
"Paman Chand apa aku bisa meminta bantuanmu lagi?" tanya Alan menatap Paman Chand dengan serius
Suasana hening dan tegang itulah yang dapat menggambarkan suasana saat ini. Thio juga ikut menatap Paman Chand
"Tentu saja Tuan Muda. Katakan saja apa yang harus saya lakukan selanjutnya" jawab Paman Chand
Alan menatap Thio sebentar lalu menghela nafasnya panjang
"Besok aku dan juga Thio akan kembali ke Tiongkok. Tapi kami akan mengajak Paman juga. Kami akan pulang tanpa memberitahu siapapun" ucap Alan yang mulai menjelaskan
Paman Chand dan juga Thio menampilkan raut wajah yang bingung. Mereka menautkan kedua alis hitam mereka
Alan yang melihat ekspresi kedua pria kekar dihadapannya itu hanya bisa menahan tawa nya karena dia sadar bahwa saat ini mereka sedang dalam situasi yang sangat serius
"Ekhem" dehem Alan yang mengontrol dirinya sendiri
"Kami akan memberitahu Er saja dan menyuruhnya untuk datang ke apartemen milikku. Disaat kita sudah bertemu dengan Er nantinya, aku mau Paman membantuku untuk menjelaskan segalanya pada Er dan aku akan meminta dia untuk bekerja sama agar tidak memberitahu satu rahasia yang memang belum waktunya untuk diketahui banyak orang. Dan juga akan memintanya untuk bekerjasama agar bisa mengarang beberapa jawaban yang akan kami berikan pada Kak Iky dan juga Ayah. Dia pasti akan mau melakukannya. Tapi sekarang aku membutuhkan bantuan Paman, apa Paman bersedia?"
Lagi dan lagi hanya ada keheningan yang melanda di ruangan itu. Thio yang masih belum mengerti maksud darin ucapan Alan tadi hanya bisa menatapnya heran
"Hufftt... Baiklah Tuan Muda, sepertinya niat Tuan Muda sangat baik kali ini. Walaupun sebenarnya kau memang sangat baik. Kau ingin melindungi keberadaan Kakak Ipar Tuan Muda sekaligus Nona Muda kami. Jadi saya akan bersedia dengan senang hati untuk melakukannya" jawab Paman Chand yang menyetujui hal itu
Alan yang awalnya duduk dengan badan yang tegak kini sudah menyenderkan punggung badannya ke kursi yang dia duduki. Dengan senyum kecil yang dia berikan juga
("Kau akan baik-baik saja kak. Dan selamanya akan seperti itu. Tidak akan kami biarkan bahaya baru menghampiri dirimu") batin Alan yang sudah memandang ke luar jendela
🌻🌻🌻
Er sedang menutup matanya di atas kasur yang ada di kediaman Amanda. Yah... dia memang memutuskan untuk tinggal di sana saja sedangkan Ayah dan juga Bunda sudah kembali ke Rumah Besar walau sesekali akan main ke tempat ini
Drttt Drttt Drttt
Getaran ponsel miliknya yang ada di atas nakas membuat dia menggerutu kesal. Siapa yang berani mengganggu waktu tidur siangnya?
Dengan sangat terpaksa dia mengambil ponsel itu walau mata masih harus terpejam
"Langsung saja" ucap Er dengan kesal
"..."
Er membuka matanya dan mengubah posisi badannya menjadi duduk di atas kasur itu. Ponsel masih melekat di telinga kanannya
"Kenapa tidak boleh?" tanya Er
"..."
__ADS_1
"Kenapa perasaanku mendadak tidak enak mendengar permintaanmu Kak?"
"..."
"Ckkk bagaimana bisa kalian lari dari pengawasan yang diberikan oleh Ayah. Dia akan tau kalau kalian sudah berada di sini nantinya. Percayalah"
"..."
Er mengerjapkan matanya beberapa kali dan mulai berjalan membuka pintu balkon yang ada di kamarnya itu. Dia duduk di kursi rotan yang tersedia di sana
"Ada rahasia apa sehingga harus begini? aku benar-benar merasakan hal yang tidak biasa di sini Kak" ucap Er memasang wajah seriusnya
"..."
"Ck kenapa harus menunggu kalian datang dulu? Baiklah baiklah terserah kalian saja. Kabari saja jika sudah mendarat di Tiongkok. Aku akan mencari alasan untuk bisa izin kepada Kakak Ipar" ucap Er kembali dengan nada kesalnya
Dia mematikan panggilan itu secara sepihak dan menaruhnya di atas meja kaca bundar yang ada di hadapannya
Memandang lurus kedepan. Seperti ada yang mengganggu otaknya saat ini
"Aissss ada apalagi sekarang? Kenapa permasalahan hidup kak Amanda sangat banyak? Kenapa aku justru semakin tidak enak kala mendengar ucapan Kak Alan bahwa ada beberapa jawaban yang tidak bisa dikatakan pada semuanya?" bisik Er
Dia mengacak rambutnya dan berdiri lalu mengambil kembali ponselnya. Dia melemparkan benda pipih itu ke atas kasur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi
🌻🌻🌻
"Ayo makan" ucap Amanda sedikit berteriak
Dan tak lama, suara langkah kaki terdengar. Amanda menoleh ke arah tangga dan melihat Er yang berjalan dengan santai dengan raut wajah yang serius
Amanda menautkan kedua alisnya bingung
"Er? Apa kau baik-baik saja?" tanya Amanda masih setia menatap Er
Er tersadar dan melihat Amanda lalu tersenyum hangat
"Wahhh sepertinya makan malam hari ini sangatlah menggoda" bukannya menjawab, Er justru sudah duduk di posisinya
Amanda menaikkan kedua alisnya karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Adik Ipar Bungsunya itu
"Kak" panggil Zaen menepuk pundak Amanda
Amanda merubah raut wajahnya dan melihat Zaen lalu tersenyum
"Kau sakit?" bukan Zaen melainkan Rizky yang bertanya karena dia dan juga Zaen datang secara bersamaan menggunakan lift
__ADS_1
Er yang mendengar pertanyaan itu juga melihat ke arah Amanda
"Kakak sakit?" tanya Er lagi dengan panik
"Hah? Ahk... tidak tidak... Aku tidak sakit. Ayo duduk untuk makan malam" jawab Amanda
Semuanya pun duduk di posisinya masing-masing. Amanda mengambilkan lauk untuk Iky dan meletakkannya di atas tumpukan nasi yang sudah ada di piring Iky
"Ekhem" dehemen Er
Semua mata kini tertuju padanya. Raut wajah Rizky masih datar tapi tatapannya seolah bertanya ada apa
Er meneguk salivanya dan membalas tatapan mata mereka satu per satu
("Apa aku mengatakannya sekarang saja? Atau... nanti saja setelah makan malam?") tanya Er dalam hati yang sudah menggaruk pelipisnya
"Er... kau ini sebenarnya kenapa hmmm?" tanya Amanda lagi
"Hah? Oh... itu a... aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi sepertinya nanti saja Kak. Kita makan saja dulu" jawab Er gelagapan
Ting
Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring keramik itu kembali mengubah fokus mata semua orang
Rizky... yah dialah orang yang menimbulkan suara itu. Dia melipat tangannya seperti ingin berdoa namun tidak. Dia menatap Er dengan tajam
"Kau ingin mencari perkara?" tanya Rizky
Er menunduk tak berani menatap mata elang yang sudah diberikan oleh Kakak Sulungnya
"Aku berbicara padamu Owner Graham" ucap Rizky dengan penekanan setiap katanya
Er kembali mengangkat kepalanya dan menatap mata Rizky
"Katakan apa yang ingin kau katakan. Jika memang kau ingin mengatakannya nanti jangan mengganggu seseorang yang ingin makan. Apa kau kurang didikan?" tanya Rizky dengan suara yang sudah sedikit naik
Amanda menatap Rizky dan juga Er secara bergantian. Dia mengelus lengan Rizky lembut untuk meredakan sedikit rasa kesalnya
"Maaf kak. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan mengatakannya nanti saja setelah selesai makan malam"
Rizky tak menjawab namun tatapannya masih tertuju pada Er. Dia mengambil posisi makannya dan mulai Menyendoki makanannya masuk ke dalam mulutnya
Amanda dan Zaen hanya bisa saling bertukar tatap dan ikut menikmati makan malam mereka
🌻🌻🌻
__ADS_1