Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Devian Danendra


__ADS_3

Suaminya selalu memanjakannya walaupun sikapnya yang buruk pada suaminya. Bahkan Al tak pernah sekalipun memarahinya sekalipun ia berbuat kesalahn. Suaminya utu sosok pengertian dan lembut.


Setelah selesai, dokter mengambil alih bayi itu dan mengajarkan Zifa untuk menyusui bayi.


"Awww" ringis Zifa karna merasakan nyeri saat pertama kali anaknya meminum langsung dari sumber asi miliknya.


"Sakit ya sayang?" Tanya Al sambil menatap iba pada istrinya itu.


"Hanya sedikit saja" jawab Zifa membuat Al tenang.


"Kau sudah memikirkan namanya?"


"Sudah"


"Siapa?"


"Devian Danendra, panggilannya Dev"


"Artinya?"


"Seorang pemimpin dari keluarga Danendra" ucap Al tersenyum.


"Bagus, aku suka" jawab Zifa antusias.


Setelah selesai bayi itu diletakan di ranjang khusus bayi yang ada diruangan itu.


"Oh my god, bayinya gede banget. Pantesan lahirannya lama" ucap mama Sofi melihat cucunya itu.


"Iya, gede banget ma anak Zifa, sampek dijahit gara gara sobek" jawab Zifa.


"Ya bener aja, orang bayinya aja segede ini. Emangnya dokter nggak bilang suruh kurangin makannya?"


"Udah ma, tapi tetep aja nggak bisa ngurangin ngemilnya"

__ADS_1


"Ya udah nggak papa, yang penting ibu sama bayinya sehat"


"Gimana Al mau berapa anak?" Goda papa Bryan pada menantunya.


"Satu aja kayaknya cukup pa" jawab Al menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Enak aja cuma satu, nanti aku kesepian" Zifa lah yang menjawab.


"Sayang, kan tadi kamu yang bilang satu anak aja" bela Al pada dirinya.


"Kan tadi aku belum tau bahagianya pas udah liat anaknya lahir"


"Udah satu aja cukup, aku nggak tega lihat kamu kesakitan gini lagi"


"Ck, pokoknya 2" decak Zifa kesal.


"Udah, itu dibahas nanti. Yang penting semuanya sehat udah cukup" mama Mia menengahi.


Tak heran dengan Al, papa Bryan dulu juga ada diposisi Al. Hanya menginginkan satu anak setelah melihat istrinya melahirkan karna tak mau wanita yang dicintainya kesakitan untuk kedua kalinya.


"Al aku pengen pulang aja"


"Bentar, aku tanyain dokter dulu ya"


Setelah mendapat persetujuan dari dokter, akhirnya Al membawa istrinya pulang.


Didalam mobil,


Nampak Zifa sedang menggendong putranya sedangkan Al menyetir.


"Al, anak kita lucu banget deh" Ucap Zifa menatap wajah tampan putranya.


"Jelas dong, hasil kerja kerasku emang nggak bisa diraguin" jawab Al bangga.

__ADS_1


"Cih, kerja keras apanya? Orang kamu ngelakuinnya seneng seneng aja"


"Ya salah satunya bujuk momy nya Dev biar mau diajak buat anak" ceplos Al.


"Al!! Ada anak kita ini!" Zifa memelototkan matany kesal.


"Ya ampun yang, anak kita juga nggak mungkin paham masalah gitu"


"Ya tetep aja, nggak boleh bicara sembarangan"


"Iya sayang, maaf"


Sesampainya dirumah, mereka berdua sudah disambut oleh kedatangan keluarga besar mereka.


Semua nampak kagum dengan bayi yang baru lahir itu.


"Jimat kamu apa Al bisa nurunin hidungmu ke anakmu" goda salah satu sepupu Al.


"Usaha terus, pastinya disertai bibit unggul" jawab Al bercanda.


Malam hari,


Nampak Zifa sedang bersandar di ranjang sambil menyusui anaknya.


"Sayang, kamu capek ya?" Al melihat wajah istrinya yang kelelahan.


"Lumayan" Zifa mengiyakan.


"Sini, kalu udah biar aku gendong aja. Kamu istirahat gih"


Zifa hanya mengangguk pasrah karna tubuhnya memang butuh istirahat.


Al mengambil sang putra dari gendongan istrinya.

__ADS_1


"Uluh uluh, anak dady ganteng banget sih" Al mencium gemas putranya itu.


__ADS_2