CEO My Husband

CEO My Husband
SINGKIRKAN MEREKA (2)


__ADS_3

Rizky masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Amanda yang duduk di balkon kamar dengan sebuah buku di tangannya


Senyum kecil itu langsung terbit menambah ketampanan yang dia miliki. Rizky memutuskan untuk menghampiri istrinya namun dia urungkan ketika ponselnya berdering


Mengambil ponsel miliknya dari saku celana pendek yang dia kenakan. Sebelum menatap ponselnya, dia menatap kembali ke arah istrinya itu. Dan gadis itu sama sekali tidak mendengar dering ponsel miliknya


Rizky berbalik dan memutuskan untuk keluar dari kamar nya. Lalu mengangkat panggilan tersebut


"Baiklah kakak akan segera ke sana. Tidak perlu memberitahu Er mengenai ini" ucapnya langsung ketika orang di seberang sana sudah mengucapkan maksud dari panggilannya


Mematikan ponselnya dan kembali masuk ke dalam kamar. Berjalan santai menghampiri gadis yang sedari tadi masih fokus dengan buku yang ada di tangannya


"Kau membaca apa?"


Ketika mendengar suara intrupsi yang begitu familiar, Amanda langsung mendongakkan kepalanya dan menutup buku yang dia baca sedari tadi


"Oh, aku hanya membaca buku managemen. Hanya untuk menghilangkan rasa bosan saja. Kau darimana saja?"


Rizky memilih untuk duduk di karpet yang memang sengaja dilentangkan di lantai balkon itu. Menatap istri cantiknya itu dan meraih kedua tangan nya dan langsung menciumnya cukup lama


Amanda hanya menatap heran tingkah laku suaminya itu. Dari sejak bangun tidur hingga sekarang sikap yang dia terima dari pria itu begitu hangat


"Kau tidak apa?" tanya Amanda sedikit heran


Rizky melepaskan ciuman nya dari punggung tangan gadis itu dan langsung terkekeh pelan sembari menatap begitu lekat wajah cantik di depannya saat ini


"Aku tidak apa. Tidak perlu khawatir seperti itu. Apa aku terlihat begitu aneh hari ini?"


Dengan polosnya, Amanda langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu


"Tidak ada apapun. Aku hanya ingin berbicara serius denganmu hari ini"

__ADS_1


"Baiklah katakan saja. Kita akan membahasnya dengan serius"


Setelah mengatakan itu, gadis itu langsung meletakkan bukunya di atas meja kaca yang ada di situ dan turun. Duduk di bawah bersama dengan suaminya. Semua itu tak luput dari pandangan Rizky. Dia hanya tertawa dengan kepala yang sudah menggeleng menatap heran tingkah laku istrinya yang memang sudah seperti anak kecil


"Kenapa harus berpindah?" tanya Rizky yang masih tertawa


Amanda hanya memperlihatkan deretan giginya sebagai jawaban kepada suaminya itu


"Baiklah kita mulai"


"Kita sudah melakukannya, yang ingin aku tanyakan adalah jika nanti kita dikarunia Graham kecil apa kau siap?"


Amanda diam cukup lama hingga dia menatap manik mata elang milik pria itu. Tersenyum hangat dan langsung meraih kedua tangan Rizky lalu mengelusnya dengan lembut


"Jika Tuhan sudah memberikan kita izin dengan memberikan bayi kecil di keluarga kita maka kita akan bersyukur. Apapun dan bagaimana pun kondisinya, siap atau pun tidak siap kita memang harus siap. Lagipula dia adalah darah daging kita jadi tidak ada alasan yang kuat untuk membuat kita menolak kehadirannya bukan? Aku siap bahkan sangat siap" jawab Amanda dengan senyum manis yang terlihat jelas di wajahnya


Rizky sedikit tersentuh dengan jawaban yang diberikan oleh istrinya itu. Dan langsung mengembangkan senyuman miliknya membalas senyuman istrinya itu


"Tentu saja. Kecuali jika kau sudah memberikan gerak-gerik atau alasan yang mampu membuatku untuk pergi. Ky, aku tau segalanya. Kau menikahiku bukan karena kau menyukaiku apalagi mencintai ku, kau mengambil keputusan itu karena kau kasihan padaku bukan?"


