CEO My Husband

CEO My Husband
MEREKA BERBAHAYA, TAPI DIA MELEBIHI


__ADS_3

"Thio bereskan ini semua. Dan tempatkan pria sialan ini di tempat yang memang sepantasnya. Kali ini dia hanya akan mati di tangan Kakak ku" suruh Er yang menatap Thio dengan datar


Thio langsung menganggukkan kepalanya mengerti. Dibantu dengan Blue dan juga Andrew yang juga langsung berjalan mendekat ke arah korban yang sudah sangat mengerikan menurut mereka


"Ini pakaian ganti untuk kalian berdua. Walaupun setelah ini kita akan ke apartemen milikmu, tapi kalian tau bahwa paparazi selalu saja mendapatkan hal buruk entah darimana" ucap Paman Chand langsung menyodorkan 2 buah kaos lengkap hingga celana pendek untuk kedua Tuan Muda mereka


Er tersenyum kecil dan langsung menerimanya. Alan bangkit dari duduknya dan menepuk pundak kokoh pria paruh baya itu. Keduanya langsung berjalan bersisian menuju sebuah ruangan yang tidak terlalu jauh dari tempat kejadian


"Kalian sudah melihat nya bukan? Jadi berhati-hatilah dalam bertindak. Mereka sangat tidak terduga" ucap Thio memperingatkan kedua pria tampan yang membantunya tadi setelah membereskan semuanya


"Mereka sangat sangat berbahaya. Aku tidak menyangka bahwa ketiganya begitu berbahaya. Aku hampir mati berdiri melihat semua kejadian tadi terjadi di depan mataku. Oh astaga, mengingatnya saja sudah membuatku kembali merinding" jawab Blue dengan wajah yang memang benar-benar syok


Thio hanya terkekeh singkat sembari menggelengkan kepalanya. Sedangkan pria yang satunya hanya diam tak mengatakan apapun. Karena apa yang diucapkan oleh rekan kerjanya itu sangatlah benar


"Mereka memang berbahaya, tapi Er? Er jauh lebih berbahaya dari yang kalian berdua pikirkan. Hari ini dia hanya menahan semua jiwa setannya. Tapi jika kalian melihat semua kejadian beberapa tahun silam, maka kalian akan menyimpulkan bahwa ini masih sangatlah rendah" sambung Paman Chand menatap kosong ke depan seperti mengingat semua kejadian masa lalu


"Ini masih rendah? Kali ini aku akan mengatakan syukur sebanyak-banyaknya karena belum bekerja di tahun sebelumnya" jawab Blue dengan panik


"Kalian sudah selesai membicarakan tentang kami bertiga hmmm?"


Suara itu membuat semuanya menunduk takut. Mereka tau bahwa mereka membuat kesalahan karena sudah membicarakan ketiga Tuan Muda itu di belakang


"Jika sudah, kami berdua ingin segera pergi dan beristirahat. Kalian tidak melihat wajah kakak ku begitu lelah. Ayo" sambung Er menatap datar semuanya secara bergantian


"Thio, kau bawa mobil Tuan Muda. Kami akan mengikuti dari belakang" suruh Paman Chand yang langsung diangguki oleh Thio


Semuanya langsung berjalan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan semuanya tanpa rasa ragu. Semua penjaga langsung memberi hormat dan kembali berpantau dengan serius dan teliti


🌻🌻🌻


Sekitar satu jam lamanya, akhirnya semua sampai dan sudah beristirahat di tempatnya masing-masing di dalam apartemen milik Er. Berbeda dengan Er dan juga Alan, mereka tetap berada di satu ruangan yang sama


"Kakak menelpon Er, lebih tepatnya panggilan vidio. Kau sudah siap bertatap mata dengan Kakak Ipar?" ucap Alan memperlihatkan layar ponselnya

__ADS_1


Er yang duduk di sofa langsung saja melempar ponselnya asal dan berjalan mendekat ke arah kakak keduanya itu. Merapikan rambut lalu menghela nafasnya panjang dan memberi anggukan pasti kepada Alan


"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa menatap wajah Kakak Ipar tersayangku ini. Er rindu kak, cepatlah kembali" ucap Er langsung menerobos Alan yang sudah membuka mulut ingin menyapa


Langsung saja Alan memberikan tatapan datar ke arah adiknya itu dan dibalas dengan cengiran kuda yang sialnya semakin membuatnya tampan


"Sudah tidak perlu bertengkar. Lusa kami akan kembali. Kalian ingin oleh-oleh?" tegur Amanda dengan senyum manis andalannya


