CEO My Husband

CEO My Husband
AMARAH TUAN MUDA OWNER (1)


__ADS_3

Setelah selama 2 hari lama nya, kini Tuan Muda Er beserta dengan yang lainnya sudah duduk di dalam pesawat pribadi miliknya


Owner yang sedang menahan amarahnya hanya bisa diam menatap awan yang melewati jendela di sampingnya. Kejadian selama disana membuat amarah dan juga kesabarannya hampir terkuras habis


Dan untuk sekarang, dia hanya bisa diam menunggu sampai mereka sampai di rumah dan mencari sahabatnya serta kakak keduanya. Dia hanya akan mengeluarkan semua rasa amarah dan kekesalannya disana lebih tepatnya pada orang yang benar-benar pantas mendapat amukan darinya


Paman Chand yang sejak tadi hanya bisa diam mengawasi dengan rasa takut yang juga sama besarnya. Takut jika kali ini Er melebihi batasnya karena dia tau bahwa saat ini pria tampan itu sudah sangat marah


🌻🌻🌻


Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah ruangan yang begitu gelap dengan aroma amis yang sudah berhasil menusuk ke indra penciuman membuat kedua pria muda itu hanya bisa diam.


Alan, dia hanya diam dengan rasa terkejutnya karena Thio mengajaknya ke tempat seperti ini tanpa penjelasan sedikit pun


"Kita keluar saja kak, sebentar lagi mereka akan tiba" ajak Thio dengan tepukan pelan yang sudah dia lakukan pada Alan


Alan diam dan langsung melangkahkan kakinya terlebih dahulu ke luar meninggalkan Thio.


Sesampainya di luar, Alan langsung mendudukkan dirinya di kursi kayu yang memang sudah disediakan di situ untuk para penjaga yang diberi tanggung jawab oleh mereka


Dia menatap Thio dengan raut wajah datarnya dan kedua tangan yang sudah dia lipat di depan dada. Merasa bahwa dirinya ditatap, Thio hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak tahu apakah itu benar-benar gatal atau tidak


"Apa sulitnya kau menjelaskan siapa Er sebenarnya?" tanya Alan dengan santai namun tatapan yang sudah sangat menusuk


"Hmmm anu kak, bukannya aku tidak ingin menjelaskannya namun akan lebih baik jika yang bersangkutan lah yang menjelaskannya pada mu" jelas Thio yang semakin membuat pria di hadapannya itu semakin kesal


"Semuanya aman?"


Alan dan juga Thio langsung mengalihkan mata mereka. Thio yang langsung berdiri tegak dan yang satunya hanya tetap bersikap biasa saja


"Dia di dalam. Menunggu ajalnya seperti katamu" jawab Thio yang sudah mengubah raut wajahnya menjadi sangat serius

__ADS_1


Er diam dan menatap kakaknya yang sedari tadi hanya menatapnya dalam diam


"Kakak ingin bertanya?" ucapnya membuka suara


"Banyak yang ingin ku tanyakan padamu. Kalian masuk saja dan tinggalkan kami berdua" jawab Alan menatap satu per satu manusia yang berada di sana


Thio dan juga yang lainnya langsung saja menuruti perintah dari putra kedua keluarga Graham itu. Er yang merasa bahwa situasi saat ini memang sangat berbahaya langsung merubah situasi dirinya sendiri


"Siapa kau sebenarnya? Kau memiliki tempat seperti ini? Tempat berbau darah seperti ini?"


Pertanyaan itu membuat Er menatap kakaknya datar. Dia melupakan hal bahwa Alan baru masuk ke dalam keluarganya.


Alan sama sekali belum mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Sama seperti yang lain, karena yang mengetahui jati diri aslinya hanya lah kakak sulungnya dan para pekerja nya


"Lain waktu akan aku jelaskan kak. Saat ini aku ingin melepaskan amarah dan juga rasa kesal ku. Tapi aku boleh meminta sedikit padamu kak?" ucap Er menatap lawan bicaranya itu dengan begitu serius


Alan menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban akan ucapan adik bungsunya itu


Hening, tidak ada suara apapun setelahnya. Alan hanya menatap adiknya itu dengan diam tak menjawab. Mencoba menerima, memahami dan meyakinkan dirinya untuk jawaban yang akan dia katakan selanjutnya


"Baiklah" ucapnya setelah saling diam satu sama lain


Er tersenyum kecil dan mempersilahkan kakak keduanya itu untuk masuk terlebih dahulu ke ruangan gelap nan mengerikan tadi


