Cinta Nona Arogan

Cinta Nona Arogan
Kebimbangan


__ADS_3

"Apa maksudmu?"


"Kau mencintai Kayla dan kau belum menyadari itu"


"Tidak, aku tidak..."


"Ya sudah, kalau kau tidak mencintainya lebih baik ceraikan saja. Untuk apa mempertahankan rumah tangga seperti itu. Akan kuoastikan Rean jatuh ke tanganmu dan Kayla tidak akan mengusiknya"


Rio terdiam, hatinya memberontak.


"Kalau kau setuju, besok akan ku urus surat perceraiannya" desak papa Bryan lagi.


"Jangan mencampuri urusan rumah tanggaku"


"Kenapa tidak boleh? Ada putriku yang kau perlakukan tidak sewajarnya"


"Aku tidak akan pernah bercerai dengan Kayla. Tidak akan pernah!" Tegas Rio.


"Kenapa? Katanya kau tidak mencintainya"


"Siapa bilang aku tidak mencintainya"


Heningg


Rio tertegun dengan ucapannya barusan.


"Kalau kau memang mencintainya, yakinkan dulu hatimu. Pastikan kau tidak akan menyakitinya ke sekian kalinya lagi. Tapi jika kau memang tak mencintainya, mari bertemu di pengadilan agama bersama sama"


"Aku tau, anak muda sepertimu memang sulit untuk mengutarakan perasaan. Kau cenderung cuek dan menganggap semuanya baik baik saja. Namun kau seolah menutup mata dengan keadaan didepanmu bahwa nyatanya perempuan juga membutuhkan ungkapan dan juga tindakan nyata. Bukan sekedar ucapan bahwa kau akan memperbaiki semuanya tapi nyatanya semua hanya omong kosong belaka"


Rio terdiam,


"Nyatakan saja perasaanmu yang sebenarnya padanya jika kau benar bebar mencintainya. Jangan termakan oleh egomu sendiri. Dan juga, mulailah bersikap hangat seperti suami pada umumnya. Tugasmu bukan sekedar menafkahi dalam bentuk materi, tapi juga nafkah batin untuknya"


Rio masih tak mampu berkata kata


"3 hari lagi istrimu pasti akan kembali dan aku sendiri yang akan menjanjikannya padamu. Dalam waktu itu, berfikirlah dengan baik. Jika memang kau benar benar tak ada cinta untuknya, lebih baik kalian bercerai saja daripada kau menyakiti Kayla semakin dalam. Ini bukan hanya untuk kebaikan Kayla, tapi juga kebahagiaanmu sendiri. Kau bisa mencari wanita lain sesuai dengan keinginanmu. Wanita impianmu yang suatu saat nanti akan kau cintai. Jangan sampai menyesal dengan keputusanmu" papa Bryan menepuk pundak pria itu.


"kau tidak tau dengan apa yang ku rasakan. aku hanya berusaha menyayanginya sekuat yang kubisa. aku hanya berusaha membuatnya selalu bahagia. tapi aku takut jika dia terlalu berharap lebih. aku tidak mau dia kecewa saat aku pergi nanti"


"pergi kemana?"

__ADS_1


"bukan urusanmu"


Rio beranjak dari duduknya,


Setelah itu, Rio pulang ke rumah.


Ia menatap gelapnya malam sambil berfikir dalam.


"Apa benar kalau aku mencintainya?"


Rio berfikir keras, dan jawabannya batinnya selalu menolak untuk bercerai dengan Kayla.


"Sepertinya aku memang benar mencntainya. Nyatanya hatiku kosong saat tak melihatnya disini" Rio menyentuh dadanya.


Tak terasa 3 hari berlalu,


Rio sudah tak sabar bertemu istrinya lalu mengutarakan perasaannya.


Pria itu sudah sangat yakin bahwa ia sangat mencintai wanita yang menjadi istrinya. Rio bahkan sudah membeli sebuah hadiah untuk istrinya.


Kay melangkahkan kakinya memasuki rumahnya dan Rio sambil mendorong stroller baby Rean.


Ceklek, Kay membuka kamar putranya untuk menidurkan putranya yang masih terlelap sejak dimobil.


"Akhirnya kau pulang" suara Rio mengagetkan Kay yang baru saja masuk ruangan itu.


Senyum Rio menyambut kedatangan anak dan istrinya membuat Kay hanya mampu tersenyum canggung.


"Papa.." panggil baby Rean yang mengerjapkan matanya bangun.


"Iya, papa disini" Rio mengangkat putranya dari stroler itu.


"Rean kangen papa, hemm?" Rio menciumi gemas pipi putranya.


"Angen" jawab bocah itu pelan lalu menyembunyikan wajahnya diceruk leher sang papa.


"Ya sudah, ayo main dengan papa. Mama mau kan?" Pertanyaan Rio membuat Kay gelagapan menjawabnya.


"I iya" jawab Kay gugup.


Tak terasa, hari sudah mulai sore.

__ADS_1


"Ayo mandi sama papa" Rio mengajak anaknya masuk ke kamar mandi.


Waktu berlanjut hingga menunjukan waktu untuk ibadah.


Rio mengjak istrinya untuk ibadah bersama. Ini bukan hal biasa karna biasanya Rio lebih memilih ibadah ke masjid.


Hati Kay menghangat tenang setelah ibadah berjamaah bersama suaminya.


Sebuah momen yang sangat jarang terjadi. Sedangkan Rean nampak hanya diam sambik memainkan mainannya dengan tenang seakan paham bahwa orang tuanya sedang beribadah.


"Ngaji sekalian?" Tawar Rio membuat Kay mengangguk.


Pria itu melantunkan ayat suci bersama istrinya. Hati Kayla tersentuh mendengar suara itu.


Walaupun itu adalah hal biasa baginya karna pria itu memang selalu melantunkan ayat suci terlebih saat ia sedang hamil.


Namun kali ini beda, ada sebuah perasaan yang sulit digambarkan. Seolah ia melihat tatapan teduh pria itu.


Tak dirasa ternyata Rean sudah tertidur dipangkuan papanya.


Bocah itu terlihat tidur tenang tanpa terganggu sedikitpun.


Rio mengakhiri bacaannya.


Pria itu langsung mencium kening istrinya dalam seolah menyalurkan perasaan aneh yang menggelitik di dadanya.


"Biar aku pindakan Rean ke kamarnya dulu" Rio mengangkat putranya dan memindahkannya ke kamar.


"E eh, itu pak Rio?" Tanya seorang maid pada temannya.


"Iya, memangnya kenapa?"


"Ganteng banget ya kalau pake peci sama sarung gitu" ucap seorang pembantu baru.


"Kami pekerja lama sudah biasa lihat pemandangan adem kayak gitu. Apalagi kalo pak Rio habis pulang olah raga. Beuhh perut kotak kotaknya bikin pengen"


"Beruntung banget ya nyonya Kayla"


"Yang beruntung itu justru pak Rio, dapat istri cantik, sabar, penurut, lembut lagi"


"Ya mereka berdua sama sama beruntung" bisik bisik para maid itu.

__ADS_1


__ADS_2