
Disinilah salah satu Tuan Muda dari Keluarga ternama yaitu Keluarga Graham. Tuan Muda Er duduk dengan kaki yang menyilang dan tatapan mengarah ke luar jendela.
Rintik-rintik hujan sedang membasahi jalanan yang memang cukup padat. Pria tampan yang sedari tadi berhasil membuat heboh seisi Restaurant dengan kedatangan nya itu hanya bisa duduk santai sembari menunggu seseorang yang sejak tadi tak jua menampakkan wajahnya
"Kau menunggu cukup lama?"
Suara itu berhasil membuat semua manusia yang ada di situ menahan jeritan mereka terutama kaum hawa. Er mengalihkan matanya dan menatap sedikit ke atas lebih tepatnya menatap gadis yang sedari tadi sedang dia tunggu
"Cukup lama. Dan ini pertama kalinya aku disuruh menunggu oleh seseorang" jawab Er dengan santainya
Shen Lin tersenyum lebar lalu mendudukkan dirinya dan menghela nafas dengan cukup panjang. Er mengangkat tangan kanannya bermaksud memanggil pelayan dan ingin memesan
"Kau ingin makan apa?" tanya Er kembali menatap gadis yang sudah duduk di hadapannya itu
"Apakah aku diizinkan untuk makan sama dengan apa yang kau makan Tuan Muda?" bukannya memberikan jawaban, Shen Lin justru melontarkan sebuah pertanyaan
Er memutarkan kedua bola mata nya dengan helaan nafas yang juga bisa di dengar dengan jelas oleh Shen Lin dan juga pelayan wanita itu
"Saya tidak ingin ribet. Berikan saja menu makan siang yang paling digemari disini. Pergilah" ucap Er tanpa berlama-lama
Lagi dan lagi Shen Lin hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah dan mendengar semua kalimat yang terlontar dari mulut Tuan Muda Owner Graham itu
"Baiklah aku minta maaf karena sudah membuatmu menunggu cukup lama. Tapi sudah menjadi tanggung jawabku untuk meladeni seorang pasien yang sedang sakit bukan?"
"Tapi jika sudah waktunya makan siang maka kau harus makan siang. Jangan menundanya lagi. Bagaimana ceritanya dokter diobati oleh seorang Dokter?" jawab Er dengan sinis
"Hahaha kau benar-benar marah padaku Tuan Muda Er?" goda Shen Lin yang juga disertai dengan tawa kecilnya
"Diamlah. Aku tidak akan membahas mengenai keterlambatanmu kali ini"
Shen Lin mengangguk dan langsung menghentikan tawanya. Dia menatap sekeliling tempat dimana dia dan juga pria yang cukup mencolok itu berada
"Tuan Muda, bukankah kau mengajak ku makan siang untuk menyelesaikan masalah mengenai isu tentang kau dan juga aku?" tanya Shen Lin sedikit berbisik
"Ya"
"Lantas kenapa kau mengajak dan memilih tempat yang sangat ramai seperti ini untuk makan siang? Ini dinamakan kau tidak berniat memperbaiki isu itu melainkan ingin semakin memperburuk keadaan" omel Shen Lin dengan pelan
__ADS_1
Er melipat kedua tangannya di depan dada lalu tersenyum kecil. Menatap lekat gadis yang juga menatapnya dengan tajam itu
"Aku memang ingin semakin memperburuk keadaannya Nona Shen Lin" jawab Er dengan santai
"Kau benar-benar tidak waras. Jika tau seperti ini, maka aku tidak akan menerima ajakan makan siangmu"
"Kau mau menolak ajakan yang tulus ku tawarkan padamu? Wah...kau hebat sekali. Kau gadis pertama yang berani melakukan ini semua jika begitu"
"Dengarkan aku Nona Shen Lin, aku mengajak mu makan siang memang ingin membicarakan mengenai isu tersebut. Tapi bukan berarti aku ingin memperbaiki segalanya. Itu salahmu sendiri karena sudah mengambil kesimpulan sendiri padahal aku tidak mengatakan apapun pada saat bertemu denganmu. Aku hanya mengajakmu untuk makan siang bersamaku" lanjut Er menjelaskan
"Kau benar-benar"
"Permisi Tuan Muda, saya akan menata makan siang kalian" ucap Shen Lin terpotong karena kehadiran pelayan tadi
Er tersenyum lebar melihat wajah kesal yang sudah berwarna merah yang dikeluarkan oleh gadis itu
("Dia menggemaskan. Ternyata semudah ini membuatnya merasa kesal. Baiklah akan semakin aku lakukan") batin Owner yang terkekeh dan menundukkan kepalanya agar tak ada yang melihatnya tertawa
"Silahkan menikmati makan siang kalian. Saya permisi" pamit pelayan tersebut dan kembali mendorong meja dorong tersebut
Shen Lin menatap tajam ke arah Er dan langsung memasang serbet dan mengambil alat makannya
