CEO My Husband

CEO My Husband
MISI ALAN(2)


__ADS_3

Derasnya hujan dan suara petir yang mengerikan sudah berhenti dan Amanda dan juga Alan sudah berada di dalam mobil


Amanda menatap keluar jendela memandangi jalanan yang masih basah. Walaupun terkadang tetes airmatanya masih saja turun


Alan tau bahwa Amanda masih sedih dan berusaha menutupi airmatanya namun Alan sudah tidak bisa menahan emosinya


Dia sudah mengutuk Alex dan juga Irish dalam hatinya. Dan sesegera mungkin dia akan menyelesaikan ini semua. Dia akan mencari tau kenapa mereka setega itu pada Puteri mereka sendiri


Mobil mereka memasuki pekarangan Rumah Besar. Alan memberhentikan nya tepat di taman samping dekat pondok


Amanda melepaskan Seltbet nya dan memandang Alan dengan senyumnya


"Terimakasih sudah menjemput kakak yah" hanya itu yang diucapkan oleh Amanda


Amanda membuka pintu itu dan kaget karena sudah ada Er yang berdiri di hadapannya dengan senyumnya


Namun senyum Er menghilang setelah memandang wajah Amanda dengan teliti


"Kakak kenapa? Apa ada masalah? Atau Kak Alan membuat kakak menunggu terlalu lama? Jika iya maka katakan saja biar ku hajar dia sekarang kak" ucap Er dengan panik


Amanda terkekeh pelan namun di pelupuk matanya sudah ada air yang akan turun. Dia tertawa kerasa menutupi rasa sakitnya dan menggenggam tangan Er


"Kau ini... kau tidak boleh berbicara seperti itu pada Alan. Dia itu kakakmu dan kau harus menghormati nya. Kakak tidak apa-apa. Kakak hanya lelah dan akan segera istirahat. Kakak masuk dulu yah" ucap Amanda dan melangkah menuju ke pintu utama


Er mengangkat sebelah alisnya. Entahlah... rasanya semua keluarga Graham bisa menaikkan sebelah alis mereka. Dia segera menatap Alan yang masih berdiri di samping mobil


Alan mengerti akan raut wajah yang diberikan oleh Er. Namun dia hanya bisa diam dan berjalan masuk ke dalam Rumah Besar


"Kenapa menjadi seperti ini? Ini pasti ulah si Alex sialan itu. Aku akan memberinya pelajaran yang lebih" ucap Er kesal


🌻🌻🌻


Amanda memasuki Rumah dan kelihatan sangat sepi. Entahlah dia juga tidak yakin


"Nona sudah kembali" sambutan itu diucapkan oleh Bi Irnah


Amanda menghentikan langkahnya dan tersenyum ke arah Bi Irnah


"Bi, kemana semua orang?" tanya Amanda sembari melihat seisi rumah

__ADS_1


"Oh Nyonya dan Tuan Besar sedang berkunjung ke rumah sahabat lama mereka dan tadi mereka pesan akan pulang terlambat dan menyuruh semuanya makan malam duluan. Sedangkan Tuan Muda Rizky belum kembali Nona" jelas Bi Irnah


Amanda menganggukkan kepalanya mengerti


"Amanda ke atas dulu yah Bi. Amanda ingin istirahat sebentar" ucap Amanda dan berlalu begitu saja sebelum mendengar kalimat yang hendak diucapkan oleh Bi Irnah


Satu per satu anak tangga sudah diinjak oleh Amanda. Dia membuka pintu kamar dan segera menguncinya. Bukannya langsung beristirahat Amanda justru duduk di bawah memeluk lututnya


Air mata yang sedari tadi ditahan berhasil keluar. Amanda mengepalkan tangannya dan langsung menggigitnya dengan kuat untuk menahan isak tangisnya


Mungkin saja dia lupa bahwa kamar yang dia tempati sekarang kedap suara. Namun yah begitulah... mungkin semua orang juga akan sama seperti Amanda saat ini, akan lupa segalanya jika sudah sangat sedih dan sakit hati


"Arghhhhh" teriak Amanda keras.


