
"Kak, besok hingga lusa aku akan pergi sebentar keluar kota. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan" ucap Er memberanikan diri setelah makan malam selesai
Amanda yang sejak tadi ikut membantu para pelayan membereskan meja makan memberhentikan aktivitasnya. Zaen? Dia sudah pergi ke kamarnya untuk menyelesaikan beberapa tugas
"Kenapa?" bukan Rizky yang bertanya melainkan Amanda
Amanda berjalan mendekat ke arah mereka berdua yang sedang duduk di ruang tengah
Rizky hanya menatap lurus saja tanpa menoleh. Sedangkan Er? dia menundukkan kepalanya tidak ingin menatap mata kakak iparnya itu
"Kau tidak memiliki mulut untuk menjawab Er?" tanya Rizky
Er menaikkan kepalanya dan menatap mata Amanda
"Kak, aku hanya ingin pergi ke Guangzhou untuk memberesken beberapa pekerjaan dan juga ingin berkunjung ke rumah orangtua kandung Kak Alan. Itu saja" jelas Er yang entah darimana asal semua kalimat itu
("Ini semua kesalahan Kak Alan. Hufftt aku akan benar-benar pergi ke sana untuk berkunjung sebentar ke rumah Kak Alan. Kak Iky pasti akan menanyai mereka nantinya") batin Er
"Oh begitu. Baiklah kalau begitu. Kapan kau akan pergi oh maksud kakak adalah kau pergi pagi atau sore?" tanya Amanda
"Pagi Kak. Aku akan pergi setelah sarapan bersama dan mengantarkan Zaen ke sekolah" jawab Er
Amanda hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan pergi dari hadapan mereka berdua.
Kini tinggal Rizky dan juga Er. Mungkin nasib baik sudah berpihak pada Er, karena Iky tidak menanyai dirinya sama sekali
("Awas saja jika rahasia itu sangat tidak berguna. Akan ku habisi kau Kak Alan") kesal Er dalam hati
🌻🌻🌻
"Kau sudah menghubungi Er?" tanya Alan pada Thio
Yah mereka sudah tiba di Tiongkok dan saat ini sedang berada di dalam mobil. Paman Chand duduk di samping supir sembari menutup mata nya untuk berehat sejenak
"Tidak diangkat olehnya Kak. Mungkin dia sedang ada urusan lain sehingga tidak memegang ponselnya. Biasanya memang seperti itu Kak" jelas Thio
Alan hanya diam dan melihat setiap rumah maupun gedung-gedung yang mereka lewati
("Apa Er bisa menerima semuanya jika sudah mengetahuinya?") terka Alan dalam benaknya
Hanya ada keheningan setelah itu. Mereka menikmati lamunan masing-masing yang mungkin sedang mengganggu pikiran mereka
"Maafkan saya Tuan Muda, saya akan mengantarkan kalian ke mana saat ini?" tanya Paman supir setelah tau bahwa keadaan hanya ada keheningan semata
Alan menatap ke depan dan berpikir sebentar
"Ke apartemen milikku saja Paman" jawab Alan setelah berpikir sebentar
Paman Qing... yah nama Supir pribadi yang biasanya hanya mengantar dan menemani perjalanan Nona Mudanya yaitu Amanda
Kendaraan itu kembali bergerak melaju ke arah tujuan mereka
"Kita sudah sampai Tuan Muda" ucap Paman Qing
__ADS_1
Semua yang berada di dalam mobil itu membuka matanya dan melihat sekeliling mereka. Dan Alan keluar dari mobil dan menghela nafasnya
"Baiklah Alan, kau akan menyelesaikan teka-teki lainnya" bisik Alan untuk dirinya sendiri
Semua sudah turun dan mengambil barangnya masing-masing dari bagasi mobil
"Paman bisa kembali ke mansion milik Kakak Ipar. Tapi seperti ucapan saya tadi, Paman tidak boleh memberitahu siapapun bahwa saya dan juga Thio sudah kembali" jelas Alan lagi pada Paman Qing
Paman Qing hanya menganggukkan kepalanya mengerti lalu membungkukkan badannya memberikan hormat
"Kalau begitu saya kembali dulu Tuan Muda" pamit Paman Qing
Alan hanya menganggukkan kepalanya singkat lalu berjalan memasuki gedung apartemen itu
🌻🌻🌻
Er baru saja memasuki mobilnya. Melirik jam yang ada di pergelangan tangannya
"Aisss sudah pukul 5 sore ternyata. Kak Alan mungkin saja sudah sampai" ucap Er sembari mengambil ponselnya yang ada di kursi samping
Dia memeriksa panggilan itu dan ada 10 panggilan tak terjawab dari Thio dan beberapa pesan yang masih belum dia lihat
"Kepalaku hampir pecah" keluh Er lalu melemparkan kembali ponselnya itu
Dia melakukan kendaraan beroda 4 itu dan fokus pada jalanan yang ada di depannya
Dering ponselnya kembali berbunyi. Er mau tak mau harus menepikan mobilnya lalu mengangkat telpon itu dan menghidupkan pengeras suara
"Sejak kapan kau memiliki sikap yang sama seperti Kak Iky?" bukannya menjawab, Er justru meledek Alan
"Jika kau tidak berniat untuk ini semua katakan dari awal. Aku bisa menyelesaikan ini semua sendiri dan dibantu oleh Thio dan Paman Chand" ucap Alan yang masih santai
Er menautkan kedua alisnya melihat layar ponsel yang sudah kembali berwarna hitam. Alan mematikan panggilan? Tanpa mendengar penjelasan Er terlebih dahulu?
"Apa seserius itu? Oh astaga kedua kakak ku ternyata memiliki sifat yang sama. Aku harus segera sampai di sana jika memang ingin hidup aman dan tentram" ucap Er tak percaya atas kejadian tadi
Dia kembali melajukan mobilnya namun kali ini dengan kecepatan yang sangat tinggi. Membiarkan suara suara klakson yang tidak Terima atas tindakan yang dia lakukan
Namun walaupun begitu, Er masih mematuhi peraturan lalu lintas. Karena walaupun keluarganya dikenal semua masyarakat tapi dia tidak akan membuat mereka malu hanya karena kebodohannya
🌻🌻🌻
Er langsung berlari cepat masuk ke gedung apartemen itu. Masuk ke dalam lift dan langsung menekan tombol 7 dimana letak kamar kakaknya berada
Pintu lift tertutup dan Er mengatur nafasnya selagi lift belum juga sampai
Ting
Pintu lift terbuka, Er langsung berlari seperti tadi. Sesampainya di depan pintu kamar dia langsung menggedor pintu itu berulang kali
"Kau gila?" tanya Alan ketika pintu sudah dibuka
Er hanya cengengesan tidak jelas sembari menggaruk tengkuknya yang diyakini tidak gatal sama sekali
__ADS_1
"Aku tidak diizinkan untuk masuk?" tanya Er menatap mata Alan
"Jika aku tidak mengizinkan maka kau akan apa?" bukannya menjawab, Alan semakin terlihat kesal
Er menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya. Mau bagaimana pun orang yang saat ini ada di depannya adalah seorang kakaknya yang lebih tua darinya walaupun masih duduk di bangku SMA
"Kak aku minta maaf jika sudah membuatmu marah. Tapi aku punya alasan sendiri melakukan itu semua. Tapi jika kakak memang tidak ingin mendengar atau melihatku maka aku akan pulang saja"
Alan memijit pelipisnya yang sudah berdenyut sakit. Menghela nafas lelah lalu membuka pintu itu semakin lebar
"Masuklah" ucap Alan mempersilahkan
Er menegakkan kembali kepalanya dan menatap Alan yang juga menatapnya. Dia tersenyum lebar lalu melangkah untuk masuk
Dia menatap Thio yang sudah duduk di sofa dengan tenang namun juga sedang menatapnya.
Er semakin mempercepat langkahnya lalu melemparkan bantal sofa ke wajah tengil milik Thio
"Kau ini sebenarnya sahabatku atau Kak Alan hah? Kau sama sekali tak ada memberikan informasi apapun selama disana. Sekalinya memberitahu hanya menyuruh datang dan menyembunyikan sesuatu. Kau yang menjadi Boss nya atau aku hah?" ucap Er mengeluarkan semua rasa kesalnya terhadap Thio
Thio hanya menunjukkan deretan giginya dan memeluk Er dengan erat
"Kalian ingin melepas rindu atau mau bersikap layaknya seorang Tuan Muda dan orang terpandang?" sindir Alan yang sudah duduk di samping Paman Chand
Mereka berdua pun melepaskan pelukan itu lalu duduk di hadapan kedua pria itu
Alan menegakkan tubuhnya begitu juga dengan Paman Chand. Dia menatap mata Er dengan serius. Er yang dipandang seperti itu juga langsung merubah raut wajahnya menjadi serius
"Kau ingin tau kebenarannya?" tanya Alan
Er hanya menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban
"Paman Chand yang akan menjelaskannya" sambung Alan
Paman Chand berdiri dan mengambil minuman yang ada di dapur. Lalu kembali duduk dan menatap semuanya
"Nona Amanda sebenarnya adalah..."
🌻🌻🌻
HAYO... SIAPA YANG SUDAH KEPO?
KIRA-KIRA AMANDA KENAPA SIH?
KENAPA BANYAK BANGET GITU RAHASIA HIDUPNYA
AUTHOR TANTANG KALIAN
KIRA-KIRA DI EPISODE BERAPA AUTHOR BAKALAN MEMBONGKAR IDENTITAS ASLI AMANDA?
IDENTITAS YANG DIRENCANAKAN AKAN DIRAHASIAKAN OLEH ALAN?
🌻🌻🌻
__ADS_1