
Sudah hampir seminggu Nona Amanda berada di Rumah Sakit dengan selang infus yang berada di tangannya.
Orang-orang yang menemani dirinya juga selalu saja berganti. Terkadang suaminya sendiri, Er, Alan, Thio. Sedangkan mertuanya sendiri hanya bisa datang sesekali dan itu pun hanya pada malam hari
Pintu itu kembali terbuka dan Amanda langsung memberikan senyumnya. Wajah gadis itu bukan lagi terlihat pucat tetapi sudah terlihat normal. Atau lebih tepatnya sudah terlihat...cantik seperti sebelumnya
"Kak Amanda sudah jauh lebih baik? Kakak yakin?" tanya Bu Dokter yang sudah begitu akrab dengan seluruh anggota Keluarga Graham
Oh tidak semua melainkan sebagian karena setiap kali dia bertatap wajah dengan Tuan Muda Graham yang paling bungsu itu, mereka berdua selalu saja membuang muka.
Dan juga, Shen Lin tidak lagi memanggil Amanda dengan sebutan Nyonya melainkan Kakak karena itu atas permintaan dari Amanda sendiri
"Aku sudah begitu jauh lebih baik. Kau tenang saja" jawab Amanda dengan senyuman tulusnya
Shen Lin duduk di kursi yang ada di samping Amanda lalu memegang tangan gadis itu
"Kau memang sang...at cantik. Aisss, aku bahkan terkadang merasa sedikit iri ketika melihat wajah Kakak yang walaupun ketika tidur masih terlihat begitu cantik dan imut" ucap Shen Lin memuji Amanda
Amanda langsung memukul telapak tangan gadis ifu dan melotot sedikit
"Berhenti berkata manis seperti itu Bu Dokter. Semua wanita itu memang sudah diciptakan untuk cantik. Kau mengerti?" omel Amanda
Shen Lin hanya terkekeh sembari mengelus telapak tangannya yang memang sakit akibat pukulan yang diberikan oleh Amanda
"Kakak sudah siap?" suara itu membuat kedua wanita itu menoleh
Alan...pria itu sudah berdiri di pintu kamar inap Amanda dengan Zaen yang juga ada di belakangnya. Mereka masuk dan langsung memeluk Amanda seperti biasa
"Kak" sapa Zaen yang memeluk Amanda dan mencium pipi Amanda
"Sudah lama kakak tidak bertemu denganmu. Alan mengatakan kau sangat sibuk mengurus Osis dan kegiatan sekolah yang akan dilaksanakan dalam waktu dekatnya" ucap Amanda
Alan sibuk membereskan barang-barang Amanda dan membiarkan kedua gadisnya itu saling mengobrol melepas rindu
"Iya Kak. Aku diunjuk menjadi ketua panitia untuk acara perpisahan anak kelas 3. Acaranya akan dilaksanakan minggu depan Kak" jawab Zaen
Amanda mengangguk mengerti dan menatap Adik Ipar keduanya itu. Senyum kecilnya juga sudah terlihat. Hal itu membuat Zaen juga mengikuti arah pandang Amanda
"Butuh bantuan?" tanya Zaen bersuara
__ADS_1
Alan berbalik dan tersenyum kepada Zaen
"Tidak perlu. Kalian mengobrol saja. Aku akan membawa tas kakak ke mobil. Di luar ada beberapa penjaga jadi kalian akan aman" ucap Alan yang sudah mengangkat tas ransel milik Amanda
Alan keluar dari ruangan tersebut dan tersenyum kepada Dokter Shen yang masih ada disana
"Zaen, ini Bu Dokter Shen Lin. Dokter, ini Zaen kekasih Alan" ucap Amanda memperkenalkan mereka berdua
"Senang bertemu dengan mu Nona Zaen" ucap Shen dengan tulus sembari mengulurkan tangannya
"Senang bertemu dengan mu juga Bu Dokter" jawab Zaen
Kedua gadis itu saling memberikan senyum terbaik mereka. Lalu kembali mengobrol dengan Amanda sembari menunggu Alan datang kembali
"Dokter Shen, kapan kau akan datang ke rumah? Kak Amanda sudah membaik sekarang" tanya Alan yang tiba-tiba sudah berada di ruangan yang sama dengan mereka
Dokter cantik itu seperti sedang berpikir. Dan menatap ke langit-langit kamar inap yang sedang ditempati oleh Amanda
"Maafkan aku Tuan Muda, tapi sepertinya saya belum bisa memberikan jawaban yang pasti untuk saat ini. Karena besok dan beberapa hari ke depan saya harus melakukan operasi bedah" jawab Shen Lin yang ternyata memikirkan jadwal kegiatannya
Alan menganggukkan kepalanya mengerti dan membantu Amanda untuk berdiri.
"Kakak bisa jalan Alan. Kalian tidak perlu merangkul ku seperti orang sakit" ucap Amanda yang merasa risih akan perlakuan yang diberikan oleh Alan dan juga Zaen
"Er akan selalu bisa menjemputmu jika kau sudah memiliki waktu luang. Dan kau tidak akan bisa menolaknya" ucap Amanda selepas pelukan tersebut
"Baiklah Nona Amanda Citra Graham. Aku akan segera meluangkan waktu" jawab Shen Lin sembari tersenyum kepada Amanda
Amanda sekali lagi memeluk Shen Lin dan berbalik menatap Alan dan juga Zaen yang masih berdiri di belakangnya.
"Ayo" ajak Amanda yang duluan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut
🌻🌻🌻
"Sudah berapa lama kakak tidak melihat kota. Rasanya sudah sangat rindu melihat keramaian dari kota ini" ucap Amanda yang duduk di bangku belakang dengan kaca mobil yang terbuka
"Oleh karena itu Kak, jangan sakit lagi dan membuat kami khawatir lagi" ucap Alan yang melirik Amanda melalui kaca mobil
Suara tawa Amanda terdengar memenuhi mobil yang saat ini mereka tempati.
__ADS_1
"Yang namanya sakit, kita gak bisa tau kapan sakit akan menghampiri kita Alan. Tapi kakak akan berusaha untuk tidak sakit lagi. Kau setuju?" jelas Amanda yang sudah menutup kaca mobil dan menatap ke depan
"Baiklah kak aku setuju" jawab Alan
Jalan demi jalan sudah dilalui oleh mereka. Alan mengendarai mobil dengan kecepatan yang normal. Hingga tiba di depan sebuah gerbang besar berwarna hitam, Alan menurunkan kaca mobil dan melakukan pemeriksaan identitas
"Kenapa ke rumah Rizky?" tanya Amanda yang sadar bahwa mereka tidak masuk ke dalam pekarangan Rumah Besar
"Rumah Kak Amanda bukan Kak Rizky" jawab Alan memperbaiki kalimat Amanda
"Aisss kau ini, hanya salah sedikit saja sudah diperbaiki sampai segitunya. Rumah Kakak rumah Rizky juga jadi sudahlah. Katakan kenapa kita tidak ke Rumah Besar saja?" ucap Amanda yang sudah memukul bahu Alan dengan cukup keras
"Ayah yang mengatakannya Kak" bukan Alan, Zaen yang menjawab pertanyaan dari Amanda tadi
Amanda menganggukkan kepalanya mengerti dan kembali menatap ke depan. Satu per satu gerbang besar itu terbuka mempersilahkan mobil mereka untuk masuk
"Apa sakit?" tanya Amanda yang melihat Alan masih menggosok bahunya
"Hah? Oh tidak kak tidak" jawab Alan yang langsung melepaskan tangannya dan kembali ke setir mobil
Mobil mereka berhenti tepat di depan pintu utama dan sebelum pelayan membuka pintu mobil Amanda, gadis tersebut sudah turun terlebih dahulu
Dia masih berdiri di samping mobil dan menunggu Alan untuk turun. Alan turun dan menatap Amanda dengan kedua alisnya yang sudah bertaut satu sama lain
Srekkk
Lengan baju sebelah kiri Alan dirobek oleh Amanda dengan kasar
"Ini yang kau bilang tidak sakit? Ayo" ucap Amanda dengan raut wajah yang serius
"Kak, dengarkan aku dulu. Ini biru bukan karena pukulan yang kakak lakukan barusan. Kak" rengek Alan yang berusaha menghentikan langkah Amanda
"Ada apa?" suara itu berhasil membuat langkah Amanda terhenti dan berbalik
Rizky, dengan kedua tangan yang berada dalam saku celana panjangnya dengan raut wajah yang serius menatap kedua manusia itu
"Aku memukulnya cukup keras dan menjadi warna biru seperti ini. Aku akan mengobatinya terlebih dahulu" jawab Amanda
"Itu bukan karena pukulanmu"
__ADS_1
Amanda terdiam dan menaikkan alisnya bingung
"Lalu...kenapa?" tanya Amanda bingung