Rizky langsung merubah raut wajahnya. Apa yang dikatakan oleh gadis itu sepenuhnya benar. Tapi itu dulu, sekarang dia bahkan sampai tidak percaya akan dirinya sendiri karena telah jatuh terlalu dalam akan pesona dan kepribadian Amanda


"Jika nanti alasan itu ada dan aku menyadarinya dengan sendiri maka percayalah detik itu juga aku akan pergi. Aku tau akan posisiku Rizky. Kau masih terjebak akan masa lalumu walau tidak sepenuhnya. Kau tidak perlu khawatir, sampai sekarang aku bahkan belum tau apapun akan masa lalumu bahkan alasn kenapa kau begitu keras melarang ku untuk menginjakkan kaki ke dapur pun aku masih belum tau.


Aku hanya sekilas mendengar ketika kau tertidur di ruang kerja kau memanggil nama seseorang walau tidak terlalu jelas"


Rizky langsung mengeraskan rahang nya dan bangkit berdiri. Amarahnya sudah bangkit dan hampir menuju puncak


"Aku akan pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan. Tidak perlu menunggu untuk makan malam. Kau makan malam lah bersama dengan yang lain dan istirahat duluan. Aku pergi" ucap Rizky berpamitan dan langsung melangkahkan kaki dengan cepat sebelum emosinya keluar dan menjadikan Amanda sebagai sasarannya


Amanda menghela nafas nya panjang dan meraih kembali buku yang tadi dia baca. Dia berbohong bahkan sangat berbohong kepada suaminya itu. Bukan buku managemen melainkan buku diary yang dia miliki sejak memasuki bangku perkuliahan.

__ADS_1


"Maaf sudah berbohong. Tapi feeling seorang wanita tidak akan pernah salah. Dia akan merusak segalanya termasuk kita berdua. Akan lebih baik jika kau marah mulai dari sekarang akan semua sikap yang akan aku lakukan" lirih Amanda dengan isak tangis yang sudah terdengar jelas


Amanda menatap buku yang sejak tadi dia genggam. Perasaan aneh itu semakin dia rasakan dengan jelas. Dadanya begitu sesak dan jalan satu-satunya hanya dengan menangis. Tanpa dia tahu bahwa sejak kepergian suaminya itu, ada seseorang yang hendak masuk namun mengurungkan niatnya dan berakhir dengan berdiri di pintu sembari mendengarkan segalanya


"Kau tidak akan pergi kemana pun Kak. Tidak akan terjadi apapun yang buruk kepada kalian berdua. Tidak satu pun" ucap pria itu dan langsung menutup pintu itu dengan pelan


Owner, dia lah pria yang tanpa sengaj mendengar keluhan hati yang dikeluarkan oleh Amanda. Dia pun tersulut emosi ketika mendengar tangis yang keluar dari mulut Kakak Iparnya itu. Sengaja menyelesaikan semua pekerjaan kantor dengan cepat dengan maksud ingin bermain dengan Kakak Iparnya itu. Namun semuanya sirna ketika ucapan gadis itu juga ikut membuat emosi dan sakit hatinya kembali begitu saja


"Kau mau pergi kemana Er?" tanya Zaen yang baru saja masuk ke dalam rumah


Menatap wajah merah yang menghiasi wajah pria itu, Zaen memilih untuk diam dan hanya menatap punggung badan tegap itu


"Ada apa dengannya? Apa dia bertengkar dengan Kakak?" tanya Zaen pelan dan kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga


🌻🌻🌻


Rizky mengemudikan mobil mewahnya itu dengan kecepatan penuh, melewati apapun dengan asal tanpa mempedulikan umpatan-umpatan yang dilontarkan oleh orang-orang. Seakan tuli akan semuanya, fokusnya hanya pada apa yang diucapkan oleh gadisnya. Kenapa harus Amanda yang menjelaskan segalanya?


Memberhentikan mobil itu tepat di halaman luas di depan rumah tua. Halaman yang sudah dipenuhi oleh dedaunan yang sudah berganti warna menjadi cokelat tua itu


Rizky turun dari mobil dan menutup pintu itu dengan keras. Melangkah masuk ke dalam dan mendapati sahabat dari adik bungsunya itu


Thio langsung memberikan hormat dengan membungkukkan badannya sedikit


"Aku mau membereskannya sekarang"


Hanya itu ucapan yang dikeluarkan oleh pria tampan itu. Thio hanya mengangguk mengerti walau dalam hati dia sudah merasakan suasana yang mendadak begitu mencekam akan segera tiba


("Sepertinya Tuan Muda sangat marah sangat ini. Ini akan sangat gila") batin Thio menggaruk pelipis kanannya


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2