CEO My Husband

CEO My Husband
TAMU SIAPA?


__ADS_3

Acara yang dilaksanakan secara tiba-tiba oleh Bryant Graham masih terus berlangsung. Larutnya malam makin membuat suasana Rumah milik Amanda itu semakin ramai dan ricuh


Amanda dan anggota Graham muda lainnya menepi ke sekitaran kolam renang. Rizky yang duduk di samping Istrinya, Alan dan Zaen yang sedang asik mengobrol di pondok lain. Sedangkan Er, Thio, Andy dan juga Shen Lin juga asik mengobrol pembahasan yang membuat mereka tertawa bersama


"Kau yakin tidak ingin ke kamar saja?" tanya Rizky yang sembari memijit telapak tangan Amanda dengan lembut


Manik mata milik Amanda menatap lekat menembus masuk ke dalam retina hazel milik Rizky. Dia tersenyum dengan indahnya sembari menggelengkan kepalanya sebagai jawaban


"Tidak masalah. Aku akan tetap disini sampai acara selesai" lirih Amanda menyenderkan kepalanya ke dada bidang Rizky


"Kak, beristirahatlah lebih dulu jika memang sudah sangat lelah" sahut Alan yang secara tidak sengaja menatap ke arah mereka


"Maaf Tuan Muda, diluar ada beberapa orang yang ingin bertemu dengan Tuan Muda Er dan juga Tuan Thio" potong salah satu bodyguard yang memang ditugaskan berjaga di luar


Rizky menatap pria tersebut dengan raut wajah datarnya


"Dia tamu Er dan Thio?" tanyanya bingung


"Tidak tau pasti Tuan Muda. Tapi mereka mengatakan bahwa mereka ingin bertemu dengan Tuan Muda Er dan juga Tuan Thio"


Rizky diam lalu menoleh ke arah dimana kedua adiknya itu berada.


"Er, Thio kemarilah" teriaknya setelah cukup lama hanya berdiam


"Ada apa Kak?" tanya Er masih melanjutkan langkahnya menuju keberadaan Kakak Tertuanya itu


"Ada tamu yang mencari kalian berdua"


"Tamu? Tamu siapa?"


Rizky mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban ketidak tahuannya. Er menatap pria tegap dengan wajah seram itu


"Mereka mengatakan ingin bertemu dengan Tuan Muda Er dan juga Tuan Thio"


"Mereka?" ulang Thio dengan alis yang sudah saling bertaut


"Tidak perlu saling melontarkan pertanyaan. Pergi dan lihatlah. Kalian membuatku hampir jengkel" hardik Rizky dengan helaan nafas panjangnya


Er dan Thio saling menatap lalu memutuskan untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Rizky tadi. Mereka memilih keluar melalui taman samping atau lebih tepatnya keluar dari Pintu Rumah Kaca yang memang sangat dekat dengan kolam berenang tadi


"Siapa yang mencari kita berdua selarut ini. Dan kenapa tidak masuk saja" ucap Er setengah jengkel


Langkah demi langkah sudah terlewati dan pada akhirnya mereka sampai di gerbang besar nan tinggi berwarna silver itu. Penjaga pun membukakan pintu gerbang yang kecil dan mempersilahkan kedua Pria muda nan tampan itu untuk keluar

__ADS_1


"Kalian mencari kami?" tanya Thio langsung


Terlihat ada 3 orang pria berdiri membelakangi Thio dan juga Er. Memakai mantel berwarna hitam dan juga cokelat tua


"Paman Chand?" kaget Er ketika melihat orang tersebut


"Salam Tuan Muda. Maafkan kami karena datang kemari tanpa memberitahu kalian berdua"


Er memejamkan matanya sebentar lalu menghela nafasnya panjang. Terlihat jelas kedua telapak tangannya yang sudah dia kepal dengan sangat kuat. Dia berusaha menahan amarahnya


"Kenapa kalian bisa bertingkah seperti ini? Apa kalian tidak menggunakan otak kalian hah? Kenapa kalian datang di jam seperti ini? Kalian mau mencari mati sekarang hah?" ucap Er yang sudah menatap mereka dengan mata yang melotot dan gigi yang sudah dia rapatkan


Terlihat ketiga pria tersebut oh bukan hanya tiga namun sudah empat karena Thio juga ikut menundukkan kepalanya. Jika sudah seperti ini, maka mereka akan siap menerima semua akibatnya


"Kalian tidak bisa memesan hotel dan datang menemuiku besok? Apa harus di jam seperti ini hah?"


Emosi Er sudah dia keluarkan baru saja. Dia sudah berteriak membentak mereka semua


"Maafkan kami Tuan Muda, kami benar-benar tidak bermaksud membuat Tuan Muda menjadi sangat marah seperti ini" jawab Andrew yang juga ada di situ


"Thio, pesankan kamar hotel terbaik untuk mereka. Jika sudah kau pesankan maka antar dan atur penjagaan di sekitar mereka. Tidak penjagaan yang terlalu dekat, cukup yang menjaga dari jauh. Karena mereka sangat ahli dalam menjaga diri mereka sendiri. Pulanglah jika kau sudah selesai"


Er masuk ke dalam kawasan Rumah meninggalkan semua pria atau lebih tepatnya semua bawahannya tadi. Dengan rahang yang masih dapat dilihat dengan jelas dan mata yang masih menampilkan api amarah


"Kenapa wajahmu merah seperti itu?"


