok sudah saya pesan kan atas nama Anda" jelas orang tersebut memandang Tuan Muda nya dibalik kacamata yang dia kenakan
Pria itu langsung berbalik dan berjalan mendekati kursi kebesarannya. Dia duduk dan menyadarkan tubuhnya ke belakang
"Terimakasih Thio" ucap pria tersebut
Thio adalah tangan kanan sekaligus sahabat baik untuk pria tersebut. Semenjak dia memutuskan untuk pergi ke Negara Swedia tepatnya di kota Gothenburg
Kota Gothenburg adalah salah satu kota dengan teknologi yang canggih yang berada di Swedia. Dia menjalankan salah satu perusahaan milik keluarganya disini meninggalkan keluarga dan juga orang tersayangnya hanya karena suatu bencana yang sampai sekarang belum bisa dia lupakan
"Bisakah aku bertanya?" tanya Thio yang sudah duduk di sofa ruangan tersebut
"Hmmm" jawab pria itu
"Apa kau sudah yakin untuk kembali? Aku takut nanti setibanya disana kau akan menangis dan tetap saja menyalahkan dirimu sendiri" jawab Thio yang sudah bersidekap dada
Pria tersebut memutar kursinya dan menatap Thio yang saat ini sedang berbicara layaknya seorang sahabat
"Aku yakin. Lagipula aku dengar wanita itu sangatlah baik, cantik, lembut dan pintar. Aku yakin dengan kehadirannya di tengah keluarga pasti akan merubah segalanya" jawab Pria tersebut
"Yah kau benar. Gadis itu oh maksudku Nona Muda Pertama itu memang sangat baik dan wajahnya sangat cantik dan polos. Tapi ada yang aneh setiap kali aku memantau nya jika aku kau tugaskan ke Tiongkok" ucap Thio lagi yang saat ini sudah menatap lurus ke depan mengingat sesuatu
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Pria tersebut dengan menautkan kedua alisnya
"Matanya itu... Ahk sangat sulit untuk dijelaskan. Nanti kau akan tau sendiri" jawab Thio lagi yang sudah menatap sahabatnya itu
"Bagaimana dengan kakak baruku? Apakah dia benar-benar pantas?" tanya Pria tersebut lagi
"Yah. Dia memang pantas dan aku yakin dia pasti akan menjadi kakak yang baik untukmu. Dia pintar walaupun sudah terlambat melanjutkan pendidikannya tapi aku sudah melihat prestasinya. Semua diluar dugaan. Aku juga pasti akan banyak belajar darinya" jawab Thio lagi mengingat sosok yang mereka bicarakan
Pria tersebut menganggukkan kepalanya dan menatap lurus
"Kapan?" tanyanya singkat
"Besok malam kita akan berangkat. Aku juga sudah mengubungi pengurus rumahmu yang ada di sana. Urusan kantor aku akan tetap memantau nya menggunakan komputer dan alat lainnya. Jadi kau bisa pergi dengan tenang" jelas Thio
"Terimakasih banyak Thio" ucap Pria tersebut memandang Thio dengan seulas senyuman
Thio bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Pria tersebut. Dia berhenti tepat di hadapannya dan memukul pundak orang tersebut
"Ck kau bisa-bisanya mengucapkan kalimat sedih seperti itu. Pergi kau" jawab Pria tersebut menendang kaki Thio dengan pelan
Thio hanya terkekeh dan keluar dari ruangan tersebut.
"Apa aku bisa kak? Bahkan untuk memandang matamu saja sepertinya aku tidak sanggup. Tapi aku akan berjanji untuk tidak akan pergi meninggalkanmu dan lainnya lagi. Aku akan memperbaiki segalanya dan memulai lembaran baru" ucap Pria tersebut sambil memejamkan matanya
🌻🌻🌻
Amanda dan juga Bi Irnah sedang mengobrol satu sama lain. Mereka semakin dekat semenjak Amanda menjalankan Peraturan Lama Keluarga Graham. Bi Irnah sibuk mendandani rambut panjang Amanda
"Bi, tolong ceritakan mengenai keluarga ini sedikit" pinta Amanda
Bi Irnah tersenyum dan mendudukkan dirinya di lantai karena sudah selesai mendandani Amanda
__ADS_1
"Baiklah Non, saya akan mulai bercerita mengenai Tuan Besar. Tuan Besar itu sangat baik dan dermawan. Setiap akhir bulan Tuan Besar dan juga Nyonya Besar akan pergi ke beberapa panti asuhan untuk memberikan sedekah. Tuan Besar juga sangat tegas jika menyangkut mengenai keluarganya dan juga Peraturan yang sudah di mutlak kan oleh keluarga ini. Dari dulu dia mengingat seorang Puteri untuk hadir di keluarganya namun Tuhan tidak mengizinkan. Itulah sebabnya waktu Nona Amanda hilang kemarin, Tuan Besar sangat marah besar" jelas Bi Irnah memulai segalanya
"Lalu Nyonya Besar, dari awal masuk ke dalam Keluarga Graham Nyonya Besar sangatlah berhati lembut dan baik. Nyonya selalu bersikap adil untuk semua penghuni rumah ini apalagi kepada para pekerja. Nyonya juga begitu menyanyangi keluarganya dan orang-orang yang beliau anggap pantas untuk disayangi. Nyonya sangat hobby memasak itulah sebabnya sarapan hingga makan malam beliau yang menyiapkannya. Tapi khusus untuk makanan penutup para juru masak lah yang menyiapkannya.
