CEO My Husband

CEO My Husband
MEREKA KEMBALI


__ADS_3

Suasana meja makan sudah kembali ramai. Walau tidak seramai sebelumnya, karena masih kekurangan 2 orang yang sudah sangat dirindukan oleh semua orang


"Kalian tidak mau menjemput kakak dan juga kakak ipar kalian di bandara?"


Sontak saja ketiga pria tampan itu menghentikan kunyahan mereka dan dengan serentak menatap ke sumber suara


Bryant, dia bahkan tidak menatap wajah terkejut ketiga pria tampan itu. Pria paruh baya itu masih dengan santainya menikmati sarapan paginya. Sedangkan istrinya sudah terkekeh dan menggelengkan kepala


"Bahkan aku hampir lupa bahwa kepulangan kakak iparku adalah hari ini" lirih Er memukul jidatnya dengan lumayan keras


"Ini sangat aneh dan tidak adil Er. Kau seperti hanya menunggu kepulangan puteri kesayangan Ayah saja. Apa kau tidak mengkhawatirkan kakak sulungmu hah?" tanya Bryant menatap tajam ke arah putera bungsunya itu


"Untuk apa aku mengkhawatirkan kakak? Kakak bahkan bisa menghabisi banyak orang yang mengusik kehidupannya"


Wajah Er benar-benar wajah yang tanpa dosa sama sekali. Dia menjawab pertanyaan ayah nya itu dengan tenang sembari menatap sarapan yang tinggal sedikit lagi akan lenyap


Alan dan lainnya hanya bisa terkekeh dan melanjutkan sarapan mereka. Dan hanya beberapa menit kemudian, semua santapan sudah habis dan sudah dibawa ke dapur


"Beritahu pada kami Ayah, pukul berapa mereka akan tiba di bandara?" tanya Alan sembari merapikan setelan yang dia kenakan


"Mereka baru berangkat satu jam yang lalu. Kalian bisa hitung sendiri waktu tempuh yang mereka lalui. Ayah sangat terburu-buru, Alan datang lah ke kantor secepatnya, ayah akan pergi duluan" jawab Bryant dan langsung melangkah lebar meninggalkan semua orang yang masih berdiri di ruang tamu


"Bukankah Ayah mengatakan bahwa dia akan beristirahat meninggalkan semua urusan kantor?" tanya Er menatap bingung kepergian ayahnya itu


"Itu memang benar. Hari ini ayah terpaksa harus datang ke perusahaan, karena direktur utama perusahaan dari London yang menjalin kerjasama dengan kita akan segera tiba. Ayah akan menyambut dan dengan khusus menjelaskan beberapa proyek baru yang ke depannya akan dilaksanakan. Barangkali mereka akan terus bekerjasama dan memberikan beberapa keuntungan pada kita" jelas Alan menatap ke arah pintu utama


"Aku juga harus pergi. Oh iya, kau dan juga Thio pergilah menjemput kakak dan juga kakak ipar. Sepertinya aku hanya bisa bertemu dengan mereka pada saat makan malam nanti" lanjutnya dan langsung melangkah pergi tanpa mendengarkan jawaban dari kedua pria jangkung yang sialnya selalu tampan itu


🌻🌻🌻


"Kak, apa kau yakin tidak ingin ikut bersama dengan kami menjemput kakak dan kakak ipar?" tanya Er ketika telpon itu sudah terhubung kepada kakak keduanya itu

__ADS_1


"Tidak Er. Bukan tidak ingin hanya saja memang tidak bisa. Kau pergilah bersama dengan Thio. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang" jawab Alan dari seberang sana


"Baiklah kalau begitu. Sampai bertemu di rumah kak"


Er memutuskan panggilan dan menatap Thio yang duduk di sampingnya sembari menatapnya


"Bukankah ini sedikit aneh? Mengapa jadi aku yang menyetir sedangkan kau duduk tenang disitu hah?"


"Ayolah Er. Ini hanya sesekali. Lagi pula hari ini aku benar-benar lelah menghadapi dan mendengar semua omelan dari adek sepupu mu itu. Bagaimana bisa kalian tahan mendengar ocehan Nandini yang seperti itu?"


Seketika terdengar suara tawa receh memenuhi mobil mewah itu. Er tertawa dengan sangat bahagia dan sesekali melirik ke arah sahabatnya itu


"Ada apa? Apa Nandini begitu merepotkanmu? Walau pun dia tangan kanan sekaligus sahabat kakak, jangan pernah membuat gadis itu menangis Thio. Kakak bahkan lebih menyayanginya daripada aku. Dan juga, dia bukan gadis manja seperti gadis-gadis lainnya. Dia sangat mandiri bahkan dari usianya masih 5 tahun. Dia menyusahkan mu mungkin saja dia ingin mengujimu" jelas Er dan meredakan tawanya


Thio diam memandang padatnya jalanan di hadapan mereka saat ini


"Kenapa di usia seperti itu gadis itu mandiri?"


"Kita hanya melihat gadis itu tampak begitu ceria dan pekerja keras. Namun dia begitu rapuh dan hanya Kak Iky saja yang tau semua keluh kesahnya. Jalani dan turuti saja apa yang dia katakan" ucap Er dan mulai menjalankan kembali mobil miliknya


"Tapi dia dan juga kakak kelihatannya hanya sebatas rekan kerja saja. Bahkan saat aku mengetahui bahwa dia salah satu anggota keluarga mu, aku sedikit kaget. Dan tadi juga kau mengatakan bahwa dia adalah adik kesayangan kakak"


"Kau tau kakak bukan? Dia hanya akan menunjukkan kasih sayang dan kelembutannya di saat-saat tertentu saja. Jika dia masih melihat bahwa Nandini sehat dan tidak terjadi apapun maka hanya sebatas pegawai kerja saja. Kau akan tau lebih banyak jika sudah mengenalnya begitu dalam. Dia gadis yang manis itulah sebabnya kau juga harus menjaganya. Kau mengerti?"


Thio diam tak menjawab namun kepalanya sudah mengangguk mengiyakan. Er hanya tersenyum kecil dan kembali fokus ke jalanan


🌻🌻🌻


"Kau yakin kita akan keluar tanpa penyamaran sedikit pun? Ini bandara Er" ucap Thio memberi peringatan


"Sudah kau tenang saja. Lagi pula kita tidak melakukan tindakan kriminal atau kejahatan lainnya. Kita hanya ingin menjemput kakak dan juga kakak ipar. Ayo cepatlah atau kakak akan mengomeli kita berdua" jawab Er dan keluar dari mobil terlebih dahulu

__ADS_1


Thio hanya menghela nafas panjang sebagai tanda kepasrahannya saja. Sahabatnya itu memang sangat sulit untuk dilawan dalam hal beradu argumen


Dan benar, baru beberapa langkah mereka lalui sudah banyak kilatan cahaya dan juga jeritan-jeritan yang membuat kedua pria tampan itu menutup telinga mereka


"Ini yang aku takutkan. Kau benar-benar sangat sulit untuk dilawan" omel Thio dan masih terus melanjutkan langkahnya


Mereka pun duduk di ruang tunggu kedatangan bandara sembari menghela nafas dan memutar kedua bola mata mereka dengan malas. Mau berapa banyak foto yang akan mereka ambil?


"Itu mereka" ucap Thio yang sudah berdiri terlebih dahulu


Jeritan semakin kuat ketika Putera Bungsu Graham itu tersenyum bahagia menatap ke arah kakak iparnya


Amanda membalas senyum itu dan memberikan koper miliknya kepada suami tampan yang saat ini juga sudah semakin membuat keributan. Thio hanya bisa memejamkan matanya lelah karena kedua kakak beradik ini tidak memakai penyamaran sama sekali


Er memeluk erat tubuh mungil gadis itu dan meneliti setiap inci tubuh kakak iparnya itu


"Apa yang kau cari? Kakak baik-baik saja. Kalian menunggu lama?" tanya Amanda menatap kedua adiknya itu


"Tidak kak, kami juga baru saja sampai. Ayo kita harus pulang sekarang. Ayah dan juga bunda pasti sudah menunggu kedatangan kalian" ucap Er yang langsung menarik tangan kakak iparnya itu


Namun langkah mereka batal karena tangan Amanda yang satunya juga ditahan. Er langsung menoleh ke belakang dan mendapati wajah datar nan dingin yang dikeluarkan oleh kakak sulungnya


"Kau begitu antusias menyambut kakak iparmu dan melupakan kakak mu sendiri. Kau benar-benar adik durhaka. Thio saja bisa menghormati ku walau aku bukan kakak kandungnya" omel Rizky masih mempertahankan wajahnya itu


Bukannya merasa bersalah, Er justru merangkul kakak sulungnya itu dan langsung melanjutkan langkahnya


"Apa kakak tidak sadar? Kakak bahkan untuk pertama kalinya berbicara lebih dari 5 kalimat"


"Kau benar-benar harus ku beri pelajaran yang berat Er. Kau menambah pekerjaan ku saja"


Dan lihat, bahkan sekarang Amanda hanya bisa tertawa sembari menggelengkan kepalanya tak percaya di belakang mereka. Tadi Er begitu antusias akan dirinya namun sekarang dia bahkan melupakan kakak iparnya dan bertengkar kecil dengan kakak sulungnya

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2