Dia memutar badannya ke arah kiri dan menatap wajah teduh dari sosok wanita kurus dengan rambut panjang


"Tidak apa" jawabnya singkat


Shen menganggukkan kepalanya mengerti dan menatap layar ponselnya kembali


"Aku akan mengantarkan mu pulang. Tunggu disini aku akan kembali" lanjut Er setelah melirik arloji mewahnya


"Tidak perlu Tuan Muda. Aku sudah menyuruh pelayan untuk memanggilkan taksi untukku"


"Mobil di rumah ini sangat banyak. Pria di rumah ini juga sangat banyak. Dan juga" jawab Er yang sudah berdiri di hadapan Shen Lin dengan jarak 1 jengkal tangan saja


"Dan juga... aku yang mengundangmu untuk datang kemari. Jadi aku akan mengantarkan mu. Tidak ada penolakan Dokter Shen Lin" tegas Er


Er berlalu meninggalkan gadis itu yang masih berdiam diri.


"Dia baru saja memaksaku? Apa apaan dia itu. Ck" lirih Shen ketika sadar apa yang terjadi

__ADS_1


"Naiklah. Atau apa perlu ku bukakan pintu untukmu?" suruh Er ketika kaca mobil miliknya terbuka dengan leluasa


Shen berdecih dan menatap sinis ke arah Er. Dia masuk ke dalam dan langsung memakai seltbelt tanpa harus disuruh oleh Tuan Muda Graham itu


"Kau harus aku antarkan kemana?" tanya Er ketika mobil pribadinya itu sudah menuju ke luar kawasan Rumah


"Hotel Jiang"


Keadaan hening kembali tercipta. Mobil itu bergerak dengan kecepatan normal menyusuri jalanan kota yang dihiasi lampu-lampu jalanan


"Kau menikmati pestanya?" tanya Er membuka suara


"Yah, aku sangat menikmati nya. Aku tidak pernah mau menghadiri pesta apapun selama aku tinggal disini atau pun di kota dan negara lain. Aku selalu saja menolak setiap undangan pesta" jawab Shen Lin dengan senyum yang dia tunjukkan


"Kenapa?"


Shen Lin menoleh dan memiringkan kepalanya menatap ke arah pria yang saat ini masih saja fokus pada jalanan yang memang sudah sepi


Kenapa aku merasa bahwa Kau dan Kedua Kakak mu itu memang memiliki sifat yang sama. Kalian hanya berbicara seperlunya saja. Ck ck ck"


"Tidak perlu membahas hal yang tidak perlu dibahas. Jawab saja pertanyaanku tadi"


"Yah itu dikarenakan jika aku ikut ke pesta mereka maka aku yang akan selalu menjadi bahan pembicaraan mereka. Kau tau? Pada awal karir ku, aku juga ikut pesta seperti ini. Tapi sesampainya di sana, mereka justru malah membahas mengenai ku. Mereka mempertanyakan kenapa gadis dari desa kecil bahkan desa yang tidak diketahui banyak orang bisa menjadi seorang dokter dan dengan lulusan terbaik di Universitas ternama?" jelas Shen Lin dengan nada yang sudah menahan tangis


"Tidak perlu melanjutkan nya" potong Er langsung yang sudah menatap Shen Lin sekilas


"Aku tidak apa-apa. Maaf karena aku menjadi banyak bicara tadi"


Keadaan dalam mobil itu semakin mencekam. Er melirik ke luar jendela berusaha menghapus semua ucapan yang dikeluarkan oleh gadis itu. Karena semenjak gadis itu menjelaskan alasan yang sebenarnya, hati Er sedikit tersentak


"Tidak perlu memikirkan bahkan mengingat kembali semua kejadian buruk yang telah terjadi selama hidupmu. Kau sudah menjadi Manusia yang sukses saat ini, jadi itu sudah cukup menutup mulut orang-orang yang dulu meremehkan mu. Jika mereka masih belum diam juga, maka kekerasan adalah jalan lainnya" ucap Er yang berusaha memecahkan keheningan dan berusaha memberikan semangat baru untuk Shen


Tak terasa mobil mewah itu sudah berhenti tepat di depan hotel yang dituju. Er dan juga Shen membuka seltbelt mereka


"Kau tidak perlu turun. Di sekitar hotel ini akan selalu ada para wartawan atau pun kamera tersembunyi. Jika mereka mendapat potret Tuan Muda bungsu Graham bersama dengan seorang wanita maka kau akan pusing untuk menjawab semua pertanyaan mereka nantinya" suruh Shen yang juga menjelaskan


Tak ingin mendengarkan semua penjelasan gadis itu. Owner sudah turun terlebih dahulu dari mobilnya


"Aisss, ternyata Tuan Muda satu ini akan lebih keras kepala dari Tuan Muda Rizky. Benar-benar menyebalkan" kesal Shen Lin dan langsung keluar


"Beristirahatlah. Dan soal wartawan yang akan menanyai ku, maka aku tinggal menjawab bahwa aku sedang mengantarkan kekasihku pulang" jawab Er dengan santainya dan berjalan hendak memasuki kembali mobilnya


"K-kau benar-benar menyebalkan Tuan Muda" teriak Shen Lin

__ADS_1


Er hanya bisa menarik sudut bibirnya sebelah tanpa menjawab apapun dari teriakan gadis kurus itu


🌻🌻🌻


__ADS_2