
"Aku hancur dan Kay sudah tak mau melihatku lagi. Aku harus apa ma?" Pria itu bersimpuh menangis didepan ibunya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Yang harus kau fikirkan bagaimana caranya kau bisa tetap menatap masa depanmu. Jika jalan bahagia Kay memang tanpamu, ikhlaskan dia. Dia juga butuh untuk bahagia. Biarkan proses persidangan berjalan semestinya. Yang perlu kau lakukan bagaimana caranya kau tetap bisa merawat dan membesarkan putramu bersama Kay tanpa adanya hubungan"
"Aku tidak bisa ma, aku butuh Kay disampingku"
"Dengarkan mama, kau harus membiarkan Kay bahagia. Dia sudah merasa tertekan selama 4 tahun ini. Jika memang bahaginya bukan bersamamu, lepas saja. Beri dia kesempatan untuk mengejar bahagianya sendiri" mama Tasya mencoba memberi pengertian pada putranya.
Beberapa saat kemudian Rio sudah mulai tenang.
"Mama perut kanan atasku sakit sekali" keluh Rio membuat mama Tasya sedikit terkejut.
Tak biasanya pria itu mengeluh sakit.
"Papa, pa" panggil mama Tasya pada suaminya.
"Iya ma, kenapa?"
"Bantu Rio ke kamarnya, dia mengeluh sakit"
Baru saja dibantu berdiri pria itu melemas begitu saja.
"Rio kamu kenapa?" Mama Tasya panik.
"Tidak apa apa ma, mungkin masuk angin " Rio beralasan.
"Mama, cari plastik Rio mau muntah" pinta Rio menutup mulutnya.
Mama Tasya berlari menuju dapur mengambil plastik seadanya.
"Ini" belum sepat Rio meraih plastik itu namun ia malah lebih dulu memuntahkan cairan merah.
"Hah? Darah?" Mama Tasya melemas terduduk dilantai melihat muntahan darah berceceran dilantai.
"Rio kamu kenapa?" Mama Tasya panik menggoncang tubuh putranya yang lemah.
"Tidak apa apa ma, ayo bantu Rio ke kamar saja" lirih pria itu nyaris tak terdengar.
__ADS_1
"Tuan, ini minum dulu" seorang maid menyerahkan segelas air.
Tangan Rio bergetar menerima gelas itu hingga papa Roni membantu putra semata wayangnya itu untuk minum.
"Rio, kamu kenapa nak?" Mama Tasya mengusap kepala putranya itu.
"Mungkin karna Rio telat makan saja ma. Jangan khawatir Rio baik baik saja" ucap Pria itu sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Mbak, tolong ambilin pel dan kain ya, biar aku yang membersihkannya" pinta Rio.
"Tidak usah tuan, biar nanti saya saja"
"Tidak apa apa, ambil saja"
"Tidak, kau sedang sakit. Biar mama saja" tolak mama Tasya membuat Rio menatap wanita itu sendu.
"Tolong ambilkan ya mbak" pinta Rio lagi.
Maid itu mengambilkan barang yang diminta majikannya.
Rio mengusap pelan darah itu dan mulai membersihkannya dengan masih posisi terduduk lemas dilantai.
Papa Roni mengangguk,
Paruh baya itu meminta bantuan kepala pelayan karna ia tak sanggup menagngkat Rio sendirian karna putranya sudah lemas tak mampu berjalan.
Sesampainya dikamar mama Tasya mengganti semua pakaian putranya agar lebih nyaman.
"Mama tidak usah repot repot. Nanti Rio ganti baju sendiri" Rio merasa kasihan dengan mamanya yang harus direpotkan dengan dirinya yang sedang tak berdaya seperti ini.
"Hus, kau itu anak mama satu satunya. Mau kau sudah jadi kakek pun kau tetap anak kecil buat mama" mama Tasya membersihkan tubuh putranya yang nampak kacau itu.
"Mama panggilin dokter ya?"
"Tidak usah ma, kalau Rio sedang stress memang seperti ini. Paling ini istirahat sebentar besok sudah pulih"
Mau tidak mau mama Tasya menurut.
__ADS_1
Ke esokan harinya, Rio sudah terlihat lebih baik walau wajahnya masih terlihat pucat.
"Kau sudah mau bekerja? Kau kan sakit, istirahat saja dulu"
"Enggak ma, kerjaan kantor lagi numpuk ma"
"Ya udah, selesaiin semuanya baik baik. Mama tau kamu sudah dewasa menghadapi semuanya" mama Tasya menasehati.
"Iya ma, oh ya, Kay tidak ingin bertemu denganku. Bisakah mama sesekali membawa Rean kemari? Hanya seminggu sekali saja"
"Iya, nanti mama bicarakan dengan Kay"
Rio mengangguk
Pria itu berangkat ke kantor seperti biasa
Tok
Tok
Tok
"Masuk" sahut Rio.
"Ck, sibuk sekali rupanya" decak tamu itu yang ternyata adalah Al.
"Kau datang? Kenapa tak mengabariku terlebih dahulu?"
"Tidak apa apa, aku hanya sedang bosan saja dikantor. Makannya aku kesini"
"Oh begitu, ku kira ada apa" senyum Rio nampaj terbut dibibir pucatnya.
"Kudengar Kay menggugatmu untuk bercerai" tanya Al to the point.
"Iya, dia memang meminta untuk bercerai"
"Kau menyetujuinya?"
__ADS_1
"Aku menolaknya, tapi dia tetap saja akan melanjutkan proses itu. Dia bahkan tidak mau bertemu denganku lagi"