Shen Lin diam tak berniat untuk menjawab karena memang perutnya sudah berdemo meminta makanan di dalam sana
Suasana makan siang berlangsung hangat dan hening. Sesekali mereka berdua tanpa sadar melihat ke luar jendela menatap jatuhnya air hujan yang semakin deras
"Kau sudah kenyang Nona Shen Lin?" tanya Er setelah membersihkan pinggir mulutnya
"Panggil aku Lin Lin saja. Tidak perlu memanggil semua namaku dengan sopan seperti itu" suruh Shen Lin masih dengan wajah juteknya
"Jadi maksudmu kau tidak suka jika seseorang memanggil namamu dengan sopan? Kau memang aneh" balas Er yang masih memiliki niat menjahili gadis itu
"Bukan seperti itu maksud dari perkataan ku. Aisss sudahlah lupakan saja. Berdebat denganmu tidak akan ada habisnya. Katakan apa tujuanmu mengajak ku makan siang"
Er terkekeh dan kembali menatap ke luar jendela. Lalu menatap lagi gadis yang saat ini sedang memainkan jari jemarinya itu
"Jika aku ingin mengajak mu kencan, apa kau akan menolak?" tanya Er yang terlontar begitu saja
__ADS_1
Lin Lin terkejut dan langsung menatap ke depan lebih tepatnya menatap wajah pria tampan itu. Lalu tak lama dia tertawa dengan pelan
"Ternyata selera humormu cukup baik Tuan Muda"
"Itu pertanyaan yang serius" balas Er memang dengan wajah seriusnya
Lin Lin mengerjapkan beberapa kali kelopak matanya dan berusaha menelan salivanya.
"K-kau benar-benar serius bertanya seperti itu?" tanya Lin Lin ragu
"Iya. Bagaimana?"
"Tuan Muda, ajakan mu sangat mendadak. Aku tidak mengerti apa tujuan atau latar belakang dari ini semua. Tapi aku hanya mengatakan satu hal saja"
"Katakan" pinta Er bermaksud menyuruh Lin Lin untuk melanjutkan kalimatnya
"Hati wanita sangat sensitif. Jika maksud dan tujuan dari ini semua hanya untuk diakui oleh publik, maka kau cari wanita lain saja. Aku tidak ada cukup waktu untuk meladeni semua publik itu" lanjut Lin Lin dengan santainya
Er cukup terkesima mendengar penjelasan yang dikeluarkan oleh Dokter yang dia kenal secara tidak sengaja itu. Dia menundukkan kepalanya dan tersenyum dengan manisnya
"Aku hanya ingin memulai sesuatu yang selama ini sangat aku hindari. Kau tau? Kak Iky selalu mengatakan bahwa tidak ada salahnya untuk membuka hati dengan seorang gadis. Jika aku berani memulai suatu hubungan dengan seorang gadis lalu hubungan itu tidak bertahan lama, maka aku juga harus siap menerima rasa sakitnya" ucap Er memulai sedikit ceritanya
"Kenapa selama ini kau tidak mau memulai suatu hubungan dengan seorang wanita? Aku banyak membaca dan mendengar mengenai informasi keluarga Graham. Banyak yang begitu tertarik dengan semua Tuan Muda Graham terutama Tuan Muda Rizky. Apalagi pada saat publik menyoroti acara Pernikahan Tuan Muda Rizky dengan Nona Amanda, hari itu juga dikatakan dengan Hari Patah Hati Nasional. Lalu mereka kembali lagi membahas mengenai kedua Putra Graham yang masih berhasil membangkitkan rasa semangat kaum hawa. Namun kembali patah ketika mendengar bahwa Putra Kedua Graham sudah memiliki kekasih dan akan segera melangsungkan Pertunangan. Maka hanya tersisa 1 Putra Graham dan itu pun Putra Sulung"
"Ini hebat Lin Lin, kau mengatakan bahwa kau tidak memiliki banyak waktu tapi kau bisa tau banyak mengenai itu semua" jawab Er dengan kepala yang sudah bergerak ke kanan dan ke kiri
Lin Lin tertawa dan kembali terdiam
"Aku hanya takut saja. Kalian tidak mengetahui masa lalu dari hubungan Kak Rizky. Aku melihat semua kejadian buruk itu di depan mataku sendiri. Dan karena kejadian itu pula aku tidak mau memulainya. Jadi apa menurutmu aku salah karena ingin mencoba dan memulai semuanya darimu Nona Shen Lin?"
Shen Lin menyusuri ke dalam manik mata berwarna cokelat milik pria tersebut. Dia berusaha mencari kebohongan dan juga sebuah candaan, namun sepertinya hasilnya nihil. Dia hanya mendapati kejujuran dan juga keseriusan di dalam sana
"Tidak ada yang salah memang dari niatmu" jawab Shen Lin pada akhirnya
Er tersenyum kecil ketika mendengar jawaban yang diucapkan oleh gadis itu
"Lalu, jika aku mengajakmu kencan apa kau bersedia Nona Lin Lin?" tanya Er lagi untuk kedua kalinya
__ADS_1
🌻🌻🌻