CEO My Husband

CEO My Husband
LIBUR 10 HARI?


__ADS_3

Amanda mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali lalu menggeliat sedikit. Merasakan kerasnya sesuatu di bawah kepalanya, gadis itu mengangkat sedikit kepalanya dan menyadari bahwa bukan bantal melainkan lengan kokoh suaminya lah yang semalaman menjadi tempat kepalanya


"Tidurlah sebentar lagi" suara serak itu membuat Amanda kembali menaruh kepalanya dan menatap pria yang ada di hadapannya


Rizky semakin menarik tubuh mungil itu dan memeluk pinggang Amanda dengan kuat


"Kau tidak ke kanto hari ini?" bisik Amanda masih setia menatap Rizky dengan senyum kecil bahkan sangat kecil


"Tidak. Aku mengatakan pada Christine dan juga Nandini akan cuti selama 10 hari" jawab Rizky tanpa membuka matanya sedikit pun


"Cuti 10 hari? Kenapa?"


Cup


Rizky membuka matanya dan melihat ekspresi kaget yang dikeluarkan oleh istrinya itu. Ciuman mendadak yang berhasil membuat Amanda diam tak mau membuka suaranya lagi


"Aku menyuruhmu untuk tidur sebentar lagi Nona Amanda. Tidurlah dan jangan berisik" bisik Rizky dan mengeratkan kembali pelukannya


Amanda menurut dan menutup matanya namun tangannya masih menyentuh bibir yang baru saja dicium oleh Suaminya secara mendadak


Rizky tertawa kecil karena dia masih mengintip sedikit melihat Amanda yang masih terkejut akan perilakunya


Berbeda dengan situasi yang ada di bawah lebih tepatnya di ruang makan


"Kak Rizky dan Kakak Ipar tidak ikut makan Bunda?" tanya Alan yang melihat dua bangku kosong yang biasanya di duduki oleh kedua orang itu


"Biarkan saja. Mungkin mereka terlambat bangun. Nanti Rizky akan memanggil pelayan untuk mengantarkan sarapan mereka ke kamar" bukan Lyla yang menjawab melainkan Bryanta yang dengan santainya mengunyah makanan yang telah dia lahap


"Selamat pagi semua"


Teriakan itu membuat semua orang harus menatap ke arah pintu utama. Perempuan cantok dengan rambut gelombang yang terurai dan pakaian rapi yang sudah dia kenakan


Bryant terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Itu adalah keponakannya yaitu Nandini. Nandini memang akan seperti kekanak-kanakan bila sudah berada di keluarga Graham dan akan menurut dan takut jika sudah berada di Kantor lebih tepatnya Kantor yang dipegang oleh Rizky Arkansas Graham


Berbeda dengan pria yang duduk di hadapan Alan yaitu Thio. Dia menatap gadis itu dengan kepala yang menggeleng kecil


("Kenapa keluarga ini memiliki Puteri seperti gadis ini. Sangat berbeda dengan ketiga Tuan Muda") batin Thio dan melanjutkan sarapannua


"Ayo kemarilah Nandini. Kenapa hanya berdiri di sana" ucap Lyla dengan senyum hangatnya


"Aku tidak akan masuk sebelum Paman ku yang menyuruhnya Bibi" jawab Nandini dengan wajah yang sudah dipasang seperti merajuk

__ADS_1


"Kau membutuhkan izin untuk masuk ke Rumah ini? Walaupun ini Rumah milik Amanda tapi sejak kapan kau merasa segan untuk masuk Nandini?" tanya Bryant pura-pura cuek


Suara hentakan kaki yang cukup keras kembali menyita waktu dan mata.


"Baiklah baiklah ayo kemari. Keponakan Paman yang cantik ini tidak akan cantik jika sudah kesal seperti ini" bujuk Bryant dengan lembut


Dapat dilihat dengan begitu jelas senyum lebar dan mata berbinar yang langsung dikeluarkan oleh gadis itu


Nandini masuk dan duduk di hadapan pamannya itu


"Kau sudah sarapan?" tanya Bryant lagi dan langsung dijawab dengan anggukan kepala


"Ada apa kemari? Kau mencari Tuan Muda mu? Dia masih belum bangun" lanjut Bryant menatap Nandini sejenak


"Tidak Paman. Dia sudah mengambil cuti selama 10 hari. Aku kemari karena ingin mencari seseorang yang bernama Thio"


Uhuk uhuk uhuk


Suara batuk terdengar jelas di telinga semua orang. Thio mengambil segelas air putih dan langsung meneguknya hingga habis tak tersissa


"Dia Thio" jawab Alan menunjuk Thio dengan tangan kanannya


"Kau mencariku? Kenapa?" tanya Thio menatap Nandini dengan alis yang sudah menaut


"Kenapa harus aku?" tanya Thio lagi


"Karena Tuan Muda Rizky mempercayai dirimu Tuan Thio. Jika kau tidak mau aku akan memberitahukannya pada beliau. Dan selesai"


Alan terkekeh melihat ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh sahabatnya itu


"Sudahlah Thio. Ikuti saja apa yang dikatakan oleh Kakak mu Rizky. Lagipula kau dan juga Nandini hanya pergi ke lapangan yang tidak begitu jauh" ucap Bryant menengahi perdebatan yang akan terjadi


Thio menghela nafasnya dan menurunkan kedua pundaknya lalu memijit kepalanya yang sudah berdenyut sakit


("Aku tidak masalah pergi ke sana Paman. Tapi kenapa harus dengan gadis ini") batin Thio dengan geram


"Baiklah aku akan ikut. Kapan kita akan pergi?" tanya Thio mengalah


"Hari ini dan sekarang juga"


Thio membuka mulutnya dan mata yang hampir keluar dari tempatnya

__ADS_1


"Aku akan menunggu di luar dan kau jangan lama" lanjut Nandini beranjak dari duduknya


Dia berjalan ke arah Bryant dan Lyla lalu mencium pipi kedua orang yang teramat disayangi nya itu


"Paman dan Bibi ku memang yang terbaik. Aku berdoa semoga kerhamonisan Paman dan Bibi dan semuanya bisa terjaga sampai selamanya. Nandini pergi dulu yah. Sampai jumpa" ucap Nandini yang sudah mengeluarkan suara cemprengnya


Bryant, Lyla dan juga Alan tertawa keras bingung dengan sikap Nandini yang selalu bisa berubah-ubah sesuai dengan lingkungan yang datangi


"Kalau begitu Thio juga pamit Paman Bibi" ucap Thio yang sudah berdiri dan menundukkan kepalanya memberikan hormat


Di sepanjang langkah yang diambil oleh Thio, dia hanya bisa merutuki Kakak dari sahabatnya itu yang selalu memberikan tanggung jawab secara mendadak kepada dirinya


"Kenapa Putramu itu tiba-tiba mengambil cuti selama 10 hari? Dia sangat tidak suka jika harus cuti seperti itu. Tapi ini?" tanya Lyla menatap Bryant meminta jawaban


"Mungkin dia sudah sangat lelah karena banyaknya pekerjaan dan juga masalah yang selalu datang menghampiri kita. Sudah biarkan saja. Lagipula Perusahaan itu sudah atas nama dia jadi terserah dia saja" jawab Bryant dan berdiri lalu mengambil jas hitam yang dia sanggahkan di bangku tempat di duduk tadi


Lyla ikut berdiri dan membantu suaminya merapikan pakaian yang sudah di kenakan


"Alan, masalah yang Ayah berikan kemarin kirim saja melalui E-mail. Dan nanti pukul 10 kau bisa datang ke kantor. Lagipula Kakak mu sudah dirumah jadi dia bisa melindungi Kakak Iparmu" ucap Bryant menatap putra keduanya itu


"Baik Ayah, akan segera ku kirimkan"


"Bagaimana dengan pertunanganmu dan juga Zaen? Kau sudah memikirkannya dan berbicata dengan gadismu?" tanya Bryant yang mengancing jas hitam nya


"Belum Ayah. Tapi, Alan akan menemui orangtua Zaen. Karena sangat tidak baik jika Alan melangsungkan pertunangan secara mendadak tanpa izin dari orangtuanya"


Bryant terkejut dan memegang ujung meja kaca itu lalu menatap Alan dengan serius


"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan Alan? Kau tau betul siapa Ayah dari Zainal dan kau masih mau menemui pria tua itu?"


"Aku sadar dengan apa yang aku ucapkan tadi Ayah. Aku sudah memikirkannya dengan baik. Ayah tidak perlu khawatir, aku bisa melindungi nyawa ku dan kehormatan keluarga kita"


Bryant menghela nafasnya panjang dan kembali berdiri dengan gagahnya


"Ingat satu hal Alan, jika sampai terdengar bahwa Putra Graham terluka apalagi meninggal maka Ayah yang akan turun tangan. Ingat... Ayah bukan Kakakmu atau kedua adikmu yang akan menangani nya lagi melainkan Ayah" ucap Bryant dengan nada pelan namun terdengar menyeramkan di telinga Istrinya Lyla karena dia sudah mengenal sosok suaminya itu dengan baik


Alan menganggukkan kepalanya dan menatap punggung Ayahnya yang sudah menuju ke Pintu Utama


"Kau yakin nak? Ayahmu tidak bercanda dengan apa yang dia ucapkan tadi" tanya Lyla dengan lembut


Alan memberikan senyum tulusnya dan menganggukkan kepalanya yakin

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2