
Suasana yang berbeda tak membuat Tuan Muda Graham ini menghentikan makan malam dan juga obrolan dengan Ayah dan juga Ibu Alan
Satu per satu obrolan mereka perbincangkan. Hingga Rizky menjelaskan maksud dari kedatangannya dan Alan ke kota Guangzhou ini.
Seketika suasana makan malam hening karena pembahasan yang dibicarakan oleh Rizky
"Tuan Muda, kami sangat berterimakasih karena keluarga besar Graham dengan berbaik hati mau mengangkat Alan sebagai bagian dari keluarga kalian. Tapi apakah itu pantas?" tanya Ayah Alan
Rizky diam sejenak mencerna semua kalimat yang dikatakan oleh Ayah Alan yaitu Tuan Gong
"Ayah, apakah aku bisa memanggilmu dengan Ayah?" tanya Rizky
"Tentu saja bisa Tuan Muda. Justru saya sangat merasa terhormat karena Tuan Muda memanggil saya dengan sebutan Ayah" jawab Tuan Gong dengan mata yang berbinar
"Kalau begitu sama hal nya dengan kami. Kami tidak masalah dan tidak keberatan jika Alan memanggil kami Ayah, Bunda, Kakak, Kakak Ipar atau Adik. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi, kami mengambil keputusan ini karena memang Alan pantas mendapatkannya. Kesetiaan, sopan santun dan tanggungjawab yang selama ini dia tanamkan dalam dirinya semua berhasil dengan baik. Jadi bagaimana Tuan Gong dan juga Nyonya Gong apakah masih ada keraguan dalam hati kalian?" tanya Rizky setelah menjelaskan alasan dibalik ini semua
Ayah dan juga Ibu dari Alan saling memandang satu sama lain
"Baiklah Tuan Muda, kami akan menyetujuinya. Kami tidak ingin egois dan kami hanya menginginkan kebahagiaan untuk Putera kami ini" jawab Tuan Gong sambil menundukkan kepalanya
"Kami tidak akan melarang kalian atau Alan untuk saling bertemu satu sama lain. Dan juga kalian juga bisa datang Tiongkok dan menginap di Rumah Besar. Kami akan sangat senang" lanjut Rizky
Makan malam pun selesai begitu juga dengan maksud kedatangan Rizky ke kota ini
Rizky berjalan menatap jendela kamar Alan. Dia memandang langit malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang dan juga sinar bulan.
Dia memejamkan matanya membiarkan angin malam menerpa wajahnya.
Terbersit wajah dan juga senyum dari seorang gadis. Yah... gadis yang sebentar lagi akan menjadi pendamping nya
Rizky membuka matanya dan menaikkan sudut bibirnya
"Kenapa Amanda yang terlihat? Apa aku sudah melupakan Cassandra?" bisik Rizky pelan pada dirinya sendiri
Rizky mengambil ponselnya dan melakukan panggilan kepada seseorang
__ADS_1
"Ayah" ucap Rizky ketika sambungan tersambung
🌻🌻🌻
Bryant sedang mengamati setiap buku yang ada di ruang perpustakaan rumahnya. Dia mencari sesuatu namun belum juga dapat
Dering ponselnya berhasil membuat langkah dan juga aktivitasnya berhenti. Dia mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera. Senyumnya mengembang dan langsung mengangkat panggilan tersebut
"Apa semua baik-baik saja?" tanya Bryant
"..."
"Baguslah jika mereka menyetujuinya. Lalu kapan kau dan juga Alan kembali?" tanyanya lagi sambil berjalan menuju sofa yang ada di perpustakaan itu
"..."
"Yah memang akan lebih baik jika kalian menghabiskan waktu disana dua atau tiga hari. Apa ada yang kau butuhkan Tuan Muda?" jawab Bryant
"..."
"Itu tidak bisa Rizky. Amanda sedang menjalani Peraturan Lama Keluarga kita" jawab Bryant sambil memijit pangkal hidungnya
"..."
🌻🌻🌻
Benda Pipih itu masih berada di telinga Rizky. Dia menunggu hingga telinganya mendengar suara gadis yang saat ini dia rindukan
("Kau benar-benar sudah membuatku kehabisan akal sehat Nona Amanda") batin Rizky sambil menggaruk kepalanya yang gatal
Suara mulai terdengar dari seberang sana. Dia semakin menaikkan kedua sudut bibirnya.
