
Alan menatap ponselnya yang berdering sejak tadi. Bukan bermaksud tak ingin mengangkat hanya saja dia masih harus mencari alasan dan tempat yang tepat
Amanda... yah gadis itu yang sejak tadi menelpon dirinya. Ayahnya sudah mengatakan bahwa dia mengatakan pada Amanda bahwa dia sedang ada kerjaan di London
Bagaimana bisa Ayahnya itu mengatakan bahwa dia sedang ada di London? Sedangkan tempat yang sebenarnya adalah Jerman?
Jerman? Yah... Keberadaan Alan saat ini adalah di Jerman. Semua jawaban atas pertanyaan dan perintah yang diberikan oleh Alan waktu itu sudah terjawab
Bukan terjawab seluruhnya hanya masih sebagian. Dan sebagiannya lagi hanya menimbulkan teka-teki yang baru
Dan salah satu teka-teki itu yang membawa dirinya dan juga Thio harus meninggalkan Rumah Besar dan berakhir di Negara Jerman ini
"Aisss Kak. Angkat ponselmu dan katakan saja. Sejak tadi dia berdering, aku kesal karena sudah mengganggu waktu tidurku" keluh Thio yang sudah bangkit dan duduk di atas kasurnya
Yah... sudah 2 hari belakangan ini dia dan juga Thio tidak tidur sama sekali hanya untuk mencari tau mengenai jawaban yang mereka inginkan
Bugh
Alan melemparkan bantal ke wajah Thio. Thio membuang bantal itu kasar dan mengusap hidungnya
"Memang enak mengatakannya Thio. Kau tidak berada di posisiku saat ini. Ayah mengatakan bahwa kita sedang berada di London saat ini. Lalu jika aku mengangkat dan mengarahkan kamera ke sekitar kita dia akan bertanya dimana kita sebenarnya. Apa kau tidak berpikir hingga sejauh itu?" jawab Alan menahan amarahnya
"Oh astaga Tuan Muda Alan yang terhormat... Tidak bisakah kau mengatakan pada Kakak Ipar jangan melakukan videocall karena kau sedang ada di luar untuk melakukan pekerjaan? Kau bisa meminta padanya untuk menelpon saja. Benarkan?"
Alan terdiam sebentar dan memandang Thio yang sudah memasang senyum tak ikhlasnya. Alan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya
"Kau memang bisa diandalkan. Tak salah jika Er mengangkatmu sebagai Tangan Kanan dan juga sebagai sahabatnya" ucap Alan
Alan segera mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sedangkan Thio? Dia sudah kembali menidurkan badannya dengan wajah yang sudah dia tenggelamkan di atas bantal
Dia memang sudah hampir meninggal karena tidak tidur selama 48 jam belakangan ini. Entah apa rasahasi dari Alan sehingga dia masih bisa bertahan untuk berdiri bahkan membuka matanya dengan lebar seperti itu
Ponsel Alan kembali berdering. Thio membalikkan posisi tidurnya menjadi menghadap Alan namun matanya masih terpejam
"Halo Kak. Maaf karena tidak bisa mengangkat videocall darimu" ucap Alan
__ADS_1
"Kalian ini punya masalah terhadap kakak?" ucap Amanda dari seberang sana
Alan membulatkan matanya begitu juga dengan Thio yang langsung membuka matanya dan mengerjapkan nya beberapa kali lalu duduk di samping Alan
Alan memang sengaja membuat pengeras suara dengan tujuan... Jika Amanda marah tidak hanya Alan saja yang bisa mendengarnya tetapi Thio juga
"A... anu Kak... Kami tidak memiliki masalah apapun kepada Kakak" jawab Alan menatap Thio
"Kalian berbohong. Jika kalian tidak memiliki masalah kepada Kakak, lantas kenapa tidak berpamitan ketika ingin pergi hah?" teriak Amanda lagi
Alan dan juga Thio bersusah payah menelan salivanya. Untuk pertama kalinya mereka mendengar suara Kakak Ipar mereka yang seperti ini
"Kalian tidak menganggap ku sebagai Kakak Ipar kalian" lanjut Amanda dengan suara yang sedikit gemetar
"Kak... kami mohon jangan menangis. Percayalah Kak kami sangat menyanyangi Kakak Ipar. Kami tidak ingin membuatmu menangis kak. Jadi kami mohon jangan menangis" ucap Thio