Lalu Tuan Muda Rizky, dia memang dari awal kembali ke Rumah sudah bersikap dingin seperti itu. Tapi dibalik sikap dinginnya memang ada alasan tertentu Non. Mungkin alasannya Bibi tidak bisa memberitahu kepada Non Manda karena akan lebih baik jika Non Manda bertanya langsung pada Tuan Muda. Tuan Muda memang dingin namun dia memiliki sikap yang sangat baik dan sopan. Dia selalu menghormati orang yang dia rasa memang pantas untuk dihormati. Dia juga akan bersikap hangat jika dia rasa sudah dekat dengan orang tersebut. Dan dulu sebelum Tuan Muda bersikap dingin seperti ini, Tuan Muda sangat suka memasak namun sekarang dia takut untuk menginjakkan kakinya di dapur Non
Lalu, Tuan Muda yang paling kecil. Saya tidak bisa memberitahu namanya karena sebelum Tuan Muda kecil kembali tidak ada satu pun dirumah ini yang diizinkan menyebut namanya. Dia sangat tampan sama seperti Tuan Muda Rizky. Namun sikapnya berbanding terbalik dengan Tuan Muda Rizky. Tuan Muda kecil memiliki sikap yang mudah akrab dengan siapapun termasuk orang yang ada di rumah ini. Dia selalu tampak ceria di segala situasi. Dia sangat menyayangi keluarganya terutama Tuan Muda Rizky. Mereka berdua sudah tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Tapi waktu dan keadaan sudah mengubah segalanya Non. Tuan Muda kecil pergi meninggalkan kami semua termasuk Tuan Muda Rizky, dia akan kembali jika dia sudah bisa kembali" jelas Bi Irnah menatap kosong seakan mengingat segalanya
Amanda terdiam mencerna semua kalimat yang dilontarkan oleh Bi Irnah
"Bi, Amanda yakin bahwa adik kecil pasti akan segera kembali dan bertemu dengan kalian semua. Jika Bibi mengatakan bahwa dia sangat menyayangi Rizky, maka cepat atau lambat dia pasti akan menemui kakaknya. Sudah berapa lama dia pergi?"
"Sudah empat tahun Non" jawab Bi Irnah
"Lalu bagaimana dengan Alan?" tanya Amanda memecahkan rasa sedih yang tiba-tiba masuk ke dalam suasananya mereka
"Oh Tuan Muda Alan, dia sudah lama bekerja dengan Keluarga ini. Tuan Besar menemukannya di pinggir jalan. Maksud Bibi waktu jalanan macet dan Tuan Muda Alan saat itu sedang menjual koran dan Tuan Besar menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. Lalu Tuan Besar mengangkatnya sebagai supir pribadi Tuan Muda Rizky. Walaupun saat itu Tuan Muda Rizky masih ada di London untuk menyelesaikan kuliahnya namun selama itu pula Tuan Besar mempersiapkan Alan. Mulai dari belajar seni bela diri hingga bersikap sopan santun layaknya seperti bagian keluarga Graham. Dia sangat baik dan ramah. Dia selalu mengikuti apapun perintah dari Keluarga Graham dan waktu itu dia mengatakan bahwa dia sudah sangat menyayangi Keluarga ini. Dan nasibnya sangat baik karena Tuan Besar mengangkatnya menjadi anak angkatnya" jelas Bi Irnah dengan senyum yang terlihat
"Bi, apakah adik kecil juga anak angkat keluarga ini?" tanya Amanda lagi
"Tuan Muda kecil diadopsi waktu dia masih berumur dua tahun. Karena waktu itu Tuan Muda Rizky sangat merasa kesepian jadi Tuan dan Nyonya Besar memutuskan untuk mengadopsi Tuan Muda kecil. Jarak umur Tuan Muda Rizky dengan Tuan Muda kecil sekitar enam atau tujuh tahun. Waktu itu Tuan Muda Rizky sangat menjaga dan menyayangi Tuan Muda kecil bahkan sampai sekarang" jelas Bi Irnah lagi
Amanda menganggukkan kepalanya mengerti
"Saya turun dulu yah Non. Mau menyiapkan makan siang untuk Non Manda" izin Bi Irnah
Amanda menganggukkan kepalanya mengizinkan. Bi Irnah berjalan meninggalkan Amanda dan menutup pintu kayu itu
"Kenapa keluarga ini penuh dengan teka-teki?" tanya Amanda pada dirinya sendiri
🌻🌻🌻
__ADS_1