
Kembali kepada Amanda, jika tadi dia diantar dan ditemani oleh adik iparnya Er hingga bertemu dengan suaminya Rizky. Maka kali ini dia harus diantar oleh supir pribadi milik Ayah Mertuanya
Yah, Amanda memutuskan untuk pergi berbelanja sebelum pulang ke rumah. Tentu saja dengan bujukan dan rayuan maut yang dia ucapkan agar suaminya bisa mengizinkannya
"Nona Muda, sebentar lagi Tuan Muda Er akan segera sampai. Nona Muda tunggulah sebentar di dalam mobil karena Tuan Muda Er mengatakan bahwa saya harus menjaga Nona sampai Tuan Muda sampai kemari" ucap pria paruh baya yang menjadi supir pribadi Ayah Mertuanya itu
"Tidak perlu Paman. Aku akan masuk ke dalam dan nanti jika Er sudah sampai maka Paman bisa mengatakannya. Aku akan bertanggungjawab jika nanti dia murka" jawab Amanda yang sudah memutuskan untuk keluar dari dalam mobil
Tampak wajah bingung dari Pak Tua itu namun dia tetap memantau langkah demi langkah yang diambil oleh Nona Muda nya itu
Udara dingin dan wangi pengharum setiap lantai sudah masuk ke dalam indra penciuman gadis bertubuh mungil itu. Amanda menyusuri setiap langkah dengan senyumnya
Hanya terus melangkah dan semakin melebarkan senyumnya ketika ada beberapa orang yang menyapa dan mengambil fotonya secara terbuka. Tentu saja hal itu tidak menjadi masalah untuk Amanda
Hingga sampai di lantai 3, Amanda memilih masuk ke dalam salah satu toko pakaian yang cukup ramai jika di lihat dari luar. Amanda melihat satu per satu baju dan jenis pakaian lainnya yang digantungkan oleh pemilik toko
"Iya Er" ucap Amanda ketika sudah menggeser tombol hijau di layar ponselnya
"..."
"Kakak ada di lantai 3. Masuk saja ke dalam toko pakaian yang pertama kali kamu lihat nantinya setibanya di lantai 3 yah" jawab Amanda santai dengan tangan yang sibuk memilih
Panggilan tersebut terputus, Amanda kembali mematikan ponselnya dan memegangnya di tangan kirinya. Dengan seorang pelayan wanita yang sudah berdiri di belakangnya
"Tolong pegangkan" ucap Amanda dengan sopan sembari memberikan sebuah kemeja berwarna merah muda yang memiliki beberapa bunga sebagai hiasan baju tersebut
Amanda melanjutkan langkahnya dengan pelan dengan mata yang masih melihat-lihat
Brukkk
"Oh maaf" ucap Amanda kepada pria yang baru saja dia tabrak
Pria yang memakai jaket berwarna biru tua dengan topi hitam yang juga ada di kepalanya. Tak lupa juga kacamata hitam yang menutupi sepasang matanya itu
"Kakak tidak apa-apa?"
Amanda terkejut dan tersenyum kepada Er yang ternyata sudah tiba
"Yah kakak baik-baik saja. Sekali lagi saya minya maaf Tuan" ucap Amanda yang kembali menatap pria tadi
__ADS_1
"Tidak masalah Nona" jawab pria tersebut sambil tersenyum
Er menautkan kedua alisnya dengan mata yang masih terus menatap pria yang tadi bertabrakan dengan Kakak Iparnya itu
("Kenapa suara itu seperti tidak asing") batin Er menerka-nerka
Hendak bertanya namun ternyata pria tersebut seperti tau bahwa Er akan mengetahui sesuatu tentang dirinya. Jadi pria tersebut berlalu meninggalkan Er dan juga Amanda
"Kakak yakin kakak tidak terluka?" tanya nya lagi
Amanda tersenyum tulus dan mengusap lengan kanan Adik Iparnya itu
"Ayo, temani kakak berbelanja" ajak Amanda yang langsung menggandeng pria tampan yang lebih tinggi dari dirinya itu
Er tersenyum lebar dan mengikuti setiap langkah yang diambil oleh Kakak Ipar kesayangan nya itu
"Kau sudah menemui Shen Lin?" tanya Amanda tanpa menatap lawan bicaranya
"Tentu saja sudah Kak. Aku masih menyayangi diriku sendiri jadi tidak ingin mencari musuh atau pun perkara dengan Kakak Ipar ku ini" jawab Er yang sedikit menggoda Amanda
Amanda terkekeh dan langsung berbalik sembari berkacak pinggang
"Jadi menurutmu Kakak begitu kejam dan menakutkan sampai kau harus mengatakan bahwa kau begitu menyayangi dirimu itu hah?"
