Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Gagal Menjagamu


__ADS_3

"Rio, aku mau menggendongnya" lirih Kay melihat bayi perempuan masih digendongan suaminya.


"Ini" Rio menyerahkan putrinya.


"Kau sangat cantik" puji Kay menatap wajah putrinya yang sudah tiada.


"Maafkan mama sudah gagal menjagamu. Mama adalah ibu paling buruk didunia ini. Apa yang harus mama lakukan untuk menebus kesalahanku. Apa mama harus pergi menyusulmu agar bisa merawatmu dengan baik"


"Sayang, jangan berbicara seperti itu. Anak kita pasti sedih melihatmu terpuruk seperti ini"


"Rio, bahkan aku belum sempat mendengar suara tangisnya. Kenapa tuhan sudah mengambilnya begitu saja"


Kay mengusap kepala putrinya itu


"Wajahmu seperti papamu hingga kau sangat terlihat cantik dan sempurna" puji Kay dengan jemari menyentuh hidung mancung putrinya.


Kay mendekap anaknya erat berharap bayi yang sudah dingin dan membiru itu kembali berdetak dan bernafas.


"Rio, ini hanya mimpi kan? Tidak mungkin anakku sudah tiada"


Rio hanya memandang pilu istrinya yang berbicara sendiri itu.


"Andai aku tidak ke kamar mandi mungkin dia akan terlahir cantik dan selamat. Kau pasti akan menyayanginya walaupun aku tiada karna memaksa melahirkannya"


"Sayang, aku tidak suka melihatmu terpuruk seperti ini. Kau harus kuat untuk melanjutkan semuanya"


"Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku jika tujuan hidupku kini sudah tiada" Kay tersenyum miris.


Wanita itu meletakan putrinya tepat didadanya dengan air mata yang menetes.

__ADS_1


"Sayang, mungkin ini yang terbaik untuknya. Aku janji setelah ini hidup kita akan baik baik saja"


"Tanpa dia?" tanya Kay dengan tatapan masih menatap putrinya.


"Dia tidak akan pergi, dia akan selalu ada disini" Rio menunjuk letak hati Kay.


"Peluk aku" pinta Kay.


Rio langsung memeluk 2 perempuan yang sangat disayanginya itu.


Keduanya sama sama menangis menatap putri mereka yang sudah tak bernyawa itu.


Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat kepergian putri yang belum sempat mereka dengar tangisannya.


"Kau mau memberinya nama?"


Kay menatap sendu jasad bayi itu


"Jangan menangis lagi, kita berjuang bersama. Jangan sampai Ara sedih karna melihatmu seperri ini"


"Ara?"


"Iya, panggilannya Ara" jelas Rio.


"Mama berharap kau akan melambaikan tanganmu untuk menyambut mama papa disurga nantinya" Kay mencium bayi itu.


"Rio, dia sangat cantik"


"Iya putri kita sangat cantik. Kau juga tak kalah cantik"

__ADS_1


"Jangan menangis lagi, kita harus ikhlas ya?" Rio menghapus air mata istrinya.


Kay mengangguk meski nyatanya air matanya tak tertahankan.


Ia masih saja memeluk raga tak bernyawa itu kedalam dekapannya.


"Kau adalah malaikat mama, makasih sudah menemani mama selama beberapa bulan ini"


"Rio, berjanjilah kau akan mengajakku mengantarkan putri kita ke tempat istirahatnya"


"Aku akan menanyakan dulu pada dokter. Jika diizinkan aku akan membawamu"


Kay memeluk tubuh putrinya dengan mata yang ikut terpejam seolah menikmati pelukan itu.


"Maafkan papa, kau adalah putri cantik papa" Rio mencium wajah putri nya itu.


Papa Bryan, mama Mia, begitupula orang tua Rio datang kerumah sakit.


"Jangan terlalu larut bersedih nak, kau dan Rio masih memiliki banyak waktu untuk memiliki anak lagi" mama Tasya berusaha menguatkan menantunya meski dia sendiri juga hancur melihat cucunya sudah tiada.


"Mama, Kay gagal menjaga cucu mama. Harusnya beberapa minggu lagi kalian bisa menggendongnya dan membawanya ke pemakamanku"


"Sayang sudah, jangan seperti ini. Aku tidak suka melihatmu seperti ini" Rio mengusap kepala istrinya.


"Jangan begitu nak, semua sudah digariskan takdir. jangan menyalahkan dirimu sendiri. Lebih baik kau fokus agar segera sembuh"


"Ayo, kita antar anak kita ke tempat istirahatnya" ajak Rio.


Kay mengangguk lemah meski hatinya berat untuk melepaskan putrinya.

__ADS_1


__ADS_2