
"Bagaimana pekerjaan mu disana?" tanya salah satu Tuan Muda Graham yang sudah duduk dengan nyaman nya di dalam mobil mewah milik Thio
Er menatap ke samping lebih tepatnya ke arah Kakak tertuanya itu. Terdengar sebuah helaan nafas panjang. Kerutan di wajah tampan milik Rizky pun terlihat
"Kenapa helaan nafasmu terdengar begitu berat? Apa seberat itu?" tanya Rizky penasaran
"Katakan saja seperti itu Kak. Aku... aku tidak bisa menjawab semua pertanyaan kakak untuk saat ini. Mungkin setelah keselamatan Perempuan Graham sudah pasti aku akan kembali lagi ke Jakarta dan menyelesaikannya" jelas Er kepada Rizky
"Tidak perlu memaksakan diri. Aku juga mengkhawatirkan kesehatanmu. Pasti saat ini kau memiliki banyak pikiran bukan? Jadi selama disini aku memintamu untuk tidak memikirkan pekerjaan yang masih menunggu di sana dan istirahatlah dengan baik" suruh Rizky
"Tapi Kak, aku tidak bisa meni..."
"INI PERINTAH OWNER" tekan Rizky pada kalimat lanjut yang baru saja dia katakan
Mau tidak mau, Er menganggukkan kepalanya mengerti dan menatap ke depan sembari melirik ke arah Thio
Thio membalas tatapan dari Er
"Kau berani tertawa maka ku pastikan kau tidak akan ikut untuk makan malam" ucap Er langsung memperingati Thio
Thio langsung berdehem keras dan kembali menatap jalanan
"Tidak perlu memarahi Thio. Dia sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Kau harusnya menanyakan kabarnya bukan malah memberikan peringatan seperti itu Er" bela Rizky
"Memangnya dia kenapa Kak?" tanya Er tidak mengerti dengan lirikan mata yang masih tetap menuju ke arah Thio
"Dia tidak tidur sama sekali selama beberapa hari ini hanya untuk memantau mobil itu setiap malam. Lalu dia juga harus mengecek mobil itu mengatasnamakan siapa karena pada dasarnya mobil itu selalu berganti plat"
"Dia tidak ada memberitahu ku mengenai mobil itu yang selalu berganti plat"
"Kau sudah mengenal Thio bukan?" ucap Rizky lagi
Keadaan hening setelah ucapan terakhir yang diucapkan oleh Rizky dengan nada santai nya. Sedangkan Er? Dia kembali menatap jalanan dan terlihat berpikir
Detik demi detik pun sudah berlalu dalam keadaan hening dan suara klakson kendaraan yang terlewati
"Thio, apa Alan baik-baik saja?" tanya Rizky membuka pembicaraan lagi
"Menurut ku Kak Alan terlihat tidak baik Kak. Kemarin malam pada saat aku ingin pergi ke dapur aku melewati kamar Kak Alan yang kebetulan tidak tertutup dengan rapat. Aku mendengar dia seperti dalam keadaan frustasi dan mengatakan bahwa dirinya sangat tidak berguna dalam menjaga Kak Amanda. Hanya itu saja" jelas Thio
Terlihat Er yang langsung memajukan badannya dan menatap Thio dengan raut wajah serius
"Kak Alan mengatakan hal itu? Kau tidak salah dengar?" tanya Er memastikan
"Iya, aku tidak salah dengar" jawab Thio dengan pasti
"Kau tenang saja Er. Besok aku akan berbicara dengannya. Dia hanya sedang dalam suasana hati yang buruk" ucap Rizky lagi berusaha menenangkan Er yang sudah mulai merasa khawatir
__ADS_1
Er hanya diam saja tak mau menjawab lagi.