"Kakak kira tempat ini tidak diberi cahaya sedikit pun. Thio memang sialan. Kenapa kau sangat betah mempekerjakan nya?" omel Alan menatap sinis ke depan atau lebih tepatnya ke arah orang yang dimaksud


Er terkekeh mendengar penuturan kakak nya barusan


"Aku yang menyuruhnya kak. Dia itu sangat dapat diandalkan kak jadi kakak tenang saja" jawab nya menepuk pundak Alan pelan


"Apapun yang kau lakukan di tempat ini, tapi ini sangat menakutkan Er. Ada banyak darah di semua sudut dinding. Kau merubah gedung mewah ini menjadi tempat horor" ucap Alan mengomentari segala sudut ruangan itu

__ADS_1


Er lagi dan lagi hanya bisa terkekeh kecil dan terus melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah target yang duduk dengan nyaman di bangku kayu dengan tangan dan kaki yang sudah diikat, mulut yang sudah disumbat dan mata yang sudah ditutup dengan kain merah


Thio dan juga Blue langsung saja meletakkan 2 bangku kayu lainnya di hadapan target itu. Er dan juga Alan mengangguk singkat sebagai ucapan terimakasih dan langsung duduk


"Buka" perintah Er menatap sahabatnya itu dengan dingin


Thio mengangguk dan langsung melaksanakan perintah yang diberikan oleh sahabat sekaligus Tuan Mudanya itu


Paman Chand yang langsung berdiri di samping Thio langsung saja semakin mendekatkan dirinya


"Apa kau yakin kali ini dia bisa mengontrol segalanya?" bisik Paman Chand pada Thio


"Aku tidak yakin. Melihat tatapannya saja sudah membuatku takut untuk melakukan kesalahan. Sepertinya kali ini kita akan ditegur keras olehnya jika nanti kita menahannya" jawab Thio masih senantiasa menatap Er


"Kau baik-baik saja? Apa sahabatku melukaimu sebelum aku yang melukai dirimu Tuan?" tanya Er dengan seringai khasnya ketika targetnya sudah menatapnya dengan sedikit terkejut


"K-kau? Kapan kau sudah berada di negara ini?"


Terdengar suara tawa di seisi ruangan. Thio dan juga Paman Chand yang mendengar itu seketika saling menatap satu sama lain. Tawa itu kembali terdengar setelah bertahun-tahun lamanya. Rasa takut mereka berdua semakin tidak karuan karena sepertinya dugaan yang diucapkan oleh Thio akan benar-benar terjadi hari ini


"Kenapa kau begitu terkejut? Apa aku begitu sangat menakutkan untukmu Tuan Ricko?" tanya Er yang sudah menghentikan tawanya dan menatap lawan bicaranya dengan dingin


Yah... orang yang disekap oleh Thio tak lain dan tak bukan adalah pria yang belakangan ini mengganggu ketenangan kakak ipar mereka dan juga keluarga besar mereka


"Harusnya kau berpikir puluhan ribuan kali sebelum mengusik keluargaku. Apa kau pikir kau akan dengan mudahnya lepas dari ku? Kau lupa bahwa aku mendapat julukan psikopat gila. Aku tidak akan semarah ini jika yang kau usik adalah kami bertiga atau semua pekerja ku. Tapi ini... kau mengusik kakak iparku dan bahkan semua wanita yang penting bagi kami semua. Kau salah dalam mencari lawan Tuan


Kau juga salah jika menganggap bahwa aku baru tau bahwa kau yang selama ini menjadi perusuh dalam segalanya. Kau dan juga adikmu itu sama-sama kurang pengetahuan akan segalanya. Aku sudah diam cukup lama dan menbiarkanmu melakukan apapun. Tapi sepertinya kau sudah lewat dalam batasan. Akan ku beri kau waktu untuk menghubungi adik jalang mu itu dan ucapkan selamat tinggal. Oh dan jangan lupa untuk memperingatkan nya..." jelas Er terpotong dan semakin mendekatkan dirinya dengan wajah yang sudah memerah menahan segalanya


"Peringatkan dia untuk tidak datang lagi ke dalam kehidupan kakak ku dan mengganggu hubungan rumah tangga nya. Jika aku tahu dia datang kembali maka akan ku pastikan bahwa Psikopat gila ini akan semakin menyiksa dirinya melebihi kau Tuan Ricko" lanjutnya dengan smirk yang semakin membuat semua orang bergidik ngeri


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2