"B-bukan seperti itu maksudku. Kakak begitu cantik, manis dan juga menggemaskan. Mana mungkin wanita seperti kakak begitu menyeramkan" jawab Er yang sudah merasa sedikit ketakutan
"Benarkah?" tanya Amanda menyipitkan kedua matanya menatap curiga ke arah Er
"Kak, aku berkata dengan jujur. Aku tidak ada niat mengatakan atau bermaksud mengatakan bahwa kakak begitu menyeramkan" jawab Er sambil memegang tangan Amanda
Amanda tertawa dengan kerasnya lalu kembali menggandeng tangan Er dan membawanya melanjutkan langkahnya
Terdengar helaan nafas yang dikeluarkan dari mulut pria tampan itu. Membuat Amanda harus mendongakkan kepalanya menatap Er
"Apa kau begitu takut jika kakak akan marah?" tanya Amanda
"Tentu saja. Aku sangat tidak suka melihat Kakak dan juga Bunda marah akan sesuatu hal. Apalgi jika ku tahu bahwa yang membuat kalian marah adalah hal yang sangat membuatku juga merasa kesal. Aku akan berusaha menyingkirkan hal menjengkelkan itu dan membuat kalian berdua tidak marah lagi"
"Kenapa kau sangat menggemaskan jika bersama dengan Kakak dan juga Bunda hmmm? Tapi jika diluar kau sangat dingin dan menakutkan. Kalian bertiga itu memang selalu penuh dengan teka-teki"
__ADS_1
"Tentu saja itu wajib kak. Kan sangat tidak lucu jika Bunda dan Kakak Ipar atau pun Istri sendiri takut kepada kami? Kalian itu tanggung jawab kami Kak jadi yah kami harus membuat kalian merasa aman dan nyaman" jelas Er yang sudah berdiri di belakang Amanda yang sedang membayar barang belanjaan nya
Sembari menunggu Amanda yang masih sibuk menatap layar komputer. Er berbalik dan menatap sekitar. Dia menekan jam tangan mewah yang dia kenakan di pergelangan tangan kanannya
"Sepertinya kau harus kemari Thio. Ada sesuatu yang sedang mengawasi aku dan juga Kakak Ipar" ucap Er pelan sembari berpura-pura menggaruk pelipisnya
"Ayo" ucap Amanda yang sedikit membuat Er merasa terkejut
Er tersenyum dan langsung menggenggam tangan Amanda dengan erat. Hal itu membuat Amanda lagi dan lagi harus mendongakkan kepalanya menatap bingung Er
"Kenapa menggenggam tangan Kakak seperti Kakak akan hilang saja?" tanya Amanda masih dengan wajah bingungnya
"Kak, kau harus tetap dekat denganku. Aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi kita berdua. Jadi aku mohon kakak tetap berada di samping ku yah" bisik Er dengan wajah yang serius
"Kenapa di tempat yang ramai seperti ini pun kau harus membuat kakak takut" lirih Amanda menatap ke depan
Mereka terus berjalan dan menyusuri setiap tempat perbelanjaan yang ada
"Tuan Muda dan Nona Muda baik-baik saja?"
Amanda memegang dadanya karena merasa begitu terkejut. Lalu memukul Thio dengan cukup keras
"Kenapa kalian berdua suka sekali datang dan tiba secara mendadak seperti ini hah? Membuatku hampir mati saja" ucap Amanda sedikit sesak nafas
"Maafkan saya Nona Muda, saya tidak bermaksud membuat anda merasa terkejut" ucap Thio dengan badan yang sudah membungkuk
"Kakak mau berbelanja lagi? Atau kita makan saja?" tanya Er mengalihkan keributan yang hampir saja terjadi
"Kita pulang saja. Kalian berdua membuat kakak tidak nyaman karena sudah dihinggapi rasa takut" jawab Amanda yang langsung menarik kedua tangan adiknya itu
Lantai demi lantai sudah mereka turuni dan hampir sampai ke parkiran dimana mobil Er berada. Karena sesampainya Er disana, dia langsung menyuruh supir kembali ke kantor tanpa memarahinya sama sekali karena dia tau bahwa Kakak Iparnya itu memang akan melakukan apapun yang dia suka
Amanda masuk ke dalam mobil sedangkan Er dan Thio masih berdiri di luar lebih tepatnya sedikit menjauh dari mobil
"Kau harus lebih memperketat keamanan di sekitar Kak Amanda dan juga Bunda. Aku merasa bahwa orang yang meneror waktu itu masih belum hilang. Feeling ku semakin buruk akan hal ini. Jadi aku mau kau memanggil semua bawahan yang terbaik. Dan nanti malam aku akan menemui Paman Chand lagi. Kau tidak perlu ikut, kau tetaplah di kawasan rumah untuk melindungi semua orang. Aku akan memberitahu ini semua kepada Ayah dan juga Kakak. Kau mengerti?" jelas Er sedikit berbisik
"Siap laksanakan Pak" jawab Thio pasti
Er menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Thio dengan berjalan menuju mobil pribadinya itu
__ADS_1
("Aku akan membereskan kalian semua. Kau sudah bermain-main dengan orang yang salah, Tuan Richo") batin Er yang sudah mengepaljan kedua telapak tangannya
🌻🌻🌻