CEO My Husband

CEO My Husband
DIMANA ALAN SEBENARNYA?


__ADS_3

Keadaan Mansion baru atas nama Amanda masih ramai. Dan siapa lagi jika bukan karena tingkah dan ucapan dari seorang Owner


"Oh astaga cukup sudah Er. Kau membuat perut Bunda sakit karena tertawa terus menerus" ucap Lyla yang memegang perutnya


Er pun duduk tepat di hadapan Amanda. Yah saat ini mereka semua sedang berkumpul di rumah peristirahatan yang dibangun di samping bangunan besar itu


"Bagaimana Kak? Kau bahagia?" tanya Er manatap Amanda


Amanda menautkan kedua alisnya bingung sembari menunjuk dirinya sendiri


"Kakak? Memangnya kakak kenapa?" bukannya menjawab Amanda justru balik bertanya


"Kakak tidak kenapa-napa hanya saja aku melihat pancaran kesedihan di mata Kakak Ipar tersayangku ini" jelas Er sembari tertawa pelan


Amanda ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya


"Bagaimana kakak bisa sedih jika sudah diberikan kesempatan untuk bergabung dengan keluarga ini? Kakak justru bersyukur saat ini" jawab Amanda menatap satu per satu anggota keluarga Graham


Hening... hanya itu yang bisa menggambarkan suasana disaat Amanda mengucapkan hal itu


"Ekhem" suara deheman itu membuat semua mata tertuju pada asal suara


Zaen hanya menunjukkan deretan giginya karena sudah mendapat tatapan seperti itu


"Emmm anu... Zaen ingin mengatakan sesuatu" ucapnya sembari menggaruk tengkuknya yang diyakini tidak gatal


"Katakan saja Zaen. Kau membutuhkan sesuatu?" ucap Bryant


"Katakan saja" sambung Rizky yang sudah bersidekap dada dengan raut wajah datarnya


Zaen mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jaket yang dia kenakan


"Ini surat izin yang diberikan oleh pihak sekolah untuk orangtua atau wali karena kami akan pergi mengunjungi taman pahlawan di hari jumat nanti" jelas Zaen


Bryant mengambil surat itu dan langsung membukanya dengan perlahan. Dia mulai membaca deretan kalimat yang ada dan yang lainnya hanya terdiam menunggu saja


"Semua ada di tangan Rizky" ucap Bryant dan segera memberikannya pada Rizky


Rizky yang awalnya bersender ke belakang kini menegakkan tubuhnya dan menerima surat itu dari genggaman Ayahnya.


"Baiklah kau boleh pergi. Hanya 2 hari saja jadi tidak ada masalah" ucap Rizky yang langsung menatap Zaen


Zaen tersenyum lebar dan menatap Amanda yang kebetulan duduk di samping Rizky. Amanda juga ikut tersenyum


"Mana pena nya?" tanya Rizky


Zaen langsung menyenggol siku tangan milik Er yang kebetulan duduk di samping kirinya


"Kenapa menyenggol dan menatapku seperti itu? Kak Iky bertanya padamu bukan padaku" ucap Er menatap Zaen dengan alis yang terangkat sebelah


Zaen menghela nafasnya dan memejamkan matanya sebentar

__ADS_1


"Owner Graham Yang Terhormat... tadi kau yang mengambil pena dari kantong jaket ku" ucap Zaen yang sudah melotot


Hal itu sontak mengundang tawa dari semua orang. Sungguh sedari tadi kedua manusia itu hanya bertengkar layaknya kucing dan juga Tikus


"Hah? Benarkah? Aku tidak ingat" ucap Er dengan polosnya


Zaen berdiri dan menjitak kepala Er dengan kuat


"Awww... sakit woi" teriak Er sembari mengelus kepalanya yang dijitak oleh Zaen


"Er... jaga ucapanmu" ucap Lyla memperingatkan Er


Er hanya diam dan menatap Zaen yang masih menatapnya


"Aisss aku sungguh tidak ingat dimana pena itu" ucap Er mengalah


Zaen akhirnya pasrah dan masuk ke dalam mansion tanpa mengucapkan apapun. Er mengerjapkan beberapa kali matanya nampak berpikir


"Er" ucap Amanda menatap Er


Er menatap Amanda dan menggaruk kepalanya


"Aku akan meminta maaf" ucap Er


Er melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya berhenti ketika melihat Zaen yang sudah datang kembali


"Kau mau kemana?" tanya Zaen heran


"Kau... kau tidak marah padaku?" tanya Er ragu


"Aku marah? Karena?"