Alan masuk dan melihat Tuan Muda nya itu sedang tersenyum dengan lebar. Alan mengangkat kedua alisnya bingung
"Kenapa Kak Rizky terlihat sangat bahagia? Apa dia sedang berbicara dengan Bunda dan juga Ayah?" tanya Alan pelan menebak-nebak
__ADS_1
Dia berjalan mendekat dan berdiri di samping Rizky. Rizky menoleh dan memandang Alan, dia sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran Alan
Alan masih setia berdiri di samping Tuan Muda nya itu. Hingga Rizky memutuskan telpon tersebut. Dia memukul pundak Alan pelan dan duduk di atas kasur milik Alan
"Ada apa Kak? Apa semua baik-baik saja?" tanya Alan mengeluarkan semua pertanyaan yang ada di kepalanya
"Semuanya baik-baik saja. Aku tadi menelpon Ayah dan memintanya untuk memberikan telponnya kepada Bi Irnah lalu menyuruh Bi Irnah untuk mengobrol dengan Amanda. Ternyata Bi Irnah memang sedang mengobrol dengan Amanda. Jadi semuanya berjalan baik"
Alan masih bingung akan satu hal
"Kakak merindukan Kakak Ipar?" tebak Alan
"Aku juga tidak mengerti akan diriku sendiri Alan. Biasanya disaat aku memang ingin merasakan sepi yang terlintas dalam pikiranku adalah Cassandra namun kali ini entah kenapa justru Amanda yang terlintas dalam pikiran ku" jawab Rizky menatap ke depan dengan tatapan kosong
Alan mengerti sekarang. Kakak Iparnya itu memang sudah menjadi obat dari keterpurukan dari Tuan Muda nya ini.
Sudah bertahun-tahun Alan melayani Keluarga Graham dan bekerja sebagai supir pribadi dari Tuan Muda Graham dan dia mendapatkan jabatan sebagai tangan kanan dan juga kepercayaan Rizky
Dia sudah tahu semua nya mengenai kehidupan dan masalalu dari seorang Rizky Arkansas Graham. Bahkan dia juga tau alasan kenapa Rizky sangat melarang Amanda menginjakkan kaki di daerah dapur atau dekat dengan alat-alat memasak
"Apa aku bisa mengatakan sesuatu Kak?" tanya Alan ragu
Rizky menjawab dengan deheman yang keluar dari mulutnya
Alan duduk di samping Rizky dan menundukkan kepalanya. Rizky menoleh ke arah Alan laku menepuk pundak Alan
Alan mendongakkan kepalanya dan menatap mata Rizky. Dia mengerti bahwa Rizky menyuruhnya untuk mengatakan apapun tanpa ragu
"Mungkin kakak tidak sadar akan Perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup dan kepribadian Kakak. Semenjak kenal dan memutuskan untuk menikahi Kak Amanda, Kak Rizky yang awalnya hanya mengeluarkan beberapa kalimat sekarang sudah lebih banyak berbicara." Alan membuka suaranya sambil terus menatap mata Rizky
"Kak Rizky memang masih terlihat kaku dan dingin jika di hadapan Kak Amanda. Namun sebenarnya Kak Rizky lah yang paling mengkhawatirkan dirinya. Kakak hanya tidak tau bagaimana memperlihatkan rasa sayang itu di depan semua orang.
Kak Rizky juga lebih sering tersenyum walaupun senyum itu singkat atau bahkan tak terlihat. Namun binar mata kakak memancarkan sebuah cahaya ketika berbicara dan ketika menatap Kak Amanda. Jadi aku rasa kakak memang harus lebih jujur terhadap diri kakak sendiri" lanjut Alan menjelaskan
Rizky terdiam mendengar semua perkataan yang dilontarkan oleh Alan. Dia memijit pelipisnya karena dia sudah merasakan pusing
__ADS_1
"Kakak butuh istirahat. Tidur lah duluan Kak, aku akan menemui Ayah terlebih dahulu" suruh Alan dan bergegas pergi turun
🌻🌻🌻