Tanpa dia sadari tangan yang tadi sudah dia gigit sudah mengeluarkan darah segar


"Kenapa selalu seperti ini Tuhan? Kenapa aku selalu merasakan sakit jika kedua orangtua ku mengabaikan diriku? Tapi kenapa aku juga tidak bisa membenci mereka? Kenapa Tuhan kenapa?" ucap Amanda yang sudah berlutut di atas karpet kamarnya


Dia semakin terisak jika mengingat semua kejadian yang sangat menyakitkan hatinya. Hal yang berhasil membuat dia berpikiran pendek


"Tuhan... kenapa aku harus kehilangan bahagiaku semenjak mereka mengabaikan aku? Kenapa kau memberikan ku kebahagiaan yang begitu singkat jika pada akhirnya aku harus merasakan sakit dan sedih seperti ini?" ucap Amanda lagi


Dia sudah berdiri dan menarik rambutnya kasar


Kamar yang awalnya rapi kini sudah menjadi seperti kapal pecah. Kepingan kepingan kaca sudah berserakan di atas keramik kamarnya namun Amanda membiarkan hal itu terjadi


Bahkan suara ketukan pintu yang terdengar kuat saja tidak membuatnya tenang. Dia kembali menjadi Amanda yang dulu sangat marah ketika Rizky tiba-tiba melamarnya


Dia berjalan dan menginjak semua kepingan kaca itu tanpa merasakan sakit sama sekali. Dia kembali duduk dan memeluk lutut nya lagi masih terisak


Tangisnya begitu menyedihkan bahkan menyakitkan. Mungkin siapa saja yang mendengar suara tangis Amanda juga akan ikut menangis


Dibalik senyum manis Amanda dia sangat berusaha menutupi dan menahan kesedihannya


Amanda sudah tidak kuat. Dia mengambil pecahan kaca yang lumayan besar dengan sudut yang begitu runcing. Dia melihatnya dengan teliti dan ingin menggoreskan nya di pergelangan tangan putihnya


Namun...


Brakkk

__ADS_1


Suara kaki yang kuat dan hempasan kaca itu membuat Amanda semakin menangis. Kenapa lagi dan lagi dia harus diselamatkan ketika dia sudah ingin mengakhiri hidupnya sendiri


"Amanda sadarlah. Amanda sadar" teriak pria itu


Amanda menatap pria itu dengan air mata yang masih turun dengan derasnya


"Kenapa kau harus menyelamatkan ku lagi hah?" Amanda membalasnya dengan teriakan yang tak kalah kuat


Rizky masih menggoyang-goyangkan badan Amanda agar gadis itu sadar


"Apa kau kehilangan akal hah? Kau ingin mengakhiri hidupmu sendiri? Kenapa kau begitu egois Amanda hah? Kau tidak memikirkan nasib Bunda dan Ayah jika mereka tau bahwa menantu dan Putri mereka tiada. Kau tidak memikirkan kebahagiaan Alan, Er dan juga Thio jika sudah kehilanganmu hah? Dan aku... kau tidak pernah memikirkan kebahagiaan ku?" teriak Rizky dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya


Er, Alan dan juga Thio ikut menangis melihat itu semua.


Amanda semakin terisak di dalam pelukan Rizky dan memukul lengan Rizky begitu kuat. Namun Rizky tetap diam dan terus mencium ujung kepala Amanda dengan lembut. Sesekali dia juga menghapus air yang ada di sudut matanya


Suara tangis itu semakin lama semakin hilang dan pergerakan itu juga sudah tidak ada


"Amanda... Manda" panggil Rizky lembut


Dia menarik tubuh Amanda dan mendapati gadisnya dalam mata yang tertutup dan hidung yang mengeluarkan banyak darah


"Panggil Dokter sekarang cepat" teriak Rizky dan menggendong Amanda keluar kamar itu


🌻🌻🌻


Alan duduk di sofa yang ada di kamar tamu. Rizky dan juga Er masih setia berdiri di samping kasur Amanda sedangkan Dokter Andi masih dengan teliti memeriksa keadaan Amanda


"Kenapa dia seperti ini?" tanya Andi menatap semua Putera Graham


"Ini semua salah Alex dan juga Irish Arafah. Mereka membuat Kak Manda hancur seperti ini" bukan Rizky dan juga Er yang menjawab melainkan Alan


Alan mengepalkan tangannya menahan amarah. Er segera menghampiri Alan dan mengusap punggung Alan


"Kak Amanda sangat drop dan membuatnya sedikit depresi. Tapi tenang saja, karena aku sudah menyuntikkan obat penenang dan sebentar lagi dia akan segera sadar. Aku harap kalian bisa lebih menjaga perasaannya" jelas Andi menatap ketiganya secara bergantian


Andi keluar diantarkan oleh Thio


"Kak, setelah Kak Manda sadar aku akan tinggal di apartemen yang diberikan oleh Ayah. Dan mulai menjalankan perusahaan AG Long's. Aku harus segera menyelesaikan ini semua" ucap Alan menatap Rizky

__ADS_1


Rizky hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap Amanda yang masih senantiasa menutup matanya


🌻🌻🌻


__ADS_2