CEO My Husband

CEO My Husband
BERBELANJA (2)


__ADS_3

"Kau tidak risih mereka menjerit tidak tau malu karena melihatmu?" tanya Thio berbisik berdiri di samping Tuan Muda nya


"Diam kau! Tolong berkaca. Anda juga menjadi alasan mereka seperti itu"


Er berusaha bersikap acuh dan fokus menatap Kakak Iparnya. Yah, seperti ucapan Amanda mereka akan ke supermarket terlebih dahulu. Dan disinilah mereka bertiga


"Kalian ingin makan apa malam ini?"


Sontak kedua pria itu saling menatap satu sama lain dan dengan kompak menggaruk tengkuk mereka


Amanda terkekeh dengan tangan yang menggaruk pelipis nya sendiri. Terheran dengan sikap kedua adiknya


"Hmmm sepertinya apapun yang kakak masak akan kami makan. Apa saja kak. Tenang saja"


"Tidak, kali ini kakak ingin memasak semua makanan kesukaan anggota rumah. Ayo cepat" suruh Amanda dengan sedikit paksaan


"Kakak akan pergi?" tanya Er dengan tatapan dinginnya yang tertuju kepada Amanda


Amanda yang ditatap seperti itu menjadi sangat tidak karuan. Thio yang paham akan situasi itu hanya bisa menyenggol lengan sahabatnya itu


"Jika kakak akan pergi maka jangan berharap apapun. Sikap kakak, aku sangat tidak menyukainya dari beberapa hari kemarin. Aku sudah katakan, Aku tidak akan membiarkan siapapun datang dan membawa kakak


Dan juga, aku akan terus mengawasi kakak. Jadi, aku rasa kakak harus mengubur dalam-dalam niat kakak yang ingin pergi meninggalkan kami. Apa kakak bertengkar dengan Kakak ku? Atau ada seseorang yang mengancam kakak? Apa sesulit itu untuk mempercayai kami? Sehingga kakak sulit mengatakan apapun?!"


Amanda menundukkan kepalanya merasa bersalah dengan semua unek-unek Owner yang mendadak dia dengar. Tidak dibentak, hanya saja omongan Er yang begitu lembut seperti itu justru membuatnya sangat sakit


Dia memilih diam dan tak berani menatap mata adiknya itu. Bingung akan mengatakan hal apa sebagai jawaban yang ingin dia berikan


"Aku akan tunggu di luar" lirih Er yang melepaskan genggamannya pada troli belanjaan mereka dan melangkah keluar


"K-kak, Owner ha-hanya sedikit lelah. Kakak tidak perlu khawatir dan jangan masukkan hati" ucap Thio yang sudah menggantikan posisi sahabat nya tadi


Amanda hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan melanjutkan memilih bahan makanan ditemani Thio yang berdiri di sampingnya


🌻🌻🌻


"Hmmm aku akan turun dan mengatur belanjaan ini di mobil. Kalian bisa lanjut, nanti aku akan menyusul"


Setelah mengatakan itu, Thio melangkah menjauh dari Amanda dan juga Tuan Muda Owner nya. Hanya ada kecanggungan yang terjadi


"Kau... Merokok?" tanya Amanda pelan dengan memberanikan diri menatap adik ipar nya itu


"Tidak. Kenapa kakak menanyakan hal itu? Apapun yang terjadi aku tidak akan menyentuh barang itu. Tenang saja"

__ADS_1


Sejujurnya Er sedikit terkejut karena mendengar pertanyaan tidak masuk akan dari kakak iparnya itu.


"Tapi kakak mencium bau rokok darimu"


"Ahk tadi ada pria tua yang berdiri di sampingku sembari merokok. Mungkin asapnya terlalu menempel. Aku akan ke toilet dan... Ahk tidak usah, kita akan menunggu Thio saja"


"Tidak apa. Pergilah. Kakak akan menunggu dan tidak akan kemana pun"


"Tidak. Aku akan menyuruh Thio untuk cepat"


🌻🌻🌻


"Kalian duluan saja, aku akan segera kembali"


Thio sudah kembali dan sudah bergabung dengan lainnya. Saatnya Er yang harus segera memusnahkan bau rokok yang melekat pada bajunya


"Ayo, Kak. Er akan menyusul" ajak Thio yang langsung menarik tangan Kakak Iparnya itu


Amanda tersenyum sembari memilih toko mana yang akan mereka masuki. Dan pilihannya jatuh kepada toko yang menyediakan banyak aneka jenis sepatu


"Kau tau berapa nomor kaki Alan dan Owner?" tanya Amanda tanpa menatap Thio yang berada di belakangnya


"Tuan Muda Alan dan juga Owner memiliki nomor kaki yang sama, Kak. Jika tidak salah ingat 43"


"H-hah? Aku 42 kak"


Amanda menganggukkan kepalanya mengerti dan kembali menatap satu per satu sepatu yang ada


🌻🌻🌻


"Sudah semua kak? Kita pulang?" tanya Thio dengan banyaknya belanjaan berada di kedua tangannya


"Sudah. Tapi kenapa Owner masih belum kembali?"


