
"Kau salah tempat, Tuan Muda?"
Pertanyaan itu membuat langkah seorang Tuan Muda Owner Graham berhenti di koridor rumah sakit. Yah, seperti ucapannya tadi, dia akan menjemput Dokter cantik itu dan akan makan malam bersama
Bahkan dia sudah habis digoda oleh semua orang di rumah besar hanya karena mengatakan tidak ikut makan malam bersama. Benar-benar menyebalkan!
Er menatap seorang pria seusia dengan nya dibalut dengan jas berwarna putih dan juga stetoskop yang juga ada di lehernya dan jangan lupakan kacamata yang juga melekat di kedua matanya. Siapa lagi jika bukan Andy?
"Dia sudah menyelesaikan operasinya?"
"Dia siapa?"
Er menghela nafasnya lelah. Sahabatnya ini benar-benar luar biasa. Bagaimana bisa dia mendapatkan gelar Dokter jika otaknya saja lemot seperti ini?
"Shen Lin" jawabnya begitu lirih begitu frustasi
"Hmmm sebentar lagi. Dia hanya membantu dokter lainnya karena kekurangan dokter. Ayo kita ke ruangan ku saja"
Kedua pria tampan itu berjalan menelusuri koridor rumah sakit yang cukup ramai. Ruangan Andy memang berada di Lt. 1 bagian timur sedangkan Ling ling Lt. 1 bagian barat
"Katakan padaku, apa kau sudah memutuskan untuk mengejar Dokter Berbakat kami hah?" tanya Andy sembari menggantungkan jas dokter miliknya dan juga stetoskop ke tempatnya
"Maksudmu?"
"Huh kapan kau akan berubah? Maksud ku adalah apa kau sudah berniat untuk mendekati Dokter Shen Lin? Ku lihat kalian jadi sering bertemu. Jangan katakan atas suruhan dari Nona Amanda. Alasan mu sangat klasik"
"Tidak tau. Aku belum memutuskan apapun. Namun untuk saat ini, dia satu-satunya wanita yang aku percaya untuk menjadi tempat cerita ku" jawab Er yang sudah menduduk kan badan nya ke sofa berwarna maroon itu
Andy berjalan mendekat dengan kedua tangan yang juga memegang 2 gelas dan meletakkan nya di atas meja kaca yang ditutupi kain bercorak bunga itu
"Kau tidak tau karena kau belum pernah merasakan nya. Tapi orang yang melihat kedekatan mu dan juga Ling ling, kedekatan Ling ling dan juga Keluarga Graham, seolah mengatakan bahwa dia sudah menjadi bagian dari keluarga itu"
__ADS_1
"Tentu saja. Dia memang bagian dari Keluarga Graham. Sama seperti kau, dia juga menjadi dokter pribadi Keluarga Graham"
"Mck apa aku harus menjelaskan menggunakan Bahasa Turki hah? Bukan itu yang aku maksud, Tuan Muda Graham yang terhormat"
Andy lelah karena pasien nya hari ini sangat banyak. Bertemu dengan sahabatnya ini bukan menjadi santai malah menambah rasa lelah nya. Er malah menambah emosi di dalam rasa lelah nya
"Itu sebabnya gunakan penjelasan yang baik, Dokter Andy"
"Ahk sudah lah lupakan saja. Aku semakin emosi jika harus menjelaskan lebih dalam. Intinya adalah, kau akan menyadari nya ketika sudah ada namanya kehilangan. Kau menyayangi nya namun logika mu mengatakan bahwa kau hanya menghargainya sebatas seorang perempuan yang juga sangat disayangi oleh Keluargamu"
Owner terdiam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Hatinya bergerumuh ingin menolak atau menerima. Dia memilih untuk menghiraukan nya dan mulai meminum teh yang disediakan oleh sahabatnya itu
"Sepertinya Dokter Shen sudah selesai. Kalian ingin pergi atau kau ingin berbicara padanya?"
"Akan pergi makan malam. Kau ingin ikut?"
"Tentu tidak, sialan. Aku masih waras. Bagaimana bisa aku menjadi pihak ketiga diantara kalian. Lagipula aku masih harus mengecek pasien sebentar lagi"
Andy terdiam, sahabatnya itu akan banyak bicara jika sudah sangat peduli. Kedua sudut bibir itu terangkat, Owner benar-benar bunglon yang berhasil menjadi sahabat baiknya
Mengingat ucapan Er, Andy bergegas pergi ke kamar mandi yang ada di ruangan nya hanya untuk mengecek kondisi kantung matanya. Dan ternyata... Memang seperti yang dijelaskan oleh Er, kantung mata miliknya sudah menghitam disertai dengan wajah lelah nan pucat
Tok tok tok
Gadis yang ada di ruangan itu menoleh dan sedikit terkejut. Dia berpikir bahwa ucapan pria itu hanya lah omongan asal yang keluar
"Kau tidak mempersilahkan ku untuk masuk?"
"A-ahk yah masuk lah. Kau sudah lama?
"Sekitar 1 jam"
__ADS_1
Ling ling melotot tak percaya. Selama itu kah? Lantas dia menunggu dimana? Tidak mungkin dia berkeliaran di rumah sakit ini?
"Aku menunggu di ruangan Andy. Sekalian mengobrol karena sudah lama tidak menghabiskan waktu untuk sekedar mengobrol" jawab Er seakan tau isi pikiran gadis yang ada di hadapannya
Melihat Owner yang hanya berdiri di pintu tanpa mau masuk, Ling ling langsung dengan cepat membereskan semuanya. Tak ingin membuat Tuan Muda Bungsu Graham itu untuk menunggunya yang ke-4 kalinya
"Maaf sudah membuatmu menunggu selama itu. Operasinya berjalan tidak begitu lancar. Pasien sempat tidak bernafas sesaat itu sebabnya kami melakukan penyelamatan utama untuk membuat nya kembali bernafas
Jika tidak maka operasinya gagal dan dokter magang yang ikut mengawasi akan sedikit merasa takut dan berpikir dua kali untuk ikut mengamati operasi selanjutnya" jelas nya dengan badan yang sudah bergerak ke sana ke mari
Er hanya diam mendengarkan. Dia bahkan tidak mengeluh karena sudah menunggu wanita di hadapan nya ini. Namun sepertinya gadis ini merasa sedikit takut
"Ayo" ajak Ling ling yang sudah berdiri di hadapan nya dengan tas ransel yang juga sudah dia gendong sebelah
Er menghela nafas pelan, berjalan semakin mempertipis jarak keduanya lalu dengan lancang menghapus bulir keringat yang ada di pelipis gadis itu
Ling ling terkejut namun kakinya mendadak kaku untuk menghindar. Bahkan kedua matanya hanya menatap lurus tepatnya ke dada bidang pria itu
"Kenapa harus buru-buru? Aku bahkan tidak keberatan karena menunggu mu. Aku sudah mengatakan bahwa aku juga ingin mengobrol dengan Andy itu sebabnya aku datang terlalu awal. Ayo"
Gandengan tangan mereka berdua cukup membuat suasana rumah sakit itu sedikit berisik. Bahkan Andy yang baru saja keluar dari ruangan nya tersenyum penuh arti
Dia senang karena Owner sahabatnya bertemu dan memilih gadis seperti Ling ling. Mengingat bahwa Er mendambakan seorang wanita yang seperti sosok Kakak Iparnya, Amanda
"Tuan Muda, kita menjadi pusat perhatian banyak orang. Kau menggenggam tangan ku, apa kau sadar?" bisik Ling ling yang sudah merasa risih
"Aku sadar. Itu sebab nya percepat langkahmu"
Mereka berdua semakin cepat berjalan. Er merutuki kebodohan nya, entah apa yang terjadi pada dirinya selama siang tadi. Semua nya diluar nalar, ini seperti bukan dirinya sendiri
🌻🌻🌻
__ADS_1