
Semuanya kembali bangkit berdiri dan menghapus jejak airmata yang tadi membasahi pipi masing-masing orang. Rizky menatap Thio setelah menghapus jejak airmatanya itu
"Kau bisa membereskan para wartawan yang ada di luar? Katakan apa yang harus dikatakan. Kau mengerti?" ucap Rizky
Thio langsung menganggukkan kepalanya mantap dan melangkah pergi diikuti oleh beberapa satpam yang memang tadi ada di sekitaran mereka
"Ayo, kita harus menyusul Bunda dan juga Zaen untuk melihat kondisi Amanda" ajak Bryant memukul pundak Alan dengan pelan
Bryant berjalan dan diikuti oleh langkah kaki para pria yang berhasil membuat kaum hawa yang ada di sekitaran mereka menahan jeritannya.
Drttt
Ponsel milik Tuan Muda Graham yaitu Rizky berhasil membuat fokus yang lainnya berpaling. Er berhenti melangkah karena dia sangat jelas mendengar getaran dan bunyi dari ponsel kakak nya itu
Er menatap Rizky yang ternyata juga sudah menatapnya
"Buka Kak" ucap Er menyuruh Rizky untuk segera melihat ponselnya
Rizky menganggukkan kepalanya dan membuka kunci pada ponselnya
'Apa kabar Tuan Muda? Kau menunggu pesan dariku? Hahaha jangan terlalu terburu-buru untuk mengetahui siapa aku sebenarnya. Permainan baru saja dimulai jadi mari kita nikmati secara perlahan'
Rizky mematikan ponsel tersebut dan meremasnya dengan kuat.
"Jangan Kak" ucap Er yang langsung mengambil alih ponsel itu ketika Rizky hampir melemparnya ke lantai
"Aku akan membuka pesan dari manusia bangsad itu jika kau tidak bisa" ucap Er lagi menahan amarahnya
Er kembali menyalakan ponsel milik Kakak Tertuanya itu dan kembali membuka pesan yang masih belum dibaca
'***Bagaimana Tuan Muda? Kau suka dari awal Permainan yang sudah aku ciptakan? Bersyukur lah karena Istri tercinta mu oh maap tapi kau tidak mencintainya. Benar bukan? Haha jangan berpikir bahwa aku tidak tau apapun. Aku hanya mencampur sedikit racun saja di jarum suntik yang tadi aku tusuk ke pergelangan tangan istrimu dengan sengaja. Dia masih bisa selamat bukan? Jadi aku menunggu ucapan Terimakasih dari mu.
Tenang saja... sasaran ku masih Amanda Citra Arafah uppsss maaf tapi maksudku Amanda Citra Graham. Aku akan menyiksa dirinya secara perlahan dan kau beserta dengan semua Tuan Muda mu itu tidak akan bisa berbuat apapun. Aku masih berada di sekitar kalian, jadi saran ku berhati-hatilah dalam mengambil langkah***'
"Kurang ajar. Dia ini masih manusia atau hewan? Bagaimana bisa dia melampiaskan amarahnya pada seorang wanita?" ucap Er yang sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya
Rizky diam dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan Amanda. Diikuti oleh Er yang langsung menyamakan langkah mereka
"Apa rencana mu Kak?" tanya Er yang sudah menatap ke arah Rizky
"Kau yang sudah membaca pesan itu maka kau tau apa selanjutnya" jawab Rizky yang membuat Er menautkan kedua alisnya bingung
Er berhenti dan menatap punggung Rizky dari belakang. Berusaha berpikir dengan akal sehat dan menggunakan logikanya
Sesaat setelah berperang dengan teka-teki yang diberikan oleh Kakak Tertuanya itu, senyum devil dan mata bulat milik Er sudah terlihat jelas
"Kau memang ahli memberikan sebuah teka-teki Kak. Dan kau juga memberikannya pada orang yang tepat. Kau tau bahwa IQ ku hampir sepadan denganmu" ucap Er yang mengusap sudut bibirnya
Er kembali melanjutkan langkah kakinya untuk segera menuju ke ruangan Kakak Iparnya itu
__ADS_1
🌻🌻🌻
Rizky duduk di samping kiri hospital bed Amanda. Dia menggenggam tangan Amanda dan menatap lekat wajah pucat tanpa make-up Amanda. Lalu mengalihkan matanya pada Bundanya yang berada di seberang yang sudah menangis sedari tadi
"Alan, antar Bunda dan juga Zaen pulang. Kalian pulanglah bersama dengan Thio" ucap Rizky
"Tidak Ky, Bunda masih mau disini menjaga Putri Bunda" ucap Lyla memohon menatap manik mata Putranya
"Jika Putri Bunda sadar dan melihat kondisi Bunda nya seperti ini maka dia juga akan ikut menangis. Dan aku yakin Bunda tidak menginginkan hal itu terjadi pada Amanda bukan?" jelas Rizky dengan raut wajah datar
"Ayo Bunda. Apa yang diucapkan oleh Kak Rizky itu benar. Lagipula, Kak Rizky akan menjaganya dengan baik" bujuk Zaen mengelus pundak Lyla dengan lembut
Lyla menurut dan langsung keluar dari ruangan itu. Diikuti oleh Zaen dan juga Bryant yang tidak tau apakah akan ikut pulang atau hanya sekedar mengantar saja
"Tugasmu hanya menjaga mereka. Kau mengerti?" ucap Rizky dengan wajah yang serius menatap manik mata adik keduanya itu
Alan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sebelum pergi, dia mengelus kepala Kakak Iparnya itu
"Besok aku akan datang lagi Kak. Cepatlah sadar" bisik Alan
Sepi... hanya itu yang tersisa setelah kepergian yang lainnya. Er menatap wajah Amanda dan melamunkan sesuatu
"Er" panggil Rizky
Tak ada suara yang terdengar. Rizky menendang kaki Er dari bawah kolong dan menyadarkan Er.
