
Amarah Zifa berkobar setelah mendengar ucapan wanita tadi.
"Jadi dia benar benar berselingkuh lagi? Dasar brensekk" Batinnya mengumpat suaminya.
Ceklekk
Pintu kamar mandi terbuka
"Siapa Sarah?!" Tanya Zifa to the point.
"Hah? Sarah?" Al bingung.
"Jangan berpura pura bodoh, aku tau semuanya!!" Zifa mengobarkan amarahnya.
"Kau menghianatiku?!!" Teriak Zifa.
"Sayang, bukan.. kau pasti salah paham" Al mencoba menenangkan istrinya yang terlihat sudah mulai meneteskan air matanya.
"Jangan mendekat!!" Bentak Zifa saat suaminya melangkah mendekatinya.
"Sayang, dengarkan dulu penjelasanku" pinta Al.
"Penjelasan apa lagi? Tidur dirumah wanita lain, membiarkan wanita lain mendekatimu bukankah itu selingkuh hahh?!"
"Sayang,,"
"Dan bahkan kau dengan rela datang dengan alasan merawat anak wanita itu?! Ohh atau jangan jangan dia anakmu dengan wanita itu?!"
"Sayang bukan, wanita yang kau maksud itu..."
"Apa hahh??!! Kau ingin mengadu pada papa dan meminta pembelaannya hah?!!"
"Sayang, bukan.. plis tenang, dengarkan penjelasanku dulu" Al mendekat ke arah istrinya.
"Berhenti disitu!" Teriak Zifa membuat Al menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Zifa langsung berjongkok dan menutup wajahnya yang sudah banjir air mata dengan telapak tangannya.
"Sayang" Al nekat mendekat dan merengkuh tubuh sang istri kedalam pelukannya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menduakanmu. Dengarkan penjelasanku dulu"
"Penjelasan apa lagi hah?!"
"Sayang, dia itu saudara sepupu ku"
"Kau sangat pandai mencari alasan tuan Alfin Danendra!"
"Sayang, percayalah. Apa aku perlu membawanya kemari untuk menjelaskannya padamu?"
"Pergilah!"
"Sayang" Al mencoba memohon.
"Aku bilang pergi ya pergi!!" Bentak Zifa membuat Al akhirnya mengalah sebelum istrinya semakin histeris.
Al menghela napasnya berat kala melihat istrinya seperti itu.
Ia bingung harus menjelaskan dengan cara apa karna posisinya Al memang salah karna tak meminta izin istrinya dulu untuk menginap dirumah sepupunya yang bernotabe janda.
"Sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya, hari ini aku akan lembur karna ada beberapa meeting penting"
Zifa hanya diam tak menggubris suaminya itu.
Setelah kepergian Al, Zifa mengirim pesan pada kakaknya untuk izin tidak masuk kerja karna sedang tidak enak badan.
Memang hari ini badan Zifa juga sedikit tidak bersahabat.
Setelah puas menangis Zifa segera membasuh wajahnya.
"Kenapa kepalaku menjadi pusing begini?" Gumamnya menatap wajah sembamnya dihadapan cermin washtafel.
__ADS_1
"Apa aku mau datang bulan ya?" Gumamnya karna biasanya ia selalu merasakan pusing saat awal datang bulan.
Mata Zifa mendadak melebar sempurna saat mengingat tanggal menstruasinya.
Sejak menikah dengan Al Zifa belum mendapatkan tamu bulanannya.
"Oh astaga, kenapa aku jadi lupa" Zifa menepuk keningnya.
Ia langsung berlari ke lantai bawah
"Mbak, mbakk" teriak Zifa memanggil pembantunya.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita 30 tahunan mendekati Zifa.
"Mbak, Zifa minta tolong ke apotik bisa nggak mbak?" Tanya Zifa.
"Bisa nyonya, memangnya siapa yang sakit?" Tanya wanita paruh baya itu.
"Tidak ada bik" Zifa tersenyum ramah.
"Lalu kenapa ke apotik nya?"
"Beliin Zifa testpack ya mbak" bisiknya pada wanita itu.
Seketika wajah wanita itu langsung tersenyum.
"Iya nyonya siap"
"Ini uangnya, makasih ya mbak" Zifa menyerahkan selembar uang berwarna merah.
"Berapa belinya nyonya?"
"Beli 3 saja yang paling akurat ya" pinta Zifa.
"Siap nyonya"
__ADS_1
jangan lupa Like dan Komen