"Tidak perlu kak. Kami hanya memerlukan kalian berdua sampai di rumah tanpa kekurangan apapun" jawab Alan sangat dewasa


"Kau habis bertengkar Alan? Mengapa sudut bibirmu terluka seperti itu" tanya Amanda dengan mata yang sudah dia sipitkan


Alan langsung menatap ke samping lebih tepatnya menatap adik bungsunya tadi. Er memukul jidatnya pelan setelah mengesampingkan kepalanya sedikit agar tidak terlihat oleh Amanda


"Kau berkelahi dengan siapa Alan?" kali ini bukan wanita cantik itu yang bertanya melainkan Rizky bertanya dengan wajah datarnya


"Tadi aku hanya sedang berlatih ilmu beladiri kak. Jadi lawanku tidak sengaja memukul wajahku dan mengenai sudut bibirku. Begitu" jawab nya asal


Terdengar tawa renyah dari seberang sana membuat semuanya ikut tertawa. Rizky juga terkekeh kecil lalu mengecup kepala istrinya itu


"Kau kalah adu bela diri dengan bawahan mu sendiri? Apa kau benar-benar adik iparku Alan?" tanya Amanda masih dengan tawa sisanya


Alan langsung tertawa dan menggaruk kepalanya yang diyakini tidak gatal sama sekali


"Bagaimana liburan nya kak? Apa kakak menikmatinya?" tanya Er sekaligus menggoda wanita itu


"Sangat menyenangkan. Kalian tidak akan percaya, tapi selama disini kakak kalian sangat hangat dan tidak irit berbicara" jawab Amanda dengan senyum mengembang begitu sempurba


"Benarkah? Wah sepertinya kakak kami begitu jinak dengan istrinya. Bukankah begitu Kak Rizky?" tanya Er mulai menjahili kakak tertuanya itu


Rizky langsung saja mengambil ponsel itu dari tangan istrinya dan membawanya ke balkon kamar sepertinya


"Berhenti menggoda Amanda. Dia harus mandi jadi berbicaralah padaku" ucap Rizky yang masih dengan raut datarnya

__ADS_1


"Baiklah kak. Jawab satu pertanyaan ku ini lalu kita akan membicarakan hal itu. Apa sebentar lagi kami akan memiliki keponakan?" tanya Er dengan kedua alisnya yang sudah naik turun


"Tidak. Dia belum siap jadi aku tidak akan memaksa. Lagipula ini masih terlalu cepat untuk kami berdua. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan yang lainnya" jawab Rizky dengan santai


Terlihat kedua adiknya yang langsung menganggukkan kepala mereka mengerti akan maksud dari jawaban yang diberikan oleh kakak tertua mereka itu


"Bagaimana dengan pria sialan itu? Kalian sudah menyisakan bagian untukku?" tanya Rizky lagi


"Kakak tenang saja. Thio sudah mengurungnya di tempat yang aman. Kami akan menunggu kesediaan kakak" jawab Er kembali dengan wajah datarnya


"Kau juga menghiasnya. Alan?" tanya Rizky menatap wajah Alan yang setengah saja


Alan diam tak menjawab. Dia sama sekali belum memberitahukan hal ini kepada Rizky sama sekali


"Kau memang belum memberitahu ku Alan, tapi kau lupa bahwa aku bisa tau apapun sebelum diberitahu. Lagipula itu tidak menjadi masalah" lanjut pria tampan di seberang sana


"Baiklah jaga diri kalian dan juga semuanya. Lusa kami akan kembali dan aku akan menyelesaikan semuanya. Aku tutup"


"Kak" panggil Er ketika sambungan itu hampir terputus


Rizky menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban atas panggilan yang dilontarkan oleh adik bungsunya itu


"Dia akan kembali. Ku harap kakak tidak akan mengecewakan banyak orang setelah kembalinya dia" sambung Er dan memutuskan sambungan itu


Alan menatap adik bungsunya itu dengan bingung


"Siapa yang akan kembali? Dia siapa yang kau maksud Er?" Alan bertanya dengan kedua alis yang sudah bertaut bingung


"Akan ku ceritakan segalanya. Tapi tidak sekarang kak" jawab Er dan pergi keluar dari kamar itu meninggalkan Alan dengan sejuta pertanyaan


("mengapa terlalu banyak teka teki di keluarga ini?") batinnya dan menghempaskan badannya ke kasur empuk


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2