"Ahk tadi dia mengirimkan pesan masih harus menyelesaikan permasalahan kantor melalui telepon. Jadi kita bisa ke mobil terlebih dahulu dan menunggunya disana" jelas Thio


Amanda diam sibuk menata belanjaan yang dia bawa walau jumlahnya hanya sibuk. Sedangkan pikirannya masih mengira ngira apakah adik iparnya itu benar-benar marah padanya


"Apa yang kakak pikirkan?"


"Hah?"


Dia menoleh ke depan dan mendapati Owner yang sudah mengambil alih semua barang yang wanita itu bawa tadi

__ADS_1


"Ka-kapan kau datang?" tanyanya terkejut dengan kehadiran pria tampan itu


"Aku tidak marah pada Kakak. Jangan terlalu dipikirkan hmmm" jelas Er yang seakan tau apa yang dilamunkan oleh Kakak Iparnya itu


Amanda terdiam namun dalam hati sudah bertanya-tanya apakah Owner ini bisa membaca pikiran orang sekitarnya?!


"Ayo" ajak Er yang sudah menggenggam tangan Kakak Iparnya itu.


Thio berada di sisi kanan Amanda, sedangkan Owner berada di sisi kirinya. Oh ayolah, ada banyak manusia yang begitu ingin berada di posisi Amanda saat ini


"Kakak sudah membeli segala keperluan yang dibutuhkan?" tanya Owner dengan lembut sembari menoleh ke arah Amanda


"Hmmm. Ahk, apa besok kalian bisa menemani kakak lagi?"


Sontak kedua pria itu saling menatap tanpa ada Amanda di pantulan mata mereka. Mau bagaimana lagi? Amanda hanya sebatas dada kedua pria itu


"Tentu. Apa kakak butuh sesuatu?" tanya Thio dengan senyum tampannya


"Kakak ingin lari pagi, lalu akan membuatkan makanan sebagai 200 kotak dan pergi ke Panti Asuhan. Setelah itu akan mengurus seluruh taman di Rumah Kakak mu, Rizky" jelas Amanda seakan sudah merencanakan semuanya dengan baik


Owner menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan Kakak Iparnya itu


"Rumah Kak Rizky? Apa kakak akan kembali ke sana?"


"Ahk itu, kakak sempat memikirkan nya. Sepertinya kakak harus berkunjung ke sana beberapa hari. Mau bagaimana pun, itu adalah tempat tinggal Kakak dan juga Rizky, hmmm"


"Tidak. Kita harus membicarakan ini dulu bersama dengan Ayah dan juga lainnya. Kakak tidak bisa langsung mengambil keputusan seperti itu" sanggah Owner dengan cepat


"Memang itu yang akan kakak lakukan. Nanti pada saat selesai makan malam, kakak akan mengatakannya pada Ayah"


Owner terdiam tidak tau apa yang harus dia ucapkan lagi. Sedang Thio hanya menyimak, takut untuk bersuara namun sahabatnya sudah mewakili ternyata


Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju basecamp. Hari sudah mulai menampakkan sinar orange yang akan segera berakhir. Mereka menghabiskan sepanjang hari dengan baik tanpa harus ada kecelakaan atau kesalahan sedikit pun


Ting


Thio menghentikan langkahnya ketika dering ponselnya terdengar.


"Selepas dari ini, datanglah ke kamarku"


Pesan singkat dari Tuan Muda sekaligus sahabatnya, Owner. Apa ada hal yang mendesak? Atau apakah pria itu mendengarkan sesuatu yang membuatnya gelisah?


Karena sejak dia kembali, Thio hanya bisa melihat kegelisahan yang berusaha ditutupi oleh Owner dengan baik. Namun karena sudah berteman dan bersahabat dengan pria itu selama bertahun-tahun lamanya maka ia sudah sangat paham

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2