"Kak, kami tidak berpamitan padamu karena memang waktunya sangat tidak memungkinkan. Hmmm... perusahaan Ayah memang sudah sangat membutuhkan bantuan dari kami kak. Jadi... jadi kami memang tidak sempat untuk berpamitan" jelas Alan yang sudah keringat dingin
Hening... tak ada jawaban yang terdengar dari sana. Alan dan juta Thio melirik ke layar ponsel dan panggilan masih tersambung
"Awalnya memang buruk Kak. Tapi sekarang sepertinya sudah sedikit membaik. Kakak tenang saja beberapa hari lagi kami akan segera kembali. Dan percayalah kak, setelah tiba di sana kami akan pergi ke Rumah milikmu jika perlu kami akan menginap di sana" jelas Alan lagi dengan raut wajah yang sudah tidak bisa dijelaskan
"Ck... kalian tidak perlu gugup seperti itu. Kakak hanya pura-pura memarahi kalian tadi. Baiklah kalau begitu kakak sudah senang mendengar dan mengetahui kabar kalian berdua. Jika membutuhkan sesuatu atau terjadi sesuatu segera hubungi kakak atau yang lainnya. Apa kalian berdua mengerti?" tanya Amanda
Thio menatap Alan sambil menghela nafas lega. Dia kembali berbarin sembari memegang dadanya
"Iya Kak kami mengerti. Kalau begitu kakak beristirahatlah" ucap Alan memandang layar ponsel itu
Panggilan selesai dan Alan langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Dia ikut membaringkan badannya di samping Thio
"Jantungku hampir berhenti berdetak ketika Kak Amanda marah tadi" ucap Alan
"Kau benar Kak. Aku pikir dia memang benar-benar akan marah pada kita berdua. Tapi syukurlah jika dia hanya berpura-pura saja tadi. Jika itu benar-benar terjadi, aku tidak tau harus mengarang kalimat manis apalagi untuk membujuk Kakak Ipar" ucap Thio membenarkan
Mereka berdua memejamkan matanya. Namun tak lama ketika suara ponsel Alan kembali berdering menandakan ada pesan masuk
__ADS_1
Alan mengubah posisinya menjadi duduk kembali dan membuka ponselnya. Matanya seketika melotot dan memukul kaki Thio dengan keras berulang kali
Thio yang merasa terusik tanpa menjawab dia langsung ikut duduk dan memandang ponsel Alan. Dan benar saja... matanya dan juga reaksinya sama seperti Alan tadinya
"Apa... apa menurutmu kita akan memberitahu hal ini pada semua orang?" tanya Thio yang sudah menatap Alan
Alan meletakkan kembali ponselnya dan menatap Thio
"Menurutmu bagaimana?" bukannya menjawab, Alan justru menanyakan kembali
"Kak, apa ada teka-teki lainnya yang memiliki jawaban se mengejutkan ini lagi? Jika ada maka katakan padaku agar aku bisa menyiapkan diriku menerima fakta baru mengenai kakak ipar"
"Aku rasa kita tidak perlu memberitahu kepada siapapun mengenai hal ini. Mungkin kita akan memberitahu jika waktunya sudah tepat" ucap Alan yang sudah memijit pangkal hidungnya
"Kak... apa informasi itu benar semua? atau hanya sekedar informasi hoax? Aku masih tidak percaya"
Alan kembali membaringkan badannya dan menutup matanya
("Kenapa semua nampaknya semakin rumit? Apa kau memang memiliki banyak rahasia Kakak Ipar? Bagaimana reaksi Kak Iky jika sudah mengetahui hal yang satu ini?") batin Alan
"Kak... Astaga dari tadi aku berbicara pada angin yang berhembus. Kau melamun di jam seperti ini?" omel Thio
"Besok kita akan menemui Paman Chand untuk menanyakan ini semua sekaligus berterimakasih karena dia sudah mau ikut turut ambil alih kasus ini" ucap Alan tanpa memandang Thio
"Baiklah aku akan mengatakannya pada Paman Chand atau asistennya" jawab Thio yang mengambil ponselnya dan berjalan menuju balkon
🌻🌻🌻
Hayoooo... Kira-kira informasi apa yah yang mereka dapat sampai harus seperti itu?
Emangnya Amanda itu kenapa sih sampai harus dicari seluk beluknya dari akar?
Kalau penasaran dan mau tau jawabannya... Tetap ikuti perjalan kisah Tuan Muda dan Nona Muda Amanda yah
See you in the next Chapter Gaes
__ADS_1
🌻♥♥