"Kak, apa kau rasa orang yang saat ini ingin melukai anggota keluarga kita adalah orang yang kita kenal?" tanya Er setelah bertarung dengan pemikirannya sendiri
"Kenapa mengatakan seperti itu?" bukannya menjawab, Rizky justru bertanya kembali dengan wajah yang sudah menghadap ke arah Er
"Aku hanya bertanya saja"
"Maaf Kak, tapi aku merasa bahwa orang yang akan kita cari tau identitas dan juga alasan dia ingin mencelakai para wanita di keluarga Graham adalah orang yang kalian kenal" sahut Thio yang hanya bisa menatap kedua Tuan Muda itu melalui kaca mobil
"Benar Kak. Aku juga sempat memiliki firasat seperti itu" jawab Er setuju dengan pendapat Thio barusan
Rizky hanya diam tak ingin menjawab lagi
🌻🌻🌻
Amanda sendiri sedang menyibukkan dirinya di kebun Rumah Besar. Menyiram dan merawat bunga-bunga yang beraneka warna yang ditanam oleh tukang kebun
"Kak" panggil seseorang dengan suara bariton yang tak lain dan tak bukan adalah Alan
Amanda menengok ke belakang dan mengembangkan senyumnya ketika tau siapa yang memanggilnya
"Kau memerlukan sesuatu?" tanya Amanda menatap Alan dengan senyum yang masih terlihat jelas
"Tidak kak. Aku hanya ingin mengobrol. Rasanya aku sudah lama sekali tidak mengobrol dengan kakak" jawab Alan lagi
Kakak tau bahwa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari Kakak dan lainnya. Jadi yah kakak hanya bisa diam dan berdoa saja semoga kalian semua selamat dalam mengurus segalanya"
Alan terdiam ketika mendengar ucapan yang dikeluarkan oleh Kakak Iparnya itu. Dia pun membantu Amanda untuk mencabut daun-daun yang sudah kering
"Kami semua hanya sedang mengatur penjagaan untuk semua nya Kak. Tidak ada yang kami sembunyikan dari Kakak atau yang lainnya" jawab Alan pada akhirnya
"Kakak percaya semua ucapan kalian. Kau tidak perlu merasa tidak enak seperti itu hanya karena kakak mengatakan hal seperti itu" ucap Amanda dengan kekehan kecilnya
Alan terlihat tersenyum mendengar suara tawa kecil yang dikeluarkan oleh Kakak Iparnya itu
"Kak, apa menurutmu aku sangat tidak bisa dalam menjagamu dan juga Bunda?"
Amanda menghentikan kegiatannya dan menatap Alan dengan alis yang sudah menyatu.
"Aku hanya sekedar bertanya Kak. Tidak ada maksud lain dari pertanyaanku barusan" jawab Alan
"Alan, kau bahkan sangat berguna. Kau, Er dan juga Thio sangat berguna. Kalian selalu menjaga keselamatan kami semua terutama Kakak. Kau tau... terkadang Kakak berpikir bahwa Kakak ini adalah seorang Tuan Puteri. Karena harus diawasi oleh dirimu, Rizky, Er, Thio dan juga Ayah. Bahkan tidak hanya kalian saja melainkan semua pengawal juga ikut dalam mengawasi Kakak
Jadi jika kau berpikir bahwa dirimu sangat tidak berguna, itu adalah pikiran yang sangat salah. Mau sampai kapan pun... kau adalah Adik Ipar ku yang terbaik dan yang paling berguna. Kau mengerti?" jelas Amanda dengan sedikit nada galaknya
"Lalu bagaimana denganku?" bukan Alan yang menanyakan hal itu
__ADS_1
Amanda mengalihkan matanya ke arah kiri badan Alan begitu pun dengan Alan yang langsung berbalik
"Bagaimana denganku Kak? Apakah aku tergolong Adik Ipar yang sama dengan Kak Alan?" tanya Er lagi
Gunting yang ada di genggaman Amanda terlepas begitu saja namun segera ditangkap oleh Alan
"Kau berencana ingin membuat kami semua mati khawatir lagi Amanda?" suara itu membuat mata Amanda semakin terasa panas
Suaminya sudah kembali bersama dengan Adik Ipar Bungsunya.
Rizky memeluk Amanda dengan erat lalu mencium puncak kepala milik Amanda
"Aku begitu merindukan wangi ini" bisik Rizky dan melepas pelukannya
Rizky memegang kedua bahu Amanda dan menatap manik mata milik Istrinya itu
Cup
Satu kecupan manis mendarat di bibir mungil milik Amanda
"Do You Miss Me?" tanya Rizky lagi
Tidak menjawab melainkan airmata lah yang terjatuh. Amanda menangis
"Sudah lah Kak, aku juga mau memeluk Kakak Iparku" ucap Er yang sudah berjalan mendekat
Rizky memundurkan langkahnya dan membiarkan adik bungsunya itu untuk memeluk istrinya itu
Er memeluk Amanda dengan erat lalu melepas pelukannya. Menghapus airmata itu dan tersenyum tulus
"Aku heran Kak, kenapa kau selalu menangis? Apakah kepulangan kami berdua membuat mu sedih?" tanya Er
Amanda tersenyum dan menggelengkan kepalanya langsung
"Kakak hanya tidak percaya bahwa kalian sudah kembali secara bersamaan" jawab Amanda langsung
Amanda menatap Thio yang berdiri bersembunyi di belakang tubuh Rizky
"Apa kau akan membohongi Kakak mu sendiri Thio?" tanya Amanda dengan nada tinggi
Thio memunculkan kepalanya dan deretan gigi yang sudah terlihat
"Hehehe maafkan aku Kak. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk berbohong pada Kakak"
"Kami yang menyuruh nya untuk berbohong padamu. Ini yang dinamakan Surprise bukan?" ucap Rizky yang sudah menggandeng tangan Amanda
"Ayo kita masuk saja. Sebentar lagi akan makan malam" ajak Rizky yang sudah berjalan terlebih dahulu
__ADS_1
🌻🌻🌻