Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Janji Rio


__ADS_3

"Tidak! Aku tidak mau jika anakku kenapa napa. Rio katakan padanya aku harus cepat melakukan operasi. Air ketubanku sudah keruh, bagaimana jika nanti anak kita keracunan ketuban" Kay menangis.


Rio dibuat semakin bingung, tak mungkin juga ia mengorbankan anaknya untuk kedua kalinya. Tapi semakin tidak mungkin jika ia menumbalkan nyawa istrinya hanya demi ke egoisannya.


"Baiklah, kalau begitu siapkan saja operasinya secepatnya" putus Rio.


"Tapi tuan,,"


"Jangan banyak protes, aku mau cepat cepat melihat anakku. Lagi pula ini kontraksinya sudah sangat sakit" kesal Kay membuat dokter mengangguk paham.


"Baiklah, 45 menit lagi bersiap menuju ruang operasi ya nyonya"


Sepeninggak dokter, Kay hanya merintih dengan suara tertahan.


Kontraksi yang dialaminya serasa nyata saja.


"Sakit?" Tanya Rio mengusap perut istrinya.


"Iya lah, kau kira enak!" Kesal Kay.


"Jangan banyak emosi. Sebentar lagi kau operasi"


Kay hanya diam,


Wanita itu memiringkan tubuhnya membelakangi Rio sambil mengatur nafasnya menahan sakitnya kontraksi.


"Ayo hadap sini saja, luapkan rasa sakitnya ie aku. Jangan ditahan" ucapan lembut Rio membuat wanita itu langsung membalikan badannya.


Rio memeluk raga rapuh itu. Ia melihat darah sudah naik melallui selang infus yang menandakan wanita itu benar benar menahan sakit.


"Jangan ditahan, menangis saja" Rio mengusap usap punggung wanitanya.


"Hikss, Rio ini sakit sekali" rintih Kay.


Kay tak mampu berkata, hanya tangannya terus mengusap punggung Kay lembut.


"Maafkan aku, aku bukan suami yang baik. Setelah ini aku akan membebaskanmu. Kau bebas memilih jalan hidupmu"


Kay semakin terisak

__ADS_1


"Kenapa semakin keras tangismu?" Ledek Rio.


"Ini sakit sekali"


"Cengkram saja lenganku" ucap Rio padahal dari tadi Kay sudah mencengkram lengan suaminya bahkan terkadang menggigit pundak pria itu.


"Rio, aku mendadak takut" ungkap Kay membuat Rio melepaskan pekukan itu.


"Kenapa takut?" Tanya Rio sembari mengusap keringat di dahi iatrinya.


"Bagaimana jika nanti aku meninggal?"


"Huss jangan bicara seperti itu"


"Aku hanya takut saja"


"Ya udah kalau gitu tunggu sampai darahnya stabil aja"


"Enggak mau!"


"Tenanglah, tidak akan terjadi hal yang buruk padamu dan anak kita"


"Janji yang mana?"


"Kau dulu berjanji akan mencintai anak kita melebihi apapun. Dan kau harus memegang janjimu"


"Iya aku janji"


"Berjanjilan kau akan tetap melakukannya, dengan ataupun tanpaku"


"Iya aku berjanji"


Ucapan Rio membuat Kay bernafas lega.


"Kenapa kau menyuruhku berjanji seperti itu? Dia anakku, pasti aku akan menyayanginya melebihi apapun.


"Aku hanya mengantisipasi hal buruk saja. Jika nanti aku ada apa apa setidaknya kau sudah berjanji"


"Jangan berbicara seperti itu"

__ADS_1


Beberapa menit kemudian,


3 dokter datang keruangan Kay.


3 dokter itu mencoba membujuk Kayla agar mau menunda sedikit operasinya karna dokter itu tau betapa besarnya resiko yang diambil Kayla.


Rio mulai bimbang dengan keputusannya.


"Tekanan darah nyonya Kay masih tinggi. Tidak baik jika dilanjutkan. Resikonya kematian ibu" ucapan dokter menohok tepat dijantung Rio.


Pria itu merasa gagal menjadi seorang suami setelah 2 kehamilan Kay yang sama sama bermasalah.


"Tidak apa apa, yang penting anakku selamat" ucapan Kay seolah menampar harga diri Rio sebagai seorang pelindung untuk istrinya.


"Tidak! Lebih baik menunggu saja dok sampai waktunya baik untuk operasi. Yang penting istriku dalam kondisi baik"


Dokter itu bernafas lega mendengar keputusan Rio.


"Rio jangan seperti ini, bagaimana dengan anakku"


"Tidak akan terjadi apa apa dengannya, dia iuat" ucap Rio menenangkan.


"Kita undur maksimal 1 jam lagi, jika masih belum stabil maka kami terpaksa melakukan caesar karna ditakutkan anak anda tidak tertolong"


Rio mengangguk yakin,


Biarlah dia kehilangan anaknya lagi, asalkan bukan istrinya. Batinnya.


Mama Tasya dan papa Roni sidah sampi dirumah sakit.


"Bagaimana? Dokter bilang apa?"


Rio menjelaskan semuanya


"Mama, beri Kay dukungan agar dia semangat. Kurasa semangat hidupnya berkurang. Dari tadi dia membicarakan kematian terus menerus," ucap Rio.


Pria itu menjadi tidak tenang, hatinya dari tadi dilanda gundah. Takut jika apa yang diucapkan Kya benar benar terjadi.


Setelah 1 jam berlalu, Rio dan Kay masuk ke ruang operasi bersama. Pria itu nekat menemani istrinya walaupun dari tadi Kay menolak.

__ADS_1


__ADS_2