"Aku pikir kau pergi tiba-tiba karena kau marah padaku atas ucapan dan tingkahku sejak tadi. Aku minta maaf" jelas Er


Zaen tertawa melihat raut wajah Er yang memang menunjukkan rasa penyesalan. Dia memukul pundak Er kuat berulang kali


"Kau ini berbicara apa?" tanya Zaen yang langsung melanjutkan langkahnya


"Ini pena nya Kak" ucap Zaen memberikan pena itu kepada Rizky


Rizky menerima pena itu dan Zaen duduk kembali ke tempat awalnya. Er juga kembali duduk di samping Zaen dengan wajah bingung seperti tadi


"Jangan menatapku seperti itu Er" ucap Zaen yang menoyor kepala Er


Er terkekeh dan mulai mengacak-acak rambut Zaen. Semua yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat mereka seperti anak kecil


"Ini. Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk memintanya" ucap Rizky menyerahkan surat dan pena tadi


Zaen mengambilnya dan tersenyum manis sebagai jawaban atas ucapan yang dilontarkan oleh Rizky


"Lalu Alan bagaimana?" pertanyaan itu sontak membuat semuanya menatap ke arah Amanda

__ADS_1


"Apa dia tidak akan ikut?" lanjut Amanda


Semua belum membuka suara untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Amanda


"Dia akan datang kak tapi tidak bersama dengan kami. Dia akan menyusul saja katanya" jawab Zaen


"Ayah, apa Amanda bisa bertanya?"


Bryant menatap Amanda sembari tersenyum kecil


"Selagi hak untuk bertanya belum dicabut oleh pemerintah maka lakukan saja" jawab Bryant dengan lembut


Amanda hanya terkekeh pelan dan membenarkan posisi duduknya


"Apa Ayah menyuruh Alan untuk mengerjakan sesuatu?" tanya Amanda


Bryant hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban


"Lalu, dimana sebenarnya Alan berada Ayah?"


Bryant mengerjapkan beberapa kali matanya dan melirik ke arah Rizky. Rizky hanya memasang wajah datarnya dengan tangan yang masih setia berada di depan dadanya


Berbeda dengan Er dan juga Zaen, mereka sudah saling menatap satu sama lain dengan wajah yang sedikit takut


"Ayah" panggil Amanda lagi


Bryant kembali menatap Amanda dengan fokus


"Dia Ayah kirim ke London untuk memeriksa perusahaan milik Ayah bersama dengan Thio" jawab Bryant yang entah sejak kapan terpikir olehnya


"Kenapa harus Alan? Alan masih bersekolah Ayah. Harusnya Er saja yang pergi ke sana Ayah. Lihatlah, sekolah nya menjadi tidak terurus seperti ini"


"Aku tidak mau Kak. Kakak tidak tau saja bagaimana Perusahaan yang ada di London. Ayah sengaja mengutus Kak Alan ke sana karena Kak Alan bisa menahan amarah di setiap kondisi. Jika aku yang mengurusnya atau Kak Iky maka bukannya beres yang ada malah semakin rumit" bukan Bryant yang menjelaskan alasannya melainkan Er


Amanda menatap Er dan juga Bryant secara bergantian.


"Jika rindu maka kau bisa menghubunginya" ucap Rizky yang sadar akan kondisi


"Aku sudah menghubunginya namun tidak bisa"


"Sudah bisa. Kemarin ponselnya jatuh jadi harus diperbaiki. Coba sekali lagi nanti pasti akan diangkat olehnya" jelas Rizky menatap Amanda


Amanda diam dan hanya menganggukkan kepalanya mengerti


"Kapan terakhir kau mengobrol dengannya?" tanya Amanda lagi menatap Rizky


"Tadi selesai mandi. Dia juga merindukanmu"


Amanda tersenyum kecil mendengar hal itu. Sedangkan semua orang disitu sudah saling melempar tatapan mereka masing-masing


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2