"Aku memanggilmu" ucap Rizky sebelum omelan tak berguna keluar dari mulut adik bungsunya itu
"Kau bisa memanggil Paman Chand?" tanya Rizky
Er membulatkan matanya dan mendekatkan kepalanya ke arah Rizky
"Kau merindukan Paman Chand?" tanya Er sedikit berbisik
"Apa saatnya untuk bercanda?" bukannya menjawab, Rizky justru memasang wajah seriusnya
Er kembali memundurkan kepalanya dan memutar kedua bola matanya
"Kau tidak bisa diajak bercanda" ucap Er
"Bisa atau tidak?" ucap Rizky lagi menekankan setiap kalimat nya
"Tidak bisa. Urusannya masih belum selesai" jawab Er
"Kalau begitu, pergi ke Perusahaan ku dan suruh Nandini untuk memanggil kembali Kepala Pengawal Utama ku. SEGERA" suruh Rizky yang menekankan kalimat akhir nya
Er kembali memasang wajah bingungnya dan menatap wajah kakak nya yang sudah menatap wajah cantik dari Kakak Iparnya itu
"Siapa itu? Kenapa aku tidak pernah tau dan baru mendengar kalimat ini?" tanya Er langsung yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya
__ADS_1
Rizky kembali mengalihkan wajahnya dan kini sudah menatap manik mata milik Adik bungsu kesayangannya itu
"Kau tidak pernah tau dan baru mendengarnya Er?" tanya Rizky memastikan pendengarannya
Er menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Rizky
"Kau mengawasi ku selama berada di sana?" tanya Rizky lagi yang sontak membuat Er meneguk salivanya dengan bersusah payah
Rizky bersidekap dada seakan menunggu penjelasan yang akan diucapkan oleh Er
"Tentu saja. Aku mengawasi segalanya walau pun situasinya tidak begitu meyakinkan. Ahk ayolah kak, kau tidak perlu mempertanyakan hal yang sudah lalu. Jelaskan saja padaku apa dan siapa itu?"
"Mendekatlah" ucap Rizky singkat
Er langsung menuruti apa yang diucapkan oleh Kakaknya itu. Dan
Pletak
"Awww" ucap Er mendapat jitakan cukup keras dari kakak nya itu
"Aku berpikir hanya aku saja yang memiliki gengsi yang lumayan tinggi. Ternyata kau sama saja" ucap Rizky menatap Er sembari menggelengkan kepalanya
"Karena kau adalah Kakak ku. Kau menjadi panutanku, jadi jangan salahkan aku" rengek Er
Rizky menatap Er dengan tatapan jijik sembari menaikkan sebelah alisnya
"Pergi dan jumpai saja Nandini. Katakan apa yang aku inginkan. Urusan kau ingin tau siapa mereka maka kau bisa bertanya padanya. CEPATLAH OWNER" ucap Rizky yang sudah melotot menatap Er
"Baiklah baiklah aku akan pergi" ucap Er yang langzubg mempercepat langkahnya keluar dari ruangan itu sebelum nasib malang terjadi pada dirinya
Rizky kembali menggelengkan kepalanya melihat tingkah Er yang harus diberi tanda ancaman dulu
Dia kembali menatap wajah Amanda dan mencium kening nya dengan cukup lama
"Semua akan baik-baik saja. Aku berjanji akan menjaga mu dan lainnya dengan nyawaku. Cepatlah sadar" ucap Rizky lirih dan menghapus sudut matanya yang sudah hampir meneteskan air mata nya lagi dan lagi
🌻🌻🌻
1. Amanda Citra Graham
2. Rizky Arkansas Graham
3. Owner Graham (Er)
__ADS_1
🌻🌻🌻