CEO My Husband

CEO My Husband
ADA APA DENGAN PAMAN CHAND?


__ADS_3

Berada di dalam ruang yang sama dengan Alan sungguh membuat Thio mati gugup. Memang bukan untuk pertama kalinya mereka berada di ruangan yang sama namun entah mengapa tapi suasana kali ini terasa sangat berbeda


"Kenapa kau tegang sekali? Aku hanya ingin berdiskusi sebentar denganmu. Atau ada yang kau sembunyikan atau yang ingin kau diskusikan juga denganku?" ucap Alan membuka pembicaraan yang sejak tadi tidak dimulai


Thio menatap manik mata Alan dan menggelengkan kepalanya dengan cepat


"Kau yakin?" tanya Alan lagi yang sudah memicingkan matanya menatap Thio


"Sangat yakin kak" jawab Thio


Alan menganggukkan kepalanya mengerti dan meminum secangkir kopi pahit yang ada di hadapannya lalu kembali menatap Thio dengan bersidekap dada


"Kapan Er akan kembali?" tanya Alan kepada Thio


"Tidak ada kabar lanjut dari nya Tuan Muda. Secepatnya saya akan bertanya padanya kapan dia akan kembali"


"Tidak perlu. Aku saja yang akan menghubungi dia. Selain itu, apa kau sudah memperbanyak penjagaan? Besok Ayah akan kembali dan kau akan menjelaskan segalanya"


"Saya sudah menambah penjagaan di sekitar Rumah Besar dan juga Rumah Kak Amanda. Semua masih aman terkendali tak ada yang harus dicurigai" jelas Thio dengan yakin


"Baiklah kalau begitu kau bisa pergi dan beristirahatlah. Aku yang akan menghubungi Er nanti" ucap Alan yang sudah berdiri terlebih dahulu


Thio berdiri dan tersenyum lalu berbalik badan


"Oh tunggu sebentar" ucap Alan lagi


Thio kembali berbalik dan menaikkan kedua alisnya bingung


"Aku tadi melihat kau dan juga Kakak Ipar duduk berdua di taman samping rumah. Terlihat sangat serius. Apa ada hal penting yang kalian bicarakan?"


Thio berusaha menutupi kegugupannya saat ini. Bagaimana jika Alan tau mengenai jati diri lain dalam diri Er?


"Tidak terlalu serius Kak. Kami hanya membicarakan mengenai pekerjaan Er dan penjagaan yang bertambah banyak. Hanya itu saja Kak" jelas Thio


Alan membulatkan mulutnya membentuk pola O sembari menganggukkan kepalanya mengerti


"Jika sudah tidak ada, aku akan kembali ke kamar" ucap Thio


"Pergilah"


Thio kembali tersenyum lalu segera melangkah meninggalkan kamar Alan yang sedari tadi terasa panas dirasa oleh dirinya

__ADS_1


"Huffttt hampir saja. Bagaimana jika semua penghuni rumah ini tau kebenaran mengenai Er?" bisik Thio pada dirinya sendiri ketika sudah sampai di luar kamar Alan


Alan menatap jam dinding lalu terlihat berpikir sebentar dan segera mengambil ponselnya yang berada di atas kasur miliknya


"Harus segera menelpon nya sebelum disana tengah malam" ucap Alan pelan dengan tangan yang masih sibuk mencari kontak Er


Menekan tombol panggil lalu meletakkan ponsel itu di telinganya


Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi


Hanya jawaban itu yang diterima oleh Alan. Alan menautkan kedua alisnya bingung. Untuk pertama kalinya adik bungsunya itu seperti ini


Alan mencoba menghubunginya sekali lagi. Namun hasilnya tetap sama


"Apa dia sedang sibuk? Atau ponselnya mati?" tebak Alan


Dia mencari kontak seseorang yang sedang bersama Er untuk pergi ke sana.


Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi


Lagi dan lagi hanya itu yang diterima oleh Alan sebagai jawaban atas panggilannya


"Apa sesibuk itu?" tanya Alan lagi berusaha menerka


Alan berjalan menuju tempat tidurnya dan duduk di atas kasur empuknya


"Aku akan menghubungi mereka lagi besok" ucap Alan pelan


🌻🌻🌻


"Apa Tuan Muda yakin jika Tuan Muda Alan tidak akan risau jika mengetahui bahwa ponsel kita tidak bisa dihubungi?" tanya Paman Chand dengan raut wajah khawatir


Yah... Er, Paman Chand dan juga Tuan Armand saat ini sudah tidak berada di Jakarta Indonesia. Saat ini mereka lebih memilih untuk langsung mencari kepingan-kepingan teka-teki lainnya


"Biarkan saja. Nanti aku yang akan mencari alasan atau pun jawaban atas pertanyaan yang akan diajukan oleh Kak Alan" jawab Er dengan santainya


"Tuan Muda, saya sudah menyuruh orang terpercaya saya untuk menjemput kita di bandara Jerman lusa dan tidak akan memberitahu siapapun" lapor Tuan Armand kepada Er


"Paman, tidak perlu merasa formal seperti itu. Kau itu adalah Paman dari Kakak Iparku jadi sudah seharusnya aku yang menghormatimu bukan malah sebaliknya"


Tuan Armand hanya bisa terkekeh mendengar ucapan yang diberikan oleh Tuan Muda Graham itu

__ADS_1


"Tapi... apa kah kau yakin ingin memulai segalanya dengan pergi ke istana? Aku tidak bisa menjamin disana akan aman jika orang-orang nanti nya akan tau mengenai identitas dan latar belakang dari kau dan juga lainnya" ucap Paman Chand yang sedari tadi tidak merasa tenang


Er meletakkan gelas kaca yang ada dalam genggamannya sedari tadi lalu menatap Paman Chand dengan alis yang sudah naik sebelah


"Katakan padaku Paman, apa kau baik-baik saja? Aku merasa sejak tadi kau tidak tenang dan melontarkan banyak pertanyaan yang harus ku jawab. Katakan padaku apa yang membuatmu sampai risau seperti ini" ucap Er


Paman Armand yang mendengar penuturan yang diucapkan oleh Er pun mengangguk setuju.


Paman Chand menggaruk kepalanya dengan kasar lalu menghela nafasnya panjang


"Jangan kan kau, aku juga tidak tau kenapa aku harus merasa risau seperti ini. Tapi percayalah, perasaan seperti ini sangat jarang menghampiriku. Tapi disaat sudah datang seperti ini, aku justru tidak tau alasan atas ini semua. Arghhh" ucap Paman Chand melampiaskan rasa kesalnya


Er menaikkan kedua alisnya terkejut melihat dan mendengar ucapan Paman Chand barusan. Selama yang dia kenal, memang benar bahwa Paman Chand tidak pernah serisau ini.


Orang tua itu selalu terlihat tenang walau ditengah kondisi apapun dan mau seburuk apapun masalah yang harus mereka selesaikan


"Pergilah untuk beristirahat Paman. Besok kita ada jadwal keberangkatan pagi. Ayo pergilah" suruh Er sedikit memaksa


Paman Chand menatap manik mata milik Er. Yang dia lihat hanya lah rasa khawatir. Mau tidak mau, pria paruh baya itu harus mengikuti perintah dari anak muda yang ada di hadapannya ini


"Baiklah. Tapi jika kau membutuhkan atau terjadi sesuatu maka langsung panggil aku jika perlu teriak saja. Kau mengerti?"


Er hanya terkekeh dan mengangguk sebagai jawaban setuju atas perintah yang dikeluarkan oleh Paman Chand


"Eh tunggu sebentar Paman" panggil Er lagi ketika Paman Chand hampir menghilang dari pandangannya dan juga pandangan Paman Armand


Paman Chand langsung berbalik dan berjalan kembali mendekat


"Bagaimana dengan pengawasan untuk Bunda, Kak Amanda dan juga Zaen? Kau sudah menambah pengawasannya?" tanya Er langsung pada intinya


"Sudah, bahkan aku sudah menyuruh Sean dan juga Blue untuk ikut ambil alih di sana. Mereka akan memberikan laporan kepadaku setiap malamnya. Kau tenang saja" jawab Paman Chand dengan tangan yang sudah ada di belakang punggungnya


Er menganggukkan kepalanya mengerti dan mempersilahkan kembali Paman Chand untuk menuju kamar tidurnya


"Apa Tuan Puteri terancam akan sesuatu?" tanya Paman Armand tiba-tiba dengan raut wajah yang khawatir


Er menghela nafasnya panjang dan memejamkan matanya sebentar


"Aku berharap tidak Paman. Tidak masalah, aku sudah membuat penjagaan yang sangat ketat di sekitar Kak Amanda